Beranda Feature Ondel-ondel Ngamen, Ini Pendapat Orang Betawi

Ondel-ondel Ngamen, Ini Pendapat Orang Betawi

Ilustrasi

Tinggi besar matanya melotot, bergoyang dengan iringan musik khas betawi, bahkan sekelompok masyarakat memakai boneka ini berkeliling kampung. Siapa si raksasa ini ? ya , ondel-ondel namanya.

Ondel-ondel dikenal petama kali pada tahun 1605. Dalam buku Geschiedenis Van Java II karya W. Fruin Mees, dikisahkan iring-iringan Pangeran Jayakarta Wijayakrama ikut merayakan khitan Pangeran Abdul Mafakir dengan membawa boneka setinggi 2,5 meter yang berbahan dasar bambu. Boneka raksaksa itu bernama Barongan yang artinya kesenian yang dipentaskan secara rombongan yang sekarang kita kenal sebagai ondel-ondel.

Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, ondel-ondel ini ditetapkan sebagai maskot atau boneka seni khas Betawi. Ondel-ondel sendiri adalah campuran budaya Betawi, Arab, Cina, dan Melayu.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan kota Jakarta yang modern, bentuk dan fungsi ondel-ondel pada zaman dahulu dan sekarang telah terjadi perbedaan fungsi.

Dahulu, ondel-ondel digunakan sebagai pelindung masyakat juga untuk acara penting masyarakat betawi, seperti khitanan, pernikahan, hajatan, dan menyambut tamu yang dihormati. “Dulu ondel-ondel itu untuk tolak bala, mengusir wabah penyakit. Namun, sejak masuknya agama Islam di betawi, pelan-pelan tuh sudah mulai hilang budayanya. Jadi, ondel-ondel dibuat untuk kebudayaan saja bukan lagi buat keyakinan,” Ungkap Adhes Satria dari komunitas Orang Betawi.

Ondel-ondel salah satu budaya Indonesia khususnya DKI Jakarta yang kini sudah bergeser fungsinya yaitu sebagai alat untuk mencari nafkah (mengamen) bagi segelintir masyarakat yang dapat meraih keuntungan bagi si pembuatnya atau pemiliknya.

Ngemennya ondel-ondelnya sudah menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat. Ada yang sentimen kalau yang ngamen itu merusak budaya Betawi, tapi ada juga yang bilang kalau keberadaan mereka melestarikan budaya Betawi membuat masyarakat yang merantau ke Jakarta jadi tahu ondel-ondel.

Fenomena ondel-ondel ngamen ini juga pernah disinggung oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ia menilai ondel-ondel telah keluar dari tujuan dan peruntukkannya. Menurut dia, ikon Betawi itu tidak sepatutnya dijadikan alat mengamen. Sebab dapat menurunkan nilai seni, estetika, dan budaya daerah.

Hal tersebut diaminkan oleh Fahrul Rozi masyarakat Betawi asli, “Kalau menurut gua tuh ondel-ondel yang ngamen di jalanan kurang bagus. Kurang bagusnya ya gimana ya, itu budaya Betawi, lho. Boleh saja mempromosikan budaya Betawi, tapi tidak harus menjual nama ondel-ondel dengan mengamen dijalan.”

Pemerintah juga perlu mengambil sikap untuk melirik budaya Betawi yang satu ini. Sudah sepatutnya mestarikan budaya Indonesia seperti ondel-ondel karena budaya merupakan identitas suatu masyarakat. (Laela Sabrina Murti/PNJ)

Komentar

komentar