Oleh: Fatmah Ramadhani, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Kisah ini tentang listrik masuk desa. Konon, warga desa tidak ada yang tahu apa itu listrik. Bila malam tiba, seluruh penduduk sudah terbiasa dengan nyala temaram dari suluh, bau asap, dan hitam jelaga. Tersiar kabar tak lama lagi akan ada listrik masuk desa untuk menerangi kampung.
Ternyata tak semua warga, di sana ada satu orang yang mengenal listrik. Sayangnya, bukan tentang kebaikan tapi hal buruk dari listriklah yang ia ketahui. Listrik dapat menyebabkan korsleting, listrik dapat memicu terjadinya kebakaran, listrik tidak baik untuk kesehatan, serta hal negatif lainnya.
Dengan penuh semangat, baik siang maupun malam, berkelilinglah orang yang anti listrik ini ke rumah-rumah penduduk. Tujuannya mengedukasi masyarakat akan bahaya yang mengancam dari listrik. Tak lama upayanya membuahkan hasil, mayoritas warga menolak kehadiran listrik. Warga menganggap kegelapan adalah hal biasa, mereka juga menganggap desa diliputi gulita hal yang wajar.
Kita melihat permasalahan ini muncul dari hal yang sangat sederhana. Hanya karena kurang informasi dan salah memahami informasi, membuat warga desa tidak mau berpisah dari kegelapan. Sampai di sini mungkin sebagian pembaca sudah bisa sedikit menebak apa keterkaitan judul di atas dengan hikmah dari kisah listrik masuk desa. Sangat klise sekali.
Makna tersirat dari ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang’ mengharuskan kita untuk ta’aruf atau saling mengenal. Ta’aruf sendiri maknanya sangat umum, berlaku untuk setiap hal, bisa berkenalan dengan orang (baik lawan jenis atau sesama jenis), hingga berkenalan dengan benda, ide, atau pemikiran.
Sangat mudah dimengerti, mustahil bagi seseorang menyukai sesuatu bila ia tidak mengenalnya. Apalagi yang ia ketahui hanya hal buruk, negatif, dan bahaya terkait benda atau orang tersebut. Tidak mungkin dia akan menyayangi dan memperjuangkannya. Ia akan menjadi orang yang bersikukuh dan paling keras untuk menentang dan menolaknya.
Begitu pula dengan Islam. Bila yang kita ketahui tentang Islam hanya sedikit, tentu kita akan berislam secara sedikit. Wajar jika yang kita ketahui hanya tentang shalat, puasa, zakat, dan haji, maka keislaman kita hanya seputar empat hal itu saja. Namun, bila kita tahu banyak tentang Islam, bisa jadi kita akan merasa sudah berislam secara penuh dan sempurna.
Tapi tunggu dulu, pengetahuan yang banyak seputar Islam itu terkait apa? Apakah terkait hal baik atau hal buruk? Apakah terkait hal yang masih murni berasal dari Islam ataukah sudah tercampur dengan propaganda negatif yang menyerang ajaran Islam?
Bila yang kita pahami hal yang murni berasal dari Islam, tidak terkontaminasi dengan sesuatu yang buruk dari luar Islam. Maka, kita akan mempelajari Islam bukan dari mulut para pembenci, bukan pula dari orang-orang yang memusuhi ajaran Islam.
Sebaliknya, bila kita mempelajari Islam justru bukan dari sumber yang murni sesuai yang dibawa oleh Rasulullah SAW atau mempelajari Islam tapi bertentangan dengan isi Al Qur’an dan hadits, maka perilaku kita terhadap Islam akan persis seperti si tukang anti listrik dalam kisah di atas.
Ke mana pun ia pergi, ia akan menjadi juru bicara kebatilan, berbicara tentang ajaran Islam yang sudah terkontaminasi ajaran asing, serta alergi terhadap kajian-kajian yang membahas penerapan Islam kaffah. Penulis sendiri pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini. Padahal, buat apa kita berislam kalau kita akhirnya menjadi orang yang selalu memburukkan ajaran Islam?
Maka, ta’aruflah. Berkenalan dengan ajaran Islam sebenar-benarnya Islam. Benar sumbernya, benar pula pembahasan dan pemahamannya. Jangan mau mempelajari dan menjalankan Islam tapi sesuai pesanan dari para pembenci Islam.
Ibarat pohon yang tinggi, rindang, dan kokoh, maka mempelajari Islam haruslah dimulai dari akar, batang, cabang, hingga daunnya. Semuanya dipelajari secara benar dan tidak mis informasi. Maka kita akan berislam secara utuh dan menyeluruh.
Berislam sesuai dengan yang diperintahkan oleh zat yang telah menciptakan diri kita sebagai makhluk hidup yang paling sempurna. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 208, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Akar dari ajaran Islam adalah iman dan akidah. Apa yang tumbuh dan terpancar dari akar adalah batang, cabang, ranting, hingga daun. Semuanya. Maka, apa yang tumbuh dan terpancar dari ajaran keimanan dan akidah Islam adalah seluruh syari’at Allah. Maka yang akan tumbuh dan terpancar dari iman dan akidah dalam diri seorang Muslim ketaatan dan ketundukan dalam menjalankan seluruh syari’at Allah. Semuanya, tidak setengah-setengah, tapi utuh menyeluruh, kaffah.
Semoga dengan berta’aruf secara benar seperti tuntunan di atas, kita menjadi Muslim seutuhnya. Hilang sangka dan duga tak berdasar atas ajaran Islam. Tidak alergi terhadap kajian-kajian Islam, apalagi kepada para pejuang Islam. Hingga tumbuh rasa sayang dan rela berkorban untuk Islam dalam diri kita, insyaallah. Wallahu’alam.[]
