<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Persis &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/persis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 22:31:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.1</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>Persis &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pesantren Persis dan Lahirnya Para Pejuang Kemerdekaan di Indonesia</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/08/pesantren-persis-dan-lahirnya-para-pejuang-kemerdekaan-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 22:31:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=102598</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Ketika berbicara tentang pesantren dan perjuangan kemerdekaan, nama-nama seperti Tebuireng, Denanyar, atau Lasem mungkin lebih dulu terlintas di benak kita. Namun, ada satu lembaga pendidikan Islam yang tak kalah penting perannya dalam melahirkan pejuang dan membangun kesadaran kebangsaan, yaitu Pesantren Persatuan Islam (Persis).</p>
<p>Lembaga yang lahir dari gerakan pembaruan Islam ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan semangat juang, nasionalisme, dan keberanian intelektual yang menjadi modal utama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>Pesantren Persis lahir dari rahim organisasi Persatuan Islam yang didirikan pada 12 September 1923 di Bandung oleh sekelompok muslim yang dipimpin oleh Zamzam dan Muhammad Yunus. Berbeda dengan organisasi Islam lain yang lebih bergerak di bidang sosial atau politik, Persis sejak awal memusatkan perhatiannya pada pembentukan faham keagamaan yang murni, jauh dari takhayul, bid&#8217;ah, dan khurafat.</p>
<p>Namun, pemurnian akidah ini bukan berarti mengasingkan diri dari realitas kebangsaan. Justru, keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sempurna untuk seluruh aspek kehidupan, mendorong para tokoh Persis untuk terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan.</p>
<p>Puncak dari komitmen Persis dalam mencetak kader pejuang terjadi pada bulan Maret 1936, ketika didirikan Pesantren Persis pertama di Bandung, yang kemudian dikenal dengan Pesantren Pajagalan. Pendirian pesantren ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan para ulama terhadap kondisi umat Islam yang terpecah antara mereka yang mengenyam pendidikan Belanda dan mengalami sekulerisasi, dengan mereka yang belajar di pesantren tradisional namun terjebak dalam praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Pesantren Persis hadir sebagai jawaban untuk mencetak kader-kader yang tidak hanya paham agama dengan benar, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan dan semangat perjuangan.</p>
<p><strong>A.Hassan: Pendiri dan Tokoh Sentral</strong></p>
<p>Di balik berdirinya Pesantren Persis, terdapat sosok sentral bernama Ahmad Hassan. Ulama kelahiran Singapura pada tahun 1887 ini adalah tokoh utama yang memberikan bentuk dan karakter bagi Pesantren Persis. Ahmad Hassan bukan hanya guru utama dan kepala pesantren, tetapi juga arsitek ideologis yang menanamkan semangat juang kepada para santri. Metode dakwahnya yang khas—melalui debat terbuka dan tulisan-tulisan tajam di majalah seperti *Pembela Islam* dan *Al-Lisan*—menjadi identitas yang melekat pada Persis hingga kini. Para santri dididik untuk tidak hanya menghafal, tetapi juga berpikir kritis, berani berargumentasi, dan membela kebenaran dengan ilmu.</p>
<p>Pesantren Persis didirikan dalam dua jenjang: Pesantren Kecil untuk anak-anak dengan 100 murid, dan Pesantren Besar untuk remaja yang bertujuan membentuk kader mubalig, pengajar, dan pembela Islam. Pada awal pendiriannya, Pesantren Besar menampung 40 santri yang berasal dari berbagai kepulauan Indonesia. Mereka mendapat pengajaran dari para tokoh Persis seperti Ahmad Hassan sendiri, E. Abdul Kadir, dan tidak lain adalah Mohammad Natsir—tokoh yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia dan salah satu arsitek perjuangan diplomasi kemerdekaan. Kehadiran Natsir sebagai penasehat dan guru di pesantren ini menjadi bukti bahwa Pesantren Persis adalah laboratorium bagi lahirnya pemimpin-pemimpin besar bangsa.</p>
<p><strong>Dari Bandung ke Bangil</strong></p>
<p>Pada tahun 1940, Pesantren Persis pindah dari Bandung ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, diikuti oleh 25 santri yang masih menempuh pendidikan. Perpindahan ini bukanlah kemunduran, melainkan perluasan. Di Bangil, Ahmad Hassan mendirikan Pesantren Persis Putri pada tahun 1941, sebuah langkah maju dalam pemberdayaan perempuan di bidang dakwah dan pendidikan. Ketika Perang Pasifik meletus dan Jepang mulai masuk ke Jawa pada tahun 1942, banyak santri yang pulang ke daerah masing-masing. Namun, benih-benih perjuangan yang ditanam di pesantren telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.</p>
<p><strong>Ciri khas Pesantren PERSIS</strong></p>
<p>Apa yang membuat Pesantren Persis begitu efektif dalam melahirkan pejuang? Jawabannya terletak pada kurikulum yang mengintegrasikan ilmu agama dan pemikiran kritis. Di pesantren ini, santri tidak hanya mempelajari kitab-kitab klasik, tetapi juga diajak untuk berdialog dan berdebat tentang berbagai persoalan keislaman dan kebangsaan. Metode *mujadalah* (debat) yang dikembangkan oleh Ahmad Hassan menjadi ciri khas yang membentuk santri menjadi pribadi yang berani, cerdas, dan tidak mudah terprovokasi. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, keberanian intelektual ini menjadi senjata yang tak kalah ampuh dari senjata fisik.</p>
<p><strong>Komitmen Kebangsaan</strong></p>
<p>Para tokoh Persis juga menunjukkan komitmen politik yang kuat dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, Persis bersama Muhammadiyah dan NU menjadi anggota istimewa Partai Masyumi, yang menjadi kendaraan perjuangan Islam di panggung politik nasional. Mohammad Natsir, tokoh Persis yang paling dikenal, bahkan menjabat sebagai Perdana Menteri RI pada masa Kabinet Natsir (1950-1951). Tokoh lainnya seperti Isa Anshari juga menjadi pemimpin Masyumi dan aktif dalam perjuangan diplomasi. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa santri dan alumni Pesantren Persis tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di meja perundingan dan dalam pemerintahan.</p>
<p>Hal yang tak kalah penting adalah peran Pesantren Persis dalam menanamkan kesadaran bahwa menuntut ilmu adalah bentuk jihad melawan penjajahan. Seperti yang ditegaskan oleh para pendiri Pesantren Persis, ilmu adalah senjata utama dalam melawan penjajahan, baik penjajahan budaya yang mereduksi ajaran agama maupun penjajahan fisik yang merenggut kemerdekaan. Para santri dididik untuk menjadi manusia yang rasional, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran. Sikap ini tercermin dalam penolakan Persis terhadap komunisme melalui Manifesto Politik 1957, yang menegaskan bahwa teori dan praktik komunis bertentangan dengan ajaran agama dan Pancasila.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Kini, warisan perjuangan Pesantren Persis terus hidup melalui ratusan pesantren Persis yang tersebar di seluruh Indonesia—78 pesantren pada tahun 1980 dan terus berkembang hingga mencapai 230 lembaga pendidikan berbasis pesantren saat ini. Ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang profesi terus mengabdikan diri untuk umat dan bangsa. Mereka adalah bukti bahwa semangat perjuangan yang ditanamkan oleh Ahmad Hassan, M. Natsir, dan para pendiri lainnya tidak pernah padam.</p>
<p>Maka, di balik peringatan Hari Santri dan Hari Kemerdekaan, mari kita kenang jasa Pesantren Persis yang telah melahirkan para pejuang kemerdekaan—pejuang yang tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga mengangkat pena dan pikiran untuk membangun kesadaran kebangsaan. Dari ruang kelas di Bandung dan Bangil, semangat jihad mereka menyebar ke seluruh Nusantara, menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan Indonesia. Dirgahayu para pejuang dari Pesantren Persis! Semangat kalian adalah lentera bagi generasi penerus bangsa. Demikian dan terima kasih {odie}.</p>
<p>Wallahua’laambishawab.</p>
<p>Pamulang, 07 Agustus 2026.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://img.tempo.co/indonesiana/images/all/2015/06/20/Pesantren_Persis_bangil.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persis Jakarta Dukung Langkah Pemprov DKI Terapkan Kebijakan Selektif Bansos</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/07/persis-jakarta-dukung-langkah-pemprov-dki-terapkan-kebijakan-selektif-bansos/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2025 23:06:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=90165</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>JAKARTA</strong> </a>&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengevaluasi kembali penyaluran bantuan sosial (bansos) agar bantuannya benar-benar tepat sasaran. Salah satu fokusnya adalah meninjau kelayakan penerima bantuan sosial (bansos), terutama mereka yang terindikasi terlibat dalam judi online (judol).</p>
<p>Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW Persis) DKI Jakarta, Ustaz Mohammad Idrus menyambut baik dan mendukung penuh langkah pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan menerapkan kebijakan selektif dan tepat sasaran dalam penyaluran bansos.</p>
<p>&#8220;Kami di Persis DKI Jakarta melihat fenomena judi online ini sebagai ancaman serius terhadap ekonomi dan akhlak masyarakat. Banyak keluarga yang seharusnya memanfaatkan bansos untuk kebutuhan dasar, justru terjerat dalam lingkaran setan judi online. Ini tentu sangat memprihatinkan dan bertentangan dengan semangat pemerataan kesejahteraan yang ingin dicapai melalui program bansos,&#8221; ujar Ustaz Idrus dalam keterangannya, Senin (28/7/2025).</p>
<p>Pengurus MUI DKI Jakarta ini melanjutkan, kebijakan pemerintah DKI untuk meninjau ulang dan menyaring penerima Bansos adalah langkah yang sangat strategis dan solutif. Ini bukan hanya soal efisiensi anggaran, tetapi upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk judi online dan memastikan bantuan yang disalurkan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan dan berkomitmen menggunakannya secara produktif.</p>
<p>&#8220;Kami berharap proses seleksi ini dapat dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berbasis data yang valid. Pemerintah perlu memiliki mekanisme kuat dalam mengidentifikasi individu atau keluarga yang terindikasi terlibat judi online, tanpa mengorbankan hak-hak warga yang benar-benar layak menerima bantuan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Persis DKI Jakarta siap bersinergi dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk mengedukasi bahaya judi online serta mengawal implementasi kebijakan ini. &#8220;Mari kita bersama-sama menciptakan masyarakat DKI Jakarta yang berintegritas, sejahtera, dan terbebas dari jeratan kemaksiatan,&#8221; pungkasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPMFgNFKN1sISeuaxWk913UBVbE_ztjt-EVA&#038;s" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketua Persis Jakarta: Ramadan Momentum Tingkatkan Iman dan Akhlak Siswa</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/01/ketua-persis-jakarta-ramadan-momentum-tingkatkan-iman-dan-akhlak-siswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Jan 2025 05:08:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=82563</guid>

					<description><![CDATA[Pemerintah resmi menerbitkan surat edaran bersama (SEB) tentang pembelajaran selama Ramadan 1446 Hijriah/2025 M]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pemerintah resmi menerbitkan surat edaran bersama (SEB) tentang pembelajaran selama Ramadan 1446 Hijriah/2025 M. Pada edaran itu diterangkan pula materi pembelajaran selama Ramadan bagi siswa muslim, seperti tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, dan kegiatan lainnya.</p>
<p>Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Persis Jakarta, Ustaz Sofyan Munawar sangat mendukung dan mengapresiasi kebijakan tersebut. Menurut dia, dari aspek pendidikan kebijakan ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan nasional, antara lain membentuk generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta membentuk generasi yang sehat, berilmu, cakap, dan kreatif. Bahkan kebijakan tersebut memberikan manfaat sosial dan budaya yang signifikan bagi peserta didik.</p>
<p>&#8220;Sudah saatnya Mendikdasmen menjadikan momentum Ramadhan yang sarat nilai spiritual, dimaksimalkan dalam upaya meningkatkan kualitas iman, ibadah, dan akhlak para siswa,&#8221; ujar Ustaz Sofyan dalam keterangannya, Rabu (22/1/2025).</p>
<p>Lebih lanjut, Ustaz Sofyan berharap dengan kegiatan tadarus dan pesantren kilat dan kegiatan keagamaan lainnya dapat membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai religiusitas siswa.</p>
<p>&#8220;Ramadhan sebagai bulan penuh berkah yang padanya diwajibkan berpuasa, tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan berhenti belajar. Justru pada bulan yang diberkahi itu kita dituntut untuk berkompetisi dan lebih giat lagi dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ustaz Sofyan menambahkan, kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di sekolah pada bulan Ramadhan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual.</p>
<p>&#8220;Dengan terpadunya kecerdasan intelektual dan spiritual akan meniscayakan terciptanya harmoni dan keserasian antara ilmu, amal dan akhlakul karimah,&#8221; tuturnya.**</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://sabili.id/content/images/size/w600/format/webp/2025/01/PW_Persis_Jakarta_Apresiasi_Kebijakan_Pembelajaran_di_Bulan_Ramadhan_-_Foto_Istimewa.webp" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
