<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pola Asuh &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/pola-asuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jun 2026 08:11:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>Pola Asuh &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peran Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecemasan pada Anak Usia Dini</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/06/peran-pola-asuh-orang-tua-terhadap-kecemasan-pada-anak-usia-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2026 08:11:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=100996</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Seruni Ayu Riswandira, mahasiswa Fakultas psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Seruni Ayu Riswandira, mahasiswa Fakultas psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka</strong></em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Kecemasan pada anak usia dini merupakan gangguan kesehatan mental yang prevalensinya semakin meningkat dan berdampak signifikan terhadap perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara literatur mengenai peran pola asuh orang tua sebagai faktor determinan utama dalam memicu atau mencegah kecemasan pada anak usia dini.</p>
<p>Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai teori dan hasil penelitian terkait, meliputi teori kognitif (Beck), teori perkembangan emosional (Nurgiyantoro), dan teori kelekatan (Bowlby &amp; Ainsworth). Hasil tinjauan menunjukkan bahwa pola asuh yang tidak tepat, seperti pola asuh otoriter dan kurangnya dukungan emosional, berkorelasi kuat dengan munculnya gejala kecemasan fisiologis (detak jantung cepat, gangguan tidur, keringat berlebih) dan psikologis (gelisah, rendah diri, menarik diri) pada anak. Sebaliknya, pola asuh demokratis serta terciptanya secure attachment (kelekatan aman) terbukti mampu menjadi faktor protektif yang membangun regulasi stres dan ketahanan mental anak.</p>
<p>Kesimpulannya, penanganan kecemasan pada anak usia dini memerlukan pendekatan holistik dan integratif yang melibatkan peran aktif orang tua sebagai pengasuh responsif dan fasilitator emosional. Implikasi praktis dari tinjauan ini menekankan pentingnya edukasi orang tua mengenai pola asuh positif, serta kolaborasi antara keluarga dan pendidik dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak.</p>
<p>Kecemasan pada anak usia dini merupakan masalah kesehatan mental yang semakin mendapatkan perhatian di masyarakat. Pada tahap perkembangan ini, anak-anak mulai membentuk pemahaman tentang dunia di sekitar mereka, termasuk berbagai situasi yang dapat menimbulkan rasa takut dan khawatir. Menurut data dari World Health Organization (WHO), sekitar 10-20% anak-anak mengalami masalah kecemasan, yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka dan berdampak pada perkembangan emosional, sosial, dan akademik.</p>
<p>Kecemasan pada anak usia dini semakin berkembang yang dapat muncul dalam berbagai cara, seperti rasa takut akan perpisahan dari orang tua, khawatir berlebihan tentang hasil di sekolah, atau merasa canggung saat bersosialisasi . Contohnya , anak yang merasakan ketakutan berpisah mungkin menunjukkan gejala cemas saat ditinggal di sekolah atau ketika harus berhadapan dengan orang dewasa yang baru. Jenis kecemasan ini tidak hanya berdampak emosional pada anak , tetapi juga bisa menghalangi tumbuhnya keterampilan sosial dan kemampuan mereka dalam belajar.</p>
<p>Penyebab kecemasan pada anak -anak yang masih sangat bervariasi dan dapat menjadi beberapa kategori , termasuk faktor genetik, kondisi keluarga, dan pengalaman yang menyakitkan . Faktor genetik memiliki peran yang signifikan dalam predisposisi individu terhadap masalah kecemasan. Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan gangguan kecemasan cenderung lebih mudah mengalami kondisi tersebut . Sementara itu dalam kondisi keluarga yang tidak harmonis , seperti adanya kedekatan antara orang tua atau kurangnya dukungan emosional, dapat memperparah keadaan ini. Pengalaman yang traumatis, seperti kehilangan anggota keluarga atau bencana alam, juga dapat menyebabkan kecemasan yang berkepanjangan pada anak -anak.Dampak dari kecemasan yang tidak dapat diatasi akan sangat besar . Anak-anak yang menderita kecemasan tinggi cenderung menghindari interaksi sosial , mengalami kesulitan dalam belajar, dan memiliki masalah tidur. Hal ini dapat mengganggu keterampilan pertumbuhan sosial mereka dan berisiko menyebabkan gangguan mental di masa depan , seperti depresi atau gangguan stres pascatrauma. Oleh karena itu , sangat penting bagi orang tua, guru , dan komunitas untuk memahami serta mengenali gejala kecemasan pada anak, selain itu untuk mengetahui metode yang efektif yang dapat mendukung mereka.</p>
<p>Dengan adanya artikel ini untuk memberikan tujuan arah mengeksplor lebih dalam mengenai dengan faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan pada anak-anak usia dini serta menawarkan pendekatan dan metode yang tepat untuk membantu mengatasi isu ini. kemudian ini dapat melibatkan orang tua, guru , dan lingkungan sekitar , diharapkan anak-anak dapat membangun keterampilan untuk mengatasi masalah yang lebih baik dan merasa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Melalui pemahaman dan dukungan yang tepat, anak-anak dapat belajar cara mengelola kecemasan mereka dan menjalani masa kecil yang lebih bahagia dan bermakna .</p>
<p>Sangat penting untuk memanfaatkan teori-teori yang tepat untuk memahami kecemasan pada anak-anak pada usia dini. Salah satu teori yang akan diterapkan adalah:</p>
<p>Teori Kognitif: Aaron Beck (1976) pola pemikiran negatif yang diterima seseorang dapat menimbulkan perasaan cemas . Teori ini bisa digunakan dalam konteks anak-anak dengan pendekatan yang mendukung mereka untuk memahami dan mengubah cara berpikir mereka. Di Indonesia, Ramadhani (2020) mengungkapkan bahwa anak-anak dapat dilatih untuk menyadari pikiran negatif dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih baik melalui pendekatan kognitif.</p>
<p>Teori Perkembangan Emosional: Menurut Nurgiyantoro (2019) Perkembangan emosional pada anak sangat krusial untuk membentuk rasa percaya diri dan kemampuan bersosialisasi . Ketika anak tidak menerima dukungan emosional yang cukup , mereka berisiko mengalami gangguan kecemasan. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua dan pendidik untuk menciptakan kondisi yang mendukung serta memfasilitasi perkembangan emosional anak.</p>
<h3>Teori Attachmen</h3>
<p>Teori perkembangan kecemasan John Bowlby dalam konsep attachment theory menekankan peran penting ikatan aman antara anak dan pengasuh utama sebagai fondasi perkembangan emosional. Dengan membantu orang tua memahami bahwa perilaku anak, seperti menangis, mencari kedekatan, atau menunjukkan ketergantungan, merupakan bagian alami dari upaya anak membangun rasa aman (Bowlby, 1988). Selain itu, penjelasan mengenai jenis-jenis kelekatan berdasarkan studi Strange Situation oleh Ainsworth memberikan kerangka konseptual bagi orang tua untuk memahami perbedaan respons anak terhadap situasi perpisahan dan pertemuan kembali dengan orang tua (Ainsworth, 1978). Orang tua mulai menyadari bahwa perilaku anak yang dianggap “rewel” atau “manja” sering kali merupakan sinyal kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Kelekatan aman terbukti berkorelasi dengan kemampuan regulasi stres, kemandirian, empati, serta keberhasilan dalam relasi sosial dan dunia kerja di masa dewasa (Bowlby, 1988). Temuan ini juga sejalan dengan konsep positive devianceyang menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam kondisi keterbatasan sekalipun dapat berkembang secara optimal apabila mendapatkan pengasuhan yang responsif dan penuh kasih sayang (Zeitlin et al., 1990).</p>
<p>Teori kelekatan yang dikembangkan oleh John Bowlby menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara anak dan pengasuh memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola stres dan emosi negatif(Sa’diyah &amp; Jannah, 2025). Anak yang memiliki kelekatan aman (secure attachment) cenderung lebih mampu menenangkan diri dan menunjukkan respons emosional yang adaptif dibandingkan anak dengan pola kelekatan tidak aman (insecure attachment).</p>
<h4>Konsep Kecemasan dan gejalanya</h4>
<p>Kecemasan atau gangguan anxiety adalah kondisi seseorang yang merasakan ketakutan yang berkelanjutan dan sulit untuk diatasi (Oktamarin et al., 2022). Ketakutan ini berhubungan dengan kekhawatiran mengenai potensi terjadinya hal-hal buruk. Kecemasan adalah reaksi alami saat seseorang menghadapi potensi ancaman atau bahaya. Namun, jika kecemasan itu berlebihan, maka masalah akan muncul ketika situasi yang dianggap mengancam tidak ada atau tidak seburuk yang dipikirkan. Gejala kecemasan tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi anak-anak juga dapat mengalami hal ini, terutama pada usia muda.</p>
<p>Gejala kecemasan pada anak mencakup kedekatan dengan orang tua, kecenderungan mudah marah, perilaku berteriak, masalah tidur, sakit kepala, dan keluhan perut. Di sekolah, anak-anak dapat mengalami kecemasan di momen-momen tertentu. Misalnya, saat mereka kembali ke sekolah setelah liburan panjang, saat berpindah ke sekolah baru, atau saat kehilangan orang yang mereka cintai, anak mungkin merasakan kecemasan saat di sekolah. Situasi ini dapat memicu perasaan cemas, apalagi jika mereka sedang dalam proses pemulihan dari suatu penyakit. Ketika rasa takut, kekhawatiran, atau kecemasan berada di luar batas respons perkembangan yang normal atau ketika ketiga hal tersebut mengakibatkan stres berlebih yang serius atau fungsi yang terganggu (baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sosial), gangguan kecemasan bisa dianggap ada. Individu yang mengalami gangguan kecemasan menunjukkan respons ketakutan yang tidak lagi disesuaikan, berkaitan dengan pemicu stres, dan muncul bahkan tanpa adanya ancaman yang nyata. Bukti yang dipaparkan di sini menunjukkan bahwa kekhawatiran yang berlebihan dapat berkontribusi pada masalah kesehatan mental dan mengakibatkan dampak negatif. Berbagai faktor, seperti genetik, cara pengasuhan keluarga, dan lingkungan pendidikan di sekolah dan masyarakat, semuanya bisa mempengaruhi perkembangan gangguan kecemasan (Fitria &amp; Alpiah, 2024).</p>
<p>Gejala Fisiologis. Gejala fisiologis yaitu reaksi tubuh terutama organn-organ yang diasuh oleh syaraf otonom simpatik seperti jantung, peredaran darah, kelenjar, pupil mata , sistem sekresi. Jika emosi atau perasaan cemas sedang meningkat, maka satu lebih fungsi dari organ tersebut juga akan meningkat, sehingga jumpai meningkatkanya detak jantung dalam memompa darah, sering buang air atau sekresi berlebihan. Menurut Fahmi gejala fisiologi dari kecemasan yaitu ujung kaki dann tanggan dingin, banyak mengeluarkan keringat, gangguan pencernaan, tidur tidak nyenyak, kepala pusing, nafsu makan hilang dan pernaasan terganggu.</p>
<p>Gejala Psikologi. Gejala psikologi yaitu reaksi yang biasanya disertai dengan reaksi fisiologi, misalnya adanya perasaan tegang, bingung atau perasaan tidak menentu, terancam, tidak berdaya, rendah diri, kurang percaya diri, tidak dapat menimbulkan perhatian dan adaanya gerakan yang tidak terarah tidak pasti (Zhhiifar,2015 : 18-19).</p>
<p>Terdapat beberapa gejala yang dapat diamati saat mengalami kecemasan gejala-gejala ini dapat berupa gelisah, menangis, sulit tidur, mimpi buruk, sulit makan, gangguan pencernaan, kesulitan pernapasan, tics, ketidak mampuan ditinggal sendiri dan menarik diri (Susanti, 2018 : 31-33). Jadi dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala kecemasan ada 2 bentuk yaitu gejala fisiologis dan psikologi, dimana gejala fisiologi sendiri dapat ditandai dengan ujung kaki dan tangan dingin, banyak mengeluarkan keringat, gangguan pencernaan, detak jantung cepat, tidur tidak nyenyak, kepala pusing, nafsu makan hilang, dan pernafasan terganggu sedangkan Gejala psikologi dapat ditandai dengan merasa tertekan, menjadi sangat waspada karena takut terhadap bahaya, sulit rileks dan juga sulit merasa enak dalam segala situasi.</p>
<p>Gangguan kecemasan yang tidak teratasi dapat berdampak negatif pada anak, seperti mengalami kesulitan dalam belajar dan bersosialisasi . Hubungan antara orang tua dengan anak berkontribusi secara langsung terhadap tingkat kecemasan yang dialami anak. Orang tua merupakan lingkungan pertama yang dikenal oleh anak, dan cara mereka dalam mendidik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak, termasuk aspek mental dan emosional. Pola asuh dapat tercermin dalam tiga jenis, yakni otoriter, permisif, dan demokratis (Amilia &amp; Jamaluddin, 2024).</p>
<h5>Faktor Kecemasan Pada Anak Usia Dini</h5>
<p>Kecemasan di kalangan anak usia dini dapat muncul dari berbagai elemen yang saling berhubungan . Penting bagi orang tua dan guru untuk memahami alasannya agar dapat mengenali dan menerapkan pendekatan yang sesuai dalam mendukung anak-anak.</p>
<p>Faktor Genetik: Dalam Penelitian mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh genetik terhadap kecenderungan anak untuk mengalami masalah kecemasan. Menurut Purwanto (2018), anak-anak yang berasal dari keluarga dengan sejarah masalah kecemasan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa predisposisi biologis dapat berperan dalam cara anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.</p>
<p>Faktor Keluarga: Tempat di mana seorang anak tumbuh memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental mereka. Menurut Sumadi (2020), kondisi keluarga yang tidak seimbang , seperti pertengkaran antara orang tua atau kurangnya dukungan emosional, dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kecemasan. Ketidakpastian dalam lingkungan rumah dapat membuat anak merasakan ketidak amanan dan kekhawatiran terkait hubungan mereka dengan orang lain .</p>
<p>Pengalaman Trauma : Kondisi buruk seperti kehilangan seseorang yang dikasihi , bencana alam, atau tindakan kekerasan dapat menimbulkan trauma yang kuat pada anak. Menurut Siti (2019) bahwa anak-anak yang mengalami trauma cenderung menunjukan reaksi emosional yang intens , termasuk kecemasan. Trauma ini dapat berdampak negatif pada cara anak melihat dunia dan orang-orang di sekitar mereka,sehingga menciptakan perasaan tidak aman yang berujung pada kecemasan yang berkepanjangan.</p>
<h5>Dampak Kecemasan Pada Anak Usia Dini</h5>
<p>Kecemasan yang tidak dikelola dengan baik dapat memberikan pengaruh besar pada pertumbuhan emosi, sosial, serta akademis anak-anak. Anak yang menderita kecemasan berpotensi mengalami tantangan dalam berbagai aspek kehidupannya.</p>
<p>Perkembangan Emosional: dijelaskan oleh Anggraini (2021), anak-anak yang mengalami kecemasan sering kali menghadapi kesulitan dalam mengatur emosi mereka. Mereka mungkin merasa terjebak dalam perasaan negatif seperti rasa takut, cemas, atau putus asa, yang dapat mengganggu kondisi emosional mereka. Hal ini dapat berakibat pada terhambatnya pengembangan keterampilan emosional, termasuk kemampuan untuk mengenali serta mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat.</p>
<p><strong>Perkembangan Sosial</strong>: Kecemasan dapat menyebabkan anak menjauh dari hubungan sosial. Rahayu (2020) mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengalami kecemasan sering kali menghindari lingkungan sosial yang disebabkan ketakutan akan ditolak atau dihina . Ketidakmampuan dalam berinteraksi dengan teman sebaya dapat menyebabkan keterasingan sosial, yang kemudian dapat melemahkan tingkat kecemasan dan membentuk siklus yang sulit untuk diakhiri .</p>
<p><strong>Perkembangan Akademik</strong>: Kecemasan mempunyai dampak yang merugikan pada prestasi akademik. Anak-anak yang mengalami kecemasan sering kali kesulitan fokus dalam proses pembelajaran, merasa terbebani oleh tuntutan akademik, dan menemukan kesulitan saat menyelesaikan pekerjaan rumah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hasyim (2018), anak-anak yang memiliki tingkat kecemasan tinggi cenderung mencapai nilai akademik yang lebih rendah dibandingkan tingkat usia mereka, karena kecemasan dapat menghambat proses belajar.</p>
<h4>Implikasi Mengatasi Masalah Pada Anak</h4>
<p>Setelah menyadari faktor penyebab dan efek kecemasan, berikut adalah beberapa metode yang dapat diterapkan untuk mendukung anak dalam menghadapi rasa cemas mereka:</p>
<p>Membangun Suasana Aman: Menurut Rini (2021), suasana yang aman dan stabil sangat krusial untuk pertumbuhan anak. Orang tua dan guru perlu menjamin bahwa anak merasakan kenyamanan di rumah dan di sekolah. Membacakan rutinitas harian yang teratur dapat memberikan anak perasaan kontrol dan mengurangi yang berpotensi memicu kecemasan.</p>
<p><strong>Edukasi Emosional</strong>: Mengajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosi mereka sangatlah penting. Anggraeni (2020) menyarankan pemanfaatan cerita dan permainan untuk mendukung anak memahami emosi. Dengan menyadari emosi mereka, anak-anak dapat berlatih mengekspresikannya secara positif, yang membantu mengurangi rasa cemas.</p>
<p><strong>Teknik Relaksasi</strong>: Metode relaksasi seperti bernapas secara mendalam , meditasi, atau yoga yang sederhana dapat mendukung anak dalam memahami cara menenangkan diri. Menurut Sari (2022), Latihan pernafasan dan meditasi dapat menurunkan tanda-tanda kecemasan, serta membantu anak merasa lebih tenang dan memusatkan perhatian .</p>
<p><strong>Berbicara mengenai Ketakutan</strong>: Mendorong anak untuk menyampaikan ketakutan dan kekhawatiran mereka merupakan langkah yang krusial . Menurut penelitian Fatmawati (2020), interaksi terbuka antara orang tua dan anak dapat membangun lingkungan yang aman , di mana anak merasa diperhatikan dan Dipahami . Hal ini dapat memfasilitasi anak dalam menghadapi rasa kecemasan mereka dengan lebih baik.</p>
<p><strong>Keterlibatan dalam Aktivitas Sosial :</strong> Mendorong anak-anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka .Sementara itu, Berpartisipasi dalam kegiatan sosial dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka . Rachmawati (2021) menekankan bahwa bermain dengan teman sebaya dan berpartisipasi dalam kelompok dapat membantu anak belajar keterampilan sosial dan mengurangi kecemasan. Kegiatan ini memberi anak-anak kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan yang sehat.</p>
<h6>Saran dan kesimpulan</h6>
<p>Kecemasan pada anak usia dini merupakan isu serius yang memerlukan perhatian dari berbagai pihak. Berdasarkan pembahasan di atas, kesimpulan dapat diambil sebagai berikut:</p>
<p><strong>Penyebab Kecemasan</strong><br />
Kecemasan Pada anak usia dini dapat disebabkan oleh berbagai faktor , termasuk faktor genetik, lingkungan keluarga, dan pengalam traumatis. Pemahaman ini sangat penting untuk mengidentifikasi anak-anak mengalami kecemasan dan memberikan intervensi yang tepat.</p>
<p><strong>Dampak Kecemasan</strong><br />
Kecemasan yang tidak ditangani dapat memiliki dampak yang signifikan pada perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak-anak yang mengalami kecemasan beresiko kesulitan dalam mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan meraih prestasi akademik.</p>
<p><strong>Teori ahli</strong><br />
Secara keseluruhan teori, penanganan kecemasan pada anak usia dini perlu dilakukan secara holistik dan integratif. Tidak cukup hanya mengubah pola pikir anak (kognitif) tanpa memberikan lingkungan emosional yang hangat, dan tidak cukup hanya memberikan kasih sayang (emosional/attachment) tanpa membekali anak dengan keterampilan berpikir yang sehat.  peran orang tua dan pendidik sangat krusial sebagai figur pengasuhan yang responsif serta fasilitator pembelajaran kognitif. Dengan menciptakan secure base (basis aman) melalui kelekatan yang positif, memberikan dukungan emosional yang konsisten, serta melatih anak mengenali dan mengubah pikiran negatifnya, maka anak akan memiliki ketahanan mental (resilience) yang kuat untuk menghadapi kecemasan dan tumbuh menjadi individu yang percaya diri secara sosial dan emosional.</p>
<p><strong>Strategi Mengatasi Kecemasan</strong><br />
Berbagai strategi efektif telah diidentifikasi untuk membantu anak mengatasi kecemasan mereka, termasuk menciptakan lingkungan yang aman, edukasi emosional, teknik relaksasi, komunikasi terbuka, dan keterlibatan dalam aktivitas sosial (poin 4). Dengan penerapan strategi-strategi ini, anak-anak dapat diberikan alat yang diperlukan untuk menghadapi kecemasan dengan lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://parentalk.id/wp-content/uploads/2022/07/shutterstock_2029834358-1.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pola Asuh Orang Tua yang Adil untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan sebagai Fondasi Keluarga Sakinah</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/01/pola-asuh-orang-tua-yang-adil-untuk-anak-laki-laki-dan-perempuan-sebagai-fondasi-keluarga-sakinah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2026 12:27:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=95824</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Nazwa Bunaya &#038; Desi Wulandhari

]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Nazwa Bunaya &amp; Desi Wulandhari</strong></em></p>
<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari individu-individu yang saling berinteraksi, dengan tugas utama untuk menjaga kesejahteraan anggota keluarga dan mendidik anak.</p>
<p>Pada umumnya setiap keluarga dibentuk oleh sebuah tujuan yaitu menjadi keluarga sakinah. Sakinah dalam konteks kehidupan merujuk pada kondisi batin yang penuh kedamaian dan ketenangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Keluarga sakinah merujuk pada keluarga yang tidak hanya jasmani sebagai tujuan, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.</p>
<p>Keluarga sakinah tercermin dalam keselarasan hubungan antara suami, istri dan anak-anak yang saling mendukung sehingga tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.<br />
Dari awal terciptanya bumi hingga kini Allah SWT menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin yaitu perempuan dan laki-laki.</p>
<p>Baik anak laki-laki maupun perempuan merupakan amanah yang diberikan Allah kepada orang tua dan juga bentuk tanggung jawab orang tua kepada Allah di akhirat kelak. Sudah menjadi kewajiban orang tua memperlakukan anak dengan perlakuan yang sama antara keduanya, baik dalam hal pemenuhan kasih sayang, perhatian, pendidikan, dukungan serta kesempatan.</p>
<p>Setiap orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anak-anak mereka. Keinginan ini kemudian akan membentuk pola asuh yang akan ditanamkan orangtua kepada anak-anak.</p>
<p>Pola asuh adalah cara yang digunakan dalam usaha membantu anak untuk tumbuh dan berkembang dengan merawat, membimbing dan mendidik, agar anak mencapai kemandiriannya.<br />
Pola asuh merupakan hal penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan anak, dengan itu orangtua perlu memastikan pola asuh yang diberikan pada anak harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan anak.</p>
<p>Hal ini pun tidak dapat dibedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Perbedaan gender bukan sebagai alasan untuk anak mendapatkan perlakuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Sebagai anak mereka berhak untuk mendapatkan pengajaran dalam mengambil peran dan keputusan dalam kemaslahatan keluarga sakinah. Dalam QS Al-Hujurat ayat 13 dijelaskan bahwa Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal</p>
<p>يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p>Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.</p>
<p>Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong.</p>
<p>Ayat ini menjadi sebuah bukti bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, saling tolong menolong, saling bekerja sama demi menghadirkan kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.</p>
<p>Untuk mengajarkan anak tentang karakter yang baik, sebagai orang tua perlu menanamkan nilai-nilai agama, dan menerapkan pola pengasuhan yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadis yaitu pola asuh Islami.</p>
<p>Pola asuh Islami adalah cara orang tua mendidik anak berdasarkan ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadis, dengan tujuan membentuk anak yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.</p>
<p>Pola asuh ini mengedepankan kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Melalui pola asuh ini, anak dibimbing untuk memiliki akhlak mulia seperti jujur, amanah, sabar, hormat kepada orang tua, dan bertanggung jawab.</p>
<p>Selain itu, pola asuh Islami juga menanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini, sehingga anak tumbuh dengan pondasi agama yang kuat.<br />
Selain itu, perlu dilakukan penerapan fisik dalam pengasuhan anak laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Pengasuhan fisik yang dianjurkan adalah sebagai berikut:</p>
<p>Memberikan kesempatan anak laki-laki maupun perempuan yang sama untuk dapat memilih, mencoba, dan berlatih alat-alat rumah tangga yang ada di rumah.</p>
<p>Misalkan anak laki-laki diizinkan untuk mengenal peralatan dapur dan mencoba untuk menggunakannya. Ataupun anak perempuan diizinkan untuk mengenal peralatan pertukangan seperti obeng, palu, tang yang mungkin ia ingin mempelajari penggunaannya.</p>
<p>Memberikan kesempatan anak perempuan maupun anak laki-laki yang sama untuk mengambil bagian dalam setiap kegiatan di rumah. Misalnya dalam kegiatan berkebun, mencuci motor-mobil, memasak, mengepel, mencuci baju, menjemur, melipat dan menyetrika baju sehingga tidak ada lagi pemilahan antara pekerjaan anak laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Termasuk dalam kegiatan musyawarah keluarga. Orang tua harus memberikan penekanan kesempatan yang sama bagi anak perempuan dan laki-laki dalam mengutarakan pendapatnya.</p>
<p>Memberikan anak laki-laki maupun perempuan kontrol yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan belajar bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah. Misalnya ketika orangtua pergi, maka orangtua memberikan tanggung jawab yang sama dan seimbang kepada anak-anaknya baik anak perempuan maupun laki-laki untuk menjaga rumah.</p>
<p>Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan konsep islami dalam pola pengasuhan anak dapat dilakukan dengan menekankan prinsip kesalingan antara anak laki-laki maupun perempuan untuk secara bersama-sama, bekerja sama, bermitra dalam melakukan seluruh kegiatan di rumah. Tidak ada laki penggolongan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin, termasuk pemberian hak pada anak-anak laki-laki maupun perempuan untuk memilih segala sesuatu yang ia inginkan selama itu baik tanpa dilihat dari nilai kepantasan berdasarkan jenis kelamin.</p>
<p>Keluarga yang mungkin memiliki anak laki-laki saja ataupun anak perempuan saja, maka perlu untuk memberikan pemahaman tentang kesamaan hak dan kewajiban antara anak-anak laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan. Sehingga penanaman orang tua sejak kecil dapat dipahami anak dan dapat diterapkan di dalam kehidupan di masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://dosenpsikologi.com/wp-content/uploads/2022/03/Pola-Asuh-Orang-Tua.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perdebatan Pola Asuh Anak di Dunia Maya</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/12/perdebatan-pola-asuh-anak-di-dunia-maya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 03:17:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<category><![CDATA[Pola asuh anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=95140</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Rokhmatin Gunasir (1), Khansa Taqiyyah Al Khalishah, mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Rokhmatin Gunasir (1), Khansa Taqiyyah Al Khalishah, mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka</p>
<p><strong>Fenomena Perdebatan Pola Asuh di Era Digital </strong></p>
<p>Transformasi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap cara orang tua mengakses pengetahuan dan berbagi pengalaman terkait pengasuhan anak. Berbagai platform media sosial: seperti Instagram, TikTok, Facebook, X (Twitter), forum daring parenting, hingga grup WhatsApp, kini menjadi ruang interaksi utama bagi orang tua untuk mendiskusikan isu-isu pengasuhan. Melalui kolom komentar dan diskusi virtual, pandangan tentang parenting disampaikan berdasarkan pengalaman personal maupun informasi yang diperoleh dari konten digital. Namun, interaksi tersebut tidak selalu berlangsung dalam suasana dialogis yang sehat. Perbedaan perspektif kerap berkembang menjadi perdebatan yang berlarut-larut, bahkan memicu konflik terbuka. Situasi ini dipengaruhi oleh keragaman latar belakang orang tua, seperti perbedaan budaya, tingkat pendidikan, pengalaman hidup, dan sistem nilai yang dianut. Dalam konteks ini, media sosial tidak lagi sekadar berfungsi sebagai medium pertukaran informasi, melainkan juga sebagai arena kontestasi gagasan mengenai praktik pengasuhan yang dianggap paling ideal.</p>
<p>Sejumlah topik secara konsisten menjadi pemantik perdebatan di ruang digital, antara lain perbedaan pendekatan otoriter dan permisif, pilihan antara ASI dan susu formula, pengelolaan durasi penggunaan gawai pada anak, serta strategi penanaman nilai keagamaan sejak dini. Banyak orang tua meyakini bahwa keputusan yang mereka ambil merupakan hasil dari pengalaman terbaik yang dimiliki, sehingga muncul kecenderungan untuk menilai pendekatan lain sebagai kurang tepat atau keliru.</p>
<p>Intensitas penggunaan perangkat digital dalam kehidupan keluarga turut memperkuat dinamika tersebut. Paparan konten parenting yang terus-menerus mendorong orang tua melakukan perbandingan sosial, sebagaimana dijelaskan dalam teori social comparison (Festinger). Perbandingan ini kerap menggeser perbedaan pandangan yang seharusnya membuka ruang pembelajaran menjadi sumber konflik dan tekanan psikologis. Ketika perbedaan cara mengasuh anak diekspresikan tanpa sensitivitas emosional, komentar bernada menyudutkan dan menghakimi menjadi mudah ditemui. Pola komunikasi semacam ini berpotensi menimbulkan rasa bersalah, kebingungan dalam pengambilan keputusan pengasuhan, penurunan kepercayaan diri, hingga kecemasan akan label sebagai orang tua yang gagal. Dengan demikian, perdebatan pola asuh di dunia maya tidak hanya berkaitan dengan perbedaan opini, tetapi juga berdampak nyata pada kondisi psikologis orang tua.</p>
<p>Pola Asuh Anak: Konsep Dasar dan Variasi Pendekatan</p>
<p>Untuk memahami mengapa perbedaan pandangan tentang pengasuhan sering memicu ketegangan, diperlukan kesepahaman mengenai konsep dasar pola asuh. Dalam kajian psikologi perkembangan, pola asuh merujuk pada bentuk relasi antara orang tua dan anak yang mencakup pembimbingan, pendidikan, perlindungan, serta pemberian dukungan emosional sepanjang masa perkembangan anak. Relasi ini melibatkan aspek komunikasi, penerapan aturan, dan penanaman nilai yang berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak.<br />
Jurnal Muamalah, Desember 2025</p>
<p>Pola asuh tidak hadir dalam satu bentuk tunggal. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah pola asuh otoriter, yang ditandai oleh kontrol tinggi dan tuntutan kepatuhan dengan komunikasi satu arah. Meskipun sering dipersepsikan sebagai bentuk ketegasan, pendekatan ini dalam jangka panjang berisiko menimbulkan tekanan psikologis serta menciptakan jarak emosional antara orang tua dan anak, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai penelitian psikologi perkembangan. Sebaliknya, pola asuh permisif memberikan keleluasaan yang besar kepada anak dengan batasan yang relatif longgar. Anak diberi kebebasan dalam menentukan perilakunya, termasuk dalam penggunaan gawai dan aktivitas harian. Pendekatan ini dapat menciptakan suasana yang nyaman, tetapi berpotensi melemahkan kemampuan regulasi diri anak apabila tidak disertai arahan yang konsisten.<br />
Pola asuh demokratis atau authoritative berupaya memadukan penerapan aturan dengan kehangatan emosional. Orang tua menetapkan batasan yang jelas, namun tetap melibatkan anak dalam dialog serta memberikan penjelasan yang sesuai dengan tahap perkembangan. Pendekatan ini banyak dikaitkan dengan perkembangan kemandirian, kepercayaan diri, dan kompetensi sosial anak. Selain itu, dikenal pula pola asuh neglectful, yaitu kondisi ketika keterlibatan orang tua dalam pengasuhan sangat minim, baik secara emosional maupun fisik. Dalam pola ini, kebutuhan dasar anak sering kali tidak memperoleh respons yang memadai, sehingga berisiko menghambat perkembangan psikologis dan sosialnya.</p>
<p>Penting untuk ditegaskan bahwa tidak terdapat satu model pola asuh yang dapat dianggap paling benar dan berlaku universal. Efektivitas pola asuh dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti temperamen anak, latar budaya, kondisi sosial-ekonomi, serta lingkungan sosial. Konsep goodness of fit dalam psikologi perkembangan menegaskan bahwa kecocokan antara karakter anak dan pola asuh lebih menentukan daripada penerapan satu pendekatan secara kaku. Sebagian besar perdebatan pola asuh di ruang digital berakar pada asumsi implisit bahwa pendekatan yang efektif bagi satu anak akan sama efektifnya bagi anak lain. Ketika pengalaman individual digeneralisasi menjadi standar umum, variasi pola asuh tidak lagi dipahami sebagai keniscayaan, melainkan dipersepsikan sebagai kesalahan.</p>
<p>Dunia Maya sebagai Ruang Sosial Baru: Mengapa Konflik Mudah Muncul?</p>
<p>Media sosial telah berkembang menjadi ruang sosial baru yang memungkinkan orang tua mengekspresikan pandangan dan membentuk opini terkait pengasuhan anak. Namun, karakter komunikasi digital yang berbeda dari interaksi tatap muka membuat potensi konflik menjadi lebih besar. Salah satu karakteristik komunikasi daring adalah minimnya isyarat nonverbal, seperti ekspresi wajah dan intonasi suara. Keterbatasan ini meningkatkan risiko salah tafsir terhadap pesan yang disampaikan. Selain itu, anonimitas dunia maya kerap mendorong individu menyampaikan kritik secara lebih keras tanpa mempertimbangkan dampak emosional bagi pihak lain.</p>
<p>Konflik juga diperkuat oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten dengan tingkat interaksi tinggi. Konten parenting yang viral sering kali dipersepsikan sebagai representasi kebenaran yang paling sahih. Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “otoritas instan”, di mana pengalaman personal atau satu pendekatan pengasuhan diposisikan sebagai standar universal, meskipun realitas keluarga sangat beragam. Di sisi lain, media sosial membentuk budaya pencarian validasi sosial. Pengakuan publik dijadikan tolok ukur kebenaran suatu pandangan, sehingga perbedaan pendapat bergeser menjadi ajang pembuktian superioritas. Dalam konteks ini, konflik tidak semata-mata lahir dari perbedaan pandangan, melainkan dari cara penyampaian yang minim empati dan etika komunikasi.</p>
<p>Prinsip Muamalah dalam Islam sebagai Kerangka Etis</p>
<p>Dalam ajaran Islam, muamalah mencakup seluruh bentuk relasi sosial antarmanusia yang dilandasi nilai etika dan akhlak. Cara berkomunikasi, menyampaikan nasihat, serta merespons perbedaan pandangan termasuk dalam ranah muamalah. Oleh karena itu, interaksi di ruang digital, termasuk perdebatan seputar pola asuh, dapat dipahami sebagai praktik muamalah dalam konteks kekinian.</p>
<p>Prinsip ta’awun menegaskan bahwa interaksi sosial seharusnya diarahkan pada kemaslahatan bersama. Dalam diskursus parenting, prinsip ini mengisyaratkan bahwa ruang digital idealnya menjadi sarana saling mendukung dan berbagi pengalaman, bukan tempat untuk merendahkan atau mempermalukan pihak lain.<br />
Prinsip tasāmuh menekankan pentingnya toleransi dalam menyikapi perbedaan. Keragaman pola asuh merupakan konsekuensi dari perbedaan kondisi keluarga dan karakter anak. Sikap toleran berperan penting dalam mencegah klaim kebenaran tunggal dalam praktik pengasuhan.</p>
<p>Prinsip ‘adl menuntut kehati-hatian dalam menilai praktik pengasuhan orang lain. Menarik kesimpulan hanya berdasarkan potongan konten media sosial merupakan bentuk ketidakadilan karena mengabaikan konteks yang tidak terlihat secara utuh. Sementara itu, prinsip husnuzan mendorong individu untuk memulai interaksi dengan prasangka baik bahwa setiap orang tua berupaya memberikan yang terbaik bagi anaknya.</p>
<p>Prinsip la dharar wa la dhirar menegaskan larangan menimbulkan maupun membalas bahaya. Ungkapan yang merendahkan dan menghakimi di ruang publik digital berpotensi menimbulkan luka psikologis, sehingga bertentangan dengan nilai dasar muamalah. Dengan demikian, perdebatan pola asuh pada dasarnya merupakan persoalan etika sosial, bukan semata perbedaan pendekatan pengasuhan.</p>
<p>Menata Perbedaan dan Refleksi Kritis</p>
<p>Berpijak pada prinsip muamalah, perbedaan pandangan mengenai pola asuh dapat dikelola secara lebih bijak. Menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, mengajukan pertanyaan untuk memahami konteks, serta menyadari keterbatasan informasi di media sosial merupakan sikap dasar yang perlu dikembangkan.</p>
<p>Etika dalam berkomentar juga menuntut kemampuan membedakan antara dialog dan intervensi. Tidak semua perbedaan memerlukan respons, dan tidak setiap pandangan perlu dikoreksi secara terbuka. Dalam kondisi tertentu, memilih untuk menahan diri justru lebih sejalan dengan nilai kemaslahatan.</p>
<p>Konsep amar ma’ruf nahi munkar sering dijadikan dasar untuk mengkritik praktik pengasuhan orang lain di ruang digital. Namun, Islam menegaskan bahwa amar ma’ruf harus disampaikan dengan hikmah dan adab. Tanpa kebijaksanaan, nasihat berisiko berubah menjadi sarana pemuasan ego kebenaran yang justru melukai pihak lain.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Perdebatan pola asuh di era digital menandai pergeseran pengasuhan dari ranah privat menuju wacana publik. Media sosial membuka ruang berbagi pengetahuan dan dukungan, tetapi juga memunculkan potensi konflik ketika perbedaan tidak disikapi secara arif. Konflik yang terjadi lebih sering dipicu oleh cara penyampaian dan penafsiran perbedaan, bukan oleh perbedaan pendekatan itu sendiri.<br />
Keberagaman pola asuh merupakan realitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, prinsip muamalah memberikan kerangka etis yang menegaskan pentingnya empati, toleransi, keadilan, dan tanggung jawab moral dalam berinteraksi di ruang digital. Dengan merawat perbedaan secara bijaksana, ruang daring dapat kembali berfungsi sebagai ruang belajar bersama yang berkeadaban dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://kayrossconsulting.com/wp-content/uploads/2019/04/parenting-trends.png?w=584" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital : Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/06/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 02:54:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Era Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88754</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak.</p>
<p>Para orang tua kini dihadapkan pada tantangan baru dalam membesarkan anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan keberadaan gadget yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, perubahan ini juga memunculkan dilema yang kompleks dalam membentuk karakter dan perkembangan emosi anak.</p>
<p>Gadget seperti smartphone dan tablet kini sering menjadi “pengasuh kedua” bagi anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan anak gadget agar mereka tenang, tidak rewel, atau sibuk sendiri.</p>
<p>Di sisi lain, gadget juga menjadi sarana belajar yang interaktif melalui video edukatif, aplikasi belajar, hingga komunikasi dengan guru.Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius.</p>
<p>Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan keterampilan sosial, bahkan ketergantungan.</p>
<p>Selain itu, akses bebas ke internet tanpa pengawasan juga membuka peluang anak melihat konten yang tidak sesuai dengan usianya.Era digital telah memperluas akses pendidikan.</p>
<p>Anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja melalui platform seperti YouTube, Ruangguru, atau Google Classroom. Pandemi COVID-19 mempercepat adaptasi teknologi ini, menjadikan pembelajaran daring sebagai bagian dari rutinitas harian.</p>
<p>Namun, meskipun teknologi mendukung pembelajaran formal, hal ini tidak serta-merta menggantikan peran orang tua dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan disiplin tetap membutuhkan sentuhan langsung dari orang tua.</p>
<p>Tanpa keterlibatan aktif, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang sempit, hanya terpaku pada pengetahuan kognitif semata.Salah satu dampak signifikan dari perubahan pola asuh di era digital adalah berkurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak.</p>
<p>Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau juga larut dalam penggunaan gadget, sehingga interaksi berkualitas dengan anak menjadi minim. Begitu pula sebaliknya, anak yang sudah kecanduan layar cenderung mengabaikan komunikasi langsung.</p>
<p>Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Komunikasi hangat, waktu berkualitas bersama, dan perhatian penuh dari orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.</p>
<p>Anak yang merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.</p>
<h3>Solusi dan Rekomendasi</h3>
<p>Agar pola asuh tetap sehat di era digital, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi langsung. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:</p>
<ul>
<li>Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia anak dan isi dengan aktivitas fisik atau permainan kreatif.</li>
<li>Berperan aktif dalam penggunaan teknologi anak, misalnya dengan menonton video edukatif bersama lalu mendiskusikannya.</li>
<li>Sediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gadget.</li>
<li>Jadilah teladan digital, dengan menggunakan teknologi secara bijak dan menunjukkan pentingnya batasan.</li>
</ul>
<p>Kembangkan pola asuh yang adaptif, dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, perhatian, dan disiplin.</p>
<p>Perubahan pola asuh di era digital adalah keniscayaan. Orang tua tidak bisa menghindari kemajuan teknologi, namun dapat mengelolanya agar tetap memberikan dampak positif.</p>
<p>Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: antara pemanfaatan gadget untuk pendidikan dan pemeliharaan kedekatan emosional dalam keluarga. Dengan pola asuh yang bijak dan adaptif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.</p>
<p><strong><em>Yeni Asnawati</em></strong><br />
<em>Program Studi S1 Akuntansi</em><br />
<em>Universitas Pamulang</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://asset.kompas.com/crops/PDltMW-_Agdq1EciX6Cjn5PTsYw=/0x0:780x520/1200x800/data/photo/2023/06/09/6482fc48a8df6.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Pola Asuh Orang Tua di Era Digital: Antara Gadget, Pendidikan dan Kedekatan Emosional</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/06/perubahan-pola-asuh-orang-tua-di-era-digital-antara-gadget-pendidikan-dan-kedekatan-emosional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 06:25:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=87742</guid>

					<description><![CDATA[Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal pola asuh anak. Para orang tua kini dihadapkan pada tantangan baru dalam membesarkan anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi yang cepat dan keberadaan gadget yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Meskipun teknologi membawa banyak manfaat, perubahan ini juga memunculkan dilema yang kompleks dalam membentuk karakter dan perkembangan emosi anak.</p>
<h3>Peran Gadget dalam Keseharian Anak</h3>
<p>Gadget seperti smartphone dan tablet kini sering menjadi &#8220;pengasuh kedua&#8221; bagi anak-anak. Tidak sedikit orang tua yang memberikan anak gadget agar mereka tenang, tidak rewel, atau sibuk sendiri. Di sisi lain, gadget juga menjadi sarana belajar yang interaktif melalui video edukatif, aplikasi belajar, hingga komunikasi dengan guru.</p>
<p>Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan risiko serius. Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar bisa mengalami gangguan konsentrasi, penurunan keterampilan sosial, bahkan ketergantungan. Selain itu, akses bebas ke internet tanpa pengawasan juga membuka peluang anak melihat konten yang tidak sesuai dengan usianya.</p>
<h3>Pendidikan dalam Genggaman: Positif tapi Tak Cukup</h3>
<p>Era digital telah memperluas akses pendidikan. Anak-anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja melalui platform seperti YouTube, Ruangguru, atau Google Classroom. Pandemi COVID-19 mempercepat adaptasi teknologi ini, menjadikan pembelajaran daring sebagai bagian dari rutinitas harian.</p>
<p>Namun, meskipun teknologi mendukung pembelajaran formal, hal ini tidak serta-merta menggantikan peran orang tua dalam pendidikan karakter. Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan disiplin tetap membutuhkan sentuhan langsung dari orang tua. Tanpa keterlibatan aktif, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang sempit, hanya terpaku pada pengetahuan kognitif semata.</p>
<h3>Kedekatan Emosional yang Semakin Menipis</h3>
<p>Salah satu dampak signifikan dari perubahan pola asuh di era digital adalah berkurangnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau juga larut dalam penggunaan gadget, sehingga interaksi berkualitas dengan anak menjadi minim. Begitu pula sebaliknya, anak yang sudah kecanduan layar cenderung mengabaikan komunikasi langsung.</p>
<p>Padahal, kedekatan emosional merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Komunikasi hangat, waktu berkualitas bersama, dan perhatian penuh dari orang tua adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Anak yang merasa dekat secara emosional dengan orang tuanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, lebih terbuka, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.</p>
<h3>Solusi dan Rekomendasi</h3>
<p>Agar pola asuh tetap sehat di era digital, orang tua perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan interaksi langsung. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:</p>
<ul>
<li>Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia anak dan isi dengan aktivitas fisik atau permainan kreatif.</li>
<li>Berperan aktif dalam penggunaan teknologi anak, misalnya dengan menonton video edukatif bersama lalu mendiskusikannya.</li>
<li>Sediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dari hati ke hati tanpa gangguan gadget.</li>
<li>Jadilah teladan digital, dengan menggunakan teknologi secara bijak dan menunjukkan pentingnya batasan.</li>
<li>Kembangkan pola asuh yang adaptif, dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, perhatian, dan disiplin.</li>
</ul>
<p>Perubahan pola asuh di era digital adalah keniscayaan. Orang tua tidak bisa menghindari kemajuan teknologi, namun dapat mengelolanya agar tetap memberikan dampak positif. Kunci utamanya terletak pada keseimbangan: antara pemanfaatan gadget untuk pendidikan dan pemeliharaan kedekatan emosional dalam keluarga. Dengan pola asuh yang bijak dan adaptif, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional.</p>
<p>Arni Ardi<br />
arniardi09@****.com</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://cdn.antaranews.com/cache/1200x800/2022/08/15/pexels-jep-gambardella-6212771.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Sikap Mandiri Anak: Strategi Pola Asuh Seorang Ibu Tunggal</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/meningkatkan-sikap-mandiri-anak-strategi-pola-asuh-seorang-ibu-tunggal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Dec 2023 04:28:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62766</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Keluarga adalah bagian pertama dan utama...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Keluarga adalah bagian pertama dan utama untuk seorang anak. Melalui keluarga, anak memperoleh dasar pembentukan perilaku, watak, moralitas dan pendidikannya untuk penyesuaian diri di kemudian hari. Dalam sebuah struktur keluarga setiap anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak mempunyai peran masing-masing yang dapat melengkapi satu sama lain.</p>
<p>Kehadiran orang tua, ayah dan ibu, memiliki peran untuk keutuhan sebuah keluarga. Setiap keluarga memiliki gaya hidup keluarga dengan budaya yang berbeda, peran sebagai anggota keluarga dan juga metode pengasuhan yang berbeda. Orang tua memiliki peran penting dalam membesarkan, merawat, mengasuh, dan mengajarkan anak.</p>
<p>Kehidupan keluarga dan pengasuhan yang diberikan oleh keluarga untuk seorang anak, pada dasarnya akan mempengaruhi pola asuh bagi anak-anaknya. Setiap keluarga memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Pola asuh meliputi sikap atau perilaku orang tua ketika berhadapan dengan anak-anaknya (Ulfah, M., Yanti, L., Adriani, P., &amp; Soliyah, 2021).</p>
<p>Pola asuh adalah pola interaksi antara anak dan orang tuanya yang mencakup tidak hanya pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum, berpakaian, dll)) tetapi juga norma-norma eksistensial yang diterapkan di masyarakat. agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan.</p>
<p>Namun, tidak semua keluarga memiliki struktur yang utuh dan lengkap. Tak jarang terjadi terdapat suatu  keluarga dengan struktur keluarga yang tidak lengkap, misalnya, keluarga yang diasuh dengan ibu tunggal atau kian disapa sebagai single mother. Seorang ibu yang menjadi single mother dan menjalankan dua peran sekaligus tentu bukan hal yang mudah.</p>
<p>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2017, persentase ibu tunggal di Indonesia sebesar 14,84%, sedangkan persentase ayah tunggal hanya sebesar 4,05% (Heri, M., Pratama, A. A., &amp; Wijaya, 2022). Dalam menjalani peran sebagai single mother, tak jarang seorang ibu mendapatkan tekanan dan stress karena harus menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai ayah dan ibu.</p>
<p>Seorang Ibu yang menjadi single parent cenderung mengalami stress karena belum mampu membagi waktunya untuk mengasuh anak dan bekerja. Menjadi seorang single mother tentunya memberi dampak pada aspek sosial, pendidikan, dan psikologis anak. Anak-anak yang diasuh oleh ibu tunggal tak jarang mendapatkan persepsi yang buruk dari orang-orang di sekitar mereka.</p>
<p>Meskipun terdapat beberapa aspek yang dapat memiliki dampak negatif pada anak akibat pola asuh yang diterapkan oleh orang tua tunggal. Penelitian di negara-negara maju menunjukkan bahwa perubahan dalam struktur keluarga dan peran dalam keluarga dapat menghasilkan dampak positif, seperti perkembangan kematangan, perilaku mandiri, dan kesadaran psikologis yang lebih tinggi pada anak daripada teman sebaya mereka (Wiludjeng, 2011).</p>
<p>Pola asuh yang diterapkan oleh single parent akan mengembangkan sikap kemandirian pada anak. Anak-anak yang diasuh oleh single parent cenderung memiliki kemandirian lebih tinggi (Sunarty, K., &amp; Dirawan Darma, 2015).</p>
<p>Kemandirian adalah kemampuan atau keterampilan yang dimiliki seorang anak untuk melakukan sesuatu sendiri, termasuk kegiatan mandiri dan kegiatan sehari-hari, tanpa bergantung pada orang lain. Kemandirian merupakan sikap individu yang terakumulasi selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar mandiri dalam menghadapi situasi lingkungan yang berbeda, sehingga pada akhirnya individu akan mampu berpikir dan bertindak secara mandiri.</p>
<p>Kemandirian merupakan aspek perkembangan pada setiap individu, bentuknya sangat beragam, sesuai dengan perkembangan dan proses belajar setiap orang (Rusmayadi &amp; Herman, 2019).</p>
<p>Pola asuh ibu single parent memegang peranan krusial dalam pengembangan sikap mandiri anak, dan melalui penerapan strategi-strategi yang tepat, ibu single parent dapat membantu anak-anak mereka untuk menjadi mandiri dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Meskipun terdapat beberapa pola asuh yang berbeda dan masing-masing dapat mengembangkan sikap dan karakter anak, saya percaya bahwa ada pola asuh yang ampuh dalam mengembangkan sikap kemandirian pada anak.</p>
<p>Pola asuh merupakan kebiasaan yang sering diterapkan oleh para ayah dan ibu terhadap perkembangan anak, dapat diterapkan dalam berbagai bentuk pengasuhan anak, namun alangkah baiknya jika pola asuh keturunan akan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak yang melibatkan orang tua untuk mengasuh, membimbing, dan membesarkan anak-anaknya agar diterima di lingkungan atau masyarakat (Sonia, G., &amp; Apsari, 2020). Pola asuh adalah sikap atau cara yang dilakukan orang tua dalam berhubungan atau berinteraksi dengan anak.</p>
<p>Terdapat tiga macam pola asuh menurut Hurlock, di antaranya yaitu, yang pertama adalah pola asuh permisif. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan aktivitasnya sendiri tanpa mempertanyakan sesuatu kepada anak.  Orang tua dengan tipe pola asuh ini sangat sedikit mengontrol anak dan jarang menghukumnya.</p>
<p>Pola asuh permisif sering kali tidak memberikan penjelasan sedikit pun tentang tuntutan dan disiplin. Anak-anak perlu mengatur perilaku mereka sendiri dan membuat keputusan untuk diri mereka sendiri. Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif memberikan anak wewenang penuh tanpa menetapkan kewajiban dan tanggung jawab, kurang mengendalikan perilaku anak, berperan hanya sebagai penyedia fasilitas, dan memiliki kurang interaksi komunikatif dengan anak (Riati, 2016).</p>
<p>Dalam pengasuhan semacam ini, pertumbuhan kepribadian anak menjadi tidak terpandu, dan anak dapat mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada larangan dalam lingkungannya. Namun, apabila anak mampu menggunakan kebebasannya dengan tanggung jawab, hal tersebut bisa menjadikannya pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu mewujudkan potensinya (Lestari, 2019).</p>
<p>Kemudian pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter merujuk pada pola asuh di mana orang tua menetapkan aturan yang bersifat mutlak tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk menyatakan pendapatnya. Anak-anak yang tidak mematuhi aturan ini akan dihadapi dengan ancaman dan hukuman. Penggunaan pola asuh otoriter ini dapat mengakibatkan kehilangan kebebasan pada anak, mengurangi inisiatif dan aktivitasnya, sehingga anak cenderung kekurangan rasa percaya diri terhadap kemampuannya (Paramitha, 2018).</p>
<p>Terakhir yaitu pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis merujuk pada pendekatan orang tua yang mengarah pada pembentukan kepribadian anak dengan memberikan prioritas pada kepentingan anak dan bersikap rasional dalam memberikan perlakuan kepada mereka. Pola asuh demokratis merupakan pendekatan pengasuhan yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak. Meskipun kebebasan itu tidak bersifat mutlak, orang tua memberikan panduan yang penuh pengertian kepada anak.</p>
<p>Dalam pola asuh ini, anak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapat mereka dan melakukan keinginan mereka, selama tetap mematuhi batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh orang tua. Pola asuh demokratis memiliki potensi untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan anak dalam mengatur perilakunya sendiri dengan norma-norma yang dapat diterima oleh masyarakat. Pendekatan ini mendorong anak agar dapat mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki keyakinan pada diri sendiri (Fatchurahman, 2012).</p>
<p>Kemandirian tidak hanya dapat diartikan secara sempit, namun juga dapat dipahami secara luas merujuk pada pengalaman dan partisipasi anak dalam kegiatan sosial. Kemandirian merupakan kecakapan hidup berharga yang harus dikembangkan sejak dini. Ketika seseorang hidup sendiri, terutama dalam menjalankan tugas sehari-hari, ia dianggap mandiri (Ramananda, M. S., &amp; Munir, 2023).</p>
<p>Kemandirian dapat dipahami sebagai kemampuan individu untuk membuat keputusan sendiri tentang kebutuhan atau kegiatannya sehari-hari. Kemandirian adalah kekuatan intrinsik seseorang yang dicapai melalui proses personalisasi. Kemandirian meliputi menghargai/pikiran untuk menjadi lebih baik dan percaya diri, mengelola pikiran untuk melihat masalah dan mengambil keputusan yang dapat ditindaklanjuti, disiplin, bertanggung jawab serta tidak menggantungkan diri pada orang lain (Ramananda, M. S., &amp; Munir, 2023).</p>
<p>Pengambilan keputusan didasarkan pada: pemikiran rasional/logis, kepercayaan diri, tegas, empati, keluwesan, keterbukaan dan kerjasama, kemampuan memecahkan masalah dan bertanggung jawab. Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian, yaitu: orang tua atau gen anak, pola asuh, sistem pendidikan yang didapatkan, lingkungan sosial.</p>
<p>Karakteristik perilaku mandiri adalah sebagai berikut: berani mengambil tindakan proaktif, kontrol diri atas aktivitas yang dilakukan, peningkatan kapasitas yang dimiliki. Jenis pola asuh, cara anak dibesarkan dan dididik akan mempengaruhi sejauh mana kemandirian anak berkembang (Sunarty, K., &amp; Dirawan Darma, 2015). Oleh karena itu, setiap anak perlu dibantu atau diinstruksikan untuk menjadi mandiri sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangannya.</p>
<p>Seorang ibu yang berperan sebagai single parent cenderung menggunakan pola asuh jenis demokratis dan permisif untuk mendidik dan mengasuh anak mereka. Hal tersebut dikarenakan seorang ibu tetap ingin memberikan kebebasan pada anak-anak mereka, melatih kemandirian anak-anak mereka, namun tetap memberikan batasan yang sesuai untuk anak-anak mereka . Pola asuh demokratis yang dipilih oleh para ibu single parent akan melatih dan mengembangkan kemandirian pada anak karena dapat meningkatkan kemandirian anak dalam mengambil keputusan, karena perkataan dan tindakan orang tua (Daryanani, I., Hamilton, J. L., Abramson, L. Y., &amp; Alloy, 2016).</p>
<p>Dampak dari pola asuh demokratis yaitu anak menjadi memandang diri sendiri dan anak memiliki peran yang sesuai, memberdayakan dan mendorong anak untuk melakukan aktivitasnya sendiri, berdialog, memberi dan menerima, mendengarkan keluhan, menghargai dan menghargai suatu keputusan, bertindak objektif, tegas, hangat dan penuh pengertian, tegas dalam proses pengambilan keputusan, menumbuhkan rasa percaya diri, rasa percaya diri pada anak, selalu mendorong anak untuk bertindak sesuai dengan kemampuannya sendiri sesuai dengan tahapan perkembangannya, mendorong anak untuk dapat memutuskan sendiri, selalu mendorong anak untuk melakukan pekerjaan dan aktivitasnya sendiri, berani mengambil keputusan dan mengambil risiko dengan keputusannya (Lee, E., Bristow, J., Faircloth, C., Macvarish, J., &amp; Faircloth, 2014).</p>
<p>Tipe pola asuh demokratis dan pola asuh permisif adalah tipe pola asuh yang seringkali digunakan oleh para ibu single parent, karena kedua pola asuh tersebut dapat membuat anak menjadi seseorang yang mandiri dalam mengambil keputusan. Hal itu dikarenakan penerapan pola asuh demokratis yang menggunakan cara pengasuhan yang tegas, tetapi tidak ketat dan membuat anak terkekang.</p>
<p>Selain itu, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis juga memberikan kesempatan berpendapat untuk si anak, dan membiarkan anak memilih apa yang anak paling sukai atau apa yang anak mau. Pola asuh permisif juga bisa membuat anak mandiri dalam mengambil keputusan apapun, karena cara asuh ini adalah memberikan kebebasan untuk anak melakukan aktivitas yang diinginkannya, dan sedikit mengontrol anak, dan jarang menghukum anak (Zuriati, N., &amp; Marnelly, 2021).</p>
<p>Berbagai macam tipe pola asuh tentu saja memberikan dampak positif dan dampak negatif pada seorang anak baik pada perilaku maupun kognisinya. Dampak positif dari penerapan pola asuh demokratis terhadap anak yaitu anak menjadi memiliki kepribadian yang yang seimbang, berani mengambil keputusan disiplin, memiliki rasa percaya diri, kreatif, dan bahagia secara psikologis (Hendri, 2019).</p>
<p>Tidak hanya itu, penerapan pola asuh permisif juga dapat memberikan dampak negatif terhadap anak, yaitu seperti anak menjadi menuntut, bersifat egois, sulit beradaptasi dengan suatu lingkungan yang baru, cenderung memberontak, dan kurangnya motivasi dalam belajar. Dampak pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak akan bertahan lama atau bahkan permanen (Uji, M., Sakamoto, A., Adachi, K., &amp; Kitamura, 2014).</p>
<p>Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian anak dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, termasuk pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Kemandirian anak dalam mengambil keputusan pun dapat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang diterapkan sejak lahir. Ibu single parent cenderung menerapkan pola asuh demokratis dan permisif dalam mendidik dan mengasuh anak-anak mereka, sehingga anak mereka terbentuk menjadi pribadi yang mandiri.</p>
<p>Hal itu disebabkan karena pola asuh demokratis memberikan pengasuhan yang tegas, tetapi tidak mengekang anak. Begitu juga dengan pola asuh permisif yang memberikan kebebasan untuk anak melakukan aktivitas yang diinginkannya, dan sedikit mengontrol anak, serta jarang menghukum anak. Kedua pola asuh tersebut dapat meningkatkan kemandirian anak. Namun, apapun pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak, akan tetap memberikan dampak positif maupun dampak negatif untuk anak, baik perilaku, kognisi, perkembangan anak dll.</p>
<p>Oleh karena itu, pola asuh yang dilakukan oleh orang tua tunggal mempunyai dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang anak yang mandiri. Anak-anak dapat memandang ibu tunggal sebagai panutan yang kuat ketika mereka melihat mereka sebagai orang yang tangguh, penuh kasih sayang, dan memberikan dukungan tanpa henti. Orang tua tunggal dapat membantu anak mengembangkan kemandirian yang diperlukan untuk menghadapi berbagai kendala hidup dengan memberikan perhatian dan nasihat yang tepat.</p>
<p>Oleh karena itu, menciptakan suasana yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan terbaik bagi anak-anak dari rumah tangga dengan orang tua tunggal memerlukan pengakuan dan dukungan terhadap tantangan yang dihadapi oleh ibu dengan orang tua tunggal dalam membantu anak-anak mereka menjadi mandiri.</p>
<p><em>Oleh: Azra Nurrahmah</em><br />
<em>Awardee Pertukaran Mahasiswa Merdeka Batch 3 Inbound Universitas Andalas</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/11/35095-ilustrasi-ibu-pexelstaryn-elliott.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Urgensi dan Tips Parenting dalam Islam</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/urgensi-dan-tips-parenting-dalam-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Dec 2023 04:56:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah al-Awladdan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=62425</guid>

					<description><![CDATA[Parenting Islami dikenal dengan Tarbiyah  al-Awladdan didasarkan atas prinsip tauhid]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Parenting Islami dikenal dengan Tarbiyah al-Awladdan didasarkan atas prinsip tauhid</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Menurut Syifadan Munawaroh, parenting Islami adalah model pola asuh yang berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Metode ini diadakan berdasarkan ajaran agama Islam yang bertujuan memberikan kebaikan dalam kehidupan dunia dan akhirat melalui penjelasan terkait aspek-aspek pendidikan yang baik.</p>
<p>Parenting Islami dikenal dengan Tarbiyah al-Awladdan didasarkan atas prinsip tauhid, keimanan dan akhlak mulia. Orangtua memiliki tanggungjawab untuk mengajarkan kepada anak-anaknya tentang pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan nalar, serta tanggungjawab dalam bersosialisasi.</p>
<p>Dalam Syariah Islam telah diajarkan bahwa mendidik dan menuntun anak merupakan kewajiban bagi seorang muslim karena anak dianggap sebagai amanat yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang tua. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam surat At-Tahrim : 6</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ</p>
<p>Artinya <em>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”</em></p>
<p>Maksud dari ayat tersebut adalah perintah memelihara keluarga, termasuk anak, bagaimana orangtua dapat membimbing, mendidik dan mengajarkan anak agar terhindar dari siksa api neraka. Serta mengimplementasikan pendidikan agar anak dapat membentuk prinsip untuk menjalankan kehidupannya dengan positif dan sesuai dengan ajaran agama islam dengan benar, sehingga menjadi anak yang mempunyai akhlakul karimah.</p>
<p>قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ</p>
<p><em>“Anak dilahirkan dalam kondisi suci (baik), kemudian ibu bapaknya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”</em> (H.R. Muslim). Dalam hadis ini menyatakan bahwa orangtua berperan mengarahkan anaknya dalam melangkah dan menjalani kehidupan. Melalui pendidikan intelektual dan moral yang diberikan, membentuk pribadi yang matang dalam mempertanggungjawabkan dirinya saat dewasa, dan mempertanggungjawabkan segala tindakan sang anak kepada masyarakat luas serta terlebih pada Tuhan.</p>
<p>Nashih Ulwan yang merupakan pemerhati masalah pendidikan terutama pendidikan remaja dan dakwah Islam menjelaskan pengasuhan yang lebih mengarah menggunakan metode pendidikan yang memiliki dampak signifikan pada perkembangan anak. Adapun metode-metode tersebut adalah:</p>
<p><strong>Pola asuh yang bersifat keteladanan</strong>, seperti keteladanan dalam beribadah, menunjukan dalam kerendahan hati, keteladanan dalam santunan, menunjukan kekuatan fisik dengan bijaksana, keteladanan dalam berpolitik, memegang teguh prinsip-prinsip, menunjukan kejujuran, berbuat adil, serta memberikan kasih sayang. Dengan hal ini dapat menjadi panduan agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.</p>
<p><strong>Pola asuh yang bersifat nasihat</strong>, didalamnya mencakup beberapa hal. Pertama, terdapat dorongan yang bersifat ramah disertai dengan penolakan yang lembut apabila terdapat perilaku anak yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma yang tidak berlaku. Kedua, menggunakan metode bercerita yang dilengkapi dengan perumpamaan untuk menyampaikan pesan dan nasihat. Ketiga, menggabungkan metode wasiat dan nasihat.</p>
<p><strong>Pola asuh dengan pengawasan</strong> yang mencakup perhatian pada aspek pendidikan sosial, khususnya praktik dalam pembelajaran, pendidikan Spiritual, moral dan konsep pendidikan yang berfokus pada nilai imbalan (reward) dan hukuman (punishment) kepada anak.</p>
<p>Sedangkan menurut Ali bin Abi Thalib terdapat 3 tahapan dalam cara mendidik anak sesuai dengan usia perkembangannya. Pertama, Kelompok usia 0-7 tahun perlakukan anak layaknya seorang raja yang dimanjakan dengan penuh kasih sayang. Tahap kedua, kelompok usia 7-14 tahun perlakuakan anak layaknya tawanan yang dididik secara tegas dan disiplin namun tetap pada batas wajar berprikemanusiaan karna dalam sejarah pasukan islam memperlakukan para tawanan dengan baik. Dan tahap terakhir kelompok usia 14-21 tahun perlakuakn anak layaknya sahabat dimana orangtua berperan merangkul anak-anak mereka.</p>
<p>Terdapat sebuah hadist shahih yang menggambarkan tahap pola asuh kedua menurut ali bin abi thalib yaitu memperlakukan anak sebagai tawanan yang berbunyi</p>
<p>عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى اللهعليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ،وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ</p>
<p><em>“perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika umur 10 tahun bila meninggalkan shalat, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”</em> (HR. Abu Daud) dalam hadist ini juga memerintahkan orangtua untuk mulai mengajarkan seks education secara bertahap sesuai usia anak, mulai dari batasan hingga aturan antar laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Peran sebagai orangtua memanglah bukan hal yang mudah, sebab tanggung jawab dan amanat yang diberikan begitu besar. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu dan pengetahuan yang tepat sesuai ajaran islam dalam membimbing serta mendidik anak agar terbentuk menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlak mulia dimana ia dapat menjadi syafaat bagi kedua orangtuanya dan masyarakat luas.</p>
<p><em>Hana Hanifah &amp; Alfi Falahiyah</em><br />
<em>Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://static.promediateknologi.id/crop/0x0:0x0/0x0/webp/photo/p2/63/2023/11/27/Parenting-Islami-dapat-diterapkan-oleh-orang-tua-muslim-untuk-menciptakan-generasi-Islami-20721055.png" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pola Asuh pada Anak menurut Perspektif Psikologi Islam</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/pola-asuh-pada-anak-menurut-perspektif-psikologi-islam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Dec 2023 02:38:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Asuh]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61733</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sebagai orang tua, salah satu tujuan terbesar kita adalah membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang. Dalam mengasuh anak-anak kita, tidak hanya penting untuk memperhatikan perkembangan fisik dan intelektual mereka, tetapi juga perkembangan spiritual mereka.</p>
<p>Dalam pandangan Psikologi Islam, spiritualitas memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan anak-anak kita. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita mengasuh anak-anak dengan cara yang seimbang dan mengedepankan nilai-nilai Islami.</p>
<p>Adapun cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk menumbuhkembangkan pribadi yang baik pada anak menurut pandangan psikologi islam yaitu:</p>
<h3><strong>Memberi Teladan</strong></h3>
<p>Orang tua harus bertindak sebagai contoh bagi anaknya pada tahap pertama. Orang tua harus memahami dan mengamalkannya sebelum menjadi teladan. Pengamalan ajaran agama oleh orang tua secara tidak langsung memberikan pendidikan yang baik, terutama akhlak, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.</p>
<p>Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka nilai-nilai moral. Jalaluddin (2014) menyatakan bahwa akhlak sangat terkait dengan Kholiq (Allah SWT), yang berbeda dengan moral. Artinya, terkait erat dengan ibadah atau penghambaan diri kepada Allah Swt.</p>
<p>Kepribadian anak yang saleh sangat dipengaruhi oleh pendidikan moral yang diberikan oleh keluarga mereka. Hal ini sesuai dengan peran Rasulullah Saw. dan metode pendidikan yang dia terima.</p>
<p>Rasulullah SAW berkata: Artinya: <em>“Sesungguhnya aku Muhammad di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak”</em> (Al-Hadist).</p>
<p>Saat ini, orang tua lebih sibuk membantu anak-anak mereka belajar bahasa Inggris, IPA, Mandarin, dan bidang lain. Bahkan mereka tidak mengingat masa lalu pendidikan moral anak di rumah. Mereka tidak mengerti mengapa Rasulullah Saw. dipuji, hidupnya dalam perlindungan Allah, dan menjadi teladan bagi orang lain. Jawabannya adalah akhlak.</p>
<p>Dalam firmannya, Allah Swt. bahkan memuji Rasulullah Swt. Yang artinya: <em>“Sungguh engkau memiliki akhlaq yang sangat tinggi”</em> (Q.S. al-Qalam: 4). Pendidikan moral dalam keluarga sangatlah penting dan saat ini merupakan solusi.</p>
<p>Akhlak tersebut berfungsi sebagai benteng yang melindungi anak dari dampak budaya asing yang dapat merusak moral anak. Berpotensi membahayakan kepribadian anak, terutama jika tidak melewati proses identifikasi budaya.</p>
<h3>Memelihara Anak</h3>
<p>Fokus tanggung jawab ini adalah meningkatkan potensi anak dan menjaga kesehatan secara fisik melalui makanan dan minuman. Orang tua harus memperhatikan makanan dan minuman anak karena penting untuk kelancaran pertumbuhan fisik mereka.</p>
<p>Menurut Jalaluddin (2002: 7), makanan dan minuman harus memenuhi persyaratan halal (hukumnya) dan thayyib (bahannya). Halal dari segi mencari dan mendapatkannya dalam berbagai cara, seperti berdagang, menjadi guru, dan berbisnis.</p>
<p>Thayyib secara gizi meliputi berbagai makanan seperti nasi, daging, jagung, susu, tempe, tahu, dan makanan empat sehat lima sempurna. Makanan dan minuman thayyib agar dan halal diperhatikan dan dianggap penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah yang artinya: Artinya:<em> “Makanlah dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah berkeliaran di muka bumi ini dengan berbuat kerusakan”</em> (Q.S. al-Baqarah: 60).</p>
<p>Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diharuskan untuk mencari makanan dan minuman yang berasal dari Allah Swt kapan saja dan sesuai kebutuhan, tetapi tidak terlalu banyak. Selain itu, penting untuk memperhatikan ke-halal-an dan ke-thayyib-annya saat mencari rezeki dari Allah.</p>
<p>Manusia terus digoda oleh setan agar mereka tidak memperhatikan kedua hal tersebut. Salah satu cara untuk mendapatkan uang yang tergoda oleh tindakan jahat adalah melalui praktik riba, perjudian, korupsi, merampok, dan lain-lain.</p>
<p>Makanan dan minuman juga berdampak pada kepribadian anak, terutama pada pembentukan akhlak. Para orang tua saat ini mencari rizki melalui cara yang tidak dibenarkan dalam Islam, seperti korupsi, padahal anak adalah anugerah terbaik dari Allah yang harus dijaga dan dipelihara sebaik mungkin.</p>
<p>Ironisnya, ini adalah kenyataan. Orang tua membentuk kepribadian anaknya secara signifikan. Jika mereka memberinya rangsangan yang positif, maka kepribadiannya juga akan positif, dan sebaliknya. Ibn Miskawih mengatakan bahwa karakter atau watak dapat berubah karena rangsangan pendidikan.</p>
<h3>Membiasakan Anak Sesuai dengan Perintah Agama</h3>
<p>Fokus tugas ini adalah memberikan aturan agama kepada anak-anak. Aturan agama memiliki hubungan dengan syariat dan sistem nilai masyarakat.Orang tua harus melaksanakan perintah agama melalui pelatihan atau pembiasaan. Pembiasaan ini terkait dengan berperilaku dengan baik terhadap Allah Swt., kedua orang tua, dan sesama manusia.</p>
<p>Dalam kitabnya Thabiz al-Akhlaq, Ibn Miskawih (1967: 9) mengatakan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan tertentu tanpa dipikirkan dan dipertimbangkan sebelumnya. Al-Ghazali juga menganggap akhlak sebagai sesuatu yang tetap dalam jiwa dan dapat muncul dalam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebelumnya.</p>
<p>Akhlak tidak berasal dari perbuatan, kekuatan, atau ma&#8217;rifah. &#8220;Haal&#8221;, atau kondisi jiwa, adalah bentuk akhlak bathiniyah (Rohayati, 2011: 12). Dengan kata lain, akhlak adalah keadaan jiwa yang memotivasi tindakan.</p>
<p>Dua jenis perspektif jiwa atau keadaan jiwa ini berasal dari kebiasaan. Yang pertama berasal dari watak (bawaan) atau fitrah sejak kecil, dan yang lain berasal dari latihan. pelanggaran ibadah agama seperti sholat, puasa, dan sebagainya.</p>
<p>Akhlak anak, seperti makan dan minum dengan tangan kanan, berbicara dengan orang yang lebih tua, dan hal lainnya, terkait dengan pelanggaran sistem nilai.Akhlak adalah sesuatu yang dapat mendorong perbuatan manusia secara spontan, seperti yang dilakukan oleh fitrah (naluria) manusia sejak kecil, serta melalui kebiasaan latihan dan proses pendidikan, sehingga perbuatan-perbuatan itu menjadi baik.</p>
<p>Seorang ibu harus berusaha keras untuk mengasuh dan memuaskan cinta kasih anaknya, seperti dengan sering mengelus kepalanya sebagai tanda cinta. Ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, menempatkan mereka di pangkuannya atau di sebelahnya sebagai tanda kasih.</p>
<p>Ada empat teori yang dikatakan oleh seorang psikolog dan peneliti Mesir, Sayyid Muhammad Ghanim. Mereka termasuk teori perkembangan sosial Erickson, teori perkembangan identitas Albert, teori pola perkembanan seksual Freud, dan teori perkembangan kognitif Piaget.</p>
<p>Yang paling penting dari empat perspektif ini setuju bahwa anak-anak memerlukan kasih sayang dan perhatian psikologis dari kedua orang tua sejak kecil (Mazhahiri, 2000: 202).</p>
<p>Sebenarnya, kasih sayanglah yang dapat membangun kepribadian anak. Ia memiliki kemampuan untuk berkembang dengan baik secara fisik dan mental sehingga ia dapat menjadi anak yang memenuhi harapan agama dan orang tua.</p>
<h3>Mengadopsi Kekuatan Psikologi Islam dalam Mengasuh Anak yang Berkarakter Islami</h3>
<p>Dalam mengasuh anak-anak kita, penting untuk mengadopsi wawasan dari Psikologi Islam yang dapat membantu kita menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual, moral, dan emosional mereka.</p>
<p>Dengan memahami pentingnya pertumbuhan spiritual anak, peran spiritualitas dalam pengasuhan, prinsip-prinsip Psikologi Islam, dan praktik pengasuhan sehari-hari yang Islami, kita dapat membantu anak-anak kita tumbuh menjadi individu yang tangguh dan seimbang, dengan identitas Islami yang kuat.</p>
<p>Meskipun ada tantangan dalam mengaplikasikan Psikologi Islam dalam pengasuhan, dengan tekad dan dukungan yang tepat, kita dapat mengatasi hambatan ini. Mari kita memeluk kekuatan Psikologi Islam dalam mengasuh anak-anak kita dan membantu mereka menjadi individu yang berakhlak baik, berdaya tahan, dan memiliki ikatan yang kuat dengan Allah.</p>
<p>Dalam mengasuh anak yang tangguh dan seimbang, kita membentuk generasi masa depan yang Islami dan bermanfaat bagi umat manusia.</p>
<p><em>Umar Hamid Nugroho</em><br />
<em>Universitas Muhammadiyah. Prof. Dr. Hamka</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://tebuireng.online/wp-content/uploads/2023/01/cara-mendidik-anak-secara-islami-dengan-lima-prinsip-dasar-191007k_3x2.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
