Scroll untuk baca artikel
Hiburan

Faktor Risiko Hepatitis C pada Penyakit Ginjal Kronis

×

Faktor Risiko Hepatitis C pada Penyakit Ginjal Kronis

Sebarkan artikel ini
Faktor Risiko Hepatitis C pada Penyakit Ginjal Kronis

DEPOKPOS – Hepatitis C merupakan salah satu jenis hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis C. Penyebaran virus ini cukup luas. Diperkirakan pada tahun 2019, terdapat sekitar 150 juta hingga 4,444 miliar orang yang hidup dengan hepatitis C di seluruh dunia.

Pada tahun 2019, jumlah kematian tahunan akibat hepatitis C di seluruh dunia adalah 4.444,35 juta, dan diperkirakan sekitar 12 juta orang di Asia Tenggara menderita penyakit kronis yang ditularkan melalui prosedur medis paparan dan infeksi darah.

Transfusi darah, transplantasi organ, hemodialisis, dan penggunaan tanpa prosedur screening menyebabkan penggunaan narkoba menggunakan jarum suntik dan aktivitas seksual yang berujung pada kontak langsung antara pria dan wanita. Virus hepatitis C dan penyebab darah serta faktor risiko lainnya.

Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan syarat dimana ginjal kehilangan kegunaannya menjadi organ secara sedikit demi sedikit yg berlangsung lebih menurut 3 bulan.Secara fisiologis, ginjal berfungsi menjadi penyaring residu metabolisme & cairan berlebih menurut pada darah.

Kondisi dimana ginjal ini bisa melakukan kegunaannya menggunakan baik bisa berdampak dalam organ-organ lebih kurang yang berkaitan erat kegunaannya menggunakan ginjal, sebagai akibatnya bisa mengakibatkan banyak sekali penyakit misalnya stroke, hipertensi, penyakit jantung, bahkan kematian.Di Indonesia prevalensi PGK berkisar 0,2% dalam usia pada atas 15 tahun & semakin tinggi seiring bertambahnya usia.

Populasi menggunakan PGK sebagai grup rentan terkena infeksi dampak kerusakan yg disebabkan sang ginjal terhadap organ lainnya.Hal ini memungkinkan penderita PGK lebih rentan terinfeksi sang virus hepatitis C.Bertolak berdasarkan uraian ini maka penulis tertarik buat menelusuri keterkaitan faktor risiko infeksi hepatitis C dalam PGK.

Metode Penelitian

Penelitian ini berbentuk tinjauan pustaka. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai suatu topik tertentu, yang kemudian dikaji secara detail dan kritis. Pencarian artikel dilakukan di tiga database: PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan antara lain hepatitis C, penyakit ginjal kronis, hemodialisis, penyakit menular, dan faktor risiko. Berdasarkan hasil pencarian tiga 4.444 database, kami menemukan 2.621 artikel, meliputi 352 artikel di PubMed, 653 artikel di ClinicalKey, dan 1.607 artikel di Google Scholar.

Terdapat 280 jurnal yang cocok dengan 4.444 kata kunci tersebut, dan dilakukan screening terhadap jurnal yang cocok dengan 4.444 istilah pencarian. 172 jurnal dikeluarkan karena teks lengkap dari 4.444 artikel tidak tersedia. Penilaian kelayakan dilakukan terhadap 118 jurnal fulltext, dengan mengeluarkan 4.444 jurnal yang duplikat dan tidak memenuhi kriteria inklusi, serta dikeluarkan 108 jurnal sehingga terdapat 10 jurnal fulltext yang direview.

Hasil Penelitian

Untuk buku yang dijelaskan, kami menggunakan buku Chronic Kidney Disaster, Diaracy and Transplantation (edisi ke-4) karya Cobo dkk, 2019, 8 Jeele dkk, 2021, 9 Hussain dkk. 2020, 10 Rani dkk, 2018, 11 Jadoul dkk, 2019, 12 Fabrizi dan Messa, 2018, 13 Chan dkk, 2019, 14 dan El-Moselhy dkk, 2015.

Pembahasan

Dalam hal hemodialisis, berdasarkan penelitian oleh Hussain et al,6 hemodialisis merupakan faktor risiko terbesar penyebaran VHC pada perawatan pasien dengan PGK.Dari 159 pasien negatif VHC, 95 (59,74%) di antaranya menjadi seropositif untuk VHC.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Jeele et al9 yang melaporkan jumlah prevalensi VHC sebesar 3,2ri 220 pasien; Hussain et al10 yang mendapatkan prevalensi infeksi VHC sebesar 39,22ri 153 pasien; Rani et al11 yang mendapatkan kasus positif VHC selama hemodialisis sebesar 6,57ri 380 kasus; Jadoul et al12 yang melaporkan prevalensi hepatitis C dalam DOPPS (Dialysis Outcome and Practice Pattern Study) pada tahun 2012-2015 sebesar 9,9%; El-Moselhy et al15 yang mendapatkan prevalensi VHC-overt sebesar 34ri total 100 sampel pasien dengan PGK, dengan infeksi occult ssbanyak 27,3%; dan tinjauan pustaka oleh Fabrizi dan Messa.13

Berdasarkan literatur-literatur tersebut transmisi VHC melalui hemodialisis sering terjadi meski telah dilakukan berbagai upaya pencegahan, antara lain upaya desinfektan mesin setiap kali pemakaian dan penggunaan mesin yang terpisah antara pasien satu dengan lainnya, namun transmisi VHC tetap terjadi.Jeele et al9 menyimpulkan adanya korelasi positif yang bermakna antara prevalensi VHC serta riwayat transfusi darah dan durasi hemodialis.

Penelitian oleh Rani et-al11 menambahkan bahwa banyaknya transfusi darah tidak memiiki korelasi terhadap tingginya infeksi VHC, namun banyaknya darah yang ditransfusi telah dibuktikan dari beberapa studi terdahulu memiliki korelasi terhadap infeksi VHC. Menurut Fabrizi dan Messa,13 alasan pasien dengan PGK masuk dalam populasi risiko tinggi ialah akibat prosedur hemodialisis yang memerlukan akses langsung dengan darah, dan prosedur ini dilakukan secara rutin.

Hal ini masih merupakan masalah yang belum terselesaikan karena walaupun telah banyak upaya pencegahan yang dilakukan namun transmisi VHC tetap saja terjadi. Terutama di negara-negara berkembang. Tingginya prevalensi pada negara berkembang diduga dikarenakan fasilitas hemodialis yang tersedia serta kurangnya fasilitas hemodialisis yang memadai berbanding dengan banyaknya pasien sehingga penggunaan bersama alat-alat yang digunakan dalam proses hemodialisis cenderung lebih sering dilakukan.

Mengenai transplantasi ginjal terinfeksi hepatitis C pada pasien PGK, menurut Chute et-al8 tingkat keberhasilan transplantasi ginjal terhadap pasien dengan infeksi hepatitis C terbilang sangat tinggi. Dengan kata lain, transplantasi ginjal sebagai faktor risiko transmisi VCH dapat dicegah dan diobati.

Pasien PGK yang memerlukan transplantasi ginjal dapat menerima donor ginjal dari calon donor yang terinfeksi VHC atau pendonor yang terinfeksi hepatitis C dapat langsung menjalani prosedur direct-acting antiviral (DAA) sebelum dilakukannya transplantasi ginjal. Dari total 287 pasien dengan hepatitis C 94% di antaranya berhasil diobati dengan transplantasi ginjal dan dari total 11 pasien yang gagal diobati, dua diantaranya ditatalaksana kembali dengan DAA alternatif dan sembuh, sehingga total kesembuhan pasien naik menjadi 97%.

Hal ini didasarkan pada perlakuan terapi DAA yang diberikan ke pasien baik sebelum ataupun sesudah transplantas. Penelitian lainnya melaporkan bahwa calon donor dengan infeksi VHC aktif masih dapat melakukan donor dengan tingkat keberhasilan yang tinggi dan risiko komplikasi yang kecil. Transplantasi ginjal dengan calon donor yang terinfeksi VHC kepada penerima donor dengan PGK yang tidak terinfeksi VHC tetap bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan tinggi dan komplikasi rendah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, pemberian elbasvir-grazoprevir selama 12 minggu efektif mengobati 94% pasien. Intervensi grazoprevir/elbasvir diberikan pada hari ke-3 pasca transplantasi selama 12 minggu, dan memberikanhasil negatif RNA VHC serta fungsi ginjal yang stabil. Dengan demikian disimpulkan bahwa transplantasi ginjal dapat mengakibatkan transmisi virus hepatitis C, terutama dengan makin banyaknya rumah sakit yang mengizinkan pendonor dengan VHC aktif untuk menjadi donor ginjal terhadap pasien PGK tanpa hepatitis C. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang memperbolehkan adanya transmisi virus hepatitis C dalam transplantasi ginjal namun dengan pengawan terapi DAA.

Terkait transfusi darah, Jadoul et al12 menyatakan bahwa transfusi darah merupakan faktor risiko transmisi VHC yang paling jarang terjadi. Sejak tahun 90-an dibuktikan hanya 1 per 1.000.000 transmisi VHC yang terjadi per unit darah lewat transfusi darah. Hal ini dikarenakan proses skrining sebagai deteksi dini yang menapis adanya donor darah yang terkontaminasi VHC. Selain itu, penelitian lanjut mengenai transfusi darah sebagai factor risiko penyebaran hepatitis C sangat kurang. Hanya terdapat satu penelitian yang membahas mengenai kasus denikian sejak tahun 1990 sampai saat ini.

Kesimpulan

Faktor risiko spesifik yang berkaitan dengan infeksi hepatitis C pada penyakit ginjal kronik ialah hemodialisis, transplantasi ginjal, dan transfusi darah. Ketiga faktor risiko ini berhubungan erat dalam perkembangan pengobatan pasien dengan penyakit ginjal kronik.

Disusun oleh :

Riska Ferbrianti
Mahasiswa Universitas Binawan
Program Studi Teknologi Laboratorium Medis