Scroll untuk baca artikel
Dunia

Penuh Pengungsi, Mengapa Rafah jadi Sasaran Baru Penjajah Israel?

×

Penuh Pengungsi, Mengapa Rafah jadi Sasaran Baru Penjajah Israel?

Sebarkan artikel ini

Banyak pihak  meyakini hal tersebut hanya alasan untuk melakukan genosida terhadap warga Palestina dan mencaplok Gaza secara utuh, hal yang gagal dilakukan penjajah Israel sejak 1948.

RAFAH, PALESTINA – Alih-alih menghentikan agresi brutalnya yang telah menewaskan lebih dari puluhan ribu warga sipil Palestina di Gaza, penjajah Israel justru kembali melakukan genosida dengan dengan menargetkan warga Palestina yang mengungsi ke Rafah.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu malah mengumumkan pasukannya bakal terus melancarkan invasi darat yang menargetkan Kota Rafah.

Langkah Netanyahu ini dikecam dan ditentang komunitas internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir, bahkan hingga Amerika Serikat dan negara Barat lain yang merupakan sekutu dekat Israel, setidaknya turut -seolah-olah- mengecam tindakan Israel ini.

Dikarenakan, Kota Rafah kini menjadi satu-satunya wilayah yang menampung jutaan warga yang terusir dari utara hingga tengah wilayah itu imbas agresi brutal penjajah Israel yang tak pandang bulu membunuh wanita dan anak-anak Palestina di utara Gaza.

Netanyahu bersikeras mengatakan kepada dunia bahwa serangan di Kota Rafah ini jadi kunci untuk menghancurkan pasukan Hamas.

Dikutip Al Jazeera, Tel Aviv mengklaim ada empat brigade utama Hamas yang bercokol di Rafah. Namun, banyak pihak meyakini hal itu hanya dalih Israel agar dapat menyerbu Rafah dan pada akhirnya mengusir warga Palestina dari wilayah itu.

Karena pada kenyataannya, dunia melihat bahwa Rafah justru dipenuhi pengungsi dari Gaza yang sebelumnya lebih dulu dibombardir penjajah Israel. Tak ada Hamas disana.

Banyak pihak  meyakini hal tersebut hanya alasan untuk melakukan genosida terhadap warga Palestina dan mencaplok Gaza secara utuh, hal yang gagal dilakukan penjajah Israel sejak 1948.

Geografis Kota Rafah

Kota Rafah berbatasan langsung dengan Mesir dan telah menjadi satu-satunya akses penyaluran bantuan kemanusiaan menuju Gaza sejak agresi Israel berlangsung.

Perbatasan Rafah digunakan untuk mengevakuasi warga sipil keluar Gaza.

Dikutip CNN, perbatasan Rafah merupakan satu-satunya titik penyeberangan dari Gaza menuju Mesir.

Sesuai namanya, kota ini berada di kegubernuran Rafah, wilayah paling selatan Jalur Gaza.

Mesir mengontrol ketat arus keluar masuk dari perbatasan Rafah yang kerap bergantung pada situasi keamanan dan politik.

Jika tidak terjadi konflik, perbatasan Rafah dibuka secara terbatas. Hanya warga Gaza yang memiliki izin dan warga negara asing yang dapat menggunakannya untuk melakukan perjalanan antara Gaza dan Mesir.

Rata-rata, 27.000 orang melintasi perbatasan setiap bulan pada tahun ini saat akses itu dibuka selama 138 hari dan kemudian ditutup selama 74 hari.

Meski penjajah Israel tidak memiliki kendali atas penyeberangan tersebut, seringkali Mesir menutupnya atas tekanan penjajah Israel ketika ada pengetatan pembatasan oleh Israel di Gaza.

Warga Gaza yang ingin melintasi perbatasan bahkan seringkali harus menunggu 30 hari hingga sekitar tiga bulan.

Perbatasan Rafah sempat ditutup pada awal konflik terbaru antara Hamas dengan Israel di Gaza meski ada tekanan internasional untuk membukannya.

Kini, dengan intervensi internasional dan mediasi Qatar, pintu utama Gaza-Mesir tersebut telah dibuka. Namun, perbatasan tidak dibuka secara bebas.

Hanya warga negara ganda dan memiliki paspor asing yang tinggal di Gaza yang bisa melewati perbatasan. Selain itu, orang-orang yang terluka dan membutuhkan bantuan perawatan di luar Gaza juga bisa melewati perbatasan itu.