oleh

LGBT Marak di Depok, Kota Religius Jangan Sebatas Slogan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

DEPOK – Lesbian, Gay, Biseks dan Trangender (LGBT) bukanlah isu baru. Persoalan ini sudah lama ada. Kecenderungan di masyarakat kita, jika menjadi buah bibir dan trending topik dimasyarakat ramai dibicarakan. Tapi kalau lagi sepi isu, selesai dan menguap begitu saja.

Hal itu dikatakan Pimpinan Pondok Pesantren Qatrunnada, KH. Burhanuddin Marzuki yang temui depokpos di Depok, Jawa Barat, belum lama ini, menanggapi tingginya angka atau jumlah LGBT di Jawa Barat, khususnya di Depok.

“Kenapa LGBT baru sekarang dipersoalkan. Penyakit masyarakat ini sudah lama sebetulnya. Jangan karena tak ada isu, LGBT kemudian menjadi bahan pembicaraan. Budaya kita ini budaya lupa. Hari ini ramai memperbincangkan LGBT, besok sepi lagi. Orang Betawi bilang, hangat-hangat tahi ayam,” ujar KH. Burhanuddin yang merupakan murid KH. Syukron Makmun.

BACA JUGA:  KCD Kembali Rayakan HUT RI di Sungai Ciliwung

Seperti diberitakan di media, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok mencatat, estimasi gay di Depok tahun 2014 jumlahnya mencapai 4.932 orang. Dan tahun 2015 diperkirakan menjadi 5.791 Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Ribuan penyuka sesama jenis ini terpantau kerap berada di pusat perbelanjaan di Depok. Lelaki Suka Lelaki (LSL) yang ada di Depok rata-rata berusia produktif. Mereka (LSL) ada yang sudah berkeluarga ada yang belum. Kisaran usianya antara 17-24 tahun. “Jumlahnya diperkirakan meningkat,” kata Sekertaris KPA Kota Depok, Herry Kuntowo kepada wartawan, tahun lalu (17/11/2015).

BACA JUGA:  18.315 Peserta BPJS Kesehatan PBI APBN Nonaktif di Depok Bisa Ajukan Bansos

Ironisnya, kota Depok yang selama ini dikenal sebagai kota religius dan kota pendidikan ini, LGBT justru di kampanyekan oleh lingkungan kampus yang seharusnya menjadi benteng moral. Yang disebut kota religius di Kota Depok baru sebatas, banyaknya perayaan Maulid Nabi, banyaknya lembaga pendidikan pesantren, tapi belum ada Perda yang secara khusus mengatur tentang ketertiban umum.

BACA JUGA:  Inisiasi Pengelolaan Sampah Eletronik di SMAN 1 Depok

“Kota religius dan pendidikan itu baru slogan. Peran kampus baru sebatas mengajarkan ilmu, tapi belum mendidik. Peran kampus seharusnya mencetak mahasiswa, bukan hanya pintar secara akademik, tapi cerdas segala-galanya. Tentu sangat disayangkan, jika ada dosen yang berpandangan sekuler atau liberal yang bicara tidak sesuai dengan kapasitas keilmuannya. Terutama terkait soal LGBT,” kata Kiai.

Lebih lanjut KH. Burhanuddin menegaskan, LGBT sudah jelas merupakan penyakit yang harus disembuhkan. Harus ada tindakan nyata, baik aparat maupun tokoh masyarakat. Jika tidak, 10-20 tahun ke depan mau jadi apa generasi bangsa ini. (des)

Komentar

Berita lainnya