Definisi Makanan Halal
Secara bahasa, kata “makanan” dapat diartikan dengan kata “tha’am”, “aklun”, dan “ghidha’un”, yang masing-masing berarti mencicipi sesuatu dan memasukkan sesuatu ke dalam perut melalui mulut. Dalam bahasa Indonesia, kata “ghidza” juga berarti serapan nutrisi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, makanan adalah segala bentuk makanan yang dapat dicicipi dan dimakan, seperti kue-kue, lauk pauk, dll. Makanan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat dimakan, baik dari darat maupun laut. Dalam perspektif Islam makanan halal adalah makanan yang sesuai dengan syariat Islam, berdasarkan al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW.
Dalam Al-Quran, dijelaskan tentang perintah mengonsumsi makanan yang halal: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata (QS Al-Baqarah:168).”
Keterkaitan antara Makanan Halal dengan Kesehatan Jiwa
Kesehatan fisik dalam ajaran Islam tergantung pada makanan dan minuman yang dikonsumsi. Sebagai seorang muslim, kita harus mengonsumsi makanan dan minuman yang halal. Hal ini dikarenakan makanan dan minuman yang tidak halal dapat menimbulkan penyakit, serta makanan dan minuman yang haram dapat mendorong kepada pembentukan karakter perilaku yang buruk dan mencerminkan jiwa yang tidak sehat. Makanan haram bukan hanya makanan yang berasal dari babi, tetapi juga dapat berasal dari penghasilan yang diperoleh untuk mendapatkan makanan tersebut, seperti dengan hasil mencuri dan korupsi.
Syarat Mengonsumsi Makanan Halal
Ada beberapa syarat dan konsep halal dalam mengonsumsi makanan yang dapat dijadikan acuan kita dalam memilih makanan yang halal:
Kebersihan dan kesucian makanan, termasuk proses pembuatan, kebersihan, kesucian alat masak, dan tempatnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Tidak termasuk hewan yang dilarang sesuai syariat
- Tidak mengandung Najis
- Tidak bercampur dengan yang haram
- Tidak merusak fisik dan mental. Misalnya bagi seseorang yang mengidap kolestrol, bila ia mengonsumsi daging dalam jumlah yang berlebihan akan membahayakan kesehatannya, sehingga makanan tersebut menjadi haram. Walaupun pada hakikatnya makanan tersebut halal dan baik. Oleh karena itu, orang yang mengidap kolestrol harus menghindari makanan daging yang berlebihan karena dapat mengganggu kesehatannya.
- Tidak mengandung syubhat. Syubhat dapat terjadi dalam kondisi adanya keraguan dan percampuran. Keraguan dalam hal ragu apakah makanan tersebut halal atau haram. Sedangkan percampuran bisa terjadi jika sesuatu yang haram bercampur baur dengan hal yang halal, sehingga sulit membedakan keduanya.
Dampak dan Pengaruh Makanan Halal terhadap Emosi dan Perilaku
Makanan halal memiliki dampak yang signifikan terhadap emosi manusia. Konsumsi makanan halal tidak hanya berkontribusi pada kesehatan fisik, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional dan memperkuat identitas spiritual. Penelitian ini menyarankan pentingnya kesadaran akan makanan halal dalam konteks kesehatan mental dan emosional.
Sedangkan pengaruh makanan halal terhadap perilaku manusia, yaitu:
- Kualitas makanan: Makanan halal yang baik dapat mempengaruhi kualitas darah dan daging, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku dan tindakan seseorang.
- Kesehatan mental: Konsumsi makanan halal berhubungan dengan kesehatan mental yang lebih baik, menjaga hati dan akal sehat, serta mengurangi dampak negatif dari makanan haram.
Pentingnya Penerapan Mengonsumsi Makanan Halal dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk memastikan makanan yang dikonsumsi halal dan thayyib, kita sebagai umat muslim perlu memperhatikan label sertifikasi halal, memilih makanan dari produsen yang terpercaya, dan memastikan kebersihan makanan yang dikonsumi. Dengan menerapkan prinsip yang halal dan thayyib, umat muslim dapat menjalani kehidupan yang sehat, seimbang dan sesuai dengan ajaran Islam. Penerapan mengonsumsi makanan halal dalam kehidupan sehari-hari:
- Pemilihan bahan makanan: sebagai seorang muslim kita harus selektif dalam memilih bahan makanan, ini berarti memilih bahan makanan yang sudah bersetifikasi halal, serta menggunakan bahan-bahan makanan yang segar dan tidak kadaluarsa.
- Proses memasak: saat memasak penting untuk menjaga kebersihan dan menggunakan alat-alat yang bersih dan suci. Proses memasak juga perlu dipastikan bahwa bahan makanan tetap halal dan thayyib, misalnya memasak dengan cara yang sehat dan bersih.
- Penyimpanan makanan: makanan harus disimpan dalam kondisi yang bersih dan sesuai dengan standar kesehatan untuk mencegah pembusukan, termasuk penyimpanan di suhu yang tepat dan menggunakan wadah yang bersih dan bebas dari bahaya.
Rayinda Zulfaa Nabila dan Sarah Aulia
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
