Tekan Angka Stunting, Nilai Kandungan Gizi Sesuai Standar PHBS

Tekan Angka Stunting, Nilai Kandungan Gizi Sesuai Standar PHBS

DEPOKPOS – Drs. Fransiskus S Sodo, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Barat, mengatakan bahwa stunting merupakan masalah sosial yang cukup besar di NTT, termasuk di Manggarai Barat, yakni sekitar 15.1% dari jumlah balita yang diukur. “Kami menargetkan angka stunting turun ke 10% pada tahun depan,” katanya. Ia merasa sangat senang ketika tim pengabdian masyarakat (pengmas) dari Universitas Indonesia (UI), berkunjung ke Manggarai Barat dan berbagi pengetahuan dengan penduduk setempat terkait dengan masalah stunting.
Tim pengmas UI bertujuan menyampaikan cara memilih dan mengolah bahan masakan sebagai salah satu upaya mencegah stunting. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggandeng PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PT PII) dalam suatu program yang diberi nama Bergizi dari Bumi Kami di Kantor Bupati, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa, 26 Oktober 2021. “Saya berharap kolaborasi ini menjadi kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan menghasilkan generasi terbaik untuk masa depan,” kata Fransiskus.
Ada dua rangkaian kegiatan yang dilakukan tim pengmas itu, yakni Focus Group Discussion (FGD) Pola Konsumsi Masyarakat (03/09/2021) yang diselenggarakan secara daring dengan melibatkan pemangku kepentingan kunci dari unsur pemerintah, puskesmas, serta kelompok kerja stunting NTT, serta Program Workshop Memasak Makanan Bergizi (26/10/2021) yang diikuti oleh 25 perwakilan kader Posyandu dan orang tua dari balita stunting. Mereka berasal dari 4 Desa/Kelurahan, yaitu Desa Gorontalo, Kelurahan Waekelambu, Kelurahan Labuan Bajo, dan Desa Batu Cermin.
Seluruh peserta diharapkan dapat menjadi duta atau agent of change bagi masyarakat sekitar. Workshop dilaksanakan secara hybrid, yaitu luring dan daring melalui aplikasi zoom dan dibuka oleh Fransiskus S. Sodo, Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), Muhammad Wahid Sutopo, dan Direktur Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPM) UI Agung Waluyo, S.Kp., M.Sc., Ph.D.
Program ini merupakan pengabdian masyarakat kemitraan dengan PT PII dan melibatkan 6 (enam) dosen dari multidisplin ilmu, yaitu Program Studi Humas, Program Pendidikan Vokasi, dan Depatemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat sasaran mengenai bahan pangan bergizi yang dapat dengan mudah diperoleh di NTT serta cara pengolahan yang baik agar kandungan gizi terjaga.
Agung Waluyo mengatakan, selain untuk mencegah peningkatan angka stunting, Program Bergizi dari Bumi Kami juga untuk membentuk duta gizi Labuan Bajo dengan melibatkan masyarakat lokal dan mensejahterakan masyarakat setempat. “Kami bersyukur kolaborasi pengabdian masyarakat dalam bentuk CSR PT PII dan UI sudah dalam tahap pelaksanaan. Kami berharap peserta dapat menjadi duta dan kader yang proaktif untuk mencegah peningkatan angka stunting. Kolaborasi ini wujud komitmen UI dan PT PII untuk mendukung upaya pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk mengurangi angka stunting,” ujarnya.
Menurut Muhammad Wahid Sutopo, program yang dijalankan ini sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat di sekitar proyek infrastruktur. “Harapan kami bahwa melalui program CSR PT PII bersama UI, dapat memberikan kontribusi yang signifikan mendukung program Pemerintah untuk penurunan angka stunting sebagai wujud langkah-langkah peningkatan kesehatan dan kualitas SDM Labuan Bajo dan NTT pada umumnya. Kami yakin bahwa dengan gizi yang cukup, akan muncul kader-kader anak bangsa di Labuan Bajo yang berprestasi dan kreatif, sehingga mampu melalui pariwisata menjadi masyarakat yang sejahtera,” kata Sutopo.
Pijar Suciati S.Sos., M.Si., Ketua Tim Pengabdi, yang juga dosen Prodi Humas, mengatakan bahwa stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan fisik maupun otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Hal itu mengakibatkan anak stunting lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. “Penyebab stunting adalah rendahnya akses terhadap makanan bergizi, kurangnya asupan vitamin dan mineral dan minim dalam konsumsi sumber protein hewani dalam jangka panjang,” kata Pijar.
Maka, edukasi yang diberikan adalah workshop memasak makanan bergizi bagi orangtua dari anak yang mengalami stunting. Pada workshop memasak juga disampaikan tentang nilai kandungan gizi serta tips cara masak yang baik sesuai standar Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS), seperti proses mencuci tangan dan bahan makanan sebelum dimasak. Tim tersebut memberikan materi edukasi berupa video untuk 6 (enam) resep masakan bergizi dan kalender edukatif, sehingga dapat terus diulang dan dipelajari setelah kegiatan selesai.
Lebih lanjut Pijar menjelaskan terdapat 6 (enam) menu padat gizi yang menjadi materi edukasi adalah Tahu Kukus Daun Kelor, Bola-Bola Ikan Tongkol/Tuna, Tumis Teri Daun Kelor, Bubur Jakeca (Jagung, Kelor, Cakalang), Agar-agar Kelapa Muda Gula Aren yang disajikan dalam bentuk video dan juga kelendar edukasi. “Pemilihan jenis pangan tersebut didasarkan pada FGD yang telah dilakukan pada Sepember lalu tentang pola konsumsi masyarakat,” ujar Pijar.
Dalam materi edukasi tersebut terdapat resep, kandungan gizi dan cara memasak yang baik. Di dalamnya tercantum pula resep yang mudah, tetapi padat gizi, antara lain mengandung protein, karbohidrat, maupun serat yang seimbang untuk menjadi menu sehari-hari. “Dengan pengetahuan yang baik, masyarakat dapat mengoptimalkan sumber pangan yang ada, sehingga anak-anak dapat tumbuh sesuai tahapan perkembangan yang seharusnya,” kata Pijar. []

Pos terkait