Cinta Abadi, Seperti Apa?

Ilustrasi.

Cinta identik dengan suatu hubungan yang dijalin antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Akan tetapi, cinta itu bisa saja kandas pada suatu saat nanti. Lalu, adakah cinta yang sifatnya abadi?

Rasanya, di dunia ini, manusia sudah ditakdirkan untuk hidup saling dicintai dan mencintai. Banyak macam cinta yang dijalin antara sesama manusia, antara lain cinta kepada sahabat, cinta kepada pacar, cinta kepada tanah air, cinta kepada idola, cinta kepada orang tua, dan sebagainya.

Namun, dari banyaknya macam cinta itu, yang benar-benar tulus mencintai kita adalah orang tua, merekalah Ayah dan Ibu. Cinta yang diberikan Ayah dan Ibu kepada buah hatinya adalah cinta abadi. Cinta abadi yang berarti kekal, selamanya bisa dirasakan oleh sang buah hati meski kehadiran mereka sendiri telah tiada.

Cinta abadi yang diberikan Ayah dan Ibu tidak lepas dari sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan seorang Ayah sangatlah luar biasa. Ayah di luar sana harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Teriknya matahari dan derasnya hujan akan selalu diterjangnya dan takkan mematahkan semangat Ayah untuk bekerja. Tak kalah dengan Ayah, pengorbanan yang Ibu lakukan juga sama hebatnya. Ibu, harus menahan rasa sakit yang luar biasa ketika melahirkan seorang anak. Selain itu, Ibu adalah wanita yang serba bisa melakukan pekerjaan rumah dan selalu ada ketika kita membutuhkan pertolongannya.

Segala hal yang dilakukan orang tua kita bukanlah rutinitas semata-mata. Banyak risiko dan tantangan yang harus mereka hadapi untuk kita, anaknya, tetapi dengan tegar mereka mampu melewatinya. Semua itu bisa mereka lakukan karena cinta, cinta yang diberikan sepenuhnya untuk sang anak. Lalu, kita sebagai anak, sudahkah menjalankan tugas dengan baik?

Tak sedikit anak memiliki cinta yang lebih besar kepada Ibunya dibandingkan cinta kepada Ayahnya atau juga sebaliknya. Berbeda dengan cinta sang anak, cinta Ayah dan cinta Ibu sama imbangnya alias tidak pilih kasih. Karena pada dasarnya, orang tua ingin memberikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki kepada sang anak.

Akan tetapi, masih saja seorang anak suka mengeluh ketika orang tuanya membutuhkan bantuan, pun tak jarang mengabaikan nasihat-nasihatnya. Terkadang masih belum puas menerima segala perbuatan baik yang telah orang tua kita perbuat. Masih saja terasa kurang. Apakah ini yang namanya serakah? (Hotma Yunita Sari Manalu/PNJ)

Komentar

komentar