<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Malaria &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/malaria/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Jan 2024 03:22:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
	<item>
		<title>UGM Kembangkan Regulatory Sandbox Untuk Eliminasi Malaria</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/01/ugm-kembangkan-regulatory-sandbox-untuk-eliminasi-malaria/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jan 2024 03:22:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Malaria]]></category>
		<category><![CDATA[Regulatory Sandbox]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=64421</guid>

					<description><![CDATA[Regulatory sandbox, memberikan ruang eksperimen terkendali bagi berbagai pemangku kepentingan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Regulatory sandbox, memberikan ruang eksperimen terkendali bagi berbagai pemangku kepentingan</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Malaria merupakan salah satu penyakit endemik yang masih mengintai masyarakat Indonesia. Penyakit infeksi menular yang menyebar lewat gigitan nyamuk Anopheles betina ini sempat mengalami penurunan signifikan di tanah air pada rentang 2010-2014, stagnan di tahun 2015 dan mulai mengalami kenaikan di tahun 2019 hingga 2022.</p>
<p>Guru Besar bidang Parasitologi FKKMK UGM, Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes., Ph.D., menyampaikan beragam tantangan dalam eliminasi malaria di Inonesia. Ada tiga faktor utama yang berhubungan, yang situasinya tidak seimbang sehingga menyebabkan terjadinya malaria yakni faktor agent (penyebab), host (tuan rumah/penjamu), dan lingkungan.</p>
<p>“Munculnya kontributor baru dalam tiap faktor tersebut membuat pengendalian malaria semakin mengalami tantangan,”jelasnya saat menyampaikan pidatonya saat dikukuhan sebagai guru besar, Kamis (25/1) di Balai Senat UGM.</p>
<p>Dalam pidato yang berjudul Pengendalian Malaria di Indonesia: Berbasis Riset Laboratorium Menuju Implementasinya di Lapangan, Elsa menuturkan bahwa pemerintah telah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Percepatan Eliminasi Malaria 2020-2026 menuju eliminasi malaria 2030. Ada lima intervensi utama yaitu memastikan akses universal untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan malaria, mempercepat pencapaian status bebas malaria dan memelihara status bebas malaria, dan mentransformasikan surveilans malaria menjadi intervensi utama. Lalu, menciptakan lingkungan yang mendukung eliminasi malaria dengan memperkuat kapasitas sistem kesehatan, mobilisasi komitmen politik, mobilisasi masyarakat dan peningkatan dukungan kemitraan, dan meningkatkan pelayanan dengan memanfaatkan inovasi dan penelitian.</p>
<p>“Sebagai seorang akademisi dan peneliti di bidang parasitologi, kami mencoba untuk berkontribusi melalui inovasi dan penelitian, sehingga dapat diimplementasikan dalam bentuk-bentuk intervensi yang telah ditetapkan secara nasional tersebut,”tuturnya.</p>
<p>Belajar dari pandemi COVID-19, pemerintah banyak terbantu dengan berpartisipasinya digital health provider dalam melakukan konseling, telekonsultasi untuk pasien maupun suspek COVID. Start-up atau providers kesehatan diharapkan tidak hanya mendukung dalam hal COVID, tetapi juga dalam setiap masalah kesehatan, termasuk malaria. Namun, dalam masa bukan pandemik, regulasi yang ada belum memayungi provider digital health dari aspek hukumnya.</p>
<p>“Dari sini, tim kami, dengan dukungan RISPRO LPDP, berusaha mengawal tata kelola regulatory sandbox bersama dengan tim Kerja Malaria Kementrian Kesehatan RI, dan Association Health Indonesia serta akademisi dari berbagai disiplin ilmu selain kedokteran, yaitu hukum, teknik elektro,CFDS dan praktisi,”paparnya.</p>
<p>Regulatory sandbox, memberikan ruang eksperimen terkendali bagi berbagai pemangku kepentingan, dan memungkinkan pengujian teknologi baru yang dikembangkan oleh provider/start-up dalam hal diagnosis, penjaminan mutu diagnosis malaria, pengobatan, surveilans, e-learning, dan sebagainya. Selain itu, mekanisme ini juga memungkinkan pemerintah untuk menguji kebijakan-kebijakan baru terkait eliminasi malaria tanpa menghadapi kendala regulasi yang ketat. Dengan begitu, dapat mengidentifikasi dampak potensial dan membuat penyesuaian sebelum implementasi luas.</p>
<p>“Saat ini klinisi, praktisi kesehatan yang bekerja dalam digital health telah memberikan kontribusinya. Namun, perlu ruang untuk mengakomodasi ide-ide dan mengimplementasikannya sesuai kaidah ilmiah, etika, safe dan secure,”ucapnya.</p>
<p>Elsa mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, uji coba Regulatory Sandbox e-Malaria telah diadopsi dan di-scale up oleh Kementerian Kesehatan dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/1280/2023 tentang Pengembangan Ekosistem Digital Kesehatan melalui Regulatory Sandbox. Dalam hal ini, Kementerian Kesehatan telah menerapkan sistem Regulatory Sandbox untuk menguji coba beraneka inovasi kesehatan digital dalam negeri, dimulai dari sektor telemedicine.</p>
<p>“Semoga, ke depan regulatory sandbox ini dapat menjadi solusi inovatif yang bermanfaat bagi semua,”harapnya.</p>
<p>Penulis: Ika<br />
Foto: Firsto</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi Semakin Panas, Dengue dan Malaria Semakin Ganas?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/bumi-semakin-panas-dengue-dan-malaria-semakin-ganas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Dec 2023 02:25:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[DBD]]></category>
		<category><![CDATA[Dengue]]></category>
		<category><![CDATA[Malaria]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61860</guid>

					<description><![CDATA[Dengue dan malaria adalah penyakit musiman yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia, terutama di musim hujan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Dengue dan malaria adalah penyakit musiman yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia, terutama di musim hujan.</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Akhir-akhir ini, kita mungkin sudah sering mendengar kata perubahan iklim, krisis iklim, pemanasan global, atau bahkan pendidihan global.</p>
<p>UN World Meteorological Organization (WMO) menyatakan bahwa tahun 2023 dapat ditetapkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu global meningkat sebanyak 1,4ºC di atas suhu pra-industri.</p>
<p>Dampak utamanya telah dapat kita rasakan sekarang, seperti kenaikan suhu permukaan laut dan permukaan air laut, gletser dan es di Antartika yang semakin mencair, dan cuaca ekstrem seperti gelombang panas (heatwave), kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, banjir bandang, dan badai.</p>
<p>Fenomena-fenomena tersebut, yang bisa dibilang adalah dampak langsung dari krisis iklim, telah menyebabkan kehancuran dan kematian ribuan jiwa di seluruh dunia, tetapi akan ada banyak dampak tidak langsung dan jangka panjang yang juga akan menyebabkan bencana kedepannya, terutama jika kita tidak berhasil dalam upaya mitigasi (pencegahan) dan adaptasi krisis iklim.</p>
<p>Salah satu tantangan di masa depan adalah peningkatan intensitas penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti dengue (dikenal juga sebagai demam berdarah) dan malaria.</p>
<p>Artikel ini akan menjelaskan bagaimana perubahan iklim berkontribusi terhadap peningkatan kasus dan penyebaran kedua penyakit serta upaya-upaya yang dapat diambil untuk menghadapi tantangan tersebut.</p>
<p>Dengue dan malaria adalah penyakit musiman yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia, terutama di musim hujan. Pada tahun 2022, Kementerian Kesehatan menyatakan jumlah kasus dengue mencapai 143.000 kasus dan malaria sebanyak 415.140 kasus di Indonesia.</p>
<p>Keduanya menyebabkan beban kesehatan, terutama di negara tropis dan endemis seperti Indonesia. Dengue dan malaria disebabkan oleh virus dan parasit yang masing-masing ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles sp.</p>
<p>Faktor-faktor iklim seperti peningkatan suhu global, perubahan pola hujan, dan perubahan ekosistem secara keseluruhan akan meningkatkan risiko dan penyebaran kedua penyakit ini karena memengaruhi siklus hidup nyamuk.</p>
<p>Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa suhu, curah hujan, dan kelembaban udara dapat memengaruhi perkembangan telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa.</p>
<p>Suhu udara memengaruhi kecepatan perkembangan telur menjadi larva, dan pemanasan global dapat mempercepat siklus hidup nyamuk, serta mempersingkat masa inkubasinya. Seluruh faktor tersebut akan memperpanjang musim aktif nyamuk dan meningkatkan kecepatan perkembangbiakannya.</p>
<p>Selain itu, perubahan pola hujan dapat menciptakan genangan air yang cocok sebagai tempat berkembang biak larva nyamuk. Semua ini menyebabkan peningkatan jumlah kasus dengue dan malaria, serta memperluas wilayah geografis penyebaran penyakit dan juga dapat membawa risiko penyakit dengue dan malaria ke daerah yang sebelumnya bebas dari ancaman tersebut.</p>
<p>Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi penyebaran penyakit dengue dan malaria, kita membutuhkan strategi mitigasi yang cerdas dan menyeluruh. Pertama-tama, kita perlu memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini agar dapat merespons dengan cepat jika ada peningkatan risiko penyakit yang terkait dengan perubahan iklim.</p>
<p>Ini seperti memiliki mata dan telinga ekstra untuk melacak nyamuk penyebab masalah. Selain itu, kita juga harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi ancaman penyakit ini. Mari kita bayangkan hal ini sebagai persenjataan masyarakat untuk melawan serangan nyamuk.</p>
<p>Pengembangan program pengendalian nyamuk yang efektif juga sangat penting, seperti menggunakan insektisida yang lebih aman dan juga vaksin. Dan jangan lupakan perlunya menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem kita, dapat dimulai dari menjaga halaman rumah tetap bersih dan memastikan tidak ada genangan air sehingga nyamuk tidak berkembang biak dengan bebas di sana.</p>
<p>Dengan cara-cara ini, kita dapat menciptakan pertahanan yang kuat terhadap penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.</p>
<p>Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, langkah-langkah kebijakan yang mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca dan adaptasi terhadap dampaknya menjadi kunci utama. Dengan menerapkan kebijakan-kebijakan ini, kita dapat memperlambat laju perubahan iklim dan memberikan kesempatan bagi masyarakat global untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang sudah terjadi.</p>
<p>Semua ini tidak dapat tercapai tanpa kerja sama yang solid antara lembaga-lembaga, komunitas internasional, dan pemangku kepentingan lokal. Bersama-sama, kita dapat menciptakan solusi yang berkelanjutan dan efektif untuk mengatasi dampak global perubahan iklim terhadap penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.</p>
<p><em>Penulis: Angelin Gotama dan Salwa Anfa</em><br />
<em>Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
