Persepsi Masyarakat Terhadap Anak Jalanan

DEPOKPOS – Sampai saat ini keberadaan anak jalanan masih menjadi persoalan sosial yang belum terselesaikan.Tentunya hal keberadaan anak jalanan ini tidak lepas dari persepsi persepsi masyarakat sekitar.

Artikel ini mengajak pembaca untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai kehidupan anak jalanan serta persepsi masyarakat terhadapnya.

Secara garis besar siapa saja yang disebut anak jalanan terbagi menjadi tiga kelompok, yakni anak-anak yang rentan menjadi anak jalanan, anak yang bekerja di jalanan dan anak yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk hidup dan tinggal di jalanan.

Anak jalanan kebanyakan adalah yang berada di jalanan untuk mencari nafkah dan menghabiskan waktunya untuk bermain, tidak bersekolah, dan terkadang ada pula yang menambahkan bahwa anak jalanan mengganggu ketertiban umum dan melakukan kejahatan.

Munculnya anak jalanan sebagai suatu fenomena sosial, semakin hari kompleksitasnya merambah keberbagai aspek kehidupan masyarakat. Keprihatinanpun bermunculan disertai dengan presepsi yang berbeda. Sebagai manusia yang tengah tumbuh kembang, anak memiliki keterbatasan untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan tersebut yang merupakan hak anak.

BACA JUGA:  Jangan Abaikan Kesehatan Gizi pada Remaja

Orang dewasa termasuk orang tua, masyarakat dan pemerintah berkewajiban penuh untuk memenuhi hak-hak anak tersebut. Permasalahannya adalah orang yang berada di sekitarnya termasuk keluarganya sendiri, seringkali tidak mampu memberikan hak hak tersebut.

Presepsi Masyarakat

Di sisi lain, masyarakat juga cenderung menunjukkan rasa kesal terhadap anak jalanan yang dianggap tidak mau berusaha mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan anak jalanan karena mereka membentuk pola pikir mereka sendiri untuk bertindak dalam komunitasnya guna bertahan hidup.

Masyarakat seringkali memandang buruk terhadap anak anak terlantar yang berkeliaran luas dijalanan. Presepsi ini muncul karena kebanyakan anak-anak tersebut berlaku liar dan tidak beraturan yang membuat masyarakat setempat terganggu atau jenuh dengan perilaku anak anak tersebut.

BACA JUGA:  Tips Menjaga Kesehatan Tubuh Selama Puasa

Tetapi tidak semua anak jalanan mempunyai perilaku yang buruk, bisa ditemukan beberapa dari mereka yang tau mengenai aturan aturan yang berlaku dan memang tidak adanya tempat untuk tinggal sehingga dengan terpaksa bertempat tinggal dijalanan.

Faktor ekonomi menjadi faktor utama munculnya anak jalanan

Diantara sekian banyak faktor yang menyebabkan anak menjadi anak jalanan, ternyata faktor ekonomi (kemiskianan) keluarga merupakan faktor yang paling dominan menjadikan anak menjadi anak jalanan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa semakin rendahnya status ekonomi keluarga maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk menjadi anak jalanan.

Disorganisasi keluarga merupakan akibat yang muncul di belakangan dimana anak-anak jalanan sangat jarang berkumpul di rumah sehingga mengakibatkan anak mempunyai pemikiran untuk mendapatkan uang bagi dirinya dan untuk membantu perekonomian.

Beberapa anak terdapat anak jalanan yang berasal dari keluarga miskin. Sehingga mendorong orang tua untuk mempekerjakan anak mereka di jalan. Serta rasa malas juga merupakan faktor internal, karena sikap serta mental anak-anak jalanan ini sudah terbiasa malas dan mereka mendapatkan uang dengan mudah di jalanan.

BACA JUGA:  Tantangan Seseorang yang Memilih Tidak Memiliki Anak

Minimnya lingkungan sehat yang tersedia untuk anak jalanan

kehidupan penuh resiko di jalan raya, seperti penuh polusi, panas terik, hujan, juga sangat memengaruhi kondisi fisik mereka. Kondisi rumah di bawah kolong jembatan dan sanitasi buruk, menyebabkan anak jalanan sangat rentan terserang penyakit seperti penyakit kulit, infeksi saluran napas, dan diare.

Selain itu, mereka juga rentan mengidap penyakit menular seksual akibat pergaulan bebas dengan lawan jenis dan kelompok risiko tinggi menularkan penyakit tersebut.

Berbagai kegiatan yang dilakukan anak jalanan di luar rumah sesungguhnya membawa risiko bagi kondisi fisik dan kesehatan anak jalanan. Biaya untuk makan saja sulit, apalagi untuk memikirkan alokasi dana berjaga-jaga ketika sakit di kemudian hari.