Ekonomi Islam dan Islam Dalam Berekonomi

Ilustrasi.

Oleh :  Darihan Mubarak (Ketua Umum KSEI Islamic Economics Forum STEI SEBI SEBI | Musyrif Tahfizh Indonesia Qur’an Foundation)

Ekonomi Islam merupakan sebuah disiplin ilmu yang muncul setelah terjadinya Islamization of Knowledge oleh para mujaddid Islam seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani dan tokoh tokoh yang lainnya. Namun secara substansi, ekonomi dalam Islam ada sejak diutusnya Rasul Muhammad s.a.w. Dari zaman Rasulullah sampai dengan Khilafah Turki utsmani tidak dibutuhkan label Islam dibelakang kata ekonomi karena memang setiap orang sudah menyadari bahwa Islam adalah jalan hidup yang begitu sempurna dan membahas segala sesuatu, termasuk dalam bidang ekonomi. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya tokoh tokoh ekonom Muslim muncul pada fase ini, seperti : Muhammad bin Hasan As-Syaibani, Abu yusuf, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah dan lainnya.

Adanya identitas Islam dibelakang kata ekonomi merupakan sebuah upaya untuk memberikan kesadaran kepada ummat Islam yang sedikit demi sedikit meninggalakan agamanya dan tidak meyakini sifat Islam yang Universal. Langkah ini merupakan sebuah reaksi dari para mujaddid terhadap kejumudan berfikir ummat Islam pada saat itu, mereka terbelakang dalam ilmu pengetahuan, sangat kaku dalam memahami Alqur’an dan hadis dan sifat sifat lainnya. Sehingga muncullah gerakan yang disebut dinamisme oleh “Muhammad Iqbal”. “Al-Islam Mahjubun lil Muslimin”, begitulah yang dikatakan salah seorang pembaharu menggambarkan keparahan situasi ini.

Berawal dari begitu banyaknya ummat Islam yang melakukan kegiatan ekonomi yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran dan doktrin agama mereka, ekonomi yag bersifat materialistic, penuh dengan sifat hedonistic personality maka muncullah upaya untuk menggali kembali bagaimana Islam membahas ekonomi. Konsequensi logis dari ajaran Islam yang bersifat universal adalah bahwa tidak ada satupun disiplin ilmu pengetahuan dan permasalahan hidup yang tidak dibahas dalam Islam, termasuk dalam bidang ekonomi. Fondasi dan keyakinan ini harus ditanamkan sedalam mungkin kepada generasi muslim penerus bangsa.

Sebagai sebuah disiplin ilmu yang merupakan bagian dari Islam, maka Ekonomi Islam memiliki Filosofi yang harus tunduk kepada aturan aturan Tuhan. Dimana filosofi ini harus berasal dari tuntunan wahyu sehingga tidak bertentangan dengan tujuan-tujuan diturunkannya syariat Islam (Maqashid As-Syari’ah). Filosofi inilah yang kemudian dijadiakan acuan dalam membuat kerangka turunan. Maka secara umum tujuan diturunkannya syariat adalah menimbulkan maslahat dan menghilangkan mudharat. Berbeda dengan Kapitalisme yang memiliki sifat individualistik dan materialistik, maka ekonomi Islam memiliki sifat kolegial dan harus menyentuh hal-hal yang menyangkut materi dan immateri. Karena ekonomi Islam memandang bahwa ada aturan aturan dan permasalahan ekonomi yang tidak bisa diselsaikan hanya dengan asumsi dan kesepakatan.

Di bangku-bangku sekolah dan perkuliahan, kita diajarkan bahwa permasalahan utama ekonomi ialah kelangkaan Sumber Daya Alam (SDA), sehingga mindset tersebut tertaptri dalam otak bawah sadar dan terjadilah ekploitasi sumber daya oleh manusia-manusia yang takut kehabisan sumber daya yang ada oleh manusia yang lain. Kesalahan filosofi inilah yang kemudian mambuat manusia harus memperjuangkan eksistensinya dengan cara memperebutkan sumber daya yang mereka anggap memiliki keterbatasan (langka), persis seperti kue yang diperebutkan oleh banyak orang. Seorang tokoh Ekonom Barat Alfred Marshel pernah mengatakan : “No moral in economic”. Lalu akibat dari ini apa yang terjadi ?

Bank Dunia menyatakan bahwa Koefisien Gini Indonesia mencapai rekor tertinggi, hal ini diperlihatkan dengan peningkatan dari 30 poin pada tahun 2000 menjadi 41 pada tahun 2014. Bahkan tingkat kesenjangan Indonesia melaju paling cepat diantara negara-negara tetangganya di Asia Timur. Padahal beberapa negara Jiran seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand mengalami penurunan angka Koefisien Gini. Melebarnya kesenjangan ekonomi juga dicerminkan dari terpusatnya akumulasi kekayaan pada minoritas penduduk Indonesia. Mengacu data Credit Suisse, Bank Dunia mencatat 10% orang kaya menguasai sekitar 77% dari seluruh kekayaan aset dan keuangan di negara ini. Atau dengan kata lain, 1% orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negara ini. Rasio tersebut setara dengan Thailand, yang menempati posisi kedua dari 38 negara yang didata Credit Suisse. Peringkat pertama adalah Rusia, dimana 1 persen orang terkayanya menguasai 66,2 % dari total aset negara tersebut. Dengan kata lain, kesalahan sistem ekonomi telah membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Di lain sisi, Alqur’an menyatakan bahwa seluruh sumber daya yang ada Allah ciptakan sesuai dengan ukurannya. Artinya, sebanyak apapun populasi manusia di muka bumi ini tidak akan ada satupun manusia yang meninggal karena alasan kelaparan jika sumber daya yang ada dikelola dengan benar. Dalam sebuah ayat Allah berfirman bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (Al-Qamar: 46). Maka permasalahan ekonomi yang sebenarnya bukanlah scarcity, akan tetapi harta dan bagaimana cara mengelola serta mendistribusikannya. Hal ini dilakukan supaya setiap harta tidak beredar hanya di kalangan orang-orang kaya saja (Al-Hasyr:7). Berpusatnya kekayaan hanya di kalangan orang-orang kaya yang kemudian mengakibatkan ketimpangan sosial sangat di kecam dalam ekonomi Islam (Money Concentration).

Untuk menyelsaikan masalah tersebut, Islam menawarkan solusi konkret seperti zakat, infaq, shadaqah, waqaf, dan berbagai instrument lainnya. Oleh karena itu ekonomi Islam setidaknya mengandung dua unsur: Moral economic and legal economic. Ia harus legal secara Islam dan harus mengandung nilai nilai moral. Tidak heran Rasul pernah bersabda “Belum dikatakan beriman salah satu diantara kalian jika tetangga kalian tidak makan sementara kalian berada dalam kecukupan”. Maka ekonomi Islam bukan hanya ekonomi yang coba dicari nilai-nilai dan sistemnya dalam Islam, tetapi juga Islam dalam berekonomi.

Comments

comments