Antara Sukses dan Takut Gagal

DEPOKPOS – Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Hm, kita bisa berbeda pendapat soal jawabannya, tapi kita pasti sepakat bahwa semua itu bermuara pada satu kata, yaitu SUKSES! Ya, setiap kita mendamba sukses dalam pengertian masing-masing dan dalam keadaan kita yang berbeda-beda. Energi hidup kita tercurah untuk menggapai sukses.

Obsesi mencapai sukses membuat sebagian kita menjadi takut berhadapan dengan kegagalan. Lalu, disadari atau tidak kita mengembangkan semacam ‘alarm awas’ gagal. Gejala khasnya adalah kepala pening, jantung berdenyut lebih cepat, badan berkeringat dingin dan sulit tidur. Contoh sederhana adalah saat kita akan menempuh ujian skripsi, wawancara penerimaan pegawai, atau memulai usaha baru.

Salahkah merasa takut gagal? Sebenamya, dalam takaran proporsional, perasaan takut gagal adalah wajar. Bahkan, pengelolaan yang baik atas perasaan ini bisa menjadi semacam ruang penyediaan energi cadangan, manakala energi utama tersedot habis oleh sebuah program sukses yang belum terwujud. Perasaan takut gagal dalam takaran wajar akan menjadi penyeimbang yang membuat kita tidak tersungkur jatuh saat limbung akibat hantaman kegagalan.

Ironinya, banyak di antara kita yang terlalu keras memasang alarm ini sehingga alih-alih menjadi penyeimbang, malah memasung dan memandulkan potensi diri. Kita memilih no action dari pada gagal. Kita memilih bungkam dan diam saja dari pada salah omong dan berisiko pada diri. Kita memilih tidak bergerak daripada jatuh! Berapa banyak dari kita yang sengaja menghindari beban dan tanggung jawab lebih besar dari pada gagal?! Berapa banyak kesempatan terlewatkan karena kita tidak berani menanggung risikonya?

Jika situasinya tidak menyediakan pilihan lain kecuali harus menghadapi sebuah ujian kesuksesan, maka, para pemilik ‘alarm awas’ gagal yang terlalu kuat akan mengalami kepanikan yang luar biasa. la akan jalani ujian dengan stress, pesimis, dan tidak percaya diri. Akibatnya, pilihan tindakannya menjadi out of control, bisa menjadi sangat apatis (menyerah sebelum bertanding) atau bisa membabi buta. Oh ya, sejak jauh-jauh hari, dia juga sudah menyiapkan sejumlah kambing hitam sebagai tameng atas kegagalannya.

Wah, bagaimana ya dampaknya jika sikap ini dimiliki oleh orang yang memiliki pengaruh terhadap orang lain? Perasaan takut gagalnya akan menjadi momok yang juga menghantui orang-orang di sekitarnya. Jika masih ada pilihan untuk tidak bergerak, ia akan diam saja. Bisa dimengerti mengapa kita kadang menghadapi situasi status quo dan stagnan massif di sekitar kita karena ketakutan sang pemimpin dalam bertindak. Kebekuan yang meluas adalah buah dari sikap takut gagal dari orang- orang yang seharusnya berada dalam posisi sebagai penggerak.

Sebagai contoh keseharian, para orangtua yang mengidap penyakit takut gagal kronis akan menebarkan momok ketakutan yang menghantui anak-anaknya saat menghadapi ujian sekolah. Anak-anak ‘dipasung’ gila belajar demi lulus ujian. Tentu saja dengan cara-cara ala orang panik mengajari dan menasihati. Dapatkah kita berharap anak-anak melalui ujian dengan baik jika sudah stres sebelum ujian tiba?

Sukses tidak bisa diraih melalui cara-cara instan, tapi bukan berarti tidak ada shortcut-nya. Salah satu jalan pintas menuju sukses adalah dengan mengendalikan perasaan takut gagal sehingga kita bisa mengerti bahwa kegagalan sebenarnya wajah sukses yang sedang cemberut.

Muhammad Arif Alfarruqi

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait