Self Harm Bukan Sebuah Trend

Self Harm Bukan Sebuah Trend

DEPOKPOS – Masa remaja adalah masa yang rawan terhadap konflik. Dikarenakan para remaja sedang mengalami perubahan dari fase anak-anak menuju fase dewasa. Masa perubahan ini biasa kita sebut dengan masa peralihan atau masa transisi.

Remaja mengalami kesulitan dalam beradaptasi pada masa transisinya, juga tergolong labil dalam menafsirkan perasaan dan emosi. Karena kebingungan ini, mereka cenderung mudah terbawa arus, sulit membedakan antara yang benar dan salah, bahkan merasa memiliki tekanan dan kecemasan berlebih tentang kehidupan yang dihadapi, yang kemudian berdampak buruk bagi dirinya sendiri.

Salah satu dampak buruknya adalah gangguan mental, bisa berupa depresi atau stres yang dapat berujung self harm.

Self harm adalah perilaku yang dilakukan dengan sadar dan sengaja untuk menyakiti dirinya sendiri sebagai bentuk pelampiasan terhadap emosi.

BACA JUGA:  Menanggulangi Ancaman Keamanan Siber: Upaya Penguatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur

Media sosial adalah contoh faktor pendorong yang mendominasi tindakan self harm. Saat ini, kehidupan remaja atau sering kita sebut sebagai Gen Z, tak pernah lepas dari internet dan media sosial. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling media sosial.

Hal ini membuat waktu bersosialisasi mereka berkurang, tingkat produktifitasnya pun ikut menurun. Konten-konten yang ditampilkan di sana pun tak selalu positif, sementara itu para remaja sedang dalam masa transisinya.

Kebanyakan dari mereka kesulitan menyaring mana saja konten yang positif dan negatif, sehingga dengan asal menelan mentah-mentah segala jenis konten.

Sekarang ini tak sedikit remaja yang mengaku bahwa mereka melakukan self harm karena hanya ingin mengikuti trend di media sosial, juga gemar self diagnosis atau mendiagnosa dirinya sendiri sebagai remaja yang memiliki gangguan mental berbekal pencarian di internet.

BACA JUGA:  Imam al-Ghazali tentang Mekanisme Pasar dalam Ekonomi Islam

Padahal tindakan tersebut tidak boleh dilakukan secara asal dan harus mendapat pengecekan khusus dari tenaga kesehatan profesional, karena perkara mental bukanlah hal yang sepele. Mereka menganggap bahwa ‘trend’ self harm dan gangguan mental ini sebagai sesuatu yang keren, dapat membuat eksistensi mereka diakui dan diperhatikan. Sungguh anggapan yang tidak patut kita benarkan.

Selain media sosial, faktor dari lingkungan keluarga pun tak kalah mendominasi. Peran keluarga yang harusnya mengawasi, membimbing, serta mendampingi, nyatanya masih ada orang tua yang acuh membebaskan begitu saja tanpa pikir panjang akan dampaknya.

Bahkan sering juga kita jumpai orang tua yang menuntut anaknya dalam segi akademik dan kurang memberikan perhatian. Situasi ini membuat tekanan dalam diri si anak semakin bertambah.

BACA JUGA:  Sampah Logistik Membludak, Closed Loop Supply Chain Solusinya?

Anak yang kurang pengawasan dan tenggelam dalam tekanan mendorong dirinya untuk meluapkan emosi, salah satunya adalah dengan cara yang salah yaitu self harm.

Namun sebenarnya, faktor yang paling utama dan paling mendominasi adalah diri sendiri. Ada yang memiliki mental sekuat baja dan tahan banting, ada pula yang kesulitan menghadapi semua masalah yang menimpa. Semua tergantung bagaimana cara kita menyikapi dan mengontrol diri.

Lebih aware terhadap diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, bijak dan tahu waktu bermedia sosial, belajar menyaring hal-hal yang positif untuk dikonsumsi, merupakan langkah yang dapat kita lakukan untuk membangun dinding pertahan diri agar mental dapat terjaga.

Nasywa Rasmita Putri

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait