Scroll untuk baca artikel
Artikel

Makna Inspiratif Lagu “Gajah”, Refleksi Diri dalam Menghadapi Bullying

×

Makna Inspiratif Lagu “Gajah”, Refleksi Diri dalam Menghadapi Bullying

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Apa yang pertama kali muncul dalam benak anda ketika mendengar kata gajah? Mungkin gambaran yang akan muncul di dalam benak anda adalah seekor hewan berkaki empat, bertubuh besar, mempunyai telinga yang lebar, serta belalai yang panjang. Gajah juga sering digambarkan sebagai hewan yang kuat serta gagah dikarenakan postur tubuh dan kakinya yang besar sehingga seringkali gajah ditakuti oleh beberapa hewan yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil darinya.

Namun, apa jadinya jika gajah digunakan sebagai salah satu representasi dari bentuk bullying secara verbal kepada seseorang? Makna dari penggunaan kata gajah yang sering digunakan sebagai bentuk bullying tersebut menjadi inspirasi bagi salah satu musisi Indonesia yang bernama Muhammad Tulus Rusyidi atau yang lebih akrab disapa Tulus dalam menciptakan sebuah lagu yang dia beri judul “Gajah”.

Lagu berjudul “Gajah” merupakan salah satu single dari album kedua Tulus yang diluncurkan pada 19 Februari 2014. Album kedua Tulus yang diberi nama “TULUS-Gajah” ini diproduseri oleh Ari Rinaldi dan dirilis lewat perusahaan label music milik Tulus sendiri yaitu Tulus Company. Album ini juga turut mengantarkan Tulus untuk mendapatkan berbagai penghargaan pada Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2015.

Pada ajang ini, Tulus berhasil membawa pulang tiga buah piala AMI pada malam puncak ajang ini, dan lagu “Gajah” yang dinyanyikannya sukses meraih penghargaan sebagai Karya Produksi Terbaik versi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2015. Album “TULUS-Gajah” juga menjadi satu-satunya album musik berbahasa Indonesia yang menempati 10 penjualan album terbaik di iTunes Asia. Hingga saat ini, lagu “Gajah” telah didengarkan lebih dari 34 juta kali di Spotify yang turut menandakan betapa suksesnya lagu ini dalam memikat hati para penikmat musik di tanah air.

Lagu “Gajah” karya Tulus ini dikemas dengan lantunan lirik yang membangun suasana disertai dengan improvisasi nada yang indah sehingga siapapun yang mendengarkannya akan merasa hanyut di dalamnya. Namun, di balik keindahan nada pada lagu ini serta suasana yang terbangun ketika mendengarnya, ternyata terdapat makna yang mendalam di balik lagu ini.

Siapa sangka, lagu ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Tulus di masa lalu yang mengacu pada bullying secara verbal yang pernah dialaminya. Kata “gajah” merupakan julukan yang sering Tulus dapatkan sewaktu dia masih kecil. Alih-alih gajah yang digambarkan sebagai sosok yang kuat dan gagah, julukan “gajah” yang Tulus dapatkan justru adalah bentuk cemoohan mengenai bentuk fisiknya. Namun, disinilah letak kehebatan Tulus dalam membuktikan kekuatannya dengan mengolah pengalaman pribadi tersebut menjadi lirik yang positif dan penuh penerimaan diri.

Melalui lagu “Gajah,” Tulus mengajak pendengar untuk berdamai dengan diri sendiri dan bangga atas segala kekurangan yang dimiliki. Lagu ini mengandung pesan inspiratif tentang bagaimana menghadapi ejekan dan bullying dengan cara yang lebih bijaksana, menjadikannya sebagai pengingat bahwa pengalaman pahit sekalipun dapat diubah menjadi sesuatu yang bermakna dan indah.

Fenomena bullying mengacu pada Olweus (1999), didefinisikan sebagai masalah psikososial yang dilakukan dengan cara menghina dan merendahkan orang lain secara berulang-ulang dengan dampak negatif terhadap pelaku dan korban bullying di mana pelaku mempunyai kekuatan yang lebih dibandingkan korban.

Menurut Sejiwa (2008), bullying dibedakan menjadi 3 macam yaitu bullying fisik, verbal, dan psikologis. Ketiga jenis bullying ini dapat berdampak serius terutama bagi korban, diantaranya yaitu dapat menyebabkan depresi, terisolasi dari lingkungan sekitar, gangguan mental, bahkan bunuh diri. Sekarang coba anda bayangkan, bagaimana jika bullying terjadi pada anak kecil yang masih belum mengerti apa yang mereka alami dan mereka rasakan.

Tentu pengalaman buruk tersebut dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan dapat menjadi masalah serius ketika anak tersebut sudah dewasa. Oleh karena itu, melalui lagu “Gajah” ini, Tulus mengajak setiap kita untuk mampu menerima trauma masa lalu sebagai pengalaman buruk yang dapat diatasi, salah satunya dengan cara penerimaan diri. Berikut ini penggalan lirik dari lagu “Gajah” sebagai wujud penerimaan diri untuk bisa bangkit dari bullying :

Waktu kecil dulu
Mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah
Kini baru ku tahu
Puji didalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu disituasi rela jadi tamengku

Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik

Wow, penggalan lirik lagu “Gajah” ciptaan Tulus tersebut sangat menyentuh dan terasa bermakna di setiap baitnya bukan? Beberapa pesan atau makna inspiratif yang terkandung dalam penggalan lirik tersebut diantaranya adalah :

1. Menerima Diri Sendiri

Pesan utama yang ditampilkan Tulus dalam lagu “Gajah” adalah penerimaan diri. Dalam lagu ini, julukan “gajah” yang tadinya berkonotasi negatif diubah menjadi simbol penerimaan diri, kekuatan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri versi yang terbaik. Lagu ini mengajarkan bahwa cara kita memandang diri sendiri lebih penting daripada apa yang orang lain katakan tentang diri kita. Dengan menerima diri sendiri, kita mampu meredam dampak negatif dari ejekan dan mulai melihat keunikan diri sebagai kekuatan.

2. Tidak Membalas Dendam

Dalam lagunya, Tulus tidak pernah mendorong untuk membalas kebencian dengan kebencian. Sebaliknya, ia memilih untuk mengolah pengalaman negatif tersebut menjadi karya seni yang positif dan bermanfaat. Alih-alih membalas ejekan dengan kebencian, Tulus memilih untuk mengungkapkan kisahnya melalui musik yang penuh makna.

3. Membangun Kepercayaan Diri

Meskipun mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang lain, Tulus tidak membiarkan hal tersebut mematahkan semangatnya. Sebaliknya, ia terus membangun kepercayaan dirinya, dan tetap berusaha untuk terus berkembang. Lagu ini turut mengajarkan bahwa keyakinan diri harus berasal dari dalam, bukan tergantung pada penilaian orang lain. Tulus memberi contoh bagaimana menghadapi komentar negatif dengan mental yang kuat dan memiliki keyakinan bahwa kita mampu mencapai hal-hal besar terlepas dari bagaimanapun kondisi kita.

Lagu “Gajah” karya Tulus tidak hanya menjadi media refleksi atas pengalaman masa lalunya menghadapi bullying, tetapi juga membawa pesan penting tentang penerimaan diri, apa yang harus dilakukan dalam menghadapi hinaan, dan pentingnya kepercayaan diri. Selain itu, melalui lagu ini juga diharapkan lebih banyak orang yang sadar mengenai dampak buruk dari bullying dan bersama-sama melawan segala bentuk bullying yang ada di sekitar kita.

Loisa Hana Priasti
Mahasiswa semester 1 dari jurusan S-1 Psikologi
Universitas Sebelas Maret, Surakarta