Ini bukan hanya masalah cuaca buruk atau medan sulit meski keduanya faktual melainkan juga kesiapan operasional yang tidak memadai
DEPOKPOS – Tragedi pendaki yang terjadi pada tanggal 26 Juni 2025 menyisakan banyak pertanyaan serius terkait reaksi tim SAR di lapangan.
Juliana Marins pendaki wanita asal Brasil yang terjatuh ke jurang terjal Gunung Rinjani setinggi sekitar 500 - 600 m sempat terlihat hidup lewat rekaman drone menangis dan mengirim sinyal bantuan namun tim SAR tidak segera menyelamatkannya.
Keluarga pendaki tersebut menuduh adanya “negotiator negligence” yakni komunikasi lambat, respon tertunda, bahkan video uji coba yang kuat terasa manipulatif.
Tim SAR yang ditemukan di tebing dilaporkan sempat tertidur karena kelelahan dan minimnya cadangan tim bergantian menunjukkan struktur penanganan darurat yang lemah.
Ini bukan hanya masalah cuaca buruk atau medan sulit meski keduanya faktual melainkan juga kesiapan operasional yang tidak memadai.
Dari segi etika profesional, jalur ekstrem seperti Gunung Rinjan ini bisa memperlambat evakuasi, profesionalisme tim SAR harus tetap terjaga bergantian menjaga korban, menjaga komunikasi yang jelas ke keluarga dan transparansi penuh soal kemajuan pencarian.
Mengizinkan tim tertidur bahkan untuk beberapa jam menjadi sinyal darurat bahwa SOP vertikal perlu dievaluasi ulang secara radikal.
Dari tragedi Juliana ini juga membuka ruang refleksi yang lebih luas dengan pentingnya regulasi lebih ketat soal rasio pemandu terhadap grup, pelatihan SAR khusus untuk kondisi yang sangat ekstre dan .kesiapan fisik peserta pendakian.
Lalu, tambahan tim cadangan, penyediaan peralatan pendukung (seperti shelter portabel), serta koordinasi helikopter sejak awal bisa mempercepat respon bilapun cuaca menjadi tantangan.
Namun, dukungan diplomatik dari Brasil harus lebih proaktif agar keluarga merasa dipenuhi informasi dan mendapat jaminan bahwa keamanan warga negaranya adalah prioritas global, bukan sekadar tanggapan ritual.
Juliana Marins, dikenal sebagai publicist dan solo traveller berkarakter pemberani, mengingatkan kita bahwa di balik viralitas kisah heroiknya, ada keinginan dasar manusia untuk bebas, mengeksplorasi, dan hidup dalam harmoni dengan alam.
Keindahan itu harus diimbangi oleh nilai kemanusiaan dan tanggung jawab profesi.
Widi Budiatmoko
