<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jastip &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/jastip/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2026 11:21:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>Jastip &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jastip Merchandise Rugi Ketika Rupiah Melemah: Apakah Bisnis Grup Order (GO) Masih Prospektif?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/jastip-merchandise-rugi-ketika-rupiah-melemah-apakah-bisnis-grup-order-go-masih-prospektif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 11:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Dolar]]></category>
		<category><![CDATA[Jastip]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104380</guid>

					<description><![CDATA[oleh Sarah Mushlihah, Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Tazkia University]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Maraknya popularitas K-pop dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong pertumbuhan komunitas fandom di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut survei Hallyu tahun 2026, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat penerimaan tinggi terhadap konten budaya Korea, dengan 82,7% responden mengaku memiliki pandangan positif. Kegiatan penggemar saat ini tidak lagi hanya sebatas mendengarkan music atau mengikuti konten idol, tetapi juga turut antusias terhadap berbagai merchandise resmi yang dirilis agensi. Mulai dari album, lighstick, pakaian, PC, sampai berbagai barang lainnya.</p>
<p>Berdasarkan penelitian Zulianty dan Fikry (2025) terhadap K-popers di Indonesia menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signfikan antara fanatisme penggemar dengan perilaku konsumtif dalam membeli merchandise resmi. Besarny minat terhadap merch resmi membuat Sebagian penggemar memilih sistem Group Order (GO) untuk membeli produk dari luar negeri. Fenomena ini sejalan dengan penelitian Qadri dkk. (2024) yang mengkaji tentang penggunaan GO oleh penggemar K-pop di Indonesia dalam pembelian merchandise.</p>
<p>Bagi konsumen, sistem belanja melalui GO mempermudah pembelian sebab mereka tidak perlu melakukan proses pembelian hingga pengiriman internasional secara mandiri. Akan tetapi, di balik kemudahannya, bisnis GO menyimpan risiko yang cukup besar, salah satunya adalah perubahan kurs atau nilai tukar rupiah.</p>
<p>Saat rupiah melemah terhadap mata uang asing, biaya yang harus dikeluarkan admin GO untuk membeli merch dari luar negeri bisa meningkat. Situasi ini menjadi tantangan bagi admin GO karena biasanya harga yang ditawarkan kepada konsumen sudah ditetapkan sejak awal masa pre-order. Maka apabila nilai tukar berubah sebelum transaksi dilakukan kepada seller atau pemasok, selisih biaya itu bisa mengurangi keuntungan bahkan bisa menimbulkan kerugian bagi admin GO.</p>
<p><strong>Ketika Rupiah Melemah, Admin GO Bisa Tekor/ Rugi</strong></p>
<p>Secara sederhana, GO adalah sistem pembelian bersama yang dikelola oleh seorang admin. Admin mengumpulkan pesanan dan pembayaran dari pembeli, lalu melakukan pembelian kepada penjual atau pemasok. Setelah barang tiba, admin akan mendistribusikan merchandise kepada setiap pembeli sesuai pesanan.</p>
<p>Namun, biaya yang dikeluarkan admin bukan hanya berupa harga merchandise saja, melainkan ada biaya pengiriman, pembayaran, pajak (tax), serta biaya lainnya. Ketika merch dibeli dengan menggunakan mata uang asing, perubahan kurs juga bisa mempengaruhi nilai rupiah yang harus dikeluarkan.</p>
<p>Bank Indonesia menyediakan informasi mengenai nilai tukar, termasuk kurs acuan bagi sejumlah mata uang non-USD seperti KRW/IDR, JPY/IDR, dan CNY/IDR (Bank Indonesia, 2026). Perubahan nilai mata uang asing terhadap rupiah perlu diperhatikan ketika akan melakukan transaksi dengan pihak luar negeri.</p>
<p>Misalnya harga sebuah lighstick adalah US$50. Jika niali tukar adalah Rp15.000 per US$1, biaya menjadi Rp750.000. Namun, jika kurs naik atau berubah menjadi Rp16.000, maka nilai lighstick yang sama akan naik menjadi Rp800.000. Artinya, terdapat selisih Rp50.000 meskipun harga lighstick dalam dolar tidak berubah.</p>
<p>Jika jumlah pesanan mencapai puluhan atau bahkan ratusan item, selisih tersebut bisa menjadi cukup besar. Belum lagi jika admin telah menetapkan fixed price kepada pembeli sebelum melakukan transaksi kepada seller. Saat rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan bisa saja lebih besar dari perkiraan awal. Akibatnya, keuntungan admin dapat menyusut atau bahkan bisa saja rugi.</p>
<p><strong>Bukan Hanya Kurs</strong></p>
<p>Risiko bisnis GO sebenarnya tidak hanya berasal dari perubahan nilai tukar. Biaya pengiriman internasional, pajak, perubahan harga dari seller, keterlambatan pengiriman, hingga barang rusak atau hilang juga bisa mempengaruhi biaya akhir.</p>
<p>Dari sudut pandang pembeli masalah tersebut bisa muncul karena perubahan harga setelah pesanan diproses. Pembeli tentunya juga bisa merasa keberatan/ tidak setuju jika tiba-tiba harus membayar biaya tambahan yang sebelumnya tidak diinformasikan.</p>
<p>Oleh karena itu, kepercayaan menjadi salah satu hal penting dalam bisnis GO ini. Penelitian Maulidia dan Aransyah (2023) menunjukkan bahwa kepercayaan dan harga memiliki kaitan dengan keputusan pembelian serta loyalitas pelanggan merchandise K-pop melalui Group Order. Artinya, keberlangsungan bisnis GO bukan hanya persoalan terkait harga yang murah, tetapi juga dengan kepercayaan yang dibangun antara admin dan pembeli.</p>
<p><strong>Bagaimana Agar Tidak Mudah Tekor/ Rugi</strong></p>
<p>Admin dapat mengurangi risiko dengan menjelaskan kemungkinan perubahan nilai tukar sejak awal masa list pre-order. Harga yang ditetapkan juga sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga merch saja, tetapi memperhitungkan ongkos kirim, biaya tambahan, serta cadangan untuk menghadapi perubahan biaya.</p>
<p>Ketentuan terkait transkasi juga harus disampaikan dengan jelas sebelum pembeli melakukan transaksi. Jika perubahan kurs bisa saja berubah sebelum pembayaran kepada seller dilakukan, maka hal ini sebaiknya diinformasikan sejak awal. Dengan demikian, pembeli mengetahui risiko yang mungkin akan terjadi dan tidak merasa dirugikan saat terjadinya kenaikan harga yang disebabkan oleh perubahan kurs.</p>
<p>Pencatatan pesanan, pembayaran, dan seluruh biaya juga harus dilakukan dengan rapi dan tertata. Hal ini penting supaya admin dapat melihat apakah setiap pesanan benar-benar menghasilkan keuntungan atau justru menimbulkan kerugian Jadi menjalankan GO bukan hanya soal mendapatkan banyak pesanan. Admin juga perlu memastikan bahwa harga dan selutuh biaya sudah dihitung dengan baik dan benar.</p>
<p><strong>Lalu, Bagaimana dalam Fikih Muamalah?</strong></p>
<p>Sebagai bisnis yang melibatkan transaksi antara admin dan pembeli, GO juga menarik untuk dilihat dari perspektif fikih muamalah. Dalam transaksi syariah, kejelasan dan kerelaan kedua belah pihak merupakan hal yang krusial. DSN-MUI melalui Fatwa No. 110/DSN-MUI/IX/2017 tentang Akad Jual Beli menyatakan bahwa transaksi jual beli dilakukan atas dasar kesepakatan dan kerelaan para pihak.</p>
<p>Oleh karena itu dalam praktik GO, pembeli harus mengetahui barang yang mereka pesan, harga, biaya tambahan, mekanisme pembayaran, serta ketentuan jika terjadi perubahan harga. Kejelasan tersebut penting untuk menghindari gharar, yaitu ketidakjelasan dalam transaksi yang dapat menimbulkan perselisihan. Otoritas Jasa Keuangan juga menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi syariah menekankan prinsip keadilan, transparansi, dan kerelaan serta menghindari unsur-unsur seperti gharar.</p>
<p>Contohnya, jika sejak awal admin telah menjelaskan bahwa harga dapat menyesuaikan perubahan kurs sebelum pembayaran kepada penjual/ seller, pembeli sudah mengetahui risiko tersebut sebelum bertransaksi. Sebaliknya, menaikkan harga secara sepihak setelah pembayaran tanpa adanya ketentuan yang jelas dapat menimbulkan masalah dari sisi transparansi dan kesepakatan.</p>
<p>Prinsip amanah (kepercayaan) dan kejujurna juga tidak kalah penting. Uang yang sudah diserahkan pembeli harus dikelola seusai dengan kesepakatan. Informasi mengenai harga, biaya, dan kondisi pesanan juga harus disampaikan dengan jujur. Dengan begitu, risiko bisnis tetap dapat dikelola tanpa mengabaikan hak pembeli.</p>
<p><strong>Masihkah Bisnis GO Prospektif?</strong></p>
<p>Melemahnya rupiah memang menjadi salah satu tantangan bagi bisnis GO yang membeli merchandise dari luar negeri. Namun, adanya risiko tersebut bukan berarti permintaan terhadap merchandise K-pop ikut hilang. Penelitian tentang perilaku K-popers menunjukkan adanya hubungan antara fanatisme dan perilaku konsumtif terhadap official merchandise, sedangkan penelitian mengenai Group Order menunjukkan bahwa sistem tersebut digunakan penggemar untuk memperoleh produk/ merch resmi K-pop.</p>
<p>Tantangannya adalah bagaimana admin mengelola bisnis tersebut dengan lebih berhati-hati. Perhitungan kurs, tarif pengiriman, pencatatan keuangan, dan komunikasi dengan pembeli harus diperhatikan sejak awal. Hal-hal yang keliatannya sepele, seperti selisih kurs atau biaya tambahan, bisa menjadi besar ketika jumlah pesanan semakin banyak.</p>
<p>Pada akhirnya, bisnis Group Order memiliki peluang sekaligus risiko. Melemahnya rupiah dapat memperbesar biaya pembelian dan mempersempit margin keuntungan, namun risiko itu dapat diantisipasi melalui perencanaan harga, pengelolaan biaya, dan komunikasi yang jelas dengan pembeli.</p>
<p>Dalam bisnis yang melibatkan uang dan kepercayaan orang lain, keuntungan memang penting. Namun, amanah yang diberikan pembeli, keterbukaan informasi, kesepakatan yang telah dibuat, serta hak masing-masing pihak juga perlu dijaga. Dengan pengelolaan yang tepat tidak hanya menghindari kerugian tetapi juga membangun kepercayaan yang dapat membuat bisnis GO bertahan dalam jangka panjang.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://cdn.prod.website-files.com/67a055c37336afac5a2e481f/69254c54d48b552c2c8c7afd_bisnis-jastip.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
