Oleh Muhammad Guntur Alviyanto, mahasiswa prodi, fakultas : K3, FIKT Universitas Binawan
Industri manufaktur merupakan sektor yang memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada proses produksi di industri manufaktur melalui pendekatan sistematis. Metode yang digunakan adalah review literatur dari jurnal-jurnal ilmiah terkait untuk mengidentifikasi jenis bahaya, tingkat risiko, dan strategi pengendalian yang tepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahaya fisika seperti mesin press, gerinda, dan peralatan produksi lainnya menjadi sumber risiko utama di industri manufaktur dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi. Pengendalian risiko yang paling sering diterapkan adalah melalui kontrol administratif dan penggunaan alat pelindung diri (APD).
Kesimpulannya, penerapan sistem manajemen K3 yang komprehensif dengan metode HIRARC dapat secara signifikan mengurangi tingkat kecelakaan kerja dan meningkatkan kesehatan serta keselamatan pekerja di sektor manufaktur.
Kata Kunci: Analisis risiko, keselamatan kerja, kesehatan kerja, manufaktur, HIRARC, identifikasi bahaya
Industri manufaktur memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia sebagai sektor pengolahan bahan baku menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi. Namun demikian, industri ini juga dihadapkan dengan berbagai tantangan serius terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Menurut data dari organisasi pengawasan keselamatan kerja, industri manufaktur dan konstruksi bersama-sama mencatat kontribusi tertinggi dalam angka kecelakaan kerja di Indonesia yaitu sebesar 63,6% pada tahun 2020 (Bintang et al., 2025).
Tingginya angka kecelakaan ini menunjukkan bahwa penerapan sistem manajemen K3 di sektor manufaktur masih memerlukan perbaikan yang signifikan.
Dalam proses produksi manufaktur, pekerja dihadapkan dengan berbagai potensi bahaya mulai dari bahaya fisika seperti mesin produksi yang beroperasi dengan kecepatan tinggi, hingga bahaya kimia dan ergonomi.
Bintang et al. (2025) melakukan analisis terhadap penerapan sistem manajemen K3 di berbagai industri manufaktur dan menemukan bahwa faktor-faktor kunci yang berkontribusi terhadap keberhasilan implementasi K3 mencakup pelatihan yang memadai untuk pekerja, pengawasan yang rutin, dan komitmen dari pihak manajemen untuk melakukan investasi dalam teknologi keselamatan. Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa pelatihan K3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan karyawan dalam menerapkan prosedur keselamatan di tempat kerja (Joecy, 2025).
Analisis risiko merupakan langkah fundamental dalam manajemen K3 yang memerlukan identifikasi sistematis terhadap semua potensi bahaya yang ada. Penelitian di berbagai industri manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa bahaya yang paling banyak teridentifikasi adalah bahaya fisika seperti terkena mesin press, mesin gerinda, dan terjepit pada mesin produksi lainnya (Bintang et al., 2025). Berdasarkan fenomena ini, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada proses produksi di industri manufaktur melalui kajian literatur dari jurnal-jurnal ilmiah terkini.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode literature review atau kajian pustaka. Kajian pustaka sendiri merupakan kegiatan pengumpulan data dari berbagai sumber literatur berupa jurnal ilmiah, hasil penelitian, dan dokumentasi yang terkait dengan topik keselamatan dan kesehatan kerja pada industri manufaktur (Gudang Jurnal, 2024). Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menganalisis dan mensintesiskan informasi dari berbagai sumber penelitian terkini.
Sumber Data dan Kriteria Inklusi
Data penelitian diperoleh dari jurnal-jurnal ilmiah yang telah melalui proses peer-review dan tersedia di platform digital terbuka seperti Google Scholar, repositori jurnal terindeks, dan portal publikasi ilmiah Indonesia.
Kriteria inklusi dalam pemilihan jurnal meliputi: (1) publikasi dalam 10 tahun terakhir (2015-2025); (2) membahas topik analisis risiko K3, identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko; (3) fokus pada sektor industri manufaktur; (4) tersedia dalam format teks lengkap yang dapat diakses; (5) ditulis oleh penulis yang jelas dan terikat pada institusi akademis.
Proses Seleksi dan Analisis Data
Proses seleksi jurnal dilakukan melalui pencarian dengan kata kunci berupa “analisis risiko K3”, “keselamatan kesehatan kerja manufaktur”, “identifikasi bahaya”, “penilaian risiko”, “HIRARC”, dan “kontrol risiko”. Dari proses pencarian awal, diperoleh lebih dari 50 artikel yang berkaitan dengan topik penelitian.
Selanjutnya dilakukan penyaringan berdasarkan kriteria inklusi sehingga diperoleh 10 jurnal yang paling relevan untuk dianalisis lebih lanjut. Data dari masing-masing jurnal kemudian dianalisis secara tematik dengan fokus pada: (1) jenis-jenis bahaya yang teridentifikasi; (2) tingkat risiko dari masing-masing bahaya; (3) metode penilaian risiko yang digunakan; (4) strategi pengendalian risiko yang diterapkan; dan (5) rekomendasi untuk perbaikan program K3.
Identifikasi dan Klasifikasi Bahaya di Industri Manufaktur
Berdasarkan analisis terhadap berbagai jurnal penelitian, hasil menunjukkan bahwa industri manufaktur memiliki jenis bahaya yang sangat beragam. Dari studi literature review yang mencakup 26 jurnal penelitian mengenai industri manufaktur Indonesia periode 2015-2020, bahaya yang paling banyak teridentifikasi adalah bahaya fisika seperti terkena mesin press, terkena mesin gerinda, dan terjepit mesin produksi (Alfatiyah, 2017). Selain itu, penelitian juga menemukan bahaya ergonomi yang timbul dari postur kerja yang tidak ergonomis dalam jangka waktu lama, bahaya kimia dari penggunaan cairan pembersih dan pelumas, serta bahaya biologis yang mungkin timbul di lingkungan kerja yang lembab.
Setiawan (2020) melakukan analisis khusus terhadap risiko K3 pada proses produksi leaf spring di salah satu perusahaan manufaktur dan menemukan bahwa tahap-tahap produksi yang paling rawan mengalami kecelakaan adalah tahap pembengkokan material, pengelasan, dan finishing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun penelitian terdapat 11 kecelakaan kerja dengan hari kerja hilang sebanyak 6 hari dan total kerugian sebesar Rp. 1.050.000. Temuan ini menekankan pentingnya identifikasi bahaya yang komprehensif di setiap tahap proses produksi.
Strategi Pengendalian Risiko K3
Hasil analisis jurnal menunjukkan bahwa terdapat berbagai strategi pengendalian risiko yang dapat diterapkan untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja di industri manufaktur. Strategi pengendalian ini secara umum mengikuti hirarki pengendalian yang dimulai dari eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan terakhir personal protective equipment (PPE) atau alat pelindung diri (APD). Pada pengendalian risiko yang paling banyak digunakan di industri manufaktur Indonesia adalah pada pengendalian administratif seperti pembuatan standar operasional prosedur (SOP), pemberian bimbingan dan pelatihan dalam operasi mesin, serta peningkatan pengawasan di lapangan (Bintang et al., 2025).
Padmaraj (2022) dalam penelitiannya terhadap kecelakaan kerja di industri manufaktur menunjukkan bahwa penerapan framework keselamatan kerja yang komprehensif yang mencakup komitmen manajemen, prioritas keselamatan, keterlibatan pekerja, dan perbaikan lingkungan kerja terbukti dapat meningkatkan metrik keselamatan kerja secara signifikan dengan p-value kurang dari 0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa selain pengendalian teknis, faktor manusia dan budaya keselamatan organisasi memiliki peran yang sangat penting dalam mengurangi risiko kecelakaan kerja.
Peran Pelatihan dan Kesadaran Keselamatan Kerja
Salah satu faktor yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap pengurangan risiko kecelakaan kerja adalah implementasi program pelatihan K3 yang efektif. Penelitian menunjukkan bahwa pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan karyawan dalam menerapkan prosedur keselamatan di tempat kerja. Dengan kata lain, pekerja yang telah mendapatkan pelatihan K3 yang memadai akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang potensi bahaya dan cara-cara untuk menghindarinya (Joecy, 2025). Pelatihan K3 yang efektif juga terbukti meningkatkan kinerja pekerja secara keseluruhan di sektor manufaktur (Tsaqofah, 2025).
Penelitian yang dilakukan terhadap penerapan K3 di industri manufaktur Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran pekerja tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja dapat dicapai melalui berbagai strategi inovatif. Strategi-strategi ini mencakup program edukasi berkelanjutan, keterlibatan pekerja dalam proses identifikasi dan pengendalian risiko, pengakuan dan apresiasi terhadap pencapaian keselamatan, serta penerapan sistem reward dan punishment yang adil.
Dengan meningkatnya kesadaran dan partisipasi pekerja dalam program K3, maka secara otomatis tingkat kecelakaan kerja dapat dikurangi secara signifikan.
Penerapan Manajemen Risiko K3 di Berbagai Sektor Manufaktur
Hasil review literatur menunjukkan bahwa penerapan manajemen risiko K3 telah dilakukan di berbagai subsector industri manufaktur dengan hasil yang bervariasi.
Penelitian yang dilakukan di workshop jasa konstruksi menggunakan metode JSA (Job Safety Analysis) dan HAZOPS menunjukkan bahwa identifikasi dan penilaian risiko yang sistematis dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya yang sebelumnya mungkin terlewatkan. Dalam studi tersebut, terdapat 3 level risiko yang ditemukan pada pekerjaan pembuatan handrail dengan tingkat severity dan likelihood yang berbeda-beda (Mercubuana, 2025).
Penelitian lainnya menunjukkan bahwa dari 39 aktivitas kerja yang dianalisis menggunakan metode HIRARC, awalnya terdapat 13 risiko tinggi dengan persentase 33,33% yang kemudian melalui pengendalian risiko yang tepat dapat diturunkan ke level yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem manajemen K3 yang dirancang dengan baik dan diterapkan secara konsisten memiliki efektivitas yang tinggi dalam mengurangi risiko kecelakaan kerja di tempat kerja.
Berdasarkan analisis mendalam terhadap berbagai jurnal ilmiah terkait keselamatan dan kesehatan kerja di industri manufaktur, dapat disimpulkan bahwa industri manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan serius dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja dengan angka kecelakaan yang cukup tinggi. Identifikasi bahaya menunjukkan bahwa bahaya fisika merupakan jenis bahaya yang paling banyak teridentifikasi di sektor ini, diikuti dengan bahaya ergonomi, kimia, dan biologis. Tingkat risiko dari berbagai bahaya ini berkisar dari rendah hingga tinggi dengan mayoritas berada di level medium dan high.
Penilaian risiko menggunakan metode seperti HIRARC telah terbukti efektif dalam mengidentifikasi dan mengukur tingkat risiko kecelakaan kerja secara objektif. Adapun strategi pengendalian risiko yang paling banyak diterapkan adalah kontrol administratif dan penggunaan alat pelindung diri, meskipun secara ideal harus mengikuti hirarki pengendalian yang dimulai dari eliminasi dan substitusi. Pelatihan K3 yang memadai, pengawasan yang rutin, dan peningkatan kesadaran pekerja telah terbukti memiliki dampak positif yang signifikan dalam mengurangi tingkat kecelakaan kerja.
