Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
FOMO singkatan dari Fear of Missing Out yang artinya takut ketinggalan. Istilah ini sering terdengar di media sosial akhir-akhir ini. FOMO juga dapat diartikan sebagai perasaan cemas atau khawatir bila melewatkan pengalaman, acara atau aktivitas yang sedang terjadi di sekitar. Generasi Z yang terlahir antara pertengahan 1990an sampai awal 2010 an adalah generasi yang rentan mengalami FOMO. Hal itu karena generasi ini tumbuh di era teknologi digital yang berkembang pesat, yang membuka akses mereka ke berbagai platform media sosial, aplikasi berbagi gambar, dan komunikasi online.
Ternyata, keterlibatan yang intens di dunia maya telah menciptakan tekanan sosial baru yang sangat berpengaruh pada kehidupan mereka. Gen Z dibesarkan dengan tren yang bisa berubah-ubah dengan sangat cepat di media sosial sehingga mereka merasa perlu untuk selalu up to date agar tidak melewatkan hal yang sedang tren.
Contoh FOMO yang baru-baru ini terjadi adalah banyaknya masyarakat yang rela antre ber jam-jam di depan Pop Mart, Gandaria City Mall untuk bisa mendapatkan boneka Labubu seharga 1.5 juta rupiah yang viral usai dipegang oleh Lisa Blackpink. Boneka Labubu ini adalah boneka karakter monster kelinci berbulu yang dibuat oleh seniman Jepang, Kasing Lung.
Awalnya Boneka Labubu tidak seviral sekarang. Hanya beberapa kolektor mainan saja yang mengoleksinya. Namun, ketika Lisa BlackPink menggunakan gantungan kunci Boneka Labubu, benda tersebut menjadi viral. Para fans pun ramai-ramai memburu Boneka Labubu dan rela antre 7 sampai 17 jam (TribunCirebon.com,17/9/2024).
Gaya hidup FOMO yang seperti ini tentu akan membuat dampak negatif pada kesehatan mental dan emosional di kalangan gen Z. Gen Z akan merasa terjebak dalam siklus memeriksa media sosial sehingga membuat tegang dan cemas. Gen Z sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial sehingga merasa tidak sukses dan berarti. Gen Z terlalu fokus pada gadget sehingga sulit berkonsentrasi dalam bekerja dan belajar di dunia nyata.
Akar munculnya gaya hidup FOMO adalah sistem liberal kapitalisme demokrasi. Sistem ini melahirkan generasi yang hedon, bebas dan konsumtif. Semua kesenangan dunia sesaat menjadi tujuan hidup dan prioritas. Regulasi sistem hari ini tidak memberi perlindungan justru membiarkan generasi jatuh dalam gaya hidup sesat. Selama itu tidak merugikan negara, negara berlepas tangan dalam fenomena FOMO. Namun terkadang FOMO juga bisa pada ranah kebaikan, seperti yang terjadi kemarin, viral postingan “Peringatan Darurat Garuda Biru”. Gen Z ramai-ramai ikut memviralkan, bersuara mengkritik penguasa hingga aksi turun ke jalan. Hal FOMO seperti itulah yang ditakuti oleh sistem sekuler.
Sedangkan Islam memandang generasi Z atau pemuda-pemuda usia produktif adalah aset negara yang memiliki potensi dan kekuatan sebagai agen perubahan untuk kebangkitan Islam. Islam memiliki sistem terbaik untuk melejitkan potensi generasi muda, membekali mereka dengan akidah yang kuat tentang tujuan penciptaan dan keberadaan mereka di dunia. Sehingga setiap pemuda dalam sistem Islam tidak akan hidup dalam kesia-siaan. Mereka akan menghiasi hari-hari mereka dengan ilmu dan kontribusi terbaik untuk Islam.
Mereka juga akan paham tujuan hidup sebenarnya sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Sehingga tidak akan terlena dengan kesenangan dunia yang sesaat, tidak akan hedon dan konsumtif karena paham segala aktivitas kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Sehingga bisa kita lihat lahirnya generasi emas para ilmuan dan penghafal Al Qur’ an hanya lahir dari rahim sistem Islam.
FOMO yang terjadi adalah FOMO dalam hal-hal amal shalih. Bagaimana perasaan cemas itu selalu menghantui bila tidak bersegera menjalankan syariat, berlomba-lomba bukan dalam hal yang sedang tren, namun berlomba-lomba untuk akhirat. Seperti yang kita tahu bagaimana kisah perlombaan sedekah antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar ra terjadi pada peristiwa Perang Tabuk. Waktu itu Rasulullah SAW menyeru kepada para sahabatnya untuk memberikan sedekah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. FOMO dalam hal kebaikan dan amal shalih lah yang akan menghiasi masyarakat dalam sistem Islam. Bukan FOMO seperti saat ini, FOMO belanja boneka, FOMO jalan-jalan ke luar negeri, FOMO membeli tiket konser musik, dan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya.
Sebagai umat Muslim, khususnya generasi Z di sistem yang tidak islami ini marilah berpikir lebih jernih, untuk tidak terbawa arus FOMO di media sosial yang tidak bermanfaat, sibukkan dengan mengisi ilmu agama karena peradaban ini kelak ada di pundakmu. Peradaban ini bergantung pada generasimu, sambutlah dan gapailah janji Allah bahwa kekuasaan Islam akan kembali lagi.[]
