oleh

Tukang Jahit Pergi Umroh

Kain-kain yang begitu banyak terserak di ruang kerjanya sehingga menghasilkan beberapa model jenis baju yang sudah ia kerjakan. Jerih payah yang di lakukan setiap hari membuat ia tidak patah semangat demi mencapai impian sejak lama untuk pergi ke tanah suci.Hari demi hari menjahit, melatih kesabaran dan memegang komitmen tidak lah hal yang mudah bagi setiap orang. Dimulai dari menjahit di ruko-ruko sebagai karyawan selama 15 tahun, dan berbagai tempat sudah ia mulai dari tahun 2003.

“ Dulu masih dibayar 40 ribu selama seminggu, sisa nya suka ditambahin sama bapak kalau pulang ke Bogor dan dikasih uang 50 ribu” ujarnya. Sebagai kakak tertua, ia mempunyai 3 saudara kandung. Hanya adik nya yang bontot harus ia bayarkan biaya sekolah dan keperluan nya. Sehingga ia harus mencari nafkah dengan kerja keras sepenuh hati demi membanggakan keluarga dan adik-adik nya.

Saat ini ia sudah menjadi bos dan mempunyai satu karyawan. Sejak tahun 2010 ia mulai mengontrak dan membuka toko sendiri di daerah Mekarsari Cimanggis Depok. Usaha jahit yang ia bangun dari nol masih terus berjalan sampai sekarang dan telah memasuki usia 32 tahun.

BACA JUGA:  Etos Kerja Masyarakat Nelayan Kabupaten Bulukamba

Berawal dari niat, berdoa, dan tawakal sehingga tercapai impian nya pergi ke tanah suci. “Awal nya ditawarin dan diajak oleh pak Amar Maruf yang punya penatour, saya hanya membayar Dp 10 jt pada saat itu harga umroh sekitar 23 jt sisa nya saya cicil setiap bulan 1 jt selama setahun”.

Meskipun hanya menjadi tukang jahit, tetapi laki-laki berkulit sawo mateng menanamkan tanggung jawab dan mengerjakan tepat waktu kepada karyawannya untuk hasil jahitan pelanggan tersebut. “Kalau tidak tepat waktu nanti pelanggan kecewa, dan tidak mau balik lagi ke tempat jahit saya”. Hasil uang yang didapat selama sebulan cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan gaji karyawan nya. Selain itu ia juga harus membayar kontrakan setahun sekali setiap bulan Mei, ia pun pintar menabung dan mengatur keuangan agar kebutuhan sehari-hari nya tercukupi.

BACA JUGA:  Hindari Boros! Ini Tips Mengatur Keuangan ala Milenial

Berbagai model unik dan bagus yang ia sudah kerjakan dengan kemauan pelanggan nya membuat kebanjiran pesanan jahit, mulai dari Guru, Pengusaha, Polisi. Rata-rata pesanan pelanggan yang masuk berupa dress panjang/pendek, jas, kebaya, dan baju batik keluarga.

“Harga bisa disesuaikan dengan model yang penting tepat janji dan waktu” karena rendah hati dan sopan santunnya membuat pelanggan semakin sering datang kembali ke tempat jahitnya. Selain bebas pilih model sesuai kemauan pelanggan dan bisa berkomunikasi via whatsapp atau telfon kalau tidak sempat datang ke ruko.

BACA JUGA:  Profil Pengusaha Muda Sukses dari Nol yang Menginspirasi Generasi Milenial

Memiliki profesi sebagai penjahit atau memiliki kemampuan menjahit itu bisa menjamin masa hidup yang cerah. Jadikan itu sebagai proses pengasahan kemampuan dan satu yang perlu di ingat buang jauh jauh mental buruh yang hanya rela terima gaji bulanan dan hanya bisa menuntut kenaikan gaji dengan cara demonstrasi.

Karena itu sama saja kita seperti pengemis yang berjamaah, tapi berpikir maju, gaji di kumpulin sisa dari makan buat beli mesin jahit jika sudah lengkap bisa buka jahitan atau buka permak.Hasil adalah pengukuran terbaik dari kemajuan manusia. Bukan percakapan. Bukan penjelasan. Bukan pembenaran. Hasil! Dan jika hasil kita lebih sedikit dari potensi yang seharusnya, maka kita harus berusaha untuk menjadi lebih hari ini daripada hari sebelumnya. (

Ditulis oleh Saffa Fauziah Kamila, Mahasiswi PNJ

Komentar

Berita lainnya