<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pencemaran Lingkungan &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/pencemaran-lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jan 2025 12:16:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1792449405/cropped-depokpos-2/cropped-depokpos-2.jpg?_i=AA</url>
	<title>Pencemaran Lingkungan &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Polusi Terhadap Lingkungan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/01/polusi-terhadap-lingkungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2025 12:16:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=82494</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Polusi udara merupakan ancaman serius bagi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Polusi udara merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya di seluruh dunia. Data dari WHO menunjukkan polusi udara sebagai penyebab 7 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun. Tak hanya membahayakan kesehatan manusia, polusi udara juga memicu pembentukan kabut asap dan hujan asam, merusak tanaman dan hutan, serta mencemari lingkungan. Pembakaran yang berasal dari aktivitas industri, seperti pabrik dan perusahaan manufaktur, mengandung gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2). Polusi udara yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Mulai dari yang ringan, hingga yang parah dan berbahaya. Meski telah melakukan berbagai cara untuk mengurangi dampak polusi udara, risiko untuk terpapar tetap ada. Segera kunjungi fasilitas kesehatan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan, jika mengalami gejala gangguan pernapasan dan berbagai penyakit lainnya yang dipicu oleh kualitas udara buruk. Polusi udara merupakan masalah lingkungan yang menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia. Biasanya, polusi udara berasal dari asap kendaraan, asap pabrik, hingga asap pembakaran kayu.</p>
<p>Penelitian terbaru mengungkapkan, bahwa tungku pembakaran kayu di daerah perkotaan berkontribusi terhadap paparan bahan kimia penyebab kanker yang ditemukan dalam partikel polusi udara. Para peneliti menemukan kandungan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dalam partikel polusi kecil yang dihasilkan oleh pembakaran kayu dan memiliki efek karsinogenik. Kayu terbakar karena bereaksi dengan oksigen dalam suhu yang panas. Reaksi pembakaran kayu disebut juga sebgai reaksi pirolisis kayu. Kayu mengandung air di dalamnya. Ketika terbakar, api akan menguapkan air di dalam kayu menjadi gas membuat kayu benar-benar kering.<br />
Studi yang dilakukan di Athena, Yunani ini meneliti sumber PAH dan menemukan pembakaran kayu menghasilkan lebih banyak kandungan tersebut dibandingkan bahan bakar diesel atau bensin yang digunakan kendaraan. Penelitian yang diterbitkan pada tahun lalu ini menunjukkan, bahwa pembakaran kayu dari rumah di Eropa menghasilkan polusi udara tiga kali lipat daripada asap kendaraan</p>
<p>Asap kendaraan bermotor merupakan salah satu penyumbang polusi udara karena mengandung berbagai macam polutan. Polutan ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan sehingga berbahaya bagi kesehatan, salah satunya dapat mengganggu kerja dan fungsi organ ginjal. Ginjal merupakan organ yang berfungsi membuang zat sisa metabolisme tubuh. Hal ini yang menyebabkan ginjal sering mengalami kerusakan. Dampak pencemaran udara dari asap kendaraan, asap pabrik, asap rokok, dan lain-lain bisa memicu terjadinya gangguan pernapasan, seperti asma, ISPA, dan kanker paru-paru.  Selain itu, pencemaran udara juga bisa berakhir pada berkurangnya kadar oksigen di dalam tubuh manusia, sehingga membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerusakan organ ginjal yang diakibatkan oleh paparan asap kendaraan bermotor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi kenaikan persentase kerusakan organ ginjal seiring bertambah lamanya waktu paparan asap. Kerusakan organ ginjal yang diakibatkan dari paparan asap kendaraan bermotor berkisar 24% sampai 35% untuk motor 1 dan 24% sampai 36% untuk motor 2. Selain itu juga dapat ditunjukkan semakin lama waktu pemberian asap, maka semakin besar total partikel ultrafine yang dihasilkan. Selain dampak kesehatan, polusi asap kendaraan juga berdampak negatif pada lingkungan. Emisi gas rumah kaca dari kendaraan berkontribusi terhadap perubahan iklim.</p>
<p>Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Pergeseran ini terjadi secara alami, seperti melalui variasi siklus matahari. Namun sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yang melilit Bumi, menghasilkan panas matahari dan menaikkan suhu. Perubahan iklim dapat mempengaruhi kesehatan kita, kemampuan untuk menanam pangan, perumahan, keselamatan dan pekerjaan. Beberapa dari kita sudah lebih rentan terhadap dampak iklim, seperti orang yang tinggal di negara pulau kecil dan negara berkembang lainnya. Kondisi seperti kenaikan permukaan laut dan intrusi air asin telah meningkat ke titik di mana seluruh komunitas harus pindah, dan kekeringan yang berkepanjangan menempatkan orang pada risiko kelaparan. Di masa depan, jumlah “pengungsi iklim” diperkirakan akan meningkat. Contoh emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim termasuk karbon dioksida dan metana. Perubahan ini dapat dikelompokkan sebagai perubahan iklim antropogenik atau lebih umumnya dikenal sebagai pemanasan global atau pemanasan global antropogenik.</p>
<p>Pemanasan global disebabkan zat-zat buangan sisa industri, asap kendaraan dll yang menumpuk di udara yang membuat proses alamiah penghangatan bumi oleh matahari terganggu. Hal ini berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan di masa depan. Pengertian Pemanasan global atau global Warming adalah fenomena peningkatan suhu rata-rata di atmosfer, lautan dan juga daratan bumi secara menyeluruh. Global warming disebabkan karena terperangkapnya panas di atmosfer oleh gas-gas rumah kaca yang salah satunya berasal dari sisa pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Sekarang sudah banyak orang yang memiliki kendaraan pribadi, bahkan satu keluarga itu bisa memiliki dua atau tiga mobil. Tidak hanya itu masih ada tambahan sepeda motor juga. Nah semakin banyak kendaraan pribadi yang anda gunakan, semakin banyak juga polusi yang akan disebabkan. Tidak hanya itu saja, kemacetan juga akan semakin terjadi. Semua sepakat bahwa pemanasan global adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan dihentikan secara menyeluruh. Ini dikarenakan pola hidup manusia yang juga sudah berubah. Hal yang bisa dilakukan adalah mengurangi proses pemanasan global itu sendiri. Dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sendiri. Berikut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemanasan global, Melakukan dan Pemeliharaan Penanaman Pohon, Mengurangi Pemakaian Kendaraan Pribadi, Menghemat Penggunaan Listrik, Meminimalisir Penggunaan Plastik, Gunakan Produk Ramah Lingkungan, Jalankan Pola Hidup Sehat &amp; Hemat. Banyak dari dampak-dampak ini telah dirasakan pada tingkat pemanasan 1,2 °C saat ini. Peningkatan pemanasan lebih lanjut akan memperbesar dampak-dampak ini dan dapat memicu terjadinya titik kritis, seperti mencairnya lapisan es greenland Di bawah persetujuan paris pada tahun 2015, negara-negara secara kolektif sepakat untuk menjaga agar pemanasan tetap &#8220;berada di bawah 2 °C&#8221;. Namun, dengan komitmen yang dibuat di bawah persetujuan tersebut, pemanasan global masih akan mencapai sekitar 2,7 °C pada akhir abad ini. Membatasi pemanasan hingga 1,5 °C akan membutuhkan pengurangan separuh dari tingkat emisi karbon pada tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2050.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Pencegahan Pencemaran Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/01/pentingnya-pencegahan-pencemaran-lingkungan-melalui-pengelolaan-sampah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jan 2025 08:31:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan Sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=82378</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Di Indonesia sampah adalah salah satu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Di Indonesia sampah adalah salah satu isu yang sangat mengkhawatirkan. Sampah adalah benda yang tidak terpakai atau telah dibuang yang berasal dari alam maupun dari aktifitas makhluk hidup. Material sampah ini dapat berupa zat padat ,cair dan gas. Sampah dapat muncul dari aktivitas sehari hari salah satunya adalah dari aktivitas rumah tangga. Keberadaan sampah ini dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap lingkungan begitu juga terhadap kesehatan manusia jika kita tidak mengelola nya dengan baik dan benar. Oleh karena itu pengolahan limbah yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan dikalangan masyarakat demi kenyamanan bersama.</p>
<p>Berdasarkan data dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2024 Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah terbesar didunia setelah China. Bahkan pada tahun 2023 sampah di Indonesia mencapai 69,9 juta ton. Yang mana sampah ini muncul didominasi berasal dari rumah tangga dengan presentasi sekitar 44,37%. Terdapat bebarapa faktor yang menyebabkan penumpukan sampah di Indonesia. Salah satunya karena masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengolah sampah. Banyak masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.</p>
<p>Fenomana ini terjadi karena kebiasaan dan budaya yang muncul di masyarakat Indonesia. Banyak yang masih menganggap bahwa sampah adalah sesuatu hal tidak bermanfaat dan harus dibuang. Masyarakat di Indonesia tidak mencari cara untuk mengelola sampah. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan sampah di masyarakat. Selain itu, minimnya tempat pembuangan sampah menjadi salah faktor dari munculnya penumpukan sampah.</p>
<p>Tentunya dengan timbul banyaknya sampah ini menimbulkan dampak yang besar bagi lingkungan bahkan dapat menimbulkan penyakit seperti DBD, penyakit kulit, gangguan pencernaan dan pernapasan dan lain-lain. Bahkan ditahun 2024 kasus DBD Indonesia terdapat lebih dari 120.000 kasus. Meskipun DBD tidak tercatat secara spesifik sebagai kasus yang muncul akibat sampah, tetapi menurut penelitian penumpukan sampah dan pengelolaan sampah yang buruk merupakan faktor yang menyebabkan penyebaran DBD. Penumpukan sampah ini juga dapat mempengaruhi ekosistem lingkungan. Akan muncul pencemaran yang terjadi, seperti pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran udara. Oleh karena itu masalah pencemaran sampah ini harus dikurangi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.</p>
<p>Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah dilingkungan. Seperti tidak membuang sampah sembarangan serta membuat tempat pembuangan sampah di tempat-tempat yang rawan terjadi pembuangan sampah sembarangan. Selain itu, dapat dilakukan upaya pengelolaan sampah. dengan adanya pengelolaan sampah yang baik tentunya akan mengurangi terjadinya penumpukan sampah. Pengelolaan Cara yang paling sederhana adalah dengan menggunakan prinsip 4R, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (memakai kembali), Recyle (mendaur ulang), dan Replace (mengganti).</p>
<p>Reduce merupakan upaya pengelolaan sampah guna mengurangi penggunaan barang-barang yang dapat menimbulkan sampah. Penerapan metode reduce dapat dilakukan ketika akan berbelranja hendaknya menggunakan kantong atau tas sendiri. Reuse adalah menggunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkan. Dengan cara ini maka kita tidak perlu membuang sampah. Kemudian yang ketiga adalah recycle, yaitu mendaur ulang atau mengolah sampah-sampah maupun barang-barang yang tidak lagi digunakan menjadi barang yang bermanfaat. Contohnya seperti mengolah sisa-sisa kain perca untuk dijadikan lap, selimut, keset kaki dan sebagainya. Lalu metode yang terakhir adalah replace atau mengganti. Mengganti yang dimaksud adalah mengganti barang-barang yang memungkinkan menjadi sampah. Contoh penerapan metode ini adalah dengan mengganti tisu untuk mengelap keringat dengan sapu tangan. Dengan menerapkan ke-empat metode ini tentunya masalah sampah akan menurun.</p>
<p>Permasalahan sampah tidak dapat dianggap remeh. Banyak dampak buruk yang muncul akibat dari permasalahan sampah. Perlunya kesadaran bagi pribadi masyarakat dalam mengatasi masalah sampah. Hal ini dapat dimulai dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu juga diperlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah. Pemerintah diharapkan dapat membuat kebijakan-kebijakan untuk masalah ini. Dan masyarakat dapat mematuhi dan mentaati kebijakan yang telah dibuat. Masyarakat juga dapat membuat inovasi terbaru melalui pengelolaan serta pemanfaatan sampah.</p>
<p><em>Ristasya Delvin Aulia</em><br />
<em>Mahasiswa Akatirta</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Negara Rugi Rp225 Triliun per Tahun Akibat Sampah Plastik Cemari Laut RI</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/09/negara-rugi-rp225-triliun-per-tahun-akibat-sampah-plastik-cemari-laut-ri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Sep 2024 12:03:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah Plastik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=75413</guid>

					<description><![CDATA[Estimasi kerugian tersebut dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><b>DEPOKPOS</b></a> &#8211; Muhammad Reza Cordova, peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut bisa mencapai Rp225 triliun per tahun.</p>
<p>&#8220;Setelah kami hitung dari 2018 sampai 2023 secara kasar, rata-ratanya kurang lebih sekitar 484 ribu ton per tahun [sampah plastik] yang bocor ke lautan dunia dari kegiatan masyarakat kita. Kerugian kita antara Rp125 triliun sampai Rp225 triliun per tahun,&#8221; kata Reza, mengutip laman resmi BRIN, Kamis (12/9).</p>
<p>&#8220;Bisa kita bayangkan secara kasar, dari 2018 sampai 2023 ini sudah enam tahun. Sekarang masuk tahun ke tujuh, berarti secara kasar kita sudah kehilangan Rp2.000 triliun akibat sampah plastik,&#8221; lanjut dia.</p>
<p>Reza menerangkan estimasi kerugian tersebut dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis.</p>
<p>Ia mengatakan BRIN saat ini juga terus melakukan penelitian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi jenis sampah plastik, termasuk melibatkan akademisi dari berbagai multidisiplin ilmu.</p>
<p>&#8220;Karena kalau kita bicara plastik, sampah plastik ini ketika terkena sinar matahari, angin, dan lain-lain, akan jadi mikroplastik. Semakin kecil ukuran plastik, semakin mudah pula akan masuk ke dalam tubuh kita,&#8221; jelas dia.</p>
<p>Upaya lainnya adalah melakukan roses bioremediasi yang membutuhkan waktu panjang.</p>
<p>&#8220;Ketika sampah sudah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang paling tepat untuk bisa &#8216;memakan&#8217; sampah plastik itu,&#8221; ucap dia.</p>
<p>Tidak hanya itu, menurut Reza, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, Indonesia bisa &#8216;mengekspor&#8217; hingga 20 persen sampah plastik ke Afrika Selatan.</p>
<p>&#8220;Walaupun tidak secara keseluruhan, sekitar 10 hingga 20 persennya akan langsung menuju Afrika Selatan,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Menurut Reza sampah plastik yang mencemari lautan bisa hanyut melintasi samudera, mulai dari keluar di Samudera Hindia hingga ke Samudera Pasifik.</p>
<p>BRIN, kata dia, juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dalam meneliti pergerakan sampah di perairan.</p>
<p>Menurutnya hasil penelitian tersebut mengungkap bahwa sampah dari Sungai Cisadane, dengan menggunakan 11 drifter yang dilepaskan, 2 drifter di antaranya hampir mendekati Madagaskar dalam kurun waktu enam bulan.</p>
<p>Meski hanya 10 persen yang hanyut ke Afrika Selatan, lebih dari 50 persen sampah plastik mengarah ke sungai-sungai di Indonesia yang mencemari wilayah sekitarnya.</p>
<p>&#8220;Contohnya, kalau [sampah plastik] yang dari Jakarta, ke mana? Ke pesisir utara Jakarta, Bekasi, kemudian ke arah Tangerah, ke arah Sumatera, itu bolak-balik. Perairan Indonesia itu kompleks, tergantung dari arusnya membawa ke mana,&#8221; jelas dia.</p>
<p>Reza juga bicara soal target pemerintah dalam menurunkan kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat sebesar 70 persen pada 2025 masih sulit tercapai. Sebab faktanya, sampai perhitungan tahun ini sampah plastik baru berkurang 41,68 persen.</p>
<p>Sementara, produksi plastik melonjak 20 kali lipat secara eksponensial sejak diproduksi massal pada 1950 hingga saat ini. &#8220;Plastik sebenarnya bukan sesuatu hal yang buruk, tapi sesuatu yang bermanfaat. Namun yang jadi masalah adalah ketika produk plastik ini sudah diproduksi, kemudian digunakan, akhirnya terbuang menjadi sampah,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Lebih dari 60 persen sampah plastik yang dihasilkan secara global, termasuk Indonesia, adalah sampah plastik sekali pakai, seperti plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan. Sampah-sampah ini membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, mencemari laut, dan merusak habitat biota laut.</p>
<p>Reza juga menyoroti pengelolaan sampah di Indonesia yang belum optimal. Pasalnya, sampah yang dibawa ke tempat pengelolaan akhir baru sekitar 50 persen.</p>
<p>Mengutip data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, Reza mengungkap jumlah sampah di Indonesia saat ini mencapai 60 juta ton per tahun, dengan 11 sampai 38 persen di antaranya adalah sampah plastik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biomassa untuk Listrik Bersih atau Menambah Pencemaran Lingkungan?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/07/biomassa-untuk-listrik-bersih-atau-menambah-pencemaran-lingkungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jul 2024 05:39:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Biomassa]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran Lingkungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=72202</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ami Pertiwi Suwito, Anggota Komunitas Muslimah Menulis...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Ami Pertiwi Suwito, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok</strong></em></p>
<p>Listrik merupakan kebutuhan krusail bagi masyarakat. Oleh karena itu, setiap negara pasti bergantung pada sumber pembangkit listrik. Di Indonesia sendiri, sumber pembangkit listrik masih didominasi oleh batu bara. Apalagi mengingat persediaan batu bara di wilayah Indonesia yang sangat melimpah. Batu bara tersebut dibakar kemudian menghidupkan PLTU (Pembangkit Tenaga Listrik Uap). Sayangnya, ekploitasi batu bara sebagai sumber pembangkit listrik di Indonesia telah mencemari lingkungan mulai dari udara, tanah, dan mata air sekitar pertambangan batu bara dan PLTU.</p>
<p>Untuk mengurangi dampak negatif dari batu bara sebagai pembangkit tenaga listrik, pemerintah Indonesia kini sedang menggiatkan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm). Biomassa ini merujuk pada organisme makhluk hidup baik itu hidup atau mati, dan bisa dijadikan bahan bakar atau bahan industri. Pemanfaatan biomassa sebagai pembangkit listrik ini sering diklaim oleh berbagai pihak sebagai alternatif untuk mengurangi emisi karbon. Sebab biomassa bisa memanfaatkan limbah-limbah tumbuhan seperti kayu, cangkang sawit, batang sawit, jangkos, tempurung kelapa, dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun sebelum menilai manfaat biomassa sebagai pembangkit tenaga, kita perlu tahu dulu siapa yang mendominasi rantai suplai biomassa Indonesia? Menurut hasil risen Trend Asia, jawabannya adalah para konglomerat batu bara dan kayu. Adapun grup-grup raksasa yang dijalankan oleh para konglomerat tersebut seperti APP Sinarmas Group, Sapoerna Group, Salim Group, Medco, Barito Pacific Group, Jhonlin Group, dan Wilmar Group. Diketahui pula, banyak dari perusahaan para konglomerat tersebut memiliki rekam jejak yang buruk seperti perusakan hutan, penggusuran warga, dan mendorong kriminalisasi terhadap kelompok petani.</p>
<p>Motif besar di balik dominasi rantai suplai biomassa oleh konglomerat batu bara dan kayu adalah implementasi co-firing, yakni pembakaran biomassa kayu bersamaan dengan batu bara pada PLTU. Artinya, pemanfaatan biomassa dalam co-firing hanya akan memperpanjang usia PLTU. Para pengusaha batu bara diuntungkan karena masih bisa menyuplai batu bara ke PLTU. Adapun korporasi sawit dan kayu yang diuntungkan karena adanya bisnis baru berupa hutan tanaman energi (HTE). Dengan demikian, sudah jelas jika biomassa tidak bisa diarahkan menjadi energi bersih selama masih didominasi oleh korporat.</p>
<p>Ketika para konglomerat bertambah sejahtera dengan biomassa, kaum petani dan UMKM perkayuan tidak demikian. Para petani yang menyediakan sumber biomassa hanya dilibatkan sebagai buruh perkebunan murah. Sedangkan UMKM perkayuan pun terlibat menyuplai limbah seperti serbuk kayu dengan murah. Maka dalih bahwa biomassa bisa menyejahterahkan rakyat jelata pun tak kunjung terjadi.</p>
<p>Kerusakan lingkungan oleh co-firing dari biomassa pun tak main-main. Sebab berbagai PLTU di Indonesia yang sudah menerapkan co-firing kerap diprotes oleh warga sekitar. Sebagai contoh, PLTU co-firing di Indramayu diakui menghasilkan polusi udara yang lebih tebal dibandingkan sebelum menggunakan biomassa. Selain itu, penebangan hutan justru menjadi semakin liar dengan dalih penggiatan energi biomassa oleh korporat. Lagi-lagi, hutan Indonesia yang seharusnya dijaga malah dibabat terus atas slogan “energi bersih”.</p>
<p>Saudara-saudara, sudah seharusnya kita menyadari solusi listrik bersih di Indonesia hanya bisa tercapai dengan penerapan sisten kehidupan Islam. Sebab Islam mewajibkan negara untuk mengelola keberlimpahan sumber daya alam tanpa campur tangan perusahaan swasta. Dengan begitu, negara bisa memanfaatkan sumber daya alam tersebut untuk membangkitkan listrik secara optimal ke seluruh wilayah negara.</p>
<p>Adapun alam sebagai ciptaan Allah Ta’ala yang harus dijaga. Maka pelaksanaan pertambangan batu bara harus diperketat aturannya agar tidak merusak lingkungan sekitar. Islam pun terbuka dengan inovasi pembangkit listrik lainnya asalkan tidak dijadikan ladang bisnis berkedok energi bersih .[]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Dampak Membuang Sampah Sembarangan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/02/6-dampak-membuang-sampah-sembarangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Feb 2024 04:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=64977</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan telah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan telah menjadi masalah lingkungan yang serius di berbagai belahan dunia. Dampak negatifnya sangat luas, tidak hanya terbatas pada lingkungan alam, tetapi juga pada kesehatan manusia dan kehidupan makhluk lain di planet ini.</p>
<p>Berikut adalah beberapa dampak dan akibat yang perlu dipahami:</p>
<p><strong>1. Pencemaran Lingkungan</strong></p>
<p>Sampah yang dibuang sembarangan, terutama plastik, dapat mencemari tanah, air, dan udara. Ini mengancam keberlanjutan ekosistem dan berdampak negatif pada kehidupan satwa liar dan ekosistem akuatik(lingkungan hidup di air).</p>
<p><strong>2. Kerusakan Ekosistem</strong></p>
<p>Sampah-sampah yang menumpuk di lingkungan alam mengganggu siklus alami dan menghambat pertumbuhan tanaman serta kehidupan hewan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem yang luas dan mengancam keberlanjutan kehidupan di planet ini.</p>
<p><strong>3. Ancaman Kesehatan Masyarakat</strong></p>
<p>Membiarkan sampah berserakan di tempat umum meningkatkan risiko penyakit dan infeksi. Sampah dapat menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai penyakit menular dan juga menarik serangga dan hewan penyebab penyakit.<br />
4. Kehilangan Keindahan Alam</p>
<p>Tumpukan sampah yang tidak terkelola merusak keindahan alam dan mengurangi daya tarik wisata. Hal ini berdampak negatif pada industri pariwisata dan juga merugikan komunitas lokal yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber penghidupan.</p>
<p><strong>5. Efek Perubahan Iklim</strong></p>
<p>Pembakaran sampah yang tidak terkontrol menghasilkan emisi gas rumah kaca dan polutan udara lainnya, yang berkontribusi pada perubahan iklim global dan meningkatkan risiko bencana lingkungan.</p>
<p><strong>6. Biaya Sosial dan Ekonomi</strong></p>
<p>Membersihkan dan mengelola sampah sembarangan membutuhkan sumber daya yang besar dari pemerintah dan masyarakat. Biaya ini dapat meningkatkan beban sosial dan ekonomi, serta mengurangi alokasi dana untuk pengembangan dan infrastruktur lainnya.</p>
<p>Mengatasi masalah membuang sampah sembarangan membutuhkan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pendidikan lingkungan yang kuat, penegakan hukum yang ketat, dan kampanye kesadaran publik merupakan langkah-langkah penting dalam upaya untuk mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.</p>
<p><em>Alphonsa Rosa Linda</em><br />
<em>Universitas Binawan</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
