DEPOKPOS – Mencari pekerjaan di Indonesia sebenarnya bukan hanya persoalan ada atau tidaknya lowongan. Di tengah banyaknya perusahaan yang membuka kesempatan kerja, masih ada persoalan lain yang sering luput diperhatikan, yaitu apakah kemampuan pencari kerja benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Tidak sedikit pencari kerja yang sudah memiliki ijazah, tetapi ketika masuk ke tahap seleksi justru kesulitan memenuhi persyaratan keterampilan yang diminta. Di sisi lain, perusahaan juga mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan posisi yang tersedia.
Data Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan melalui Pasker ID menunjukkan bahwa sepanjang Januari 2025 sampai Agustus 2026 terdapat 1.830.980 lowongan kerja yang diposting oleh 187.925 pemberi kerja, dengan kebutuhan mencapai 2.467.093 tenaga kerja. Pada saat yang sama, terdapat 7.243.605 pengangguran terbuka pada Februari 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lowongan kerja belum otomatis membuat seluruh pencari kerja dapat terserap.
Masalah ini semakin terlihat ketika melihat data pendidikan. BPS mencatat bahwa pada 2025 terdapat 1.010.652 pengangguran lulusan universitas pada Februari dan 904.440 orang pada Agustus. Sementara itu, pengangguran lulusan SMK mencapai 1.628.517 orang pada Februari dan meningkat menjadi 1.923.756 orang pada Agustus 2025. Artinya, memiliki pendidikan formal saja belum cukup untuk memastikan seseorang mudah mendapatkan pekerjaan.
Persoalan kesesuaian kompetensi juga dapat dilihat dari tingkat pengangguran berdasarkan pendidikan. Pada 2025, tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK mencapai 8,63 persen, sedangkan lulusan universitas sebesar 5,39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok yang secara pendidikan sudah dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja pun masih menghadapi tantangan dalam memperoleh pekerjaan.
Ketika Perusahaan Membuka Lowongan, tetapi Sulit Menemukan Orang yang Tepat
Perusahaan pada dasarnya tidak hanya membutuhkan seseorang untuk mengisi kursi kosong. Perusahaan membutuhkan orang yang mempunyai kemampuan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Misalnya, ketika perusahaan membutuhkan staf administrasi, kemampuan menggunakan Microsoft Office, Excel, komunikasi, ketelitian, dan pengelolaan data dapat menjadi pertimbangan penting.
Data Pasker ID memperlihatkan bahwa keterampilan yang banyak dimiliki pencari kerja antara lain Microsoft Office, Microsoft Excel, Microsoft Word, memasak, dan keterampilan komputer dasar. Sementara itu, dari sisi pemberi kerja, keahlian yang banyak dibutuhkan antara lain Microsoft Office, Sales & Marketing, Microsoft Excel, Operations, dan Communication Skills. Data ini menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat titik temu antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan, tetapi tetap diperlukan peningkatan kualitas dan kedalaman kompetensi agar pencari kerja benar-benar siap mengisi posisi yang tersedia.
Persoalannya menjadi lebih rumit karena perusahaan sering membutuhkan tenaga kerja dengan pengalaman tertentu. Pasker ID mencatat bahwa sebagian besar lowongan pada 2025 ditujukan kepada lulusan SMA dan mayoritas mensyaratkan pengalaman kerja 1 sampai 4 tahun. Kondisi seperti ini dapat menjadi tantangan bagi fresh graduate yang baru menyelesaikan pendidikan dan belum memiliki pengalaman kerja yang cukup.
Pendidikan dan Dunia Kerja Tidak Boleh Berjalan Sendiri
Menurut saya, masalah ketidaksesuaian kompetensi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pencari kerja. Perguruan tinggi, lembaga pendidikan, pemerintah, dan perusahaan juga mempunyai peran dalam memperkecil jarak antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Menteri Ketenagakerjaan pada Agustus 2026 bahkan menyoroti persoalan ini dengan menyebut bahwa sekitar 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmunya. Pemerintah juga menekankan pentingnya hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan industri agar kompetensi lulusan lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar jumlah lulusan. Yang lebih penting adalah memastikan lulusan mempunyai kemampuan yang dapat digunakan dan dikembangkan ketika memasuki dunia kerja. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman praktis, pelatihan, proyek, magang, serta kemampuan komunikasi dan kerja sama yang memang dibutuhkan perusahaan.
Di Sinilah Pentingnya Perencanaan SDM
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan juga perlu memperbaiki cara melakukan perencanaan sumber daya manusia. Perencanaan SDM tidak seharusnya hanya dilakukan ketika perusahaan kekurangan karyawan. Perusahaan perlu memprediksi kebutuhan tenaga kerja berdasarkan perkembangan bisnis, jumlah pekerjaan, produktivitas, kompetensi karyawan yang sudah ada, kemungkinan karyawan keluar, serta kebutuhan keterampilan pada masa mendatang.
Jika sebuah perusahaan hanya berpikir, “Pekerjaan bertambah, berarti harus menambah karyawan,” keputusan tersebut belum tentu tepat. Bisa saja masalah sebenarnya bukan kekurangan orang, tetapi kekurangan kompetensi. Sebaliknya, perusahaan juga tidak bisa terus mengurangi jumlah karyawan jika pekerjaan membutuhkan kemampuan yang lebih spesifik.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan pemetaan kompetensi. Pemetaan tersebut dapat membantu perusahaan mengetahui keterampilan apa yang sudah dimiliki karyawan dan keterampilan apa yang masih kurang. Dari sana, perusahaan dapat menentukan apakah kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui rekrutmen baru, pelatihan, peningkatan kemampuan karyawan, atau perpindahan karyawan ke posisi yang lebih sesuai.
Bukan Sekadar Mencari Orang, tetapi Mencari Kecocokan
Perencanaan SDM yang baik seharusnya mempertemukan tiga hal, yaitu kebutuhan perusahaan, kemampuan tenaga kerja, dan perkembangan pekerjaan pada masa depan. Jika ketiganya tidak bertemu, perusahaan dapat mengalami masalah seperti salah rekrutmen, produktivitas rendah, biaya pelatihan yang tinggi, bahkan karyawan cepat meninggalkan perusahaan karena merasa pekerjaannya tidak sesuai.
Bagi pencari kerja, kondisi ini juga menjadi pelajaran bahwa ijazah bukan satu-satunya modal untuk mendapatkan pekerjaan. Kemampuan menggunakan teknologi, komunikasi, pemecahan masalah, kemampuan bekerja dalam tim, serta keterampilan teknis sesuai bidang menjadi semakin penting. Pencari kerja perlu terus mengembangkan diri agar tidak hanya memenuhi syarat administratif, tetapi juga benar-benar mampu menjalankan pekerjaan.
Data BPS menunjukkan bahwa kondisi pasar kerja Indonesia pada Februari 2026 sebenarnya terus mengalami perkembangan. Angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, penduduk yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang, dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen. Jadi, persoalan ketenagakerjaan tidak tepat jika hanya dilihat dari tingginya pengangguran. Kita juga perlu melihat apakah pekerjaan yang tersedia sesuai dengan kemampuan orang yang mencari pekerjaan tersebut.
Pada akhirnya, persoalan “lowongan kerja ada tetapi kompetensi tidak sesuai” merupakan pekerjaan rumah bersama. Perusahaan perlu membuat perencanaan SDM yang lebih matang, lembaga pendidikan perlu semakin dekat dengan kebutuhan industri, pemerintah perlu memperkuat informasi pasar kerja dan pelatihan, sedangkan pencari kerja harus terus meningkatkan kemampuan.
Jumlah lowongan kerja memang penting, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan mempertemukan orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat. Jika perencanaan SDM dilakukan berdasarkan kompetensi dan kebutuhan nyata perusahaan, maka keberadaan lowongan kerja tidak hanya menjadi angka, tetapi benar-benar dapat membuka kesempatan kerja yang produktif dan berkelanjutan.
Cantika Amelia
