Oleh Kurnia Lestari Ningsih, Mahasiswa Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Mungkin sebagian dari kita sering kali bertanya-tanya, apa yang membentuk siapa kita? Dua kekuatan utama yang memengaruhi perkembangan individu kita adalah hereditas dan lingkungan Tidak mungkin kita dapat memisahkan dua faktor utama yang memengaruhi perkembangan manusia lingkungan dan genetika. Hereditas, kadang disebut faktor genetik, adalah warisan biologis yang dibawa individu sejak lahir melalui gen dari kedua orang tua. Komponen ini menentukan karakteristik fisik seseorang (warna kulit, tinggi badan, fitur wajah), kemampuan intelektual, keterampilan, dan kualitas kepribadian (temperamen, emosi dasar). Meskipun pertumbuhan seseorang ditentukan oleh komposisi genetiknya, potensinya tidak akan mencapai potensi maksimal jika faktor lingkungan tidak ada. Lingkungan adalah yang mencakup segala sesuatu di luar diri seseorang yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, masyarakat, budaya, serta status pendidikan dan ekonomi. Lingkungan yang mendukung akan membantu individu mengembangkan potensi intrinsik mereka, tetapi lingkungan yang tidak menguntungkan mungkin menghambat atau bahkan membatasi kemampuan yang seharusnya dapat berkembang secara maksimal.
KONVERGENSI, NATIVISME DAN EMPIRISME
Para ahli pengembangan manusia telah mengajukan berbagai hipotesis untuk menjelaskan bagaimana perkembangan pribadi dipengaruhi oleh pengaruh intrinsik dan lingkungan. Dalam hal ini, tiga ide yang paling populer adalah nativisme, empirisme, dan konvergensi.
TEORI NATIVISME
Teori nativisme, yang dikemukakan oleh individu seperti Arthur Schopenhauer, menyatakan bahwa perkembangan seseorang hanya dipengaruhi oleh unsur-unsur intrinsik atau bawaan. Menurut pandangan ini, kemampuan, karakter, dan IQ seseorang sudah ditentukan sejak lahir dan tidak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan memiliki pengaruh yang relatif kecil karena semua potensi ditentukan secara genetik. Karena itu adalah bagian alami dari diri mereka, seseorang yang lahir dengan keterampilan kreatif, misalnya, akan selalu memiliki kemampuan itu bahkan jika mereka tidak berlatih.
TEORI EMPIRISME
Manusia dilahirkan dengan “tabula rasa,” atau lembaran kosong, menurut teori empirisme John Locke. Ini berarti bahwa semua yang mereka ketahui, bisa lakukan, dan bagaimana mereka berperilaku sepenuhnya dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan mereka. Menurut pandangan ini, perilaku dan IQ seseorang tidak dipengaruhi oleh sifat-sifat intrinsik apa pun, melainkan oleh stimulasi, pendidikan, dan pengalaman hidup yang mereka peroleh dari lingkungan mereka. Misalnya, jika seorang anak dibesarkan di rumah tangga yang baik, memiliki pendidikan yang bagus, dan orang tua yang suportif, mereka akan tumbuh menjadi orang yang brilian dan baik meskipun lahir tanpa bakat khusus.
TEORI KONVERGENSI
Dalam teori konvergensi, kedua sudut pandang ini berusaha untuk disatukan. William Stern berpendapat bahwa perkembangan manusia dihasilkan dari interaksi variabel genetik (bawaan) dan lingkungan (pengalaman). Ini menunjukkan bahwa lingkungan seseorang membantu mengubah potensi dasar mereka menjadi kenyataan, sementara gen mereka memberikan potensi itu. Sebagai contoh, seorang anak muda yang memiliki bakat alami dalam musik tidak akan menjadi musisi hebat tanpa usaha dan lingkungan yang mendukung; sebaliknya, lingkungan yang baik saja tidak cukup jika seseorang tidak memiliki kemampuan intrinsik. Akibatnya, teori konvergensi dianggap paling seimbang karena mengakui peran penting yang dimainkan oleh pengaruh keturunan dan lingkungan dalam membentuk kepribadian, kemampuan, dan perilaku seseorang. Dengan kata lain, pertumbuhan manusia dihasilkan dari kombinasi yang seimbang antara hal-hal yang dibawa sejak lahir dan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman.

)