Dunia  

Tentara Israel Diserang Wabah Diare ‘Tak Biasa’ di Gaza

GAZA, PALESTINA – Surat kabar ‘Israel’ Ynet melaporkan penyebaran penyakit diare yang mengkhawatirkan sedang melanda tentara ‘Israel’ yang kini tengah ditugaskan ke medan perang Gaza.

Surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth hari Senin menerbitkan laporan yang menyatakan ada “peningkatan yang tidak biasa dalam kejadian penyakit diare di antara tentara” penjajah.

Diketahui, sejak awal agresinya ke Jalur Gaza, banyak warga ‘Israel’ telah menyumbangkan makanan kepada para tentara Zionis. Namun, kondisi penyimpanan dan sanitasi yang buruk pada beberapa makanan dinilai telah memicu berjangkitnya bakteri shigella, menyebabkan gastroenteritis dan demam.

BACA JUGA:  Penjajah Israel Bunuh 104 Warga Gaza saat Tunggu Bantuan

“Diare telah menyebar di kalangan tentara di selatan, di area berkumpul, dan kemudian juga di antara tentara yang berperang di Gaza,” kata Tal Brosh, Direktur Unit Penyakit Menular di RS Umum Assuta di Ashdod, menyatakan.

“Infeksi bakteri Shigella, yang menyebabkan gastroenteritis, telah didiagnosis, dan ini adalah penyakit yang sangat serius yang juga menyebar di kalangan pejuang di Gaza. Infeksi bakteri shigella terjadi melalui kontak langsung antar individu atau melalui makanan,” kata dia.

BACA JUGA:  Korban Tewas di Gaza Meningkat Tinggi jadi 30.320 Jiwa

Sementara pihak militer zionis mencatat sekitar 18 tentara dievakuasi dari Jalur Gaza untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit di ‘Israel’ setelah muntah-muntah.

Wabah shigella merupakan bagian dari krisis kesehatan yang lebih luas di wilayah Gaza yang terkepung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa banyak warga Palestina di Gaza yang berpotensi meninggal akibat penyakit yang tidak diobati dibandingkan akibat agresi ‘Israel’, kecuali jika sistem kesehatan di wilayah tersebut segera dipulihkan.

BACA JUGA:  3000 Yatim Palestina Siap Diasuh Indonesia Melalui Adara

Lebih dari 200 pekerja layanan kesehatan telah terbunuh sejak agresi ‘Israel’ dimulai pada tanggal 7 Oktober, ini ikut memperburuk krisis layanan kesehatan di wilayah yang kini dalam keadaan hancur itu.*