Mengenal Kesenian Al Banjari dari Kalimantan Selatan

DEPOKPOS – Seni musik Al Banjari adalah musik tradisional dari Kalimantan Selatan yang sering digunakan dalam acara keagamaan. Kesenian ini merupakan penerapan seni yang lebih bervariasi dari hadrah.

Seni musik Al Banjari merupakan bagian dari seni musik tradisional Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri. Al Banjari seringkali digunakan untuk mengiringi qasidah atau sholawat dalam acara-acara keagamaan seperti maulid Nabi, isra’ mi’raj, sunatan, dan pernikahan.

Keunikan Al Banjari terletak pada penggunaan satu alat musik, yaitu rebana, yang dimainkan dengan cara tertentu. Musik Al Banjari ini memiliki irama yang khas, yang dimana ketika kita memainkannya bersamaan dengan qasidah atau sholawat, maka bisa melahirkan suasana yang syakral dan menenangkan hati dan pikiran.

BACA JUGA:  Tantangan Seseorang yang Memilih Tidak Memiliki Anak

Al Banjari juga memiliki nilai historis dan religius yang dalam, karena disebarkan melalui metode dakwah dengan menggunakan media musik Hadrah al-Banjari sebagai daya dakwah. Alat musik ini umumnya digandeng dengan qasidah atau syair-syair yang berbahasa Arab, namun belakangan banyak yang mengadopsi bahasa lokal untuk keseniannya.

`Dalam konteks seni musik secara umum, terdapat unsur-unsur yang membentuk satu kesatuan yang membuatnya terdengar indah, antara lain melodi, ritme (irama), harmoni, dan bentuk. Musik Al Banjari, dengan irama khasnya, melodi yang mengalun indah, dan penggunaan rebana sebagai alat musik tunggal, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kekayaan seni musik Indonesia.

BACA JUGA:  5 Cara Ampuh Mengubah Kegagalan Menjadi Kesuksesan

Ketika kita bermain alat musik ini, yang mana dibarengi dengan bacaan qasidah ataupun sholawat maka kita dianjurkan untuk menghayati qosidah atau sholawat tersebut, dikarenakan ketika kita dapat menghayati qosidah atau sholawat tersebut maka kita aka mendapatkan ketenangan hati.

Banyak ulama yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. akan hadir disaat kita membaca maulid terlebihnya pada saat mahallul qiyam, disitulah titik rindu terdalam kepada Nabi Muhammad SAW. dengan kita membaca sholawat dan menghayati artinya ditambah juga dengan pukulan banjari membuat suasana menjadi syakral. Maka semua kerinduan telah bersua atau terobati, dengan menghadirkan hati ketika kita membaca sholawat-sholawat nabi maka akan terasa dihati kita akan hadirnya Nabi dalam majelis tersebut.

BACA JUGA:  Makeup untuk Pemula, Membuat Tampilan Menarik

Tak jarang dari kita pun menangis ketika membaca sholawat kepada Nabi, dikarenakan teringat akan dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Maka dari itulah kita perlu memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi agar kita mendapatkan syafaat nya di hari akhir kelak.

M. Slamet Budiono