DEPOKPOS – Perkembangan teknologi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia kerja. Pekerjaan yang dahulu dilakukan secara manual kini mulai dibantu oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perubahan ini membuat perusahaan perlu menyesuaikan cara kerja, sementara karyawan dituntut untuk terus mengembangkan kemampuan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
Dalam berita yang diterbitkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital pada 28 Agustus 2026, pemerintah menekankan pentingnya kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI. Teknologi ini dapat membantu meningkatkan produktivitas, tetapi juga berpotensi mengubah jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan zaman.
Menurut saya, perubahan ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman bagi tenaga kerja, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berkembang. Teknologi memang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu dengan lebih cepat, tetapi manusia tetap memiliki peran penting dalam kreativitas, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan memahami situasi. Oleh karena itu, tenaga kerja perlu belajar menggunakan teknologi sekaligus meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan dunia kerja.
Perubahan dunia kerja juga menjadi tantangan bagi perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia. Perusahaan tidak cukup hanya mencari karyawan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan saat ini. Perusahaan juga perlu memberikan kesempatan kepada karyawan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Pelatihan, pendampingan, dan peningkatan kompetensi dapat membantu karyawan menghadapi perubahan pekerjaan dengan lebih siap.
Selain perusahaan, lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab dalam mempersiapkan generasi muda. Mahasiswa tidak seharusnya hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga perlu mengembangkan keterampilan digital, kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, dan pemecahan masalah. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya ketika memasuki dunia kerja.
Di sisi lain, tanggung jawab menghadapi perubahan ini tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada pekerja. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan pelatihan. Karena itu, pemerintah dan perusahaan perlu memastikan bahwa kesempatan untuk meningkatkan keterampilan tersedia secara lebih merata. Transformasi digital seharusnya membantu meningkatkan kualitas tenaga kerja, bukan justru memperlebar kesenjangan antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi dan mereka yang belum memilikinya.
Pada akhirnya, perubahan dunia kerja merupakan sesuatu yang perlu dihadapi dengan kesiapan, bukan hanya dengan rasa takut. SDM yang berkualitas bukan sekadar tenaga kerja yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga individu yang mau terus belajar, berpikir kritis, dan mampu beradaptasi. Menurut saya, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh seberapa siap manusia mengembangkan kemampuannya untuk menghadapi perubahan tersebut.
Penuli: Sulistiawati, mahasiswa Universitas Pamulang

