DEPOKPOS – Dalam kehidupan yang penuh dinamika ini, pastinya orang pernah mengalami perasaan suka dan berubah menjadi jatuh cinta kepada seseorang. Namun, tak selamanya berjalan dengan indah, bahkan tak sedikit yang meninggalkan rasa trauma. Hal itulah yang pernah dialami langsung oleh seorang ‘The Music Industry’ alias Taylor Swift.
Melalui curhatan pribadi dalam lagu “Daylight” yang akhirnya menjadi salah satu karya favorit publik, ia membagikan cerita duka berujung suka dibalut dengan lirik puitis dan melodi menenangkan tersebut. Mari kita telusuri bagaimana lagu “Daylight” ini bisa dijadikan sebagai teman setia pencari cinta sejati, meskipun dulu punya pengalaman sempat disakiti.
Sang penyair Taylor kembali menggunakan unsur metafora pada lagu ini. Sesuai judulnya, ‘Daylight’ di sini dimaknai sebagai cahaya matahari yang balik muncul setelah perginya malam yang gelap. Di pembukaan lagu, Taylor ingin menyampaikan bahwa dulunya ia berada di titik terendah hidupnya, terutama berkaitan dengan karier dan hubungan percintaan. Ia difitnah, terjebak dalam toxic relationships, dijuluki “Ratu Ular”, dan banyak yang membencinya. Tentu saja, perasaan Taylor saat itu benar-benar down. Namun, hadirlah sesosok pangeran bermata biru laut dengan senyuman manisnya alias Joe Alwyn, yang menemani dan berusaha mengembalikan kepercayaan Taylor terhadap cinta.
Pada lirik, “I’ve been sleeping so long in a 20-year dark night. And now I see daylight, I only see daylight,” terlihat jelas bahwa terdapat transisi dari gelap ke terang. Hal ini bisa diartikan sebagai pergantian dari masa kesedihan menuju kebahagiaan. Ya, Taylor menggambarkan Joe bak sinar matahari pemberi kehangatan pada hati dingin Taylor.
Ada lirik yang cukup menarik perhatian, yaitu “I once believed love would be (Black and white). But it’s golden (Golden),” dan “I once believed love would be (Burning red). But it’s golden.” Dua lirik tersebut kelihatannya hampir sama, tapi ternyata punya cerita suramnya masing-masing. Lirik pertama mendeskripsikan hubungan Taylor dengan beberapa mantannya yang sering berakhir buruk, sedangkan lirik kedua lebih mengarah ke hubungan Taylor yang dulu ia definisikan sebagai cinta berapi-api, tetapi terkadang menyakitkan. Di dua lirik tersebut, sama-sama terdapat kata golden. Taylor menggunakan kata ini sebagai bentuk cinta yang seperti emas, yakni hangat dan lembut. Di sini, dapat tertangkap maksud tersirat bahwa hubungan cinta yang baik adalah hubungan yang sehat dan dewasa.
Nah, itu tadi pemaparan dari perspektif makna lagu. Jika dilihat dari perspektif psikologi, lagu ini sebenarnya mengacu pada salah satu teori dan beberapa konsep. Pertama, nampak jelas pada lirik bagian awal Taylor menyinggung masa lalunya yang mengakibatkan ia trauma. Oleh karena itu, muncullah self-awareness Taylor sebagai langkah awal dalam penyembuhan kondisi mentalnya. Konsep self-awareness berarti kesadaran diri atau kemampuan mengenal dan memilah perasaan, serta memahami pengaruh perilaku terhadap orang lain.
Selanjutnya, ada teori positive psychology. Setelah semua badai dan drama itu, Taylor memutuskan untuk mencari definisi dirinya (self-definition) dalam sisi positif. Hal itu ia lakukan karena ia ingin agar cinta dan nilai-nilai baik yang membentuk siapa dirinya, bukan berdasarkan rasa trauma dan ketakutannya di masa lalu.
Kemudian, ini tak kalah penting ketika seseorang menghadapi toxic relationships. Taylor mengatakan melalui lagu yang berdurasi 4 menit 53 detik tersebut, bahwa perlunya mengevaluasi pandangan atau persepsi terhadap cinta itu sendiri. Penilaian ulang (konsep reappraisal) di sini dapat membuat seseorang mengubah makna situasi yang terjadi dan akhirnya berpengaruh kepada dampak emosionalnya.
Terakhir, di bagian bridge Taylor memilih memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Sejalan dengan konsep self-forgiveness, Taylor ingin memulai awal baru yang penuh dengan harapan, tetapi mengarah ke realistis. Ia tak lagi menganggap cinta itu penuh dengan drama. Baginya sekarang, cinta adalah sesuatu yang indah dan dewasa.
“Daylight” ternyata punya beberapa fakta unik. Ketika perilisan album ‘Lover’, lagu “Daylight” merupakan penutup manis album tersebut. Sayangnya, lagu ini tidak pernah dijagokan sebagai sebuah single resmi dibandingkan dengan lagu-lagu lainnya.
Walaupun demikian, “Daylight” menduduki tempat khusus di hati para penggemar dan kritikus, sebab liriknya begitu mendalam dan terkesan sangat romantis. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang menggunakan lagu ini sebagai backsound saat meng-upload konten berbau percintaan di media sosial, terutama di TikTok. Selain itu, viewers YouTube dari lagu urutan ke-18 dalam album ‘Lover’ ini nyatanya bisa mencapai angka 68 juta kali diputar.
Secara garis besar, lagu “Daylight” merupakan diari Taylor dengan isi perjalanan kehidupan asmaranya penuh dengan lika-liku. Namun, melalui lagu ini pula ia ingin mengajarkan para pendengar agar bisa tetap percaya bahwa cinta sejati itu ada dan nyata. Lagu ini bagaikan pembawa spirit untuk menyembuhkan perasaan hampa dan luka hati. Tak hanya itu, lagu ini berisi tentang bagaimana menemukan keberanian setelah berperang dengan trauma akan cinta, serta bagaimana dapat merasakan arti cinta yang penuh kedamaian dan kehangatan.
Jadi, jika masih merasa ragu untuk mulai membuka pintu hati, ingatlah bahwa akan selalu datang cinta sejati yang dapat mengubah pandangan abu-abu. Dengan mendengarkan “Daylight”, mungkin saja kita bisa terinspirasi membuka lembaran baru dan menatanya seperti susunan bunga-bunga segar di toko pinggir jalan. Pada akhirnya, akan muncul setitik cahaya matahari yang terbit di ujung bumi sana setelah gelapnya malam pergi menjauh.
Arini Sekar Taji
(Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Sebelas Maret)
