Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Ramai Belum Tentu Untung: Rahasia di Balik Bisnis Kedai Kopi

×

Ramai Belum Tentu Untung: Rahasia di Balik Bisnis Kedai Kopi

Sebarkan artikel ini

Kenapa Kedai Kopi yang Ramai Bisa Tetap Merugi?

Ramai Belum Tentu Untung: Rahasia di Balik Bisnis Kedai Kopi

DEPOKPOS – Coba bayangkan sebuah kedai kopi kecil yang setiap sore penuh. Kasirnya sibuk, barista hampir tidak sempat istirahat, dan antrean sering sampai ke pintu. Tetapi di akhir bulan, pemiliknya heran karena uang di rekening tidak bertambah. Kasus seperti ini mungkin terdengar aneh, padahal bisa terjadi di mana saja, apalagi di bisnis yang sedang ramai-ramainya.

Bisnis kopi memang sedang menggoda banyak orang. Menurut APKCI, pada 2023 sudah ada sekitar 10.000 coffee shop di Indonesia, dan konsumsi kopi dalam negeri tumbuh rata-rata 8,22% per tahun pada 2016-2021. Pasar yang tumbuh menarik banyak pemain baru, sehingga kedai yang tampak ramai pun belum tentu aman. Pertanyaannya, seramai apa sebuah kedai harus jadi sebelum benar-benar untung?

Mari kita hitung dengan contoh fiktif. Sebut saja Kopi Sudut, yang menjual es kopi susu Rp18.000 per gelas dengan biaya bahan Rp8.000, sehingga tersisa Rp10.000 per gelas. Setiap bulan kedai ini harus membayar sewa Rp6.000.000, gaji dua karyawan Rp5.000.000, listrik, air, dan gas Rp1.500.000, serta promosi Rp1.000.000. Totalnya Rp13.500.000, dan angka itu harus tertutup lebih dulu sebelum satu rupiah pun menjadi laba. Artinya, Kopi Sudut perlu menjual 1.350 gelas sebulan, atau 45 gelas per hari, hanya untuk impas.

Sekarang bayangkan rata-rata penjualannya 40 gelas per hari. Terdengar tidak jauh dari target, dan kedai tetap terlihat ramai. Tetapi sebulan hanya terjual 1.200 gelas dengan sisa Rp12.000.000, sehingga kedai tekor Rp1.500.000 setiap bulan. Itu pun belum menghitung gaji pemilik, cicilan alat, atau pajak. Lima gelas yang kurang setiap hari ternyata cukup untuk mengubah usaha yang tampak sukses menjadi usaha yang pelan-pelan menggerus tabungan pemiliknya.

Angka sekecil itu hanya bisa dikejar kalau sudah dipikirkan sebelum kedai dibuka. Pemilik yang menghitung titik impas di awal akan tahu berapa target harian yang realistis, berapa dana cadangan yang perlu disiapkan untuk bulan-bulan sepi, dan apakah harga Rp18.000 masih masuk akal bagi pelanggan di sekitarnya. Pemilik yang baru menghitung setelah rugi biasanya sudah kehabisan pilihan.

Hitungan saja juga tidak cukup. Di Kopi Sudut, pemilik merangkap kasir sekaligus pembeli bahan, sehingga stok sering terlambat dicek dan antrean menumpuk di jam sibuk. Ketika tugas dibagi sesuai kemampuan, ada yang fokus meracik, ada yang melayani, dan ada yang mengurus stok, pekerjaan terasa lebih ringan dan hasilnya lebih rapi. Karyawan juga bekerja lebih tenang kalau tahu persis kepada siapa mereka harus melapor, bukan menerima dua perintah berbeda dari dua orang. Kopi yang sama bisa terasa berbeda jika diracik oleh orang yang paham tujuannya dan merasa dihargai. Bonus kecil saat target 45 gelas tercapai, misalnya, sering lebih ampuh daripada seribu kali teguran.

Pada akhirnya, semua itu perlu diuji dengan catatan sederhana. Jika target harian 45 gelas tetapi kenyataannya 40, pemilik bisa mulai bertanya: apakah harga terlalu tinggi, jam buka kurang pas, atau menu belum menarik? Jawabannya hanya bisa ditemukan oleh pemilik yang mau melihat angkanya setiap hari, bukan menebak dari ramai atau sepinya kedai.

Jadi, kedai yang penuh belum tentu kedai yang sehat. Keramaian hanya menunjukkan bahwa orang datang, sedangkan laba menunjukkan apakah usaha itu benar-benar berjalan. Kalau besok sorenya kedaimu penuh lagi, pertanyaan yang layak kamu ajukan bukan “kenapa ramai sekali?”, melainkan “apakah keramaian ini sudah cukup untuk menutup semua yang harus kubayar?”

Christopher Wesley Hapan junior
Mahasiswa Manajemen
Universitas Pamulang