DEPOKPOS – Di dunia kerja sekarang persaingan makin ketat. Perusahaan itu butuh karyawan yang bukan cuma ada orangnya, tapi juga benar-benar bisa kerja sesuai posisinya. Nah, rekrutmen jadi pintu pertama yang paling penting. Masalahnya, masih banyak perusahaan yang rekrut orang buru-buru hanya karena ada jabatan kosong. Padahal kalau salah pilih orang, efeknya bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang.
Rekrutmen yang bagus itu harusnya selektif dan direncanakan dulu. Perusahaan harus jelas mau cari orang untuk posisi apa, skill apa yang wajib punya, dan tanggung jawabnya nanti apa saja. Jadi seleksinya jangan cuma lihat ijazah atau kesan pertama waktu interview, tapi harus lihat apakah kemampuan orang tersebut memang cocok dengan pekerjaannya. Seperti yang diteliti Schmidt dan Hunter (1998), cara seleksi yang berbeda hasilnya juga beda dalam menilai apakah seseorang akan berhasil di pekerjaannya. Makanya penting pakai metode seleksi yang jelas dan masuk akal.
Pentingnya rekrutmen yang tepat juga kelihatan dari data di Indonesia. BPS di laporan Agustus 2024 mencatat orang yang bekerja ada 144,64 juta dan tingkat pengangguran 4,91 persen. Jumlah tenaga kerja memang banyak, tapi bukan berarti semua orang langsung cocok dengan kebutuhan perusahaan. Tetap harus diseleksi sesuai kriteria yang dibutuhkan.
Menurut saya, kalau salah rekrut orang, yang paling kerasa itu biaya jadi bengkak. Karyawan yang belum bisa dasar-dasar pekerjaannya pasti butuh training lebih lama. Perusahaan jadi harus keluar uang lagi dan atasannya juga harus buang waktu buat ngajarin. Belum lagi kinerjanya jadi turun karena sering salah, target gak tercapai, dan harus diawasi terus. Akhirnya tim lain juga kena imbasnya.
Masalah lain yaitu karyawan jadi cepat keluar-masuk atau turnover. Contohnya di toko ritel, merekrut kasir tanpa tes ketelitian dan cara ngomong sama pelanggan. Pas sudah kerja, dia bingung pas transaksi dan gak ramah sama pembeli. Pelayanan jadi jelek. Kalau akhirnya dia resign, perusahaan harus buka lowongan lagi dari nol. Tapi memang turnover tidak selalu karena salah rekrut saja, bisa juga karena gaji, lingkungan kerja, atau masalah sama atasan.
Bagi saya, rekrutmen itu harus dianggap sebagai investasi, bukan sekadar urusan administrasi. Selektif itu bukan berarti harus cari yang pengalamannya paling banyak. Tapi cari orang yang paling pas dengan kebutuhan jabatan dan mau belajar. Perusahaan juga harus tetap kasih kesempatan buat fresh graduate, asalkan dia memenuhi syarat dasar dan ada potensi.
Biar rekrutmen lebih efektif, perusahaan bisa mulai dari hal sederhana. Pertama, bikin deskripsi pekerjaan dan syarat kemampuan yang jelas. Kedua, pakai tes yang relevan, misalnya tes praktek sesuai kerjaan, wawancara yang terstruktur, dan studi kasus. Ketiga, jujur dari awal soal tugas, target, gaji, dan suasana kerja, biar calon karyawan gak kaget. Setelah diterima, jangan lupa evaluasi selama masa percobaan untuk lihat apakah dia memang cocok.
Intinya, suksesnya rekrutmen itu bukan diukur dari seberapa cepat dapat orang, tapi seberapa tepat orang yang dipilih. Kalau rekrutmennya selektif dan terencana, perusahaan bisa hemat biaya, kerjaan tetap produktif, dan karyawan gak gampang keluar-masuk. Jadi lebih baik meluangkan waktu di awal untuk pilih orang yang tepat, daripada rugi terus-menerus karena asal rekrut.
Nindatul Khopipah
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang.
