Health  

Pengaruh Self-Esteem Terhadap Perkembangan Emosional Remaja di Keluarga

DEPOKPOS – Self esteem merupakan evaluasi subjektif individu mengenai dirinya sendiri baik secara positif maupun negatif (Rosenberg, 1965). Self esteem berkaitan dengan kognisi individu dan bersifat subjektif, oleh karena itu evaluasi bahwa negatif dan positif, perasaan direndahkan atau dilecehkan self esteem-nya sangat bergantung dari kerangka berpikir individu tersebut (Papalia, 2016).

Self esteem berkaitan dengan evaluasi subjektif terhadap diri sendiri, juga seringkali memicu depresi yang berujung pada perilaku bunuh diri (Hartono, 2018) dipicu karena merasa malu dan merasa dirinya tidak berguna. Oleh karena itu self esteem dianggap sangat penting dalam kehidupan karena menjadi bagian dari kehidupan individu dan indikator evaluatif yang merepresentasikan kognitif, afektif, serta behavior seseorang (Wardani & Anisa, 2021).

Upaya meningkatkan self esteem menjadi salah satu riset yang digandrungi dalam berbagai area, karena tingginya self esteem dinilai mampu mereduksi perilaku bermasalah remaja seperti dropout, penggunaan obat terlarang, kecanduan alkohol (Crocker & Park, 2004) dan berkaitan dengan kecemasan sosial, depresi, dan perilaku bunuh diri (Sowislo & Orth, 2013; Sharma & Agarwala, 2014).

Salah satu survei di Daerah Khusus Ibukota Jakarta menunjukkan bahwa 30% remaja mengalami depresi dan sebagian muncul keinginan untuk bunuh diri, selain itu menurut catatan World Health Organization (WHO) angka bunuh diri di Indonesia juga meningkat dari 4.3% menjadi 5.4% pada tahun 2016 (Azizah, 2018).

Kecenderungan melakukan bunuh diri merupakan dampak laten dari depresi, yang mana depresi sangat erat kaitannya dengan bagaimana individu mengevaluasi dirinya secara negatif (rendahnya self esteem) (Nahema & Joëlle, 2018).

Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat remaja adalah generasi penerus bangsa yang menjadi tumpuan kemajuan sebuah bangsa. Remaja dengan self esteem yang positif tentunya tidak akan mengalami kondisi depresi yang berat sampai pada keinginan bunuh diri.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Crocker dan Park (2004) dalam penelitiannya bahwa individu yang memiliki self esteem tinggi mampu meregulasi dirinya, memahami kelebihan dan kekurangan diri, serta mengatur strategi untuk mencapai target yang dia capai.

Individu dengan self esteem tinggi juga memiliki kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang baik sehingga mereka mampu beradaptasi dengan tantangan yang dihadapi. Riset mengenai self esteem terus berkembang. Berbagai studi menunjukkan bahwa perkembangan self esteem erat kaitannya dengan pengasuhan dalam keluarga.(Risnawati, Nuraqmarina, and Wardani 2021)

Keluarga adalah orang terdekat untuk tempat bercerita dan untuk mendapatkan nasihat ataupun memberi saran serta tempat untuk mengeluarkan keluhan – keluhan ketika anak mengalami suatu permasalahan. Remaja cenderung menganggap bahwa keluarga merupakan tempat yang paling nyaman untuk berbagi dalam menghadapi suatu masalah,berbagi kebahagiaan,dan tempat tumbuhnya harapan-harapan baru yang lebih baik. Keluarga merupakan keterikatan aturan,emosional individu dari masing-masing peran anggota di dalam keluarga yaitu orang tua, anak,dan saudara kandung (Potter dan Perry, 2005).

Tetapi ada sebagian remaja yang tidak memiliki kedekatan dengan keluarganya, biasanya semakin bertambah usia kedekatannya mulai renggang padahal peran orangtua atau keluarga itu sangat penting didalam perkembangannya terutama dalam emosionalnya. Keterikatan aturan dan interaksi antar anggota dapat memengaruhi emosional dari masing-masing anggota keluarga dalam memberikan dukungan. (Hasiolan and Sutejo 2015)

Usia remaja adalah masa transisi dari anak-anak kedewasa yang mengalami perubahan fisik dan psikososial. Pada usia seperti ini peran orangtua sangat berperan penting dalam memberikan arahan, karena di usia ini remaja masih labil terhadap pilihannya ataupun masalah – masalah baru yang mereka hadapi, mereka juga masih sulit untuk mengatur emosinya.

Peran orangtua juga sangat diperlukan untuk memberikan arahan yang baik untuk memberitahu apa saja hal yang sebaiknya di hindari dan tidak dilakukan, sebab diusia remaja ini sedang masanya untuk mengeksplorasi diri dan rasa penasarannya masih sangat tinggi jadi perlu di pantau.