Scroll untuk baca artikel
Artikel

FOMO dalam Bisnis: Ikut Tren atau Punya Strategi?

×

FOMO dalam Bisnis: Ikut Tren atau Punya Strategi?

Sebarkan artikel ini

Oleh:Muhammad Hakan Syukur, Mahasiswa Universitas Pamulang

FOMO dalam Bisnis: Ikut Tren atau Punya Strategi?

DEPOKPOS – Satu merek minuman mendadak viral, dan tidak lama kemudian kios serupa bermunculan di hampir setiap sudut jalan. Pola yang sama berulang pada kedai kopi susu, bisnis jastip, sampai aneka camilan kekinian. Di bulan-bulan awal antreannya panjang. Setahun berselang, banyak yang sudah berganti papan nama atau tutup sama sekali.

Kenapa orang begitu cepat terjun ke bisnis yang sama? Salah satu penyebabnya adalah FOMO.

Apa Itu FOMO dalam Bisnis?

FOMO adalah singkatan dari fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal. Di media sosial, kita mengenalnya sebagai dorongan untuk ikut membahas apa saja yang sedang ramai. Dalam dunia usaha bentuknya mirip: seseorang melihat orang lain untung dari sebuah tren, lalu merasa harus segera ikut sebelum peluangnya hilang.

Masalahnya, keputusan yang lahir dari rasa takut jarang dihitung dengan matang. Peralatan dibeli, tempat disewa, bahan baku ditumpuk, padahal pertanyaan paling dasar belum terjawab: siapa sebenarnya pembeli saya?

Harga yang Sering Terlambat Disadari

Modal habis untuk tren yang umurnya pendek. Setiap tren punya siklus. Pendatang baru biasanya masuk ketika pasar sudah mulai jenuh. Uang sudah keluar, tetapi permintaan justru menurun.

Produk tanpa pembeda. Kalau menu, rasa, dan harga hampir sama dengan pesaing, pembeli tidak punya alasan khusus untuk memilih kita. Yang tersisa hanyalah adu murah.

Perang harga dan stok menumpuk. Demi menarik pembeli, harga diturunkan sampai margin nyaris tak bersisa. Di sisi lain, bahan baku sudah terlanjur dibeli dalam jumlah besar. Arus kas pun seret, dan arus kas yang macet adalah penyebab klasik usaha kecil berhenti beroperasi.

Tren Bukan Musuh

Perlu diluruskan, mengikuti tren bukanlah kesalahan. Tren menunjukkan ke mana minat pasar bergerak, dan itu informasi yang berharga. Yang membedakan hanyalah cara kita memperlakukannya.

Pelaku usaha yang punya strategi menjadikan tren sebagai bahan pertimbangan, bukan perintah. Mereka mencobanya dalam skala kecil, menghitung risikonya, lalu mencari cara agar tren itu selaras dengan kekuatan usahanya. Sebaliknya, pelaku usaha yang terjebak FOMO mengubah arah bisnis setiap kali ada hal baru yang ramai.

Sebuah warung makan yang sudah punya pelanggan setia, misalnya, bisa saja menambahkan satu menu yang sedang digemari. Itu langkah kecil dengan risiko terukur. Lain ceritanya jika seluruh konsep warung diganti demi mengejar viral, lalu pelanggan lama pergi tanpa ada jaminan pelanggan baru datang.

Tiga Pertanyaan Sebelum Ikut Tren

Sebelum mengambil keputusan, cobalah jawab tiga pertanyaan ini dengan jujur
:

Apakah tren ini cocok dengan target pasar saya? Produk yang laris di satu kalangan belum tentu diminati pelanggan yang selama ini saya layani.

Berapa modal yang siap saya relakan jika gagal? Tetapkan batasnya sejak awal, dan jangan mempertaruhkan dana operasional atau tabungan darurat.

Apa nilai tambah yang saya tawarkan? Jika jawabannya hanya “harganya lebih murah”, berarti belum ada pembeda yang kuat.

Kalau salah satunya belum bisa dijawab, keputusan itu belum siap diambil. Menunda beberapa minggu untuk riset jauh lebih murah daripada menanggung kerugian berbulan-bulan.

Setiap tren pada akhirnya akan berlalu, dan itu wajar. Yang perlu dipastikan, bisnis kita masih berdiri setelah tren itu pergi. Tren bisa menjadi angin yang mendorong perahu lebih cepat, tetapi arah dan kemudi tetap harus kita pegang sendiri. Dalam bisnis, strategi adalah kemudi itu.

Muhammad Hakan Syukur
Mahasiswa Universitas Pamulang