<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hari Santri &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/hari-santri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Nov 2025 03:20:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>Hari Santri &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hari Santri: Seharusnya Menjadi Momen Membangun Kesadaran Kebangkitan Umat</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/11/hari-santri-seharusnya-menjadi-momen-membangun-kesadaran-kebangkitan-umat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2025 03:20:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=93241</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Albayyinah Putri, S.T,. M.S
Alumni Konkuk University, Seoul]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Albayyinah Putri, S.T,. M.S</strong></em><br />
<em><strong>Alumni Konkuk University, Seoul</strong></em></p>
<p>Beberapa waktu lalu, pada tanggal 22 Oktober 2025 diperingati Hari Santri Nasional. Banyak kemeriahan di beberapa sudut daerah untuk merayakan Hari Santri Nasional di tahun ini. Sholawat dan dzikir juga bergema di beberapa daerah sebagai bagian dari syi’ar Islam. Banyak Kiyai dan pemimpin pondok pesantren memberikan himbauan mengenai syi’ar Islam dan semangat nasionalisme untuk menunjukan sikap santri terhadap kecintaannya pada tanah air Indonesia. Salah satu contohnya saja, dikutip dari beritariau.com, Muammar Ghadaffi sebagai Bupati dalam sambutannya mengingatkan tentang peristiwa bersejarah tahun 1945, ketika KH. Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad, fatwa yang menggerakkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari penjajah. Sehingga ini dianggap sebagai salah satu contoh dalam menjaga semangat untuk menjaga keutuhan NKRI.</p>
<p>Selain itu, ucapan selamat dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto mengatakan bahwa kita sebagai rakyat Indonesia tidak boleh melupakan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 atau 1367 Hijiriah yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari adalah tonggak penting dalam sejarah bangsa dan merupakan sebuah perjalanan menuju Indonesia merdeka yang berdaulat dan bermartabat, dilansir dari halaman Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Pak Prabowo juga menyinggung perihal tema Hari Santri Nasional tahun ini adalah Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia dianggap bahwa santri harus siap menjadi bagian dari kemajuan global tanpa melepaskan akar nilai keislaman dan keindonesiaan.</p>
<p>Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H.R. Muhammad Syafi’i, juga menyampaikan kado spesial pada perayaan kali ini, yaitu lahirnya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren. Harapan besar digantungkan pada Ditjen Pesantren, agar kedepannya lebih efektif dalam mengisi kemerdekaan (Antara News).</p>
<p>Dari fenomena yang ada, membuktikan bahwa kebanyakan perayaan dari hari santri hanya sebatas seremonial dan muhasabah secara individu saja. Namun, tidak banyak penggambaran bahwa sosok santri yang berkepribadian Islam, fakih fiddin dan pribadi yang mengarah kepada agen perubahan yang hakiki khususnya pada aspek muhasabah lil hukkam agar para pemimpin takut kepada Allah dan mengurusi rakyatnya sesuai dengan syari’at Islam. Pengingat perjuangan kemerdekaan para ulama pada masanya dijadikan alasan untuk mempertahankan ikatan nasionalisme dan modernisasi Islam di era sekarang. Padahal, jika berkaca bagaimana para ulama memperjuangkan Indonesia tidak terlepas dari terikatnya umat kepada syari’at Islam. Sayangnya, santri dimanfaatkan sebagai pelaku moderasi beragama dan agen pemberdayaan ekonomi. Pada UU Pesantren, jelas penyebutan bahwa pesantren akan diarahkan kepada nilai-nilai keseimbangan dan moderat, hal ini justru menunjukan pergeresan orientasi pesantren yang seharusnya mendakwahkan Islam kaffah tapi malah mendekatkan kepada cara pandangan barat.</p>
<p>Degradasi definisi jihad disini membuat santri dan umat Islam semakin jauh dari nilai murni syari’at Islam itu sendiri. Padahal banyak pemikiran Barat dengan gaya baru bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era sekarang, tapi fokus santri malah dibelokan ke arah yang tidak crucial.</p>
<p>Sudah seharusnya cara pandang santri dan umat saat ini yang dimana di tengah gempuran perang pemikiran fokusnya kepada akar pemikiran umat Islam yaitu akidah Islam dengan mengikuti syari’at Islam. Sehingga terbentuklah santri-santri yang memiliki kepribadian Islam dengan landasan Islam secara kaffah. Arah pergerakannya pun pada pergerakan kebangkitan umat. Dalam hal ini negaralah yang memiliki peran dan tanggung jawab dalam meri’ayah dan memfasilitasi para santri agar terdidik yang memiliki kepemimpinan berfikir dengan landasan Islam secara kaffah dan membentuk kepribadian santri sesuai dengan syari’at Islam. Kondisi seperti ini tidak akan terwujud di dalam sistem saat ini yang menerapkan ideologi kapitalisme dengan landasan akidah sekularisme, karena pada faktanya modernisasilah yang terus digencarkan untuk ditanamkan dalam pemikiran umat. Santri yang seharusnya menjadi garda terdepan melawan penjajah dan kezaliman malah menjadi alat penggerak pemerintahan dalam menyukseskan pemahaman barat.</p>
<p>Oleh karena itu dibutuhkannya perisai pelindung, yaitu dari pihak negara untuk ranah pesantren, yang dimana sistem tatanan negaranya benar-benar mau dan mampu mengayomi seluruh umat dari ancaman ideologi kapitalisme-sekularisme yang merusak dan membahayakan umat Muslim.</p>
<p>Semua ini hanya akan terwujud jika difasilitasi apabila negeri ini mau menggunakan cara Rasulullah SAW dan Khulafarasyidin dalam hal me-ri’ayah umat dan menerapkan syari’at Islam itu sendiri sebagai tatanan kehidupan masyarakatnya dalam naungan Khilafah Islamiyah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.aswajadewata.com/wp-content/uploads/2023/03/Santri-baru-khas-kempek.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Santri Nasional 22 Oktober Bentuk Pengakuan Pemerintah Presiden Jokowi</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/10/hari-santri-nasional-22-oktober-bentuk-pengakuan-pemerintah-presiden-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2024 10:15:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=77380</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Murodi al-Batawi Penetapan 22 Oktober 2015 di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Penetapan 22 Oktober 2015 di Istiqlal, sebagai Hari Santri Nasional merupakan bentuk pengakuan pamerintah atas peran dan perjuangan umat Islam dalam perjuangan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dari penjajah Belanda kafir hingga kedatangan tentara Inggris beserta tentara KNIL di Indonesia. Sesuatu yang tidak pernah diakui secara resmi, baik oleh pemerintah Orde Lama dan Orde Baru hingga pascareformasi sampai ketika presiden Jokowi melakukannya.</p>
<p>Pengakuan itu dilakukan oleh presiden Jokowi pada saat ia mengunjungi pondok pesantren Babussalam, Magelang, bertepatan dengan peringatan tanggal 1 Muharram.</p>
<p>_*Perjuangan Para Santri Indonesia_*</p>
<p>Sejak kedatangan Belanda pada 1596 M, kemudian Belanda membentuk Sarikat Dagang, VOC( Vereenidge Oast Indiche Compagne), hingga VOC bubar pada 1778 M dan Belanda mulai melakukan penjajahan sampai Infonesia memerdekakan diri pada 1945, umat Islam, baik dimotori oleh para Sultan, para ulama dan umat Islam secara keseluruhan, mereka telah melakukan perlawanan fisik. Perlawanan umat Islam mulai dari Perang Sabi di Aceh hingga Perang Diponegoro 1925-1930, menimbulkan banyak kerugian pada pihak kompeni. Perang dikenal juga sebagai perang Jawa.</p>
<p>Selain itu juga ada pemberontakan fi Banten pada 1888, yang dilakukan oleh para petani yang menjadi anggota Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan lain-lain.<br />
Perlawanan itu senua dilakukan oleh umat Islam yang tidak setuju negerinya dijajah oleh pemerintah Belanda yang kafir itu. Mereka terus berjuang dan bergerak sampai mereka mendirikan SDI(Sarekat Dagang Islam) oleh H. Samanhudi di Laweyan, Solo, pada 1905. Awalnya sarekat tersebut diperuntukkan sebagai bentuk perlawanan atas kesewenangan para pedagang batik Cina yang mendominasi perdagangan dan mendapatkan konsesi dari pemerintah Bekanda.</p>
<p>SDI kemudian mengalami perubahan menjadi SI (Sarekat Islam). Dan pads 1918, SI terbelah menjadi SI merah dibawah pimpinan Alimin dan Semaun, dan SI putih dibawah pimpinan HOS Cokroaminoto. SI merah berhakuan kiri, komunisme dan SI putih berhakuan kanan, Islam.<br />
Lama kelamaan, SI Putih menfirikan partai menjadi PSI (Partai Sarikat Islam) dengan ideologi Islam, dan SI merah mendirikan partai PKI (Partai Komunis Indonesia), yang pernah melakuan pemberontkan di Lebak, Banten pada 1927. Pemberontak ini, meski mereka berpatai derideooogi Komunisme, mereka masih muslim. Artinya, pemberontakan tersebut juga dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Meski berbeda, tujuan mereka sama: berjuang untuk membebaskan negeri Indonesia dari penjajah Belanda kafir.</p>
<p>Pada saat yang sama, para pemuda Indonesia yang mayoritas muslim, melakukan konsolidasi kekuatan, ada Jing Islmiten Bobd, Jobg Jva, Jong Baravua Bobd, Jong Sunatera Bond, dan Jong Cleves. Konsolidasi ini terefleksi dalam bentuk Soempah Pemoeda pada 28 Oktober 1928.</p>
<p>Kemudian, pada 1939-1945 terjadi Perang Dunia ke-2 yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia terlibat perang. Saat itu, Jepang ikut perang dunia dan bergabung dengan Italia dan Jerman, negara yang kalah Perang Dunia ke-2. yang datang ke Indonesia pada 1943 dan mulai menjajah. Tetapi pada 1945 Perang Dunia berakhir dan Jepang harus menyerahkan kekuasaan pada pemenang perang.</p>
<p>Kehadiran Jepang di Indonesia pada 1943, membuat situasi politik berubah. Dengan slogan Jepang adalah negara tua Indonesia dan meminta dukungan dari masyarakat Indonesia untuk memenangkan Perang Asia Raya, akhirnya dengan politik adu donba dan Romusha, Jepang menguras potensi ekonom Indonesia saat itu. Semuanya untuk keperluan persediaan dalam Perang Asia Tinur Raya.</p>
<p>Sejak saat itu, bentuk perlawanan dan perjuangan bangsa Indonesia semakin solid hingga akhirnya para pemuda Indonesia, seperti Chaerul Saleh, dan kawan-kawan penuda, menjemput dan mengajak Bung Karno ke Rengas Dengklok, Karawang, meninta Bung Karno segera membuat dan membacakan naskah proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Karena sutuasi kurang konfusif, akhirnya Bung Karno bertemu dengan seorang jenderal Jepang, yang kalah perang. Di rumah itulah akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 pada pukul 10 pagi. Sejak saat itulah Indonesia berjuang untuk mendapat dukungan dari negara-negara kuar. Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Palestina kemudian diikuti oleh Mesir dan lain sebagainya. Tetapi, kemerdekaan tersebut tidak diakui oleh pemerintah Belanda. Akhirnya, Belanda mendompleng tentara KNIL yang merupakan tentara gabungan dari India dan Inggris serta negara Eropa lainnya.</p>
<p>Karena Belanda semakin menjadi, akhirnya tokoh Islam Hadratusyaikh KH. Hasyim Asyari, pada 22 Oktober 1945, mengumumkan Resolusi Jihad, sebagai motivasi para Kyai dan para Santri untuk melakukan Jihad Fi Sabilillah mewajibkan umat Islam melakukan perlawanan melawan Belanda kafir yang ingin menjajah kembaki Indonesia. Itulah salah satu puncak dari bentuk perlawanan dan perjuangan para Kyai dan para Santri dalam memerdekakan bangsa Indonesia. Demikian latar belakang historis peristiwa yang terjadi pada tanggak 22 Oktober 1945, yang kemudian dijadikan sebagai Hari Santri Nasional.</p>
<p>Perjuangan Para Santri Dalam Menggapai Cita-cita.</p>
<p>Para Santri, baik dari Pondok Pesantren Tradidisional maupun dari Pondok Pesantren Modern, sekesai mereka mondok, banyak yang melanjurkan studi, baik di dalam maupun di dalam negeri. Bagi mereka yang tidak melanjutkan ke tingkat lebih tinggi, banyak di antara mereka yang menjadi pimpinan pondok pesantren. Mereka kemudian dikenal dan diakui sebagai seorang kyai, dengan melanjutkan tradisi Kyai mereka dahulu.</p>
<p>Dahulu, memang banyak pesabtren tradidional yang habya berfokus pada Tafaqquh fi al-dien, tidak tersedia sekolah umum. Tetapi sekarang sudah banyak Pondok Pesantren yang sudah menyediakan Sekolah, bukan hanya Madrasah. Dengan berbagai jurusan, IPA,IPS, dan Bahasa. Mereka yang sekolah pada jurusan unum, melanjutksn ke Perguruan Tinggi Negeri ternama; sepert UI, ITB, IPB, UNPAD, UGM, UB dll. Selesai jadi sarjana, mereka ada melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri. Sepulang dari studi luar negeri mereka menjadi tenaga pengajar sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.<br />
Ketika belajar di luar negeri, mereka ada yang mengambil studi di luar ilmu yang mereka peroleh saat di pondok. Ada yang jadi insinyur, dr. dan lain sebagainya. Bahkan ada yang berkarier di politik dan menjadi politisi dan pejabat, Menteri dan lain sebagainya. Jadi, para santri memiliki banyak peluang untuk berkarier di Indonesia sekarang ini. Mereka sudah berhasil menggapai cita-cita mereka dan menjadi orang berhasil dan bermanfaan untuk umat, agama bangsa dan negara. (Odie).</p>
<p>Demikian dan semoga bermanfaat.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Murodi al-Batawi<br />
25 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ9_qXKD1xR6dVyC5n1y18MizLv5BLzN1bKd-_1Pdt5DY8qzSJ1BBXL2GU&#038;s=10" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rihlah Ilmiah  dan Karier Santri</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/10/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Oct 2024 08:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri Nasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=77359</guid>

					<description><![CDATA[Memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2022 Oleh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em><strong>Memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2022</strong></em></p></blockquote>
<p><em><strong>Oleh : Murodi</strong></em></p>
<p>Saat mondok di Pondok Pesantren, kita selalu dididik mandiri. Dalam segala hal, termasuk apakah setelah usai mondok di suatu tempat, kita dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan di pondok lain atau bahkan ke Timur Tengah, sebagai pusat arus perkembangan ilmu agama Islam, untuk memperdalam suatu bidang ilmu. Hal ini biasa terjadi dalam dunia pesantren dahulu, entah sekarang. Tapi yang jelas, kemungkinan hal itu masih terjadi dalam dunia pesantren model Salafiyyah, juga Khalafiyah. Cara seperti ini bisa terjadi manakala sang Santri belum merasa puas dengan ilmu yang diperolehnya saat dia mondok.</p>
<p>Jadi, berdasarkan saran dan restu Kyai, ia melanjutkan studinya ke pondok pesantren lain, untuk mengaji memperdalam ilmu bidang lain pada Kyai lain. Biasanya, Kyai tersebut adalah sahabat atau kerabatnya yang memang memiliki tingkatan ilmu lebih tinggi dibanding dirinya atau memiliki spesifikasi keilmuan khusus yang dimiliki Kyai tersebut.</p>
<h3>Tradisi Rihlah Ilmiah</h3>
<p>Tradisi _Rihla Ilmiah_ seperti ini menjadi semacam suatu keniscayaan bagi para pencari ilmu. Tujuannya, selain memperdalam ilmu juga membuka jaringan atau sanad keilmuannya untuk memperkuat otoritas dirinya bahwa dia secara otoritatif memiliki kewenangan untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada para santri atau pihak lain.</p>
<p>Dengan demikian, maka dia sudah sah disebut seorang _Alim_, yang memiliki wawasan pengetahuan bidang ilmu tertentu. Karena itu, hubungan guru-murid, menjadi lazim di kalangan para pencari ilmu untuk memperkuat sanad keilmuannya. Misalnya, Kyai &#8220;A&#8221; yang ahli dalam ilmu al-hadits belajar kepada Kyai &#8220;B&#8221;untuk bidang fiqh. Begitu seterusnya yang terjadi hubungan keilmuan antara guru-murid jaman dahulu. Suatu saat ia menjadi guru di saat lain ia menjadi murid ketika mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan.</p>
<p>Selain itu, banyak pula santri yang selesai mondok, baik di Pondok Pesantren _Salafiyah maupun Khalafiyah_ yang melanjutkan studinya di dalam dan luar negeri.</p>
<p>Bagi mereka yang studi di dalam negeri, biasanya melanjutkan studinya Perguruan Tinggi Islam, negeri maupun swasta untuk mengikuti jenjang pendidikan S1 sampai S3. Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, S1-S3, mereka wajib meng _upgrade_ bahasa dan berbagai pengetahuan lain yang mendukung studi tersebut.</p>
<p>Biasanya, para alumni Pondok Pesantren, banyak yang melanjutkan Studi S1 hingga S3 ke wilayah Timur Tengah untuk kajian keislaman. Setelah lulus, mereka kembali ke negerinya dan meniti karier, mulai jadi _mublalligh_ atau menjadi Dosen merangkap pengurus Ornas Islam, dan bahkan mendirikan Pondok Pesantren dan menjadi Kyai. Dari situlah karier hidupnya dimulai hingga kemudian bisa menjadi tokoh masyarakat yang berkiprah di dunia akademis dan non akademis.</p>
<p>Bagi para santri yang mau melanjutkan studinya di Barat, biasanya mereka menyelesaikan studinya di Indonesia atau di negara-negara non Barat, seperti Mesir. Usai menamatkan pendidikan S1, biasanya mereka berkompetisi untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Jika berhasil, mereka lanjut studi S2 dan S3. Bila demikian, mereka menjadi intelektual muslim muda berbakat yang dapat meniti kariernya dengan baik. Karena banyak lembaga yang ingin menampung mereka sebagai orang yang bisa diandalkan dalam pengembangan keilmuan dan pengembangan lembaga. Jika nasib baik, karier terus melonjak, bahkan banyak pula yang menjadi politisi, pengurus partai dan anggota dewan, menjadi menteri, bahkan menjadi wakil presiden RI, seperti Prof. Dr. KH. Ma&#8217;ruf Amin. Itulah karier yang bisa dititi oleh mantan santri.</p>
<p>Yang jelas, pesantren dan santri satu entitas. Mereka berkewajiban memperdalam ilmu agama, bukan sains dan teknologi. Karena pesantren sejak awal didirikan, sebagai lembaga &#8220;Tafaqquh fi al-Dien&#8221;. Kalau toh mereka melanjutkan studinya, pasti bidang agama dan humaniora, bukan bidang lain, dan juga berkarier dalam bidang keilmuan mereka masing-masing.</p>
<p>Selamat berjuang para santri. Sekali santri, tetap santri.</p>
<p>Selamat Hari Santri Nasional<br />
22 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRUUV4rp3knj5CdK3tnA4QGHr3HTB5HpYgo61-cz1lmJNEStFUOFQRGoiXV&#038;s=10" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
