DEPOKPOS – Rasisme masih seringkali terjadi dilingkungan anak-anak pada saat ini khususnya anak-anak yang masih dalam jenjang pendidikan yang mengakibatkan berdampaknya pada penurunan kualitas belajar sehingga berdampak jangka panjang pada akademik anak.
Rasisme merupakan salah satu permasalahan utama dalam kehidupan sosial masyarakat. Khususnya masyarakat heterogen dimana banyaknya perbedaan baik suku, ras, agama, dan lain-lainya. Kata rasisme itu sendiri dapat membangkitkan reaksi emosional yang sangat kuat terutama bagi mereka yang telah merasakan penindasan dan eksploitasi yang berasal dari sikap dan perilaku rasis.
Dari beberapa pengertian tentang rasisme diatas dapat disimpukan rasisme adalah tindakan merasa diri, etnis, atau kelompok tertentu lebih tinggi derajatnya ketimbang yang lain. Tindakan ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental terhadap minoritas, mulai dari depresi hingga terganggunya keseimbangan kualitas hidup. Sedangkan rasis adalah orang yang melakukan tindakan rasisme.
Semua bentuk rasisme dan diskriminasi dapat menyebabkan terkikisnya rasa percaya diri dan keraguan terhadap diri sendiri, sehingga membuat kita mempertanyakan identitas dan posisi kita di dunia. Emosi yang ditimbulkan oleh pengalaman ini dapat berdampak negatif pada kesejahteraan:
• Harga diri yang rendah dan perasaan malu. Anak mempercayai pesan-pesan negatif tentang diri dia dan orang-orang yang mirip dengan dia di lingkunganya. Ini disebut rasisme yang terinternalisasi atau diskriminasi warna kulit yang terinternalisasi.
• Pandangan negatif dan keputusasaan tentang kemungkinan perubahan dalam kualitas hidup anak sehari-hari
• Kelelahan, seperti kurangnya energi untuk merencanakan atau berpikir
• Amarah, emosi yang tidak setabil
• Kecemasan, perasaan harus waspada terhadap kejadian di masa depan
• Kesedihan, sering menagis secara tiba-tiba
• Gejala stres dan gangguan stres pascatrauma (PTSD)
• Peforma nilai akademik di sekolah menurun
• Adanya trauma dalam berteman
• Anak tidak ingin pergi ke sekolah
Berikut Beberapa Tips Menjaga Kesehatan Mental Anak-Anak :
1. Dukungan Emosional: Berikan dukungan dan kasih sayang yang konsisten. Biarkan anak tahu bahwa mereka tidak sendirian dan ada orang yang mendukung mereka. Pelukan dan kata-kata penghiburan dapat membantu mereka merasa lebih aman.
2. Edukasi tentang Rasisme: Ajari anak tentang keberagaman dan pentingnya menghargai perbedaan. Diskusikan rasisme dengan cara yang sesuai dengan usia mereka, dan bantu mereka memahami bahwa perbedaan adalah hal yang wajar.
3. Membangun Kepercayaan Diri: Dorong anak untuk percaya pada diri mereka sendiri. Berikan pujian atas usaha mereka dan bantu mereka menemukan minat serta bakat yang dapat meningkatkan rasa percaya diri.
4. Aktivitas Positif: Ajak anak untuk terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan dan positif, seperti olahraga, seni, atau kegiatan sosial. Ini dapat membantu mereka mengalihkan perhatian dari pengalaman negatif dan membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya.
5. Komunikasi Terbuka: Ciptakan lingkungan di mana anak merasa nyaman untuk berbicara tentang perasaan mereka. Tanyakan tentang pengalaman mereka dan dengarkan dengan penuh perhatian.
6. Bantuan Profesional: Jika anak menunjukkan tanda-tanda stres atau depresi yang berkepanjangan, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam menangani masalah kesehatan mental anak.
7. Berikan Contoh yang Baik: Tunjukkan sikap positif terhadap keberagaman dan ajarkan anak untuk menolak rasisme dalam bentuk apa pun. Jadilah teladan dalam perilaku yang inklusif dan menghargai orang lain.
Rasisme yang terjadi pada anak-anak sudah seharusnya dihilangkan karena akan memengaruhi dari segi mental dan psikis anak itu sendiri yang menyebabkan mental dari anak yang terkena rasisme itu menjadi turun atau jatuh sehingga memengaruhi pada pola kehidupan sehari-harinya. Seharusnya kita sebagai orang tua harus lebih memperhatikan lagi kondisi anak-anak kita dalam lingkungannya.
Maikel Syahputra – Prodi Sarjana Akuntansi – Universitas Pamulang
