Scroll untuk baca artikel
Opini

Menerka PDIP sedang Gimmick, Pelajaran dari PKS Kota Depok

×

Menerka PDIP sedang Gimmick, Pelajaran dari PKS Kota Depok

Sebarkan artikel ini

Oleh: Efriza, Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan

KETIKA Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan sikap Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam perayaan hari ulang tahun PDIP ke-50 terkesan oleh publik telah menganaktirikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Padahal saat ini, tidak dapat kita anggap bahwa PDIP telah menyingkirkan Ganjar dalam perhitungkan sebagai calon presiden (capres). Memungkinkan bahwa PDIP sedang melakukan gimmick politik terhadap Ganjar.

Proses gimmick politik telah dilakukan oleh PDIP pada Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014 terhadap sosoknya Joko Widodo, yang saat ini sebagai presiden yang terpilih kedua kali. PDIP saat ini memang amat bingung menentukan di antara dua pilihan antara Ganjar Pranowo dan Puan Maharani, akan tetapi bukan berati harus memilih di antara salah satunya. Malah tetap amat memungkinkan partai ini sedang melakukan gimmick politik untuk kedua kader potensial tersebut dapat maju bersama di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Pelajaran Gimmick Politik PKS Kota Depok

Gimmick Politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Kota Depok amat tak disangka oleh publik ketika itu. Mohammad Idris sebagai petahana wali kota Depok, ketika itu masih amat diperhitungkan sebagai calon wali kota untuk terakhir kalinya. Namun, PKS ketika itu malah bertingkah nyeleneh, partai ini yang mengusung Mohammad Idris malah dia tidak diakui menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 kemarin.

PKS kemudian juga melakukan Pemilihan Raya (Pemira) internal dengan Imam Budi Hartono (IBH) sebagai peraih suara terbanyak calon wali kota Depok dalam Pilkada 2020. Mohammad Idris dinarasi terus telah disingkirkan oleh PKS, tetapi ia tetap bergerak dan juga mendekati Partai Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sepakat mendukung dirinya.

Fakta selanjutnya, Mohammad Idris dan Imam Budi Hartono menjadi pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang diusung oleh PKS, PD, dan PPP. Imam pun sudah jelas diproyeksikan sebagai suksesi berikutnya akan wali kota Depok selanjutnya. Bukan hanya itu saja, Imam juga turut berperan penting dalam proses kebijakan kota Depok, dapat dipastikan ia bukan sekadar wakil yang ban serep.

Menerka Tugas Ganjar Pranowo

Ganjar tidak dapat dianggap sudah tersingkir dan diabaikan oleh PDIP. Ganjar dapat saja mengemban tugas khusus begitu juga Puan Maharani. Peran Megawati tentu amat senteral, sebab memang ia dalam kongres yang diberikan hak prerogatif oleh kadernya dalam menentukan dan mengumumkan pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Megawati saat ini ditenggarai ingin melihat sejauhmana publik merespons terhadap elektabilitas Ganjar. Dengan disingkirkan oleh PDIP, apa Ganjar malah dapat memperoleh loncatan elektabilitas. PDIP juga pernah melakukan hal yang sama seperti jokowi, meski disingkirkan tetapi tetap memperoleh dukungan besar oleh masyarakat.

Sisi lain, Ganjar tampak telah melakukan upaya menjaring kerjasama dengan partai-partai mitra koalisi pemerintah. Tak bisa diingkari narasi yang menyatakan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) adalah partai-partai pendukung Ganjar Pranowo. Nyatanya, meski KIB mendeklarasikan koalisi lebih awal tetapi tetap tak melakukan langkah mengajukan calon presiden (capres), publik juga telah mencatat ketiga partai itu tetap menempatkan Ganjar sebagai capres prioritas partai-partai itu.

Ganjar tentu diharapkan dapat melakukan upaya dari dua tugas yang mungkin saja disembunyikan, tidak akan diumbar kepada publik kecuali tersingkirnya Ganjar Pranowo dari partainya PDIP. Jika Ganjar dapat menunaikan tugas tersebut, bisa saja Ganjar dapat restu PDIP.

Puan Maharani Calon Kuat dan Suksesi

Dengan Ganjar disingkirkan dari PDIP. Puan Maharani yang memainkan konsolidasi internal. Sebab, Puan Maharani amat sulit diterima oleh Publik. Sehingga wajar, Puan Maharani amat berkepentingan menyatukan suara dan kekuatan tingkat internalnya agar tidak bergejolak melihat penolakan publik.

Jika penyingkiran Ganjar telah dilakukan di tingkat partai, maka harus ada sosok yang mencegah terjadinya perpecahan di tingkat internal. Posisi ini sudah semestinya dimainkan oleh Puan Maharani sebagai Ketua DPP PDIP apalagi Ganjar memang bukan lagi elite pengurus tingkat pusat.

Puan Maharani memang yang diajukan oleh PDIP. Hanya saja, PDIP berpikir dengan cermat potensi kekalahan jika memaksakan Puan Maharani sebagai capres. Jika PDIP memaksakan mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi dengan sistem multipartai, elektabilitas Puan dipapan bawah capres potensial terdegradasi, tentu amat mencemaskan dengan kemungkinan besar potensi kekalahannya.

Koalisi Pengusung Ganjar-Puan

Jika Ganjar elektabilitasnya terus menanjak, juga partai-partai lain dapat diajak berkoalisi. Ganjar Pranowo amat memungkinkan diusung oleh PDIP sebagai capres. Dan, melihat realitas ke depannya terhadap Puan Maharani, diyakini PDIP berpikir ulang mengajukan Puan sebagai capres.

Puan yang lebih diwacanakan dengan bak ‘Teh Sosro Puan’ dengan sebagai calon wakil presiden (cawapres) maka amat memungkinkan diposisikan kedua. Untuk memuluskan itu, maka Ganjar dijadikan capres sedangkan Puan Maharani sebagai cawapres.

Langkah paket Ganjar-Puan jelas amat sulit, tetapi memungkinkan. Jangan lupakan, contohnya ketika pada Pilpres 2019 lalu, Gerindra juga berhasil mengusung paket sendiri Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan dukungan koalisi dari PKS, PAN, dan PD.

Bisa saja KIB dan/atau beberapa partai akhirnya menerima paket Ganjar-Puan. Meski begitu tentu saja, ada proses percakapan yang saling menguntungkan dalam membangun koalisi, meski pasangan yang diusung dari koalisi adalah paket PDIP. Jadi Ganjar, berperan sebagai penghubung antara PDIP dengan koalisi-koalisi lain.

Bangunan Koalisi dari Gimmick Politik

PDIP dapat saja sedang menggunakan strategi gimmick politik. Terkesan ada konflik antara Ganjar dan PDIP. Padahal Ganjar ditugaskan oleh PDIP menggalang dukungan dan menaikkan elektabilitasnya melalui gimmick dengan PDIP tersebut. Setelah kemungkinan menang Ganjar meyakinkan dari segi elektabilitas dan juga dapat membawa beberapa partai pendukung dipemerintahan berkoalisi mengusung dirinya.

Maka Ganjar kemungkinan diterima oleh PDIP. Tetapi dengan syarat Puan Maharani sebagai cawapres. Win-win solution ini bisa diterima oleh partai-partai koalisi pendukung Ganjar, jika disertai hitungan kompensasi sebelum dan pasca pilpres yang akan mereka terima.

Jadi, strategi ini memungkinkan terjadi. Srategi ini juga telah dapat dilihat berhasil diterapkan oleh PKS di kota Depok. Dengan adanya strategi ini, menguntungkan PDIP, mereka tidak perlu menyelesaikan permasalahan dengan memilih di antara dua kandidat yakni Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. PDIP malah dapat memajukan dua kandidat mereka yang potensial tersebut. Masyarakat juga tak dikecewakan dengan mendukung Ganjar Pranowo.

Jika Paket Ganjar Pranowo-Puan Maharani bukan sekadar diusung tetapi dapat terpilih. Maka Puan Maharani juga dapat dipersiapkan untuk Pilpres 2029 setelah ia begitu berperan strategis sebagai wakil presiden. Ingat pelajaran PKS kota Depok, dapat saja menginspirasi PDIP.