Oleh: Elmira Fairuz, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Perkembangan era digital membawa perubahan besar dalam kehidupan generasi Muslim, khususnya generasi muda. Kemajuan teknologi yang begitu cepat telah memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Di satu sisi, digitalisasi menawarkan kemudahan akses ilmu dan komunikasi, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan besar bagi keutuhan akidah dan moral generasi Muslim.
Kondisi ini menunjukkan persoalan generasi hari ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan sistem kehidupan yang mengaturnya. Arus digital yang tidak dibingkai dengan nilai Islam menjadikan generasi muda mudah terpapar budaya asing, gaya hidup bebas, serta pola pikir sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, banyak anak muda kehilangan arah dan jati diri sebagai Muslim.
Dalam Islam, generasi tidak dipandang sekadar sebagai penerus biologis, tetapi sebagai amanah besar yang harus dijaga dan dibina. Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam, yakni pribadi yang memiliki akidah kokoh, kesadaran akan hubungannya dengan Allah, serta komitmen untuk menjalankan syariat dalam setiap aspek kehidupan. Pendidikan semacam ini tidak berhenti di ruang kelas, melainkan dimulai dari keluarga dan berlangsung sepanjang hayat.
Berbeda halnya dengan sistem sekuler yang menempatkan agama hanya sebagai urusan pribadi. Dalam sistem ini, pendidikan lebih berfokus pada capaian akademik dan keterampilan duniawi, sementara pembentukan iman dan akhlak sering kali terabaikan. Ketika keluarga kurang memahami Islam dan lingkungan tidak mendukung pembinaan keimanan, maka wajar jika generasi tumbuh rapuh, mudah terpengaruh, dan sulit membedakan antara yang benar dan salah.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat jelas dalam kehidupan sosial. Maraknya penyimpangan moral, krisis identitas, serta lemahnya kepedulian terhadap nilai agama merupakan konsekuensi dari sistem yang tidak menjadikan Islam sebagai landasan. Era digital pun kerap memperparah keadaan ketika media sosial menjadi rujukan utama perilaku, tanpa kontrol nilai dan adab.
Meski demikian, era digital sejatinya bukan sepenuhnya ancaman. Teknologi dapat menjadi sarana kebaikan jika digunakan dengan kesadaran dan tujuan yang benar. Generasi Muslim memiliki potensi besar untuk menjadikan digitalisasi sebagai media dakwah, edukasi, dan penguatan identitas Islam. Dengan iman yang kuat dan ilmu yang benar, teknologi justru bisa menjadi alat untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Oleh karena itu, kebangkitan generasi Muslim menuntut perubahan yang mendasar. Bukan sekadar pembenahan teknis, tetapi perubahan cara pandang terhadap pendidikan dan kehidupan. Islam harus kembali dijadikan pedoman utama dalam membina generasi, baik di keluarga, masyarakat, maupun negara. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak akan merusak, melainkan menguatkan generasi Muslim sebagai pelopor perubahan.[]
