DEPOKPOS – Pendidikan adalah salah satu pilar penting dalam membentuk karakter dan masa depan bangsa. Sebagai proses pembelajaran yang melibatkan interaksi sosial antara siswa, guru, dan masyarakat. Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam mengembangkan individu dan mental seseorang. Namun, dalam konteks ini, ada masalah serius yang sering diabaikan, yaitu pembulian. Pembulian, atau bullying, bukan hanya masalah individu, melainkan sebuah fenomena sosial yang mempengaruhi banyak orang, terutama dalam diri seseorang terutama masa depan orang tersebut.
Pembulian adalah perilaku agresif yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok terhadap individu lain yang lebih lemah, baik secara fisik, verbal, maupun emosional. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar ruang kelas, tetapi juga dapat terjadi dalam proses pembelajaran sehari-hari. Namun kenyataannya, hal ini sering terjadi terutama pada generasi z dam dampaknya jauh lebih besar dan lebih merusak daripada yang disadari banyak pihak. Hal ini dapat terjadi karena pada generasi ini, diikuti dengan perkembangan teknologi dan perluasan media sosial.
Di era pendidikan modern ini, pembulian tidak hanya terbatas pada kekerasan fisik tetapi bisa juga melalui perkataan contoh kecil seperti body shaming, media sosial, dan lainnya. Dengan penyalahgunaan Teknologi dan media sosial Anak-anak dan remaja kini dapat melakukan pembulian dengan mudah. Hal ini berdampak negative bagi pelaku dan korban dan mempengaruhi masa depan keduanya. Bagi pelaku berakibat tercatat jejak sosial dan korban berakibat terhadap mental orang tersebut.
Pembulian di era digital ini dikenal dengan istilah cyberbullying. Berbeda dengan pembulian konvensional yang terjadi secara langsung, cyberbullying terjadi secara online, sering kali melalui platform seperti media sosial, aplikasi pesan instan, atau forum bold. Korban cyberbullying dapat merasakan dampak psikologis yang lebih berat karena intimidasi ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pelaku dapat menyerang korban kapan saja dan di mana saja, membuat korban merasa tidak aman. Oleh karena itu, seharusnya ruang lingkup Pendidikan sangat berpengaruh besar atas isu ini. Tetapi kenyataannya, banyak ruang lingkup Pendidikan menjadi faktor utama pembulian. Akhirnya, menjadikan tingkat prestasi dan Pendidikan di Indonesia Rendah.
Kesehatan Mental sangat penting dan sering diabaikan masyarakat dan para orang tua. Selain dukukangan dari Ruang Lingkup Pendidikan, Faktor Orang tua juga dapat menjadi salah satu faktor pendukung tumbuh kembang mental anak. Seorang Anak juga harus memiliki prinsip dan Respect dari dalam diri sendiri terhadap hal-hal negative dari lingkungan. Sehingga dengan penyaringan tersebut dapat meminimalisasi kerusakan mental di Indonesia.
Masa Depan Anak bangsa sangat penting bagi kemajuan Negara Indonesia. Namun semakin perkembangan zaman dan generasi yang terus bertambah, kasus pembulian semakin banyak. Mulai dari Sekolah, lingkungan kerja, bahkan anak dibawah umurpun dengan lantang dapat berkata kasar. Hal ini sangat memprihatinkan generasi z yang sedang pertumbuhan mental. Perkembangan teknologi juga sering terdapat konten yang tidak tepat dan kurang mendidik. Generasi z sekarang ini sangat dekat dengan teknologi yang ada seperti Instagram, google, tiktok, dan youtube dan denga ada banyak nya konten creator sulit untuk mengontrol teknologi tersebut dengan bijak. Oleh karena itu, selain dari ruang lingkup Pendidikan, pengawasan orang tua dan respect diri sendiri sangat penting.
Perundungan (bullying) di kalangan Generasi Z semakin kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial. Generasi ini, yang tumbuh dengan akses internet sejak dini, menghadapi berbagai bentuk perundungan, baik secara langsung maupun melalui dunia maya (cyberbullying). Perundungan siber, seperti penyebaran fitnah, komentar negatif, hingga pengucilan di media sosial, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental para korban. Generasi Z sering kali merasa terjebak dalam dunia yang terhubung secara terus-menerus, di mana perundungan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Hal ini membuat rasa cemas, rendah diri, dan bahkan depresi di kalangan remaja dan dewasa muda yang mengalami perundungan, serta menambah tantangan dalam kehidupan dan dapat membuat keributan.
Solusi untuk mengatasi perundungan di kalangan Generasi Z perlu melibatkan pendekatan multidimensi, baik dari sisi pendidikan, teknologi, maupun dukungan sosial. Sekolah dan institusi pendidikan memiliki peran penting dalam mengedukasi para pelajar tentang dampak perundungan dan pentingnya empati serta sikap saling menghormati. Di sisi lain, platform media sosial harus lebih bertanggung jawab dalam mencegah dan menangani kasus perundungan, seperti dengan memperkenalkan fitur pelaporan yang lebih mudah diakses serta algoritma yang dapat mendeteksi kebencian atau perundungan secara otomatis. Selain itu, penting untuk memberikan ruang bagi para korban untuk mendapatkan dukungan psikologis, baik melalui konseling atau kelompok dukungan. Kesimpulannya, meskipun perundungan di kalangan Generasi Z adalah masalah yang serius, pendekatan yang holistik dan kolaboratif dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat, baik di dunia maya maupun dunia nyata, bagi generasi ini untuk berkembang.
Muhamad Ibnu Alwasjid
