DEPOKPOS – Manusia seringkali mendapatkan cobaan serta tantangan dalam hidupnya. Ketika cobaan tersebut datang, manusia, terkhususnya seorang muslim sangat dianjurkan untuk memiliki sikap tsabat dalam diri mereka. Tsabat mencakup keyakinan, sikap sabar serta keimanan seorang muslim yang nantinya akan berperan sangat besar ketika mereka menghadapi suatu ujian ataupun cobaan-cobaan dari Allah SWT.
Selain dari konsep agama, tsabat juga memiliki keterkaitan dengan konsep psikologi yang dimana tsabat tersebut menjadi landasan utama ketika manusia ingin mengembangkan ketangguhan mental mereka demi menghadapi cobaan hidup yang ada.
Tsabat berarti teguh. Jika diartikan secara terminologi, tsabat memiliki arti ketetapan serta keteguhan hati dalam menapaki jalan Ilahi guna meraih suatu tujuan, berkorban demi penyebaran nilai-nilai iman serta berkomitmen terhadap prinsip agama serta istiqomah di atas manhaj Rabbani hingga seseorang menemui Rabb-nya. (Ust. Fir’adi Nasrudin, 2015).
Tsabat menurut Konsep Islam
Dalam konsep Islam, Tsabat dapat juga disebut sebagai Istiqomah. Istiqomah merupakan kata masdar dari akar kata Istaqama-Yastaqimu yang berarti lurus, teguh serta konsisten. Rahman (2018) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa istiqomah merupakan suatu sikap yang dapat membentuk kepribadian seorang individu sehingga individu tersebut dapat menjadi insan yang sejati serta menjadi khalifah Allah yang mempelajari tentang pendidikan Islam di muka bumi.
Menurut penjelasan dari tafsir Aisar dalam Santosa (2022), Istiqomah merupakan orang-orang yang sangat meyakini kebenaran dari agama islam itu tersendiri dengan tidak pernah menukarkan kepercayaan atau keyakinan mereka dengan keyakinan yang lainnya.
Imam Hasan Al-Banna dalam Majmu’atur Rasail menjelaskan bahwa tsabat merupakan orang yang senantiasa bekerja serta berjuang di jalan dakwah yang teramat panjang hingga pada akhirnya seseorang tersebut kembali kepada Allah SWT disertai dengan kemenangan, baik kemenangan di dunia ataupun mati syahid (alhikmah, 2011).
Terdapat beberapa pendapat ulama terkait dengan pemaknaan istiqomah tersebut, diantaranya seperti yang dijelaskan dalam Santosa (2022), yaitu :
Menurut Abu Bakar Ash Shiddiq, beliau memaknai istiqomah sebagai tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun (baik benda hidup maupun benda mati dan lain sebagainya).
Menurut Umar bin Khattab, istiqomah merupakan suatu anjuran untuk manusia agar bisa bertahan di dalam sebuah perintah, selain itu istiqomah dapat juga dimaknai sebagai suatu larangan untuk tidak berpaling ke yang lainnya.
Utsman bin Affan, beliau memaknai istiqomah sebagai ikhlas.
Menurut Ali bin Abi Tholib, istiqomah merupakan suatu tindakan dalam melakukan suatu kewajiban.
Menurut Ibnu Abbas, istiqomah memiliki tiga arti. Yang pertama, istiqomah dengan menggunakan lisan dengan membaca syahadat. Yang kedua, istiqomah dengan hati dengan cara melakukan apapun dengan didasari niat jujur.
Lalu yang terakhir, istiqomah dengan jiwa, yaitu istiqomah yang dimana seorang individu senantiasa menjalankan ibadahnya serta taat kepada Allah dengan secara terus menerus.
Dalam Al-qur’an, banyak ayat yang menjelaskan tentang tsabat. Seperti yang tertulis di dalam surat Al-Imran ayat 147. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa mereka berdoa kepada Allah untuk diampuni dari segala dosa-dosa dan tindakan-tindakan mereka serta meminta agar Allah menetapkan (meneguhkan) pendirian mereka agar mereka terhindar dari kaum-kaum kafir.
Allah menurunkan bantuan secara berturut-turut melalui para malaikat serta memberikan bantuan lainnya kepada kaum muslimin yang saat itu sedang berperang dengan berupa situasi dan kondisi yang menguntukan bagi mereka. Bantuan situasi dan kondisi tersebut merupakan hujan sebagaimana seperti yang dijelaskan dalam
surah Al-Anfal ayat 11.
Para rasul terdahulu mengalami perdebatan serta permusuhan di antara mereka. Banyak dari kaum mereka yang mendustakan serta menyakitinya, dan itu bahwasannya berguna untuk meneguhkan hati Rasulullah agar beliau tak tergoyahkan oleh apapun demi menanggung tugas kerasulan serta menyiarkan dakwahnya. Tak hanya itu, kisah-kisah tersebut juga dapat menanamkan rasa yakin yang mantap serta mendalam atas apa yang diserukan oleh para rasul. Seperti akidah bahwa Allah SWT itu Esa, bertobat serta beribadah kepada Allah dengan ikhlas, serta meninggalkan kejahatan (baik yang nyata maupun tidak) sebagaimana seperti yang dijelaskan pada
surat Hud ayat 120.
Para orang-orang kafir serta orang-orang Yahudi bertanya alasan mengapa AL-Qur’an tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad sekaligus seperti kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu, namun Allah menolak pertanyaan tersebut dan menerangkan alasan mengapa AL-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur yaitu kaarena Allah ingin menguatkan hati Nabi Muhammad. Alasan lainnya mengapa ALQur’an diturunkan secara berangsur-angsur yaitu karena Nabi Muhammad sering bertemu dengan malaikat Jibril, di pertemuan-pertemuan tersebutlah beliau akan menerima nasihat-nasihat demi menambahkan semangat, kesabaran serta ketabahan beliau ketika menunaikan risalah-Nya.
Tsabat menurut Para Ulama
Terdapat beberapa pendapat ulama yang membahas terkait tsabat. Diantaranya yaitu :
Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyya mengemukakan konsep tsabat sebagai keadaan jiwa yang tetap stabil dan teguh dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan, tidak tergoyahkan oleh godaan atau cobaan.
Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa tsabat adalah sikap teguh dan kokoh dalam menghadapi ujian atau godaan, serta tetap istiqamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Imam Al-Qurtubi menyatakan bahwa tsabat adalah keteguhan dan ketabahan hati dalam menjalankan agama Allah, tanpa terpengaruh oleh godaan atau tantangan yang muncul.
Tsabat menurut Konsep Psikologi
Dalam konsep psikologi, Tsabat dapat juga disebut sebagai optimisme. Optimisme merupakan salah satu dari sikap psikologi positif yang dimana sikap tersebut mengarahkan tiap individu kepada sifat-sifat positif.
Menurut Segestrom dalam Lusiawati (2019) menyatakan bahwa optimisme merupakan sebuah cara berpikir yang positif serta realistis dalam memandang suatu masalah. Meskipun rasa optimis ini tidak dapat dilihat dengan hanya menggunakan mata, namun dapat terlihat ketika seorang individu sedang melakukan suatu pekerjaan.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, optimis berarti suatu keyakinan atas segala sesuatu yang baik dan
menguntungkan.
Scheier & Carver dalam (Prayogi, 2020) menjelaskan bahwa optimisme merupakan sebuah harapan yang akan berjalan sesuai dengan keinginan. Ada dua macam jenis individu terkait dengan sifat optimis tersebut.
Yang pertama yaitu individu dengan rasa optimisme tinggi akan mempercayai bahwa hal-hal baik akan terjadi kepada mereka. Sedangkan individu dengan rasa optimisme rendah (pesimis) mereka akan mempercayai bahwa hal-hal yang terjadi kepada mereka itu tidak berjalan sesuai dengan keinginan ataupun harapan mereka.
Persamaan Tsabat dalam Konsep Islam dan Psikologi
Ada beberapa persamaan terkait tsabat dalam konsep islam serta konsep psikologi. Baik dari segi ketahanan terhadap tantangan, yang dimana dalam konsep islam tsabat itu mencakup kemampuan manusia untuk tetap teguh dalam iman dan dalam konsep psikologi tsabat mencakup ketahanan manusia terhadap tantangan
dalam hidup mereka.
Lalu dari segi optimisme yang dimana dalam konsep islam tsabat itu melalui kepercayaan bahwa masalah-masalah yang dialami merupakan masalah yang pastinya masalah yang dapat ditangani oleh manusia dengan bantuan dari Allah SWT. Dan dari segi psikologi dimana tsabat (ketangguhan mental) tersebut mencakup sikap optimis
atas kehidupan.
Perbedaan Tsabat dalam Konsep Islam dan Psikologi
Dalam konsep islam, tsabat dapat diartikan sebagai keteguhan hati di tengah ujian yang melanda. Konsep tersebut meliputi iman, do’a, cobaan, serta tawakal yang dimana itu semua mengandalkan iman kepada Allah sebagai sumber kekuatan yang paling utama dalam menghadapi cobaan yang ada.
Sedangkan dalam konsep psikologi, tsabat dijelaskan sebagai sebagaimana ketangguhan mental seseorang dalam menghadapi tantangan di hidupnya. Menurut Guccuardi, dkk dalam (Priyambodo, B & Asyanti, S), ketangguhan mental merupakan suatu kumpulan dari berbagai nilai, sikap, perilaku serta emosi yang membuat seseorang mampu untuk bertahan serta menghadapi berbagai macam hambatan atauupun rintangan dengan tetap menjaga konsentrasi motivasi serta konsistensi dalam mencapai suatu tujuan.
Konsep psikologi tersebut meliputi resiliensi (ketangguhan), dukungan sosial dan emosional, sikap optimisme serta lainnya yang dimana semua itu mengandalkan lingkungan sekitar serta faktor-faktor psikologis sebagai sumber kekuatan utamanya ketika menghadapi masalah yang ada.
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tsabat dalam konsep islam dan konsep psikologi keduanya memiliki makna yang tak jauh berbeda. Ketangguhan hati dalam konsep islam serta ketangguhan mental dalam konsep psikologi. Keduanya merupakan sikap yang dimana sikap tersebut yang berada di dalam jiwa manusia yang nantinya dapat mempengaruhi bagaimana manusia tersebut bersikap ketika ia dihadapkan dengan masalah ataupun tantangan di dalam kehidupan mereka.
Perbedaan yang paling signifikan pada kedua konsep tersebut yaitu dimana ketika konsep islam sumber kekuatan dari keteguhan tersebut berasal dari mengandalkan keimanan manusia kepada Allah dan disisi lain konsep psikologi menjelaskan bahwa sumber kekuatan utama keteguhan manusia itu berasal dari faktor-faktor psikologis serta dukungan emosional dan sosial sebagai sumber utamanya.
Daffa Heliza Putri
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, Jakarta
