Perbedaan Konsep Tabarru’ dan Tijari dalam Fiqih Muamalah

Perbedaan Konsep Tabarru’ dan Tijari dalam Fiqih Muamalah

Akad Tabarru’

Akad tabarru’ adalah segala macam perjanjian yang menyangkut nonprofit transaction (transaksi nirbala). Transaksi ini pada hakekatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil.

Akad tabarru dilakukan dengan tujuan tolong menolong dalam rangka berbuat kebaikan (Tabarru berasal dari kata birr dalam bahasa arab, yang artinya kebaikan).

Dalam akad tabarru’, pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya.

Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter-part-nya untuk sekedar menutupi biaya yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabarru’ tersebut, tapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru’ itu.

Contoh akad – akad tabarru’ adalah qard, rahn, hiwalah, wakalah, kafalah, wadi’ah, hibah, wakaf, shadaqah, hadiah.

BACA JUGA:  CIMB Niaga Syariah dan Dompet Dhuafa Wujudkan Masyarakat Berdaya lewat Imbal HasilWakaf

Dalam al qur’an, haidts, dan kaidah fiqih yang menjadi dasar hukum akad tabarru’, dimana akad tabarru ini memiliki prinsip sosial yaitu menolong sesama.

Berlandaskan pada dasar hukum diatas, maka jelaslah dalam akad tabarru’ pihak yang berbuat kebaikan tidak boleh mensyaratkan imbalan pada pihak lainnya, dan tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru’ tersebut.

Imbalan hanya dari allah SWT, bukan dari manusia.

Karena, orientasi akad tabarru’ bertujuan mencari keuntungan akhirat, bukan untuk keperluan komersil.

Akad Tijari

Tijari atau tijarah berasal dari bahasa arab yang artinya perdagangan, perniagaan, dan bisnis.

BACA JUGA:  Strategi Pengembangan UMKM di Era Digital

Tijarah merupakan akad perdgangan yakni mempertukarkan harta dengan harta menurut cara yang telah ditentukan dan bermanfaat serta dibolehkan syariah.

Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial, yaitu akad yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan.

Terdapat dua kelompok besar akad tijarah berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya, yakni:

Natural Certainty Contracts (NCC)

Dalam kelompok ini kedua belah pihak saling mempertukarkan aset yang dimilikinya, oleh sebab itu objek pertukarannya (barang/jasa) harus ditetapkan diawal akad.

Yaitu berupa jumlah, kualitas, harga dan waktu penyerahan.

Kontrak – kontrak ini menawarkan return yang tetap dan pasti, contohnya sewa – menyewa dan hal lain yang berbasis jual beli.

BACA JUGA:  Pentingnya Laporan Keuangan dalam Pengambilan Keputusan Bisnis

Jadi maisng – masing pihak yang bertransaksi saling mempertukarkan asetnya bukan mencampurkannya, sehingga tidak ada pertanggungjawaban resiko bersama.

Natural Uncertainty Contract (NUC)

Dalam kelompok ini pihak – pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real aset maupun financial aset) menjadi satu kesatuan.

Selajutnya pihak yang terkait akan menanggung resiko dari kegiatan usaha yang dilakukan bersama tersebut dan membagi keuntungan atau laba sesuai kesepakatan bersama.

Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Maka, kontrak ini tidak memberikan kepastian pendapatan. Contohnya musyarakah, muzara’ah, musaqah.

Meilani Fajriyati Azizah

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait