Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Mahasiswa Sekaligus Pengusaha: Antara Peluang dan Tantangan Membagi Waktu

×

Mahasiswa Sekaligus Pengusaha: Antara Peluang dan Tantangan Membagi Waktu

Sebarkan artikel ini

Oleh Dimas Muhammad Fazri, mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Mahasiswa Sekaligus Pengusaha: Antara Peluang dan Tantangan Membagi Waktu

DEPOKPOS – Kini semakin banyak mahasiswa yang tidak hanya sibuk dengan jadwal kuliah dan tugas, tetapi juga mengelola usaha sendiri. Ada yang berjualan makanan dan minuman, membuka jasa desain grafis, hingga mengelola toko online melalui media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa kampus bukan lagi tempat belajar teori saja, tetapi juga ruang untuk mencoba hal baru.

Perkembangan teknologi digital turut mendorong tren ini. Media sosial, marketplace, dan berbagai platform pembayaran online membuat siapa pun, termasuk mahasiswa, dapat memulai usaha dengan modal yang relatif kecil tanpa harus memiliki toko fisik. Di sisi lain, tuntutan ekonomi, keinginan untuk mandiri secara finansial, serta dorongan untuk membangun pengalaman sebelum lulus juga membuat banyak mahasiswa tertarik menjajal dunia bisnis sejak dini. Bagi sebagian dari mereka, usaha bukan sekadar sumber penghasilan tambahan, melainkan wadah untuk melatih kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membaca peluang.

Namun, menjalani dua peran sekaligus bukan perkara mudah. Mahasiswa harus mampu membagi waktu, tenaga, dan pikiran agar kuliah dan usaha dapat berjalan seimbang.

Artikel ini membahas manfaat, tantangan, dan langkah yang dapat dilakukan mahasiswa yang ingin merintis usaha sambil kuliah.

Peluang yang Ditawarkan

Menjalankan usaha saat kuliah memberikan banyak manfaat.

Pertama, mahasiswa belajar mandiri dan bertanggung jawab. Mahasiswa harus mengambil keputusan sendiri, mulai dari menentukan produk, menetapkan harga, hingga melayani pembeli. Pengalaman ini sulit didapat hanya dari ruang kelas.

Kedua, berwirausaha mengasah berbagai keterampilan. Kemampuan komunikasi terlatih saat berhadapan dengan pelanggan, kemampuan negosiasi terasah ketika berurusan dengan pemasok, dan kemampuan mengelola keuangan berkembang saat mencatat pemasukan dan pengeluaran. Materi manajemen, pemasaran, dan keuangan yang dipelajari di kampus pun bisa langsung dipraktikkan.

Ketiga, usaha dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Hasilnya bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari atau meringankan biaya kuliah. Selain itu, mahasiswa juga membangun relasi dan jaringan sejak dini, yang berguna ketika memasuki dunia kerja atau mengembangkan bisnis yang lebih besar.

Tantangan yang Dihadapi

Di balik berbagai peluang tersebut, terdapat sejumlah tantangan (Sianturi dkk., 2025). Tantangan terbesar adalah pembagian waktu. Jadwal kuliah, praktikum, tugas kelompok, dan kegiatan organisasi sering bertabrakan dengan kebutuhan usaha, seperti
memproduksi barang, membalas pesan pelanggan, atau mengirim pesanan. Jika tidak diatur dengan baik, salah satunya bisa terbengkalai.

Tantangan berikutnya adalah keterbatasan modal. Sebagian besar mahasiswa belum memiliki penghasilan tetap, sehingga modal yang digunakan umumnya terbatas. Kondisi ini membuat mahasiswa harus berhati-hati dalam mengeluarkan uang dan tidak boleh asal mengambil keputusan.

Selain itu, kurangnya pengalaman juga menjadi hambatan. Mahasiswa mungkin belum terbiasa menghadapi masalah seperti bahan baku yang naik harga, pembeli yang sepi, atau pesanan yang terlambat. Risiko lainnya adalah menurunnya prestasi akademik apabila waktu dan energi tersita untuk usaha. Karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa tugas utamanya tetap belajar.

Tips Memulai Usaha dari Bangku Kuliah

Agar kuliah dan usaha dapat berjalan beriringan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, mulai dari yang sederhana. Tidak perlu langsung membuka usaha besar. Pilih usaha yang modalnya kecil, mudah dijalankan, dan sesuai dengan kemampuan. Dengan begitu, risiko kerugian dapat ditekan.

Kedua, manfaatkan pasar terdekat. Teman sekampus, organisasi, dan media sosial dapat menjadi calon pembeli pertama. Pasar yang dekat memudahkan mahasiswa memahami selera konsumen sekaligus menghemat biaya promosi.

Ketiga, susun jadwal dan tentukan prioritas. Tetapkan waktu khusus untuk kuliah, belajar, dan usaha. Penelitian pada mahasiswa wirausaha menunjukkan bahwa manajemen waktu yang baik berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah (Dewi & Marwansyah, 2025).

Saat musim ujian, mahasiswa bisa mengurangi aktivitas usaha sementara agar fokus belajar tetap terjaga.

Keempat, catat keuangan sejak awal. Pemasukan dan pengeluaran perlu dicatat, dan uang usaha sebaiknya dipisahkan dari uang pribadi. Pencatatan sederhana membantu mahasiswa mengetahui apakah usahanya benar-benar menguntungkan, sedangkan mencampur uang pribadi dan uang usaha membuat arus kas dan laba sulit dipantau (Jedeot dkk., 2025).

Kelima, cari rekan usaha. Berbagi tugas dengan teman dapat meringankan beban, baik dalam hal waktu maupun modal. Syaratnya, pembagian peran dan keuntungan harus jelas sejak awal agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Contoh Nyata: Mahasiswa yang Berbisnis Sambil Kuliah

Teori dan tips akan lebih mudah dipahami melalui contoh nyata. Berikut tiga mahasiswa di Indonesia yang pernah diberitakan berhasil menjalankan usaha sambil kuliah. Angka-angka yang disebutkan adalah pengakuan narasumber pada saat berita diterbitkan, sehingga kondisi usaha mereka saat ini bisa saja berbeda.

Alfi Munaya dan Alana Bakery. Alfi, mahasiswi manajemen bisnis syariah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, merintis usaha kue tanpa latar belakang pendidikan tata boga. Percobaan pertamanya membuat bolu gagal dan hasilnya tidak layak dimakan, sementara ia belum memiliki oven maupun mixer. Ia tidak menyerah, terus belajar, dan menabung sampai bisa membeli peralatan sendiri. Pada 2020, sebuah akun kuliner menawarkan promo iklan sekaligus foto produk gratis, dan dari sana usahanya mulai dikenal.

Pelanggan pertamanya berasal dari Tulungagung, padahal ia tinggal di Trenggalek, sehingga ia mengantar pesanan sendiri. Ia kemudian beralih ke fudgy brownies yang saat itu belum banyak dijual, dan memasarkannya melalui Instagram, Facebook, serta TikTok.

Menurut laporan IDX Channel, penjualannya mencapai 30 hingga 50 boks per hari dengan harga Rp30.000 sampai Rp40.000 per boks, dan usahanya tetap berjalan setelah ia menyelesaikan skripsi (Rahmadani, 2023). Kisah ini menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan pengalaman dapat diatasi dengan belajar bertahap, memanfaatkan pasar terdekat, dan konsisten memasarkan lewat media sosial.

Mengenai pembagian waktu, Alfi menyatakan bahwa ia berusaha mengoptimalkan waktu usaha dan kuliah sama-sama secara penuh (Rahmadani, 2023).

Muhammad Alvan Al Huda dan Huni Raya Group. Alvan, mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mendirikan layanan jasa wisata berbasis situs web bersama saudara kembarnya, Muhammad Alvin Al Huda, sejak tahun pertama kuliah.

Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai sopir perusahaan travel, pengalaman yang membuatnya mengenal harga sewa mobil Jeep, penginapan, dan tiket wisata. Keduanya membagi peran dengan jelas: Alvan sebagai CEO, sedangkan Alvin mengurus operasional dan pemasaran. Menurut ITS News (2019), dalam satu tahun terakhir usaha tersebut melayani sekitar 400 pelanggan dengan omzet Rp400 juta. Untuk menyeimbangkan bisnis dan kuliah, Alvan menetapkan target minimum pada keduanya, yaitu IPK paling rendah 3,0 dan sedikitnya dua konten promosi per hari (ITS News, 2019).

Contoh ini menggambarkan manfaat pembagian peran yang jelas antarrekan usaha serta target terukur sebagai pengendali prioritas.

Sri Lestari dan karpet karakter. Sri Lestari, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, memulai usaha karpet karakter pada 2019 ketika duduk di semester 4. Ia memilih produk tersebut karena persaingannya tidak terlalu ketat, sedangkan peminatnya cukup banyak.

Setelah mencoba menjual secara daring, ia mengaku kebanjiran pesanan dari Blitar maupun dari luar daerah (Rofiq, 2021). Pada saat berita ditulis, ia belum memproduksi sendiri karpet yang dijualnya, tetapi sedang mengikuti kursus menjahit dan berencana membuat produk sendiri serta mengembangkan usahanya ke luar Pulau Jawa.

Kisah ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat memulai dari model yang sederhana, yaitu menjual produk yang belum diproduksi sendiri, lalu meningkatkan kemampuan secara bertahap. Pemberitaan yang sama juga mengingatkan bahwa konsentrasi mahasiswa mudah terpecah ketika tiba waktu ujian semester, magang, dan skripsi (Rofiq, 2021).

Dari ketiga contoh tersebut tampak pola yang sejalan dengan pembahasan sebelumnya. Ketiganya memulai dari usaha yang relatif sederhana, memanfaatkan media digital untuk menjangkau pembeli, dan memiliki cara tersendiri dalam mengatur waktu. Rekan usaha dan kemauan untuk terus belajar juga mempercepat perkembangan usaha mereka.

Meski demikian, kisah-kisah ini dipilih karena berhasil, sehingga tidak mewakili seluruh mahasiswa wirausaha. Sebagian mahasiswa lain mungkin mengalami kerugian atau kesulitan membagi waktu sebagaimana telah diuraikan pada bagian tantangan.

Menjaga Keseimbangan

Berwirausaha sambil kuliah bisa menjadi pengalaman berharga, tetapi bukan berarti harus dipaksakan. Setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda. Ada yang mampu mengatur waktu dengan baik, ada pula yang membutuhkan lebih banyak penyesuaian. Yang terpenting, mahasiswa jujur menilai kemampuan diri dan berani mengevaluasi ketika usaha mulai mengganggu perkuliahan.

Penutup

Mahasiswa bisa menjadi pengusaha muda selama mampu mengatur waktu, mengelola keuangan dengan baik, dan tidak melupakan tanggung jawab akademik. Peluang yang ada di sekitar kampus, ditambah kemudahan teknologi digital, membuka jalan bagi siapa pun yang ingin mencoba. Dengan perencanaan yang matang, dimulai dari langkah kecil, dan dijalani secara konsisten, kuliah dan usaha tidak harus saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang mandiri, kreatif, dan siap menghadapi dunia kerja.

Dimas Muhammad Fazri
Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang