Scroll untuk baca artikel
Hiburan

Perseteruan Oasis dan Blur: Antara Kelas, Gengsi dan Evolusi Britpop

×

Perseteruan Oasis dan Blur: Antara Kelas, Gengsi dan Evolusi Britpop

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Di puncak era Britpop  sekitar pertengahan 1990-an Inggris tenggelam dalam ‘Battle of Britpop’, lewat rivalitas sengit antara dua band besar: Oasis asal Manchester dan Blur dari London.

Perang kata, persaingan chart single, dan perwakilan budaya regional mencitrakan rivalitas ini bukan sekadar soal musik, melainkan soal kelas sosial, lokasi, dan identitas nasional.

1. Duel Strategis di Chart: Country House vs Roll With It

Puncak persaingan terjadi saat kedua band merilis single serentak: “Country House” (Blur) dan “Roll With It” (Oasis). Persaingan ini dimanipulasi media sebagai pertarungan gengsi antara Inggris Selatan (Blur) dan Utara (Oasis). Blur meraih posisi 1 dengan 274.000 keping, sementara Oasis menempati posisi 2 dengan 216.000 keping

Namun, secara jangka panjang, album Oasis “(What’s the Story) Morning Glory?” sukses melampaui Blur terjual lebih dari 4 juta kopi di Inggris.

2. Perseteruan Lisan: Dari Sindiran Hingga Doa Aneh

Rivalitas ini bukan hanya tertahan di data penjualan; ia tercermin lewat pernyataan publik. Noel Gallagher terangterangan mengeluarkan verdict pedas, bahkan pernah “mendoakan” anggota Blur “mati karena AIDS” saat konser, sebuah komentar yang menjadi kontroversial.

Balasan dari Blur pun tak kalah sinis, seperti kaus kemenangan yang menohok Oasis.

3. Simbol Kelas: Manchester vs London

Oasis digadang sebagai suara kaum pekerja dari Manchester: kasar, lugas, dan langsung. Blur, sebaliknya, mewakili kelas menengah London fashionista, literat, dan sedikit ekspresif . Rivalitas keduanya pun bukan hanya soal musik, melainkan simbol pertarungan regional dan kelas yang selama ini membentuk lanskap Britpop.

4. Media vs Realita: Sengit atau Dipiari Saja?

Hipotesis menarik dari beberapa pengamat dan netizen bahwa perseteruan ini lebih dijual oleh media ketimbang terjadi nyata antar personel. Mereka mengaku bahwa rivalitas tersebut “dibesarbesarkan” untuk kepentingan konsumsi.

Realitanya, baik para anggota Blur maupun Oasis mengakui saling menghormati, dan konflik lisan lebih banyak berasal dari tekanan publik, bukan niat internal.

5. Reuni & Perdamaian: Ketika Waktu Menyembuhkan Luka

Menariknya, perseteruan itu mereda. Pada Brit Awards 2012, Damon Albarn dan Noel Gallagher tampil berdampingan dan bahkan saling memuji.

Sejak itu, rekonsiliasi menjadi nyata: di konser amal (2013), acara ulang tahun Paul Simonon (2015), hingga ke kolaborasi di lagu Gorillaz “We’ve Got the Power” (2017).

Bahkan anggota Blur, seperti Dave Rowntree, bersedia menonton konser reuni Oasis—menandakan konflik yang telah benar-benar usai.

6. Legacy: Siapa Menang, Siapa ‘Lebih Unggul’?

Pertarungan ini memberi efek penting bagi Britpop. Blur dipuji karena mengeksplorasi suara, berevolusi dari pop ke alternative, bahkan melampaui batas genre . Sementara Oasis dikenal menciptakan anthem global (Wonderwall, Champagne Supernova) yang tetap hidup hingga saat ini.

Inilah dua perspektif: Blur lebih dihormati oleh para pencinta musik kritis, sedangkan Oasis meraih cinta massal dan kesuksesan komersial global.

Rivalitas yang Membentuk, Bukan Menghancurkan

Perseteruan Oasis vs Blur adalah refleksi unik: persaingan bernuansa geopolitik dan sosial, yang bertransformasi dari kata-kata kasar menjadi penghormatan tulus. Kemenangan di tangga lagu mungkin diperoleh Blur, tetapi Oasis menorehkan warisan budaya yang lebih luas. Pada akhirnya, rivalitas ini menegaskan bahwa kompetisi sejati justru dapat mendorong kreativitas dan keberhasilan, bukan kehancuran.

Esa band, dua kepribadian, satu era rivalitas yang kini justru menjadi instrumental dalam membuat musik Britpop lebih berwarna dan berpengaruh. Kini, kita melihat bukan sekadar ‘siapa menang’, melainkan bagaimana keduanya tumbuh bersama, menjadi legenda mayor, dan saling memuliakan satu sama lain.

Ikhwan Firmansyach
Mahasiswa Universitas Pamulang