Artikel

Mengatasi Kecemasan dengan Menghadirkan Ketenangan dalam Diri

×

Mengatasi Kecemasan dengan Menghadirkan Ketenangan dalam Diri

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – “Ketenangan bukanlah kebebasan dari badai, tetapi kedamaian di tengah badai.” Sebuah kutipan sederhana yang dapat menggambarkan seberapa pentingnya kedamaian di tengah badai pikiran yang berkecamuk. Terdapat suatu istilah kecemasan dalam psikologi, yakni perasaan yang timbul ketika khawatir atau takut akan sesuatu. Perasaan yang timbul itu juga diiringi dengan gejala-gejala fisik yang tidak dapat dipungkiri mampu mengganggu kehidupan sehari-hari jika dialami terus-menerus. Bagaikan badai yang melanda tanpa henti, kecemasan yang berlebih juga menghentikan tubuh untuk dapat beraktivitas normal. Ketika hal tersebut terjadi, maka produktivitas seseorang juga akan menurun karena gangguan kecemasan.

Dilansir dari The Conversation, hampir 35% (setara 15,5 juta) remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia terdiagnosis memiliki setidaknya satu masalah kesehatan jiwa dalam survei I-NAMHS sehingga masuk ke dalam kategori ODMK. Rasa kecemasan adalah masalah gangguan mental yang paling banyak muncul di antara remaja di Indonesia (26,7%). Ini disusul masalah terkait pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas (10,6%), depresi (5,3%), masalah perilaku (2,4%), dan stres pascatrauma (1,8%). Banyaknya frekuensi penderita gangguan kecemasan di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat memang rentan mengalami kecemasan, terutama pada usia remaja. Lantas apa sebenarnya yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan kecemasan?

Penyebab kecemasan yang pasti masih belum dapat dijelaskan hingga kini, karena banyaknya faktor yang dapat melatarbelakangi kecemasan. Dengan adanya berbagai faktor tersebut menjadikan kecemasan sulit diatasi apabila tidak dimulai dari dalam tempatnya muncul. Konon, meditasi yang juga disebut sebagai latihan mental dapat menjadi salah satu alternatif untuk seseorang dengan gangguan kecemasan.

Meditasi merupakan suatu kegiatan ‘latihan mental’ yang dilakukan dengan cara duduk pada posisi nyaman dengan mata tertutup, serta menitikberatkan fokus mental pada pernapasan, suatu persepsi mental, atau repetisi dari suatu kata/kalimat yang memiliki makna positif. Inner peace mungkin menjadi penjelas sederhana dari meditasi. Bahwa dengan melakukan kegiatan meditasi, seluruh tubuh dipusatkan dalam satu kesadaran untuk mencapai kedamaian di tengah riuhnya pikiran-pikiran yang ada.

Seorang dengan gangguan kecemasan pasti memiliki banyak pikiran negatif di dalam benaknya. Begitulah pikiran-pikiran negatif yang terus-menerus menumpuk itu membayang-bayangi setiap hari hingga membuat ketakutan untuk melakukan sesuatu. Perasaan gelisah dan takut itu tidak dapat hilang dengan mudah. Satu langkah kecil dengan perlahan menata pikiran yang berputar itu dapat menjadi pintu keluar dari gangguan kecemasan. Dengan bermeditasi, seseorang dengan gangguan kecemasan dapat belajar mengendalikan pemicu rasa cemasnya, serta belajar berdamai dengan hal-hal yang ingin dihindarinya.

Dilansir dari situs Halodoc ada lima jenis meditasi, yaitu meditasi mindfulness, meditasi spiritual, meditasi mantra, meditasi visualisasi, dan cakra. Namun demikian, setiap meditasi yang dilakukan memiliki karakteristik dan tujuannya masing-masing. Pada orang dengan gangguan kecemasan, tidak perlu terpacu pada satu jenis meditasi ataupun mencoba semua jenisnya. Untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian, cukup pilih satu jenis yang cocok dengan diri sendiri. Kemudian lakukan meditasi tersebut dengan fokus dan penuh kesadaran, dengan frekuensi yang rutin dan stabil untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam mencapai kedamaian dalam diri.

Secara sederhana, ada beberapa langkah-langkah mudah yang dapat dilakukan seseorang untuk bermeditasi. Langkah pertama, yaitu memilih tempat yang tenang. Memilih tempat yang sesuai tanpa gangguan sangat penting sebelum melakukan meditasi untuk menghindari distraksi di saat tubuh dan pikiran terfokus. Langkah kedua adalah duduk dengan posisi yang stabil dan nyaman, seperti duduk bersila atau duduk tegak di kursi. Langkah ketiga, menutup mata dan fokus pada pernapasan.

Dalam sesi menutup mata ini, atur napas dengan menarik dan menghembuskan napas secara teratur dan stabil. Hilangkan pikiran-pikiran lain, kemudian fokus dan menyadari setiap udara yang masuk dan keluar dari tubuh. Apabila dirasa membantu, memutar suara instrumental untuk membantu fokus juga dapat dilakukan selama sesi meditasi. Bagi seseorang yang baru melakukan meditasi, lima hingga sepuluh menit sudah cukup untuk bermeditasi setiap harinya.

Terkadang memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri, seakan berbincang dengan versi lain dari diri sendiri juga dapat memberikan ketenangan. Untuk dapat menyelesaikan perasaan yang tidak menyenangkan, seseorang perlu mengetahui terlebih dahulu perasaan apa yang tengah dihadapinya. Selama meditasi, kita menggali jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Menelusuri setiap perasaan yang ada dan memilah mana yang perlu dibenahi. Kecemasan serta pemikiran-pemikiran buruk yang menyertainya dapat diatasi ketika kita menemukan kedamaian dalam perbincangan bersama diri sendiri.

Energi positif yang dibangkitkan dari memori-memori dan pemikiran selama melakukan meditasi dapat menjadi titik aman di tengah badai pikiran. Dengan rutin melakukannya, maka titik aman itu akan dapat meluas hingga kita menemukan kedamaian. Sekeras apapun badai melanda, ketika pemicu rasa cemas datang kembali maka seluruh tubuh, pikiran, dan jiwa telah bersiap untuk sigap memilah hal buruk itu dan mengatasinya dengan hal-hal baik yang selalu dihadirkan dalam benak setiap orang.

Aprilia Itsna Rahmawati
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta