DEPOK POS – Tak dapat dipungkiri bahwa dunia saat ini tengah mengalami banyak perubahan akibat adanya globalisasi. Globalisasi adalah suatu proses yang menempatkan masyarakat dapat menjangkau satu sama lain atau saling terhubung dalam semua aspek kehidupan. Globalisasi juga memberikan dampak bagi Indonesia, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu dampak positif yang terjadi yakni membuat Indonesia semakin maju baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan maupun teknologi. Dalam bidang teknologi, kemajuan tersebut dapat dilihat dari adanya kemudahan memperoleh smartphone.
Saat ini, keseharian masyarakat hampir tidak bisa lepas dari smartphone. Apalagi dengan semakin berkembangnya smartphone sehingga smartphone memiliki berbagai fungsi sekaligus. Smartphone bukan hanya sebagai alat komunikasi saja namun menjadi alat dengan fungsi lainnya seperti sebagai media hiburan terutama media sosial, media berbelanja, media berbisnis dan sebagainya. Dari berbagai kemudahan yang diberikan tersebut, tentunya terdapat dampak negatif pula bagi masyarakat yang menggunakannya. Berbagai penyakit yang dapat terjadi antara lain yakni gangguan kesehatan mata, meningkatnya risiko terkena infeksi, memicu sakit leher, membuat sendi jempol menjadi kaku, mengganggu kesehatan mental, memicu terjadinya kecelakaan, dan juga dapat menyebabkan kecanduan. Penyakit-penyakit tersebut dapat terjadi disebabkan oleh kelebihan konsumsi layar (screen time) bagi para pengguna smartphone. Screen time berlebihan dapat menimbulkan masalah berupa menurunnya kualitas tidur. Kualitas tidur yang terganggu ini dapat membuat memori otaknya menurun dan kurang bisa berkonsentrasi sehingga mengganggu tumbuh kembang pada anak dan remaja.
Terdapat banyak sekali studi yang sudah dilakukan di berbagai negara yang menunjukkan bahwa semakin tinggi screentime, semakin memburuknya kualitas tidur. Menurut sebuah studi literatur sistematis yang dilakukan oleh Hale, L. dan Guan, S. pada tahun 2015 ditemukan bahwa screen time secara negatif terkait dengan kualitas tidur terutama durasi yang tidur lebih pendek dan waktu tidur yang tertunda pada 90% studi yang di telaah. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Le Bourgeois, M.K pada tahun 2017 yang berkesimpulan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi media berbasis layar dengan waktu tidur yang tertunda dan berkurangnya durasi tidur total. Menurut studi tersebut, Mekanisme yang mendasari asosiasi ini kemungkinan mencakup hal-hal berikut
perpindahan waktu (yaitu, waktu yang dihabiskan di depan layar menggantikan waktu yang dihabiskan untuk tidur dan aktivitas lainnya)
stimulasi psikologis berdasarkan isi media; dan
efek cahaya yang dipancarkan dari perangkat pada waktu sirkadian, fisiologi tidur, dan kewaspadaan.
Screen time yang semakin tinggi tidak hanya menjadi masalah bagi orang dewasa namun juga pada bayi. Menurut sebuah studi cross-sectional yang dilakukan oleh Emond, J. A. pada tahun 2021, Penggunaan screen time bertambah seiring bertambahnya usia anak dan ditemukan juga bahwa waktu layar bayi dikaitkan dengan durasi tidur malam yang lebih pendek ketika mempertimbangkan efek pada bayi. Penelitian ini juga mendukung pedoman terkait tidak menggunakan layar untuk bayi dibawah usia 18 bulan untuk mendukung perilaku tidur yang sehat mengingat potensi efek merugikan dari waktu layar pada kesehatan bayi.
Dari penelitian-penelitian tersebut, kita dapat memahami bahwa penggunaan screen time yang berlebih bukan hal yang sepele karena dapat menurunkan kualitas tidur terutama pada aspek durasi tidur. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, orang dengan kekurangan tidur memiliki risiko lebih besar mengalami banyak komplikasi kesehatan, termasuk penyakit jantung, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, diabetes, stroke, dan obesitas. Selama tidur, tubuh bekerja untuk mendukung fungsi otak yang sehat dan menjaga kesehatan fisik. Selain itu, tidur merupakan waktu untuk pemulihan dan tubuh anak-anak untuk re-charge dan menyimpan informasi yang telah mereka pelajari sepanjang hari. Selama tidur yang berkualitas, energi tubuh dipulihkan, pertumbuhan dan perbaikan terjadi dan hormon perkembangan otak yang penting dilepaskan. Pada anak-anak dan remaja, tidur juga membantu mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Oleh karena itu sudah seharusnya konsumsi screen time menjadi concern bagi kita terutama pada remaja, anak-anak dan bayi pada generasi digital native atau generasi yang lahir di zaman yang serba digital dan berteknologi canggih.
Lalu bagaimana mengatasi tingginya screen time pada anak dan remaja? Menurut American Academy of Pediatrics, anak dan remaja membutuhkan penggunaan smartphone untuk kewajiban akademik dan sosial sehingga mereka memilih untuk tidak memasukkan angka pasti pada waktu penggunaan layar yang direkomendasikan. Sebaliknya, mereka mendesak orang tua untuk mengembangkan rencana media keluarga yang mudah diterapkan. Rencana media keluarga harus mencakup batasan yang jelas pada waktu penggunaan layar dan mengalokasikan waktu tersebut untuk kegiatan lain seperti tidur, waktu keluarga, tugas sekolah, dan olahraga. Selain itu, anak dan remaja harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam membuat batasan untuk diri mereka sendiri. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menciptakan kebiasaan penggunaan layar dan lingkungan tidur yang baik pada anak dan remaja :
Tetapkan batasan untuk waktu layar untuk keperluan pendidikan dan hiburan
Pilih waktu tidur yang sesuai dengan usianya
Setujui adanya jam malam dan dorong mereka untuk mengurangi penggunaan layar lebih awal
Diskusikan konsekuensi dari kurang tidur dan ingatkan mereka bahwa lebih sedikit waktu penggunaan layar memberi mereka lebih banyak waktu untuk bersosialisasi, waktu keluarga, pekerjaan rumah, olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, maupun kegiatan lainnya yang tak kalah menyenangkan
Buat rutinitas waktu tidur yang menenangkan untuk menggantikan penggunaan layar, termasuk aktivitas seperti membaca atau mengobrol
Tetap jaga kebersihan tidur dan suasana kamar tidur agar tetap sejuk, gelap, dan tenang
Gunakan layar redup, pilih mode malam, dan beralih ke pencahayaan rumah tangga yang hangat menjelang waktu tidur
Waspadai penggunaan teknologi yang tidak tepat dan bicarakan tentang cara menggunakan Internet dengan aman dan bertanggung jawab
Aprillia Cahya Azura, Audrey Hanifa Putri
