Ekonomi Syariah Seperti Apa yang Dapat Diterapkan dalam Maqoshid Syariah

DEPOKPOS – Setiap kesepakatan harus jelas dan setiap kesepakatan bisnis harus jelas diketahui oleh para pihak akad agar tidak menimbulkan perselisihan di antara mereka. Untuk mencapai target ini, syariat Islam memberlakukan ketentuan tautsiq (pengikatan) dalam akad muamalah maliah, ketentuan bahwa setiap transaksi harus tercatat (kitabah), disaksikan (isyhad) dan boleh bergaransi.

Hifdzul mal yang dimaksud diimplementasikan dengan ketentuan tautsiq (pengikatan) dalam akad muamalah maliah, seperti ketentuan bahwa setiap transaksi harus tercatat (kitabah), disaksikan (isyhad) dan boleh bergaransi agar setiap pihak akad rela sama rela.

Maqashid tersebut sesuai juga dengan prinsip dalam perdagangan harus dilakukan atas dasar suka sama suka (kerelaan). Prinsip ini memiliki implikasi yang luas karena perdagangan melibatkan lebih dari satu pihak, sehingga kegiatan jual beli harus dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan. Perdagangan tidak boleh dilakukan dengan memanfaatkan ketergantungan karena tidak ada pilihan. Praktik monopoli berisiko melanggar prinsip ini, kecuali pada situasi tertentu.

BACA JUGA:  Rempah-Rempah Indonesia Masih jadi Incaran Dunia

Setiap kesepakatan bisnis harus adil di antara prinsip adil yang diberlakukan dalam bisnis adalah kewajiban pelaku akad untuk menunaikan hak dan kewajibannya, seperti menginvestasikannya dengan cara-cara yang baik dan profesional, menyalurkannya dengan cara yang halal dan menunaikan kewajiban hak hartanya.

Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa adil dalam bisnis itu adalah bagaimana berbisnis dan mendapatkan harta itu dilakukan dengan cara yang tidak menzalimi orang lain, baik dengan cara komersil atau nonkomersil.

Ketika ada salah satu satu pihak yang merasa dirugikan atau dicurangi maka volume perdagangan akan menyusut. Pelanggan yang tidak mempunyai pilihan lain yang lebih baik akan mengurangi volume transaksi pada jumlah kebutuhan minimal. Pada saat mereka memiliki pilihan lain, yang kadang belum tentu lebih baik, mereka akan pindah. Bagi mereka lebih baik meninggalkan yang sudah jelas tidak memberikan rasa keadilan, dan mencoba peruntungannya pada pilihan yang baru.

BACA JUGA:  Rempah-Rempah Indonesia Masih jadi Incaran Dunia

Komitmen dengan Kesepakatan, kewajiban memenuhi setia kesepakatan dalam akad, termasuk akad-akad bisnis. Karena setiap akad berisi hak dan kewajiban setiap peserta akad. Dan setiap kesepakatan bisnis akan berhasil itu ditentukan oleh komitmen peserta akad dalam memenuhi setiap kesepakatan akad.

Melindungi Hak Kepemilikan, Para ulama telah sepakat bahwa mengambil harta orang la dengan cara yang batil itu diharamkan. Oleh karena itu, Allah Swt. memberikan hukuman atas setiap kejahatan terhadap harta (taaddi ‘ala amwal). lain

Mitchell N. Berman menjelaskan bahwa contoh perilaku melawan hukum sering kali dikombinasikan sehingga menciptakan ciri khusus adalah mencuri (stealing). Jika mencuri dengan penipuan (deception) maka ia menjadi fraud a palsu (false pretenses). Jika mencuri ditambah ketidaksetiaan (disloyalty) maka ia menjadi penggelapan (embezzlement). Jika mencuri ditambah dengan paksaan (coercion) berarti pemerasan (extortion). Mencuri ditambah dengan penggunaan kekuatan yang tidak dibenarkan berarti merampok (robbery). Ketidaksesuaian perilaku mencuri (stealing) dengan hukum pencurian (theft)

BACA JUGA:  Rempah-Rempah Indonesia Masih jadi Incaran Dunia

Harta itu harus terdistribusi, Islam mensyariatkan akad-akad baik akad bisnis (mu’awadhah ataupun akad sosial (tabarru’) agar setiap harta bisa ber- pindah tangan dari satu pihak ke pihak lain. Islam membolehkan akad-akad yang mengandung sedikit gharar seperti akad salam sebagai rikhsah (keringanan) sehingga harta bisa berpindah kepemilikan dengan akad- akad ini.

Islam mensyariatkan akad-akad yang bersifat luzum tanpa pilihan kecuali jika disepakati ada syarat dalam akad. d. Islam melarang penimbunan uang karena jika uang tidak beredar, maka akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan keuangan, perdagangan dan sosial sesuai dengan firman Allah Swt.

Islam melarang setiap bentuk praktik riba karena meng- hilangkan sikap simpati para pelaku riba terhadap sesama dan karena seluruh tujuannya adalah mendapatkan harta dari sekian banyak orang, termasuk dari harta orang-orang yang membutuhkan.