<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hipertensi &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/hipertensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Apr 2025 05:40:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
	<item>
		<title>Rokokmu Hari Ini, Hipertensi di Kemudian Hari!</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/12/rokokmu-hari-ini-hipertensi-di-kemudian-hari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Dec 2024 06:04:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=81548</guid>

					<description><![CDATA[Apa sih hipertensi itu? Hipertensi atau biasa disebut...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3>Apa sih hipertensi itu?</h3>
<p>Hipertensi atau biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan penyakit berbahaya bagi seluruh masyarakat di penjuru dunia. Hipertensi seringkali diabaikan oleh masyarakat karena biasanya tidak menimbulkan gejala pada sebagian besar orang. Padahal faktanya, hipertensi dapat menjadi penyebab komplikasi yang serius seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, ginjal bahkan kematian dini.</p>
<h3>Apa saja faktor risiko hipertensi?</h3>
<p>Setelah tahu apa itu hipertensi, ternyata hipertensi ini bisa menjadi masalah yang serius jika tidak diobati, lho. Ada beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi seperti usia lanjut, keturunan, obesitas, kurang dalam beraktivitas fisik, merokok, dan konsumsi terlalu banyak alkohol. Namun, faktor risiko tersebut dapat dikurangi dengan cara mengonsumsi makanan yang sehat, berhenti merokok, dan beraktivitas fisik yang cukup.</p>
<h3>Apa dampaknya bagi kesehatan?</h3>
<p>Hipertensi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan mengancam jiwa. Dampak hipertensi yang umum terjadi berupa komplikasi penyakit yang menyebabkan cacat permanen hingga kematian. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ internal, seperti ginjal, hati, dan otak. Kerusakan ini dapat berupa fibrosis, nekrosis, atau infark yang berpotensi fatal. Stroke dan serangan jantung juga dapat terjadi karena hipertensi meningkatkan risiko pembuluh darah di otak dan jantung rusak. Gangguan ginjal seperti uremia yaitu penumpukan produk limbah metabolisme yang berbahaya hingga penyakit kronis seperti gagal ginjal juga dapat terjadi. Selain itu, hipertensi juga dapat menyebabkan permasalahan pada mata seperti glaukoma, katarak, dan retinopati hypertensiva mengancam kenyamanan mata. Selain komplikasi penyakit, hipertensi juga memberikan dampak pada kualitas hidup, seperti sakit kepala, kelelahan, dan masalah tidur yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari mereka. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kematian. Menurut WHO, sekitar 7 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh komplikasi terkait hipertensi.</p>
<h3>Hipertensi dan rokok?</h3>
<p>Rokok mengandung zat yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia Nikotin dalam rokok dapat meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah dan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Selain itu, kasus penyempitan pada pembuluh darah koroner yang berfungsi sebagai pembawa darah yang kaya akan oksigen ke jantung juga dapat mengalami penggumpalan. Nikotin dapat meningkatkan tekanan darah dalam hirupan pertama, kemudian diserap oleh pembuluh darah kecil di paru-paru dan dibuang ke aliran darah.hingga sampai pada otak dan menyebabkan lepasnya hormon epinefrin yang menyebabkan arteri darah menyempit, sehingga tekanan darah meningkat. Karbon monoksida diikat dalam darah dan membuat jantung dipaksa bekerja memenuhi kebutuhan yang seharusnya diisi oksigen.</p>
<h3>Bagaimana cara mencegahnya?</h3>
<p>Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi adalah dengan mengubah pola hidup kita menjadi lebih sehat.</p>
<p>● Lakukan olahraga secara teratur dengan durasi minimal 30 menit dalam sehari<br />
● Jaga berat badan tetap ideal<br />
● Konsumsi makanan yang seimbang disertai buah dan sayur<br />
● Kontrol konsumsi garam harian maksimal satu sendok teh per hari<br />
● Hindari makanan cepat saji, karena biasanya mengandung banyak garam.<br />
● Hindari kebiasaan merokok dan paparan asap rokok<br />
● Hindari kebiasaan konsumsi minuman beralkohol.</p>
<p><em><strong>Raina Nismara</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Gejala Hipertensi yang Jarang Disadari</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/12/ini-gejala-hipertensi-yang-jarang-disadari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Dec 2024 08:58:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=81311</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Hipertensi yang tidak terkontrol bisa berujung...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Hipertensi yang tidak terkontrol bisa berujung fatal. Kondisi ini bisa memicu stroke hingga kematian.</p>
<p>Untuk itu, Anda perlu mengetahui beberapa gejala hipertensi agar mendapatkan penanganan yang tepat.</p>
<p>Hipertensi terjadi saat tekanan darah meningkat secara tidak sehat. American Heart Association (AHA) menyebut bahwa tekanan darah sistolik di kisaran 130-139 mmHg dan diastolik 80-89 mmHg masuk dalam kategori hipertensi stadium 1. Jika terus meningkat sampai melebihi 180/120 mmHg, maka memasuki kondisi darurat hipertensi.</p>
<p>Banyak hal yang bisa berkontribusi memicu hipertensi termasuk faktor genetik, aktivitas fisik yang minim, pola makan yang buruk, dan kelebihan berat badan.</p>
<p>Sayangnya, hipertensi sering disebut sebagai penyakit &#8216;silent killer&#8217; karena sering muncul tanpa keluhan. Hal ini membuat penderita tak menyadari kondisi hipertensi yang dialaminya.</p>
<p><strong>Berikut gejala hipertensi yang sering tidak disadari. Di antaranya:</strong></p>
<p>&#8211; sakit kepala parah,<br />
&#8211; mimisan,<br />
&#8211; kelelahan,<br />
&#8211; masalah penglihatan,<br />
&#8211; nyeri dada,<br />
&#8211; sulit bernapas,<br />
&#8211; detak jantung tak teratur,<br />
&#8211; darah dalam urine,<br />
&#8211; berdebar-debar di dada, leher, atau telinga.</p>
<p><strong>Beberapa gejala lain yang kerap dikaitkan dengan hipertensi namun bukan umum, di antaranya:</strong></p>
<p>&#8211; pusing,<br />
&#8211; gugup,<br />
&#8211; berkeringat,<br />
&#8211; sulit tidur,<br />
&#8211; bintik darah di mata.</p>
<p>Sebelum timbul kondisi yang tak diinginkan, penting untuk memeriksa tekanan darah secara rutin. AHA merekomendasikan orang dewasa dengan tekanan darah normal untuk memeriksakan tekanan darah setiap tahun demi mendeteksi dini hipertensi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Mudah Cegah Hipertensi di Usia Muda</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/cara-mudah-cegah-hipertensi-di-usia-muda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Dec 2023 02:24:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[obesitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61466</guid>

					<description><![CDATA[1 dari 25 pemuda berusia 12 hingga 19 tahun mengalami hipertensi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>1 dari 25 pemuda berusia 12 hingga 19 tahun mengalami hipertensi</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Hipertensi merupakan suatu kondisi tekanan darah tinggi sebesar 140/90 mmHg atau lebih (WHO, 2023). Hipertensi kerap dianggap remeh, padahal hipertensi dapat berdampak serius apabila tidak ditangani dengan tepat.</p>
<p>Hipertensi juga kerap dianggap sebagai penyakit usia lanjut, pada kenyataannya hipertensi juga menghantui para anak muda. Bahkan, gejala hipertensi pada usia muda seringkali tidak mudah untuk dideteksi.</p>
<p>Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa sekitar 1 dari 25 pemuda berusia 12 hingga 19 tahun mengalami hipertensi.</p>
<p>Banyak faktor yang dapat mendekatkan para pemuda dengan hipertensi. Namun, hipertensi lebih banyak terjadi pada pemuda yang mengalami obesitas.</p>
<p>Obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan (WHO, no date). Seseorang akan dikategorikan obesitas apabila Indeks Massa Tubuh mencapai 30 atau lebih.</p>
<h3>Alasan Mengapa Berat Badan Berpengaruh</h3>
<p>Dalam sebuah penelitian yang menarik, Koebnick dan timnya membuka mata kita terhadap sebuah fakta penting: Indeks Massa Tubuh (IMT) bukan hanya sekedar angka.</p>
<p>Riset mereka menunjukkan bahwa remaja yang berada pada batas atas kisaran berat badan normal ternyata memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi.</p>
<p>Lebih mengejutkan lagi, bahkan mereka yang berat badannya dianggap normal, asalkan berada di atas persentil ke-60, juga berisiko lebih tinggi terkena hipertensi.</p>
<p>Hal tersebut dikarenakan obesitas atau berat badan yang berlebihan akan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.</p>
<p>Ini, secara bertahap, meningkatkan tekanan pada arteri, yang akhirnya bisa menyebabkan hipertensi. Sebaliknya, berat badan yang seimbang membantu menjaga fungsi jantung dan pembuluh darah, mengurangi risiko terjadinya hipertensi (Koebnick et al., 2023).</p>
<p>Salah satu cara obesitas mempengaruhi tekanan darah adalah melalui perubahan sinyal hormon di dalam tubuh.</p>
<p>Orang dengan obesitas cenderung memiliki kadar insulin dan aldosteron yang lebih tinggi dalam darahnya. Peningkatan insulin dan aldosteron menyebabkan tubuh menahan lebih banyak natrium dalam darah, yang pada akhirnya meningkatkan volume darah dan memicu hipertensi (Shariq OA, McKenzie TJ, 2020).</p>
<p>Walaupun insulin secara alami berperan sebagai vasodilator yang membantu melebarkan tekanan darah, pada orang obesitas dengan tingkat insulin yang tinggi secara menerus, fungsi ini terganggu.</p>
<p>Hal ini disebabkan oleh kerusakan lapisan dalam pembuluh darah yang menyebabkan pembuluh darah menjadi sempit. Akibatnya, insulin yang seharusnya membantu mengurangi tekanan darah, justru berkontribusi pada pengembangan hipertensi (Muniyappa, R., &amp; Sowers, J. R., 2013)</p>
<p>Selain itu, orang yang mengalami obesitas sering memiliki apa yang disebut lemak aktif atau visceral fat, yang terakumulasi di rongga perut dan melekat pada organ vital, termasuk ginjal dan hati.</p>
<p>Lemak jenis ini bukan hanya soal estetika, ia menekan organ-organ ini dan memaksa sistem kardiovaskular bekerja lebih keras. Ini berarti jantung harus memompa lebih keras untuk mengirimkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh, suatu kondisi yang berpotensi menyebabkan hipertensi (Parr, 2018)</p>
<h3>Kiat-Kiat Cegah Obesitas</h3>
<p>Banyak cara untuk mencegah kelebihan berat badan termasuk dengan mengatur pola makan serta memperbanyak aktivitas fisik. Berikut, rekomendasi untuk mencegah obesitas:</p>
<p><strong>Perhatikan apa yang anda konsumsi</strong></p>
<p>Obesitas biasanya terjadi karena kebiasaan makan yang buruk. Oleh karena itu, sangat penting untuk kita menjaga pola makan. Konsumsi buah sebanyak 2-3 porsi sehari dan sayur sebanyak 3-5 porsi sehari.</p>
<p>Hindari mengonsumsi makanan cepat saji dan belajarlah untuk membaca informasi nilai gizi pada kemasan. Pilihlah air mineral dibandingkan dengan minuman manis. Perhatikan pula jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh.</p>
<p><strong>Perbanyak aktivitas fisik</strong></p>
<p>Penambahan berat badan terjadi karena jumlah kalori masuk lebih banyak dibandingkan kalori keluar. Oleh sebab itu, dibutuhkan aktivitas fisik untuk mempertahankan berat badan.</p>
<p>Kementerian kesehatan menganjurkan setiap orang untuk melakukan aktivitas fisik selama 150 menit/minggu atau 30 menit/hari. Berjalan kaki merupakan alternatif olahraga yang baik dan minim ongkos.</p>
<p><strong>Atur pola tidur</strong></p>
<p>Pola tidur berpengaruh terhadap status berat badan. Seseorang yang kerap begadang memiliki durasi makan lebih banyak. Camilan tengah malam berkaitan erat dengan peningkatan berat badan.</p>
<p><strong>Hindari stres</strong></p>
<p>Stres juga berkaitan dengan terjadinya obesitas. Hal ini disebabkan karena cara mengelola stres beberapa orang adalah dengan makanan.</p>
<p>Selain itu, stres dapat berpengaruh terhadap perilaku makan dan mampu meningkatkan nafsu makan sehingga berdampak pada obesitas.</p>
<p><em>Malikah Bilqis, Mufti Diva Larassati</em><br />
<em>Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Daging Merah dan Gagal Ginjal Kronis, Apa Hubungannya?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/11/daging-merah-dan-gagal-ginjal-kronis-apa-hubungannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2023 11:14:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Daging Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Gagal Ginjal Kronis]]></category>
		<category><![CDATA[Hipertensi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=60372</guid>

					<description><![CDATA[Hingga tahun 2022, diperkirakan terdapat 843,6 juta orang yang mengidap Gagal ginjal kronis dengan angka kematian mencapai 1,2 juta orang di seluruh dunia]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em> Hingga tahun 2022, diperkirakan terdapat 843,6 juta orang yang mengidap Gagal ginjal kronis dengan angka kematian mencapai 1,2 juta orang di seluruh dunia</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan proses penurunan fungsi ginjal secara bertahap dan berlangsung selama lebih dari 3 bulan hingga akhirnya menjadi gagal ginjal. Kondisi dan fungsi ginjal tidak dapat dikembalikan lagi menjadi normal. Hingga tahun 2022, diperkirakan terdapat 843,6 juta orang yang mengidap GGK (Kovesdy, 2022) dengan angka kematian mencapai 1,2 juta orang di seluruh dunia (Bikbov et al., 2020).</p>
<p>Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil dari Riskesdas tahun 2018 yang dilakukan pada 300.000 rumah tangga menunjukan bahwa rata-rata prevalensi penderita PGK sebesar 3,8% dengan provinsi Kalimantan Utara menduduki peringkat tertinggi sebesar 6,4%. Kebanyakan penderita berjenis kelamin laki-laki dengan rata-rata usia 65-74 tahun.</p>
<p>Orang dengan hipertensi memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami penyakit GGK. Hipertensi akan mempersempit dan mengurangi aliran darah yang menuju ke ginjal. Hal ini dapat disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat.</p>
<p>Penelitian prospektif yang dilakukan oleh Mirmiran et al. (2019) juga menunjukkan bahwa salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsi daging merah yang menunjukkan peningkatan risiko terkena gagal ginjal kronis. Seberapa sering frekuensi konsumsi yang dimaksud? Apa pengaruh spesifiknya terhadap penderita hipertensi? Berikut ini penjelasannya!</p>
<p>Orang dengan hipertensi memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gagal ginjal kronis. Untuk mencegah terjadinya gagal ginjal kronis, dapat dilakukan pencegahan pada faktor risiko hipertensi (Ameer, 2022).</p>
<p>Faktor yang dapat diubah adalah pola makan, dengan mengatur pola makan menuju konsumsi makanan dengan gizi seimbang. Salah satu makanan yang perlu diperhatikan adalah daging merah. Beberapa penelitian, seperti penelitian cross-sectional Akujobi et. al. (2020) di Nigeria pada pasien hipertensi dan penelitian Wu et. al. (2015) pada pasien yang melakukan hemodialisis, menunjukkan perlunya pengaturan konsumsi daging merah untuk mencegah risiko peningkatan tekanan darah.</p>
<p>Jenis makanan yang termasuk dalam kelompok daging merah adalah daging yang berasal dari sapi, babi, domba, kambing, dan kuda, umumnya diolah terlebih dahulu dengan pengasinan, pengawetan, fermentasi, pengasapan, atau proses lainnya untuk meningkatkan rasa sebelum dikonsumsi (Wolk, 2017).</p>
<p>Daging merah memiliki peran penting dalam pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan otot rangka manusia dikarenakan memiliki zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti asam amino esensial, zat besi, zink, vitamin B12, niasin, dan vitamin B6 (Mafra et. al., 2018). Namun, zat gizi yang terkandung dalam daging merah dapat menimbulkan dampak negatif pula.</p>
<p>Kandungan seperti sodium, asam lemak jenuh, dan kolesterol yang tinggi pada daging merah dapat mendorong progresi hipertensi dan meningkatkan risiko gagal ginjal (Zhang &amp; Zhang, 2018; Mafra et. al., 2018; Allen et. al., 2022).</p>
<p>Zat-zat tersebut dicerna melalui saluran pencernaan dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Sirkulasi darah akan melewati ginjal untuk disaring. Jika jumlah zat-zat tersebut berada terlalu banyak di dalam sirkulasi darah, maka lapisan pembuluh darah dapat mengalami kerusakan dan meningkatkan tekanan darah.</p>
<p>Peningkatan tekanan tersebut juga berdampak pada peningkatan tekanan glomerulus saat penyaringan darah di ginjal. Selain dampak dari peningkatan tekanan darah, ginjal juga terkena dampak negatif dari hasil metabolisme protein dari daging merah, yaitu urea yang dapat menimbulkan inflamasi jika terakumulasi dalam jumlah tinggi. Jika hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, kerusakan ginjal akan semakin parah dan berujung pada gagal ginjal kronis (Allen et. al, 2022; Yang &amp; Tarng, 2018; Ko et. al., 2020).</p>
<p>Risiko terjadinya komplikasi gagal ginjal yang berhubungan dengan tingkat konsumsi daging merah telah didukung oleh beberapa studi di berbagai negara. Sebuah studi di Singapura pada tahun 2017 menunjukkan bahwa pada populasi umum, kelompok yang lebih banyak mengonsumsi daging merah mempunyai risiko lebih tinggi dalam mengalami end-stage renal disease (ESRD) setelah diikuti selama 15,5 tahun (Lew, et. al., 2017).</p>
<p>Dua studi di Tehran, Iran (Asghari et. al., 2018; Mirmiran et. al., 2020) dilakukan pada populasi umum yang belum mengalami gagal ginjal untuk melihat dan menganalisis pola makan dan tingkat konsumsi daging merah terhadap kejadian gagal ginjal kronis. Hasil dari kedua studi menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi daging merah yang tinggi dengan peningkatan risiko terjadinya gagal ginjal kronis. Oleh sebab itu, konsumsi daging merah perlu dibatasi, baik pada penderita hipertensi sebagai faktor risiko gagal ginjal kronis maupun pada orang yang sehat.</p>
<p>Belum ada rekomendasi khusus yang pasti dari institusi kesehatan terkait berapa batasan konsumsi daging merah yang diperbolehkan. Rekomendasi yang didapatkan dari beberapa studi observasional adalah sekitar 50 &#8211; 100 g per hari untuk individu sehat tanpa kondisi hipertensi dan maksimal 50 g per hari untuk orang dengan kondisi hipertensi (Allen et. al., 2022).</p>
<p>Namun, angka tersebut tentunya dapat berbeda sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan individu masing-masing. Orang-orang dengan kondisi kesehatan tertentu, misalnya pasien diabetes mellitus dan orang obesitas, memerlukan diet teratur yang direkomendasikan secara spesifik dan aturan konsumsi yang berbeda dibandingkan populasi secara umum sebagai upaya pencegahan komplikasi penyakit. Oleh sebab itu, jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, disarankan untuk melakukan konsultasi kepada ahli terkait batasan konsumsi daging merah (Kalantar-Zadeh and Fouque, 2017; Ko et. al., 2020).</p>
<p>Selain membatasi konsumsi daging merah, penderita hipertensi juga bisa mengganti sumber protein mereka dari daging merah menjadi daging putih (ayam, bebek, dan unggas lainnya), ikan, telur, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan produk susu rendah lemak untuk tetap memenuhi kebutuhan protein harian (Wu et. al., 2015; Lew et. al., 2017; Mafra et. al., 2018; Mirmiran et. al., 2020).</p>
<p>Daging merah merupakan salah satu bahan makanan yang umumnya dikonsumsi di seluruh dunia karena mengandung protein dan zat gizi lainnya yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Namun, terdapat kandungan zat lainnya yang dapat memberikan dampak negatif jika dikonsumsi berlebihan, seperti garam dan lemak jenuh, terutama pada penderita hipertensi.</p>
<p>Dampak negatif ini dapat meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal kronis pada penderita hipertensi. Oleh karena itu, periksalah status kesehatan dan mulailah mengatur frekuensi konsumsi daging merah atau mengganti alternatif sumber protein Anda dalam pola makan sehari-hari untuk menghindari risiko mengalami gagal ginjal kronis.</p>
<p><em>Oleh: Antonia Viena Hemo dan Clarissa Tertia Firjatullah</em><br />
<em>Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
