Scroll untuk baca artikel
Artikel

Krisis Identitas Remaja dan Ajaran Menyimpang: Peran Keluarga yang Tak Bisa Diabaikan

×

Krisis Identitas Remaja dan Ajaran Menyimpang: Peran Keluarga yang Tak Bisa Diabaikan

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Masa remaja sebagai masa transisi krusial ditandai dengan eksplorasi identitas diri dan rentan terhadap pengaruh luar. Artikel ini mengkaji bagaimana krisis identitas yang kurang dimediasi keluarga mendorong remaja ke ajaran sesat. Melalui perspektif psikososial Erik Erikson pada tahap Identity vs. Role Confusion , diuraikan bahwa kebingungan peran membuat remaja mencari validasi serta rasa memiliki d
i luar rumah, yang sering disediakan secara cepat oleh kelompok destruktif. Artikel juga membahas proses internalisasi ajaran dari kondisi ego-dystonic (konflik internal) menjadi ego-syntonic (selaras dengan diri). Solusinya, keluarga berperan sebagai penyangga psikologis melalui komunikasi efektif, ikatan kelekatan yang kuat, serta pendidikan karakter yang mengembangkan berpikir kritis. Strategi pencegahan seperti mendengarkan secara aktif dan deteksi dini menjadi fondasi utama melindungi remaja dari ideologi menyimpang.

Belakangan ini, masyarakat sering dikejutkan oleh maraknya remaja yang terlibat dalam kelompok atau ajaran menyimpang, seperti kultus keagamaan tertutup, sel radikalisme, maupun gaya hidup destruktif. Kelompok-kelompok tersebut kerap muncul sebagai solusi atas kegelisahan hidup generasi muda, padahal justru menjerat mereka ke dalam pemahaman yang bertolak belakang dengan norma sosial dan agama. Peran media sosial yang tak terkendali semakin mempercepat penyebaran pengaruh negatif ini hingga ke ruang pribadi remaja.
Masa remaja merupakan periode transisi kritis dari kanak-kanak ke dewasa, ditandai dengan perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang intens. Secara psikologis, tahap ini melibatkan pencarian identitas yang sarat ketidakpastian dan kerentanan. Karena berada pada persimpangan hidup tanpa fondasi yang kokoh, remaja cenderung memiliki pertahanan ego yang lemah, sehingga rentan terpengaruh oleh ideologi atau gagasan baru yang menawarkan kepastian.

Walaupun pengaruh eksternal tampak mendominasi, kerentanan remaja terhadap ajaran menyimpang bukan semata-mata akibat faktor luar. Fenomena ini justru mencerminkan krisis identitas yang tidak termediasi dengan baik oleh institusi keluarga sebagai unit terkecil. Apabila keluarga gagal berfungsi sebagai penyangga psikologis dan sumber nilai primer, celah emosional akan tercipta dan mudah diisi oleh pengaruh destruktif dari luar.

Tinjauan Psikologis: Apa itu Krisis Identitas?

Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan mental pada usia biologis seperti dewasa, sehingga nampaknya ada kontraindikasi karena di satu sisi dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa. Ini adalah masa standarisasi diri di mana anak mencari identitas di bidang seksualitas, usia, dan aktivitas. Pentingnya orang tua sebagai sumber utama perlindungan dan nilai semakin berkurang. Pentingnya kelompok atau teman sebaya tidak bisa dilebih-lebihkan.

Tahap kelima adalah masa remaja, yang dimulai dengan pubertas dan berlangsung sampai usia 18 atau 20 tahun. Kebingungan Identitas merupakan ciri dari masa remaja (remaja). Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan mental pada usia biologis yang mirip dengan orang dewasa, sehingga nampaknya ada kontraindikasi karena di satu sisi dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa. Ini adalah masa standarisasi diri di mana anak mencari identitas di bidang seksualitas, usia, dan aktivitas.

Fungsi orang tua sebagai sumber rasa aman dan nilai fundamental mulai berkurang, sedangkan peran kelompok atau teman sebaya menjadi lebih penting. Menurut Erikson, ini adalah tahap yang penting karena melalui tahap inilah seseorang harus mencapai tingkat identitas ego, yang menyiratkan pemahaman siapa diri seseorang dan bagaimana seseorang menyesuaikan diri dengan masyarakat. Anak-anak mulai memasuki usia remaja, ketika identitas diri kuat di ranah sosial dan dunia kerja ditemukan.

Dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah awal dari pencarian untuk menemukan diri sendiri, dan bahwa anak-anak berada di persimpangan antara masa kanak-kanak dan kedewasaan. Perjuangan utama adalah identitas vs kebingungan peran, oleh karena itu diperlukan komitmen yang pasti untuk membangun kepribadian yang kuat agar dapat mengenal diri sendiri (Krismawati, 2018).

Bagaimana perasaan “kekosongan” atau kebingungan peran membuat remaja mencari validasi di luar rumah. Masa remaja merupakan fase transisi yang sangat rentan karena individu berada di persimpangan antara masa kanak-kanak dan kedewasaan. Pada tahap ini, remaja sering kali mengalami kontradiksi psikologis; di satu sisi mereka memiliki fisik dan mental yang menyerupai orang dewasa, namun di sisi lain mereka belum dianggap dewasa secara sosial. Kondisi ini memicu krisis “identitas vs kebingungan peran”, di mana remaja berjuang keras untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai “Siapa saya?” demi membangun kepribadian yang kuat. (Krismawati, 2018)

Ketika remaja gagal menemukan identitas diri yang stabil di dalam lingkungan keluarga, muncul perasaan “kekosongan” atau kebingungan peran yang mendalam. Rasa tidak aman ini mendorong mereka untuk mencari validasi dan pengakuan di luar rumah, terutama saat fungsi orang tua sebagai sumber utama nilai dan perlindungan mulai dirasakan berkurang oleh remaja tersebut. Ketidakmampuan untuk memediasi krisis identitas ini di tingkat keluarga menjadikan remaja sangat rentan terhadap pengaruh eksternal yang menawarkan kepastian identitas semu. (Sari, S. L., & Devianti, R., 2018)

Mengapa ajaran menyimpang terasa menarik (menawarkan rasa memiliki dan tujuan hidup yang instan). Dalam proses mencari jati diri, peran kelompok atau teman sebaya menjadi sangat penting dan kekuatannya tidak bisa dilebih-lebihkan bagi seorang remaja. (Krismawati, 2018). Psikologi kelompok menjelaskan bahwa remaja memiliki kebutuhan mendasar untuk memiliki (belonging) dan merasa diterima oleh lingkungan sosialnya. Kelompok ajaran menyimpang sering kali memanfaatkan celah ini dengan menawarkan rasa memiliki yang sangat kuat dan penerimaan tanpa syarat yang mungkin tidak mereka dapatkan di tempat lain.
Ajaran menyimpang terasa sangat menarik karena mereka mampu memberikan tujuan hidup dan identitas baru secara instan kepada remaja yang sedang mengalami kebingungan peran. (Sari, S. L., & Devianti, R., 2018). Melalui manipulasi psikologis seperti perhatian yang berlebihan atau love bombing, kelompok-kelompok ini mengisi kekosongan emosional remaja tersebut. Hal ini membuat ajaran yang awalnya terasa asing bagi nilai-nilai lama mereka perlahan-lahan menyatu dan dianggap benar karena memberikan rasa nyaman dan arah hidup yang jelas di tengah krisis identitas yang mereka alami.

Analisis: Mengapa Ajaran Menyimpang Bisa Masuk?

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun ketika pada masa kanak-kanak. Kenakalan remaja dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Seiring dengan munculnya media online dan elektronik yang menayangkan prilaku prilaku yang menyimpang mulai dari penyalahgunaan, minuman keras, sabu-sabu dan seks bebas sampai tawuran yang sangat mengganggu masyarakat seakan menambah problematika masalah pendidikan (Husaini, 2021)Hakikat wujudnya manusia adalah makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Islam telah mengatur perilaku remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nila-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Solusi yang ditempuh dalam pendidikan agama Islam yaitu dengan cara menutup aurat, menjauhi perbuatan zina, mengatur etika dalam pergaulan sehari-hari dengan sesame, dan pembentukan lingkungan yang baik dan mendukung (Qolbiyah, 2017).

Ego-Syntonic vs Ego-Dystonic:
Bagaimana ajaran tersebut perlahan menyatu dengan identitas baru si remaja.
Ego-Dystonic: Tahap Awal
Pada awal perkenalan dengan suatu ajaran, nilai, atau ideologi baru, remaja sering mengalami konflik batin. Ajaran tersebut:
terasa asing,
bertentangan dengan nilai keluarga atau keyakinan sebelumnya,
menimbulkan rasa tidak nyaman, ragu, atau bersalah.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut ego-dystonic, yaitu ketika pikiran, keyakinan, atau dorongan tidak selaras dengan konsep diri (self-concept) individu

Ego-Syntonic: Proses Interalisasi
Ketika ajaran tersebut sudah:
dianggap benar,
selaras dengan tujuan hidup,
menjadi dasar penilaian moral dan perilaku,
maka ajaran itu bersifat ego-syntonic. Artinya:
tidak lagi dipertanyakan,
dirasakan sebagai bagian alami dari diri,
bahkan dipertahankan meski bertentangan dengan lingkungan lama.
Dalam psikologi klinis, DSM-5 menjelaskan bahwa sesuatu yang ego-syntonic dirasakan konsisten dengan identitas dan nilai individu, sehingga jarang dianggap sebagai masalah oleh
orang yang bersangkutan.

Peran Keluarga sebagai “Psychological Buffer” (Penyangga Psikologis)
Hubungan yang aman dengan orang tua sebagai fondasi mental remaja. Istilah Kelekatan (attachment) untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. John Bowlby (1907 – 1990), psikiater Inggris, menjelaskan bahwa “maternal deprivation” atau kekurangan kasih sayang ibu sering menyebabkan kecemasan (anxiety), kemarahan (anger), penyimpangan perilaku (delinquency), dan depresi. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969 (McCartney dan Dearing, 2002: 85).
Merujuk pada pendapat di atas, maka kelekatan orangtua merupakan fungsi adaptif yang menyediakan landasan bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Menanggapi hal tersebut, Santrock(2002:41) menyatakan bahwa kelekatan yang kokoh dapat melindungi anak dari kecemasan dan perasaan depresi atau tekanan emosional yang berkaitan dengan masa transisi antara anak-anak ke dewasa. Kelekatan dapat membuat anak menganggap bahwa mereka memiliki keluarga yang hangat dapat menceritakan setiap keluhan yang mereka alami.

Orangtua memberikan kepercayaan, memahami kebutuhan, menghargai, dan menghormati pilihan maupun keputusan, melibatkan dalam menyelesikan konflik, maupun masalah yang terjadi pada remaja.

Kegagalan Komunikasi:
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia pada saatia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial, dalam interaksi dalam kelompoknya.Dalam keluarga yang sesungguhnya komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam,serta saling membutuhkan(Kurniadi, 2010: 271).Secara sadar maupun tidak, dalam sebuah keluarga selalu terjadi proses pembentukan karakter yang kelak menjadi bekal kehidupan bagi anak dalam proses bersosial(Handayani, 2016: 63). Dengan kata lain Komunikasi merupakan salah satu cara yang paling tepat dalam membentuk karakter anak dalam keluarga.

Diantara sifat-sifat umum ini tipe pola komunikasi kebapakan adalah orang tua menganggap anak sebagai manusia yang tidak dewasa, terlalu melindungi anak, tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan dan untuk mengembangkan inisiatif dan kreasi, orang tua sering menganggap dirinya serba tahu (Djamarah, 2014 : 62).
Pola Komunikasi Manipulasi adalah pola komunikasi yang selalumelakukan tipuan, rayuan, memutar balik kenyataan. Agar apa yang dikendaki tercapai, orang tua menipu dan merayu anak agar melalukan yang dikehendakinya. Pola komunikasi orang tua yang bergaya manipulasi biasanya berhasil mencapai tujuan karena anak yang diperlakukan tidak tahu maksud orang tuanya (Djamarah, 2014 : 64).
Pola Komunikasi Transaksi adalah pola komunikasi orang tua tipe ini selalu melakukan perjanjian (transaksi), di mana orang tua dengan anak membuat kesepakatan dari setiap tindakan yang diperbuat. Ada sanksi tertentu yang dikenakan kepada anak jika suatu waktu anak melanggar perjanjian tersebut (Djamarah, 2014 : 64).

Pola Komunikasi Pamrih adalah pola komunikasi yangsetiap hasil kerja yang dilakukan ada nilai material.Bila orang tua ingin menggerakan anak untuk melakukan sesuatu, maka ada imbalan jasanya dalam bentuk material.Jadi karena ingin mendapatkan imbalan jasa anak terdorong melakukan sesuatu yang diperintah sesuatu (Djamarah, 2014:66).
Ketika orang tua mengunakan pola komunikasi yang tidak otoriter maka dampak pada karakter anak mereka juga akan menggunakan pola komunikasi yang tidak otoriter ketika berbicara dengan orang lain di lingkungan sekolah.

Pendidikan Nilai dan Kritis:
Keluarga sebagai tempat pertama untuk melatih nalar kritis agar tidak mudah terindoktrinasi. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter remaja hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena remaja hidup dalam ligkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tertentu, maka pengembangan karakter remaja hanya dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat berangkutan. Artinya, pengembangan karakter remaja hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan keluarga, sekolah, dan budaya masyarakat.
Pendidikan karakter bergerak dari knowing menuju doing atau acting. William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berprilaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Mengacu pada pemikiran tersebut maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter.
Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan kepada peserta didik untuk mengisi ranah kognitif mereka. Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentukbentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humility).

Solusi dan Strategi Preventif
Active Listening: Menciptakan ruang aman bagi remaja untuk bercerita tanpa dihakimi.
Keluarga harus mampu menciptakan ruang aman bagi remaja untuk mengekspresikan diri melalui praktik active listening. Komunikasi yang efektif dalam keluarga bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan upaya untuk membangun ikatan emosional yang kuat sehingga remaja merasa didengar dan dipahami tanpa adanya penghakiman. (Kurniadi, 2010). Ketika orang tua mampu menjadi pendengar yang baik, remaja akan merasa memiliki rumah sebagai tempat “pulang” yang paling nyaman untuk menceritakan setiap keluhan atau tantangan yang mereka hadapi di luar sana. (Djamarah, 2014)

Validasi Emosi: Mengakui pencarian jati diri mereka tanpa harus bersikap reaktif.
Selain mendengarkan, orang tua perlu memberikan validasi emosi terhadap proses pencarian jati diri yang sedang dialami anak. Alih-alih bersikap reaktif atau otoriter terhadap perubahan sikap remaja, orang tua sebaiknya mengakui bahwa kegelisahan dan eksplorasi identitas adalah bagian alami dari perkembangan manusia. (Sari, S. L., & Devianti, R. 2018). Dengan memberikan kepercayaan dan menghargai perasaan mereka, keluarga memberikan landasan psikologis yang kokoh (attachment) yang dapat melindungi remaja dari tekanan emosional dan tarikan pengaruh negatif dari lingkungan luar. (Krismawati, 2018)

Deteksi Dini: Mengenali perubahan perilaku signifikan secara psikologis (menarik diri, perubahan kosa kata, atau fanatisme mendadak).
Strategi preventif terakhir adalah melakukan deteksi dini terhadap perubahan perilaku yang signifikan secara psikologis. Orang tua perlu waspada jika remaja mulai menarik diri dari lingkungan sosial yang biasanya, menunjukkan fanatisme yang mendadak terhadap suatu paham, atau menggunakan kosa kata asing yang merujuk pada ideologi tertentu. (Lestari, E. G., dkk. 2017) Mengenali tanda-tanda ini secara dini sangat penting untuk mencegah ajaran menyimpang yang awalnya bersifat asing (ego-dystonic) merasuk menjadi bagian permanen dari identitas diri remaja tersebut (ego-syntonic). Melalui pendekatan pendidikan agama yang tepat di dalam keluarga, penyimpangan perilaku ini dapat segera diarahkan kembali menuju nilai-nilai akhlak yang sesuai dengan tuntunan agama (Irawan, n.d.)

Penutup
Sebagai sintesis dari seluruh pembahasan, pembentukan identitas remaja yang tangguh bukanlah tugas individu semata, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif yang harus dimulai dari fondasi paling utama, yakni rumah. Keluarga memegang peran sentral dalam memastikan setiap remaja melewati fase Identity vs Role Confusion dengan bimbingan yang tepat melalui komunikasi yang terbuka, kasih sayang yang konsisten, serta pendidikan nilai-nilai kritis. Tanpa peran aktif keluarga sebagai penyangga psikologis, segala upaya pencegahan eksternal akan sulit mencapai hasil yang maksimal dalam membentengi remaja dari tarikan ideologi destruktif.
Ajaran menyimpang hanyalah “obat palsu” yang menawarkan kepuasan semu bagi jiwa remaja yang tengah lapar akan identitas, sementara keluarga adalah “nutrisi sejati” yang mampu memberikan validasi dan kasih sayang autentik. Tanpa asupan emosional yang sehat dari rumah, remaja akan terus rentan mengonsumsi identitas instan yang merusak, sehingga penguatan kelekatan dalam keluarga menjadi satu-satunya cara permanen untuk membangun imunitas mental mereka.

Azalea Syifa Aulia
Fawazah Niswah
Fakultas Psikologi, Prodi Psikologi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka