DEPOKPOS – Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO kini menjadi salah satu tekanan psikologis yang paling besar bagi anak muda.
Masalah ini bukan sekadar rasa penasaran pada aktivitas teman di media sosial, melainkan bentuk kecemasan sosial yang secara perlahan memengaruhi cara kita mengambil keputusan.
Dan inilah alasan mengapa FOMO perlu kita lihat sebagai masalah serius. FOMO mendorong terbentuknya standar hidup yang tidak realistis.
Media sosial dipenuhi potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain—liburan, prestasi, pencapaian finansial, gaya hidup mewah—yang sering kali tidak mencerminkan kenyataan sepenuhnya.
Ketika anak muda terus membandingkan diri dengan gambaran ideal tersebut, rasa tidak mampu dan tidak cukup pun muncul.
Akibatnya, banyak yang mulai mengejar standar yang sebenarnya tidak harus mereka miliki hanya untuk terlihat “setara”.
FOMO membuat seseorang mengambil keputusan secara impulsif, bukan berdasarkan pertimbangan matang. Mahasiswa sering mengikuti kegiatan hanya karena semua teman melakukannya.
Remaja membeli barang-barang viral bukan karena manfaatnya, tetapi karena takut dianggap ketinggalan tren. Bahkan waktu istirahat pun terganggu karena merasa wajib mengecek story dan unggahan terbaru.
Bila terus berlanjut, kebiasaan ini merusak kemampuan berpikir kritis dan membuat individu kehilangan arah yang sesuai dengan tujuan hidupnya.
FOMO memberi dampak signifikan terhadap kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terpaan konten digital yang penuh perbandingan dapat meningkatkan kecemasan, stres, dan membuat seseorang mudah merasa lelah secara emosional.
Anak muda menjadi gelisah ketika tidak online, takut tertinggal saat tidak hadir dalam suatu acara, dan kesulitan menikmati hidup tanpa pengakuan digital. FOMO tidak lagi sekadar persoalan gaya hidup, tetapi sudah mengancam keseimbangan psikologis.
FOMO mendorong munculnya gaya hidup serba tampil, di mana kebahagiaan lebih ditujukan untuk ditonton ketimbang dirasakan.
Budaya “foto dulu, rasakan kemudian” menjadi bukti bahwa dokumentasi demi media sosial sering kali lebih diprioritaskan daripada pengalaman itu sendiri. Ketika hidup berubah menjadi panggung, keaslian diri perlahan memudar.
Meski demikian, persoalan ini tetap bisa diatasi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, literasi digital perlu diperkuat, terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Mereka harus memahami bahwa media sosial hanyalah ruang kurasi, bukan gambaran utuh kehidupan. Kesadaran ini penting untuk menghentikan kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.
Kedua, penggunaan gawai harus dibatasi secara cerdas. Menetapkan waktu tanpa ponsel, menonaktifkan notifikasi tertentu, atau mengurangi penggunaan aplikasi yang memicu kecemasan dapat membantu seseorang kembali mengendalikan hidupnya.
Ketiga, penting untuk membangun budaya hidup yang autentik. Anak muda perlu didorong untuk menghargai proses, merayakan langkah kecil, dan memahami bahwa setiap orang bergerak pada ritme yang berbeda.
Keempat, dukungan sosial dari keluarga, kampus, dan komunitas sangat diperlukan. Lingkungan yang aman untuk bercerita tanpa tekanan perbandingan akan mengurangi ketergantungan pada validasi digital.
Pada akhirnya, FOMO adalah produk dari masyarakat yang bergerak terlalu cepat dan terlalu bergantung pada penampilan. Tetapi kita masih memiliki pilihan: hidup untuk diri sendiri atau hidup untuk konsumsi publik.
Yang jelas, generasi muda perlu kembali menyadari bahwa tidak ikut tren bukan berarti tertinggal. Sering kali, justru di luar keramaian itulah kehidupan yang sebenarnya dapat dinikmati.
Penulis: Shofiatul Fitriani dan Muhammad Adam adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

