<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain Rot &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/brain-rot/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Jul 2026 04:18:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1792449405/cropped-depokpos-2/cropped-depokpos-2.jpg?_i=AA</url>
	<title>Brain Rot &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Brain Rot Ketika Hiburan Singkat Mulai Mengubah Cara Kita Berpikir</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/07/brain-rot-ketika-hiburan-singkat-mulai-mengubah-cara-kita-berpikir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 04:18:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Brain Rot]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=101891</guid>

					<description><![CDATA[Ditulis oleh Dewi Masitoh dari Universitas Binawan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dan hiburan hanya melalui telepon pintar. Kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mengubah cara seseorang menghabiskan waktu luangnya. Video berdurasi singkat yang menarik membuat banyak orang terus melakukan scrolling tanpa menyadari waktu yang telah berlalu. Kebiasaan tersebut kini mulai dikaitkan dengan fenomena brain rot, yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan menurunnya kemampuan seseorang dalam mempertahankan perhatian akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital singkat (Moshel et al., 2024). Fenomena ini menjadi perhatian karena tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga remaja dan mahasiswa yang setiap hari menggunakan media sosial.</p>
<p>Fenomena brain rot semakin relevan karena penggunaan internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemudahan mengakses internet membuat masyarakat dapat menikmati berbagai jenis hiburan kapan saja dan di mana saja. Kondisi tersebut memang memberikan banyak manfaat, seperti mempermudah komunikasi, mencari informasi, dan mendukung proses belajar (Arness &amp; Ollis, 2023). Akan tetapi, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi ketika membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama. Kebiasaan berpindah dari satu video ke video lainnya secara terus-menerus membuat otak terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa memberikan kesempatan untuk memproses informasi secara lebih baik.</p>
<p>Tingginya penggunaan internet di Indonesia dapat dilihat pada data Digital 2025 Indonesia yang diterbitkan oleh DataReportal. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah menjadikan internet dan media sosial sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari sehingga peluang terpapar konten video pendek juga semakin besar.</p>
<figure id="attachment_101892" aria-describedby="caption-attachment-101892" style="width: 544px" class="wp-caption aligncenter"><img width="544" height="331" fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-101891 wp-image-101892 size-full" src="data:image/svg+xml;base64,PHN2ZyB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciIHdpZHRoPSI1NDQiIGhlaWdodD0iMzMxIj48cmVjdCB3aWR0aD0iMTAwJSIgaGVpZ2h0PSIxMDAlIj48YW5pbWF0ZSBhdHRyaWJ1dGVOYW1lPSJmaWxsIiB2YWx1ZXM9InJnYmEoMTUzLDE1MywxNTMsMC41KTtyZ2JhKDE1MywxNTMsMTUzLDAuMSk7cmdiYSgxNTMsMTUzLDE1MywwLjUpIiBkdXI9IjJzIiByZXBlYXRDb3VudD0iaW5kZWZpbml0ZSIgLz48L3JlY3Q+PC9zdmc+" alt="Gambar 1. Kondisi Digital Indonesia Tahun 2025Sumber: DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia." data-public-id="data/data.jpg" data-format="jpg" data-transformations="" data-version="1" data-seo="1" data-responsive="1" data-size="544 331" data-delivery="upload" onload=";window.CLDBind?CLDBind(this):null;" data-cloudinary="lazy" /><figcaption id="caption-attachment-101892" class="wp-caption-text">Gambar 1. Kondisi Digital Indonesia Tahun 2025 Sumber: DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia.</figcaption></figure>
<p>Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 285 juta penduduk, 212 juta pengguna internet atau 74,6% dari total populasi, 143 juta identitas pengguna media sosial, serta 356 juta koneksi seluler aktif pada awal tahun 2025. Angka tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar masyarakat telah terhubung dengan dunia digital. Semakin tinggi intensitas penggunaan internet, semakin besar pula peluang seseorang menghabiskan waktu untuk mengonsumsi video pendek di media sosial. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa fenomena brain rot semakin sering dibahas oleh para peneliti psikologi dan kesehatan mental (Mauliddiana et al., 2025).</p>
<p>Fenomena brain rot bukan berarti teknologi harus dihindari. Teknologi tetap memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara bijaksana. Permasalahan muncul ketika seseorang sulit mengendalikan waktu penggunaan media sosial sehingga aktivitas belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain mulai terganggu (Moshel et al., 2024). Artikel ini membahas penyebab munculnya brain rot, dampaknya terhadap kemampuan berpikir, serta langkah sederhana yang dapat dilakukan agar penggunaan media sosial tetap memberikan manfaat tanpa mengurangi kemampuan konsentrasi.</p>
<p>Fenomena brain rot muncul karena otak terbiasa menerima rangsangan yang cepat dan terus berganti. Video pendek di media sosial dirancang agar mampu menarik perhatian hanya dalam beberapa detik. Setelah satu video selesai, pengguna akan langsung melihat video berikutnya tanpa harus mencarinya sendiri. Pola tersebut membuat seseorang terus melakukan scrolling karena selalu ingin melihat konten baru yang lebih menarik (Arness &amp; Ollis, 2023). Kebiasaan ini dapat mengurangi kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih lama, seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau mengerjakan tugas.</p>
<p>Penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan gangguan pada fungsi kognitif. Hasil systematic review dan meta-analysis yang dilakukan oleh Moshel dan rekan-rekannya menemukan bahwa perilaku penggunaan layar yang tidak terkontrol berhubungan dengan penurunan perhatian, memori kerja, serta kemampuan mengendalikan diri (Moshel et al., 2024). Kondisi tersebut tidak berarti bahwa media sosial secara langsung merusak otak, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi dan mempertahankan fokus dalam aktivitas sehari-hari.</p>
<p>Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami fenomena ini karena hampir seluruh aktivitas akademik dilakukan menggunakan perangkat digital. Proses mencari referensi, mengikuti kelas daring, hingga berkomunikasi dengan dosen dilakukan melalui internet. Kondisi tersebut membuat batas antara kegiatan belajar dan hiburan menjadi semakin tipis. Seseorang yang awalnya membuka telepon pintar untuk mencari materi kuliah sering kali berakhir menonton video pendek selama beberapa puluh menit tanpa disadari (Arness &amp; Ollis, 2023). Akibatnya, waktu belajar menjadi berkurang dan konsentrasi lebih mudah terganggu.</p>
<p>Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Mauliddiana dan rekan-rekannya yang menunjukkan bahwa konsumsi short-form content memiliki hubungan dengan menurunnya rentang perhatian mahasiswa (Mauliddiana et al., 2025). Mahasiswa yang lebih sering menghabiskan waktu menonton video pendek cenderung lebih mudah kehilangan fokus ketika mengikuti perkuliahan atau membaca materi yang panjang. Kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang lebih cepat merasa bosan apabila tidak memperoleh rangsangan baru dalam waktu singkat.</p>
<p>Meskipun demikian, fenomena brain rot bukan berarti masyarakat harus berhenti menggunakan media sosial. Teknologi tetap memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara seimbang. Pengguna dapat membatasi waktu bermain media sosial setiap hari, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengurangi kebiasaan membuka aplikasi ketika sedang belajar. Aktivitas seperti membaca buku, berolahraga, atau berbincang secara langsung dengan keluarga dan teman juga dapat membantu menjaga kemampuan berkonsentrasi (Moshel et al., 2024). Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola penggunaan teknologi yang lebih sehat.</p>
<p>Fenomena brain rot menunjukkan bahwa penggunaan video pendek secara berlebihan dapat memberikan dampak terhadap kemampuan kognitif seseorang. Beberapa dampak yang paling sering ditemukan meliputi:</p>
<p>1)menurunnya kemampuan konsentrasi,<br />
2)menurunnya rentang perhatian saat belajar atau bekerja,<br />
3)meningkatnya kecenderungan untuk mudah terdistraksi oleh media sosial, dan<br />
4)berkurangnya kemampuan mengingat serta memproses informasi secara optimal</p>
<p>Dampak tersebut tidak terjadi secara instan, tetapi dapat berkembang seiring meningkatnya kebiasaan mengonsumsi konten digital singkat dalam waktu yang lama. Penggunaan media sosial pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari karena teknologi tetap memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian yang lebih besar perlu diberikan pada cara dan durasi penggunaannya agar tidak mengganggu proses belajar maupun aktivitas produktif lainnya. Pengaturan waktu penggunaan media sosial, mengurangi kebiasaan scrolling tanpa tujuan, serta memperbanyak aktivitas yang melatih fokus dapat membantu menjaga fungsi kognitif tetap optimal (Moshel et al., 2024). Kebiasaan digital yang sehat akan memungkinkan masyarakat memanfaatkan teknologi sebagai sarana informasi dan hiburan tanpa mengurangi kemampuan berpikir serta kesehatan mental dalam jangka panjang.</p>
<p><em><strong>Ditulis oleh Dewi Masitoh dari Universitas Binawan </strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Brain Rot, Ancaman Media Sosial Terhadap Kesehatan Otak Remaja</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/06/brain-rot-ancaman-media-sosial-terhadap-kesehatan-otak-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2025 06:06:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Brain Rot]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=88503</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Fenomena dari “Brain Rot” dinobatkan sebagai...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Fenomena dari “Brain Rot” dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024. Brain rot ini merujuk pada penurunan kognitif dan kelelahan mental yang dialami oleh individu, terutama pada remaja muda. Hal ini diakibatkan dari paparan konten viral yang berkualitas rendah, terutama di media sosial.</p>
<p>Di era digital, konten video pendek dengan sangat cepat mendapatkan popularitas di kalangan remaja, terutama melalui platform seperti TikTok dan Instagram Reels. Platform-platform ini menayangkan video yang sangat menarik dan didorong oleh algoritma yang dirancang untuk menangkap dan mempertahankan perhatian pengguna dalam hitungan detik. Meskipun format ini menyediakan hiburan dan ekspresi kreatif, kekhawatiran muncul mengenai potensi dampaknya terhadap kesejahteraan kognitif dan psikologis pengguna remaja di usia muda, terutama terkait dengan rentang perhatian dan kelebihan kognitif.</p>
<p>Istilah &#8220;brain rot,&#8221; sebuah frasa kolokial yang sering digunakan oleh remaja itu sendiri, telah mendapatkan perhatian untuk menggambarkan kelelahan mental atau kehilangan fokus yang terkait dengan menggulir yang berkepanjangan di platform semacam itu.</p>
<p>Tren terbaru ini menyebabkan masalah perhatian remaja yang sering menonton video pendek meningkat. Penggunaan algoritma berbasis penghargaan dan paparan terus-menerus mengakibatkan rangsangan yang berubah dengan cepat dapat menyebabkan impulsivitas yang meningkat, penurunan kemampuan berkonsentrasi, dan bahkan gejala yang mirip dengan ADHD.</p>
<p>Fenomena ini telah menimbulkan kekhawatiran publik dan menimbulkan pertanyaan penting tentang efek neurologis dan perilaku dari kebiasaan konsumsi media digital. Tidak banyak penelitian empiris yang mempelajari masalah ini dalam konteks pemuda Asia Tenggara, terutama di Indonesia, meskipun dampaknya luas.</p>
<p>TikTok, yang diluncurkan pada tahun 2016 oleh perusahaan asal China ByteDance, telah menarik jutaan pengguna dari berbagai usia, budaya, dan demografi. TikTok menawarkan pengalaman konten yang unik dimana pengguna dapat dengan mudah membuat video kreatif dengan berbagai filter, efek, dan musik yang tersedia; ini sebanding dengan banyak media sosial yang menawarkan video pendek.</p>
<p>Algoritma TikTok yang unik menimbulkan kekhawatiran karena memiliki dampak yang belum sepenuhnya dipahami pada fungsi kognitif otak dan perilaku penggunanya. Algoritma TikTok diduga memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku dan kondisi otak penggunanya, konkretnya penggunaan yang berlebih dapat mempengaruhi fungsi eksekutif dari otak.</p>
<p>Algoritma Tiktok berfokus pada pengguna, atau user-centered, akan memahami preferensi pengguna melalui rekomendasi tempat, hubungan sosial, dan rekomendasi overlay yang didasarkan pada lalu lintas konten. Selain itu, algoritma juga akan menyesuaikan konten yang dimunculkan berdasarkan keterlibatan pengguna pada konten sebelumnya, aktivitas yang mereka suka, komentar, dan membagikan video.</p>
<p>Algoritma Tiktok kemudian merekam dan mengedit aktivitas tersebut untuk menggunakannya untuk memberikan rekomendasi konten kepada pengguna. Adapun dampak dari negatif brain rot ini yaitu;</p>
<p>⦁ Penurunan rentang perhatian dan fokus: Karena konten TikTok didominasi oleh video pendek, otak Anda bekerja secara pasif dan sulit untuk fokus untuk waktu yang lama, terutama untuk tugas yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi.</p>
<p>⦁ Konsumsi konten instan dan repetitif di TikTok mengurangi kemampuan berpikir kritis dan mendalam. Akibatnya, otak menjadi terbiasa memproses data dengan cepat, yang membuatnya lebih sulit untuk melakukan analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan yang kompleks.</p>
<p>⦁ Pengguna yang kecanduan dan perilaku adiktif disebabkan oleh algoritma TikTok yang memicu dopamine loops, yang menyebabkan mereka terus mencari stimulasi baru, yang menyebabkan perilaku impulsif dan sulit untuk melepaskan diri dari aplikasi.</p>
<p>⦁ Kelelahan mental dan overload informasi: Paparan konten yang cepat dan beragam menyebabkan otak lelah memproses informasi dengan cepat. Ini terutama terjadi pada anak-anak dan remaja.</p>
<p>Dari beberapa dampak diatas kita bisa mengatasinya dengan beberapa solusi, berkut dibawah ini merupakan solusi untuk menangani dampak negatif dari brain rot;</p>
<p>⦁ Kurangi melihat konten instan.</p>
<p>Kurangi waktu yang dihabiskan di media sosial secara hati-hati dan pilihlah dengan bijak apa yang digunakan. Prioritas yang memberikan nilai tambah untuk pemahaman mendetail, seperti salinan ilmiah, buku-buku palsu, atau podcast edukatif yang dapat mendukung pengetahuan dan memberikan pelatihan dengan kemampuan berpikir yang penting. Mengurangi penggunaan video pendek dan cepat yang menyenangkan dapat membantu otak mencegah kelelahan berlebihan dan meningkatkan kualitas fokus.</p>
<p>⦁ Tingkatkan aktivitas yang melatih otak<br />
Luangkan waktu secara rutin untuk melakukan beberapa aktivitas yang menantang kemampuan otak kognitif kita, seperti membaca buku lebih mendalam, belajar bahasa asing untuk membantu memori ingatan, bermain permainan yang memiliki strategi untuk mengasah logika kita.<br />
⦁ Meningkatkan kesadaran diri dan meditasi</p>
<p>Dengan menggunakan teknik kesadaran penuh dan meditasi, melatih kesadaran penuh dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kemampuan otak untuk fokus pada satu hal pada satu waktu. Dengan melakukan latihan ini secara teratur, otak dapat mengelola rangsangan digital yang berlebihan dengan lebih baik dan mengurangi efek negatif overstimulasi, yang menghasilkan kejernihan berpikir dan kesejahteraan mental secara keseluruhan.</p>
<p>⦁ Menghabiskan waktu di dunia nyata</p>
<p>Untuk mengurangi rasa kesepian dan memperkuat hubungan sosial yang signifikan, ambil waktu untuk berinteraksi langsung dengan orang lain, baik bersama teman maupun keluarga. Melakukan aktivitas tanpa perangkat digital, seperti berjalan-jalan di lingkungan alam, memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari stimulasi digital yang terus-menerus. Ini dapat membantu pemulihan fokus dan kejernihan berpikir, serta meningkatkan kesehatan emosional.</p>
<p>Efek psikologis dari platform video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels semakin difokuskan oleh kemajuan dalam psikologi media dan ilmu saraf kognitif. Model pengiriman konten algoritmik digunakan oleh platform ini untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dengan memprioritaskan rangsangan cepat dan menarik perhatian. Berkurangnya rentang perhatian, memori kerja yang terganggu, dan penurunan ketekunan tugas adalah beberapa biaya kognitif yang dapat muncul dari lingkungan digital ini, menurut penelitian terbaru. Video pendek mendorong perilaku konsumsi pasif dan tidak membutuhkan banyak pemrosesan kognitif dibandingkan dengan konten panjang konvensional.</p>
<p>(Kemala Deswita Irawan –Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Islam Atasi Fenomena Brain Rot</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/01/islam-atasi-fenomena-brain-rot/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jan 2025 05:02:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Brain Rot]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=82438</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok (KMM)]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok (KMM)</strong></em></p>
<p>Belakangan ini muncul istilah fenomena brain rot. Brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif dan kesehatan mental yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap konten digital yang tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Pada dasarnya, brain rot adalah keadaan di mana otak kita menjadi &#8220;tumpul&#8221; atau &#8220;berkarat&#8221; akibat konsumsi informasi yang berlebihan dan tidak terfilter. Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam memproses informasi, mengurangi kreativitas, dan menurunkan kemampuan berpikir kritis (Liputan6.com, 28/7/24).</p>
<p>Brain rot bukanlah keadaan sebenarnya pembusukan otak namun istilah ketika otak sudah memiliki penurunan fungsi kognitif. Hal ini bisa disebabkan ketika terus menerus melakukan scrolling konten receh dan tidak bermanfaat. Konten video-video pendek seperti hiburan di TikTok. Dan algoritma sosial media terus menawarkan video serupa yang kita tonton, sehingga bila sudah kecanduan video-video pendek receh yang tidak ada manfaatnya maka sosial media akan terus menerus menawarkan lagi video serupa. Akhirnya pengguna akan masuk ke dalam kebiasaan scrolling yang lama kelamaan membuat otak brain rot.</p>
<p>Brain rot lebih berisiko pada generasi Z dan generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang sudah dekat dengan gadget sejak lahir. Berbeda dengan generasi milenial yang pernah mengalami masa-masa mudanya tanpa gadget dan menghabiskan interaksi sosialnya di dunia nyata. Zaman dulu generasi milenial untuk bisa menikmati hiburan dalam layar (televisi) harus bersabar menunggu jadwal tayang.</p>
<p>Namun pada gen Z dan gen Alpha mereka sudah terbiasa instan, ingin hiburan apa tinggal cari di YouTube dan sosial media. Bila tidak suka, mereka tinggal skip videonya. Kemajuan teknologi seperti ini secara tidak sadar membentuk karakter generasi. Gen Z dan gen Alpha cenderung menghindari masalah dibanding menyelesaikan masalah. Karena mereka tidak terbiasa dengan yang namanya proses. Gawai sudah amat sangat memanjakan kehidupan mereka. Sehingga kesabaran mereka melemah.</p>
<p>Di kalangan mahasiswa pun begitu, dosen memberikan tugas yang sudah ia berikan seperti itu dari zaman sebelumnya, tapi dirasa berat oleh generasi Z. Padahal mahasiswa zaman dulu berupaya keras menyelesaikan, namun generasi Z cenderung merasa tugas-tugas sangat berat dan ingin melewatkannya. Pun di kalangan pekerjaan, gen Z dinilai memiliki kesabaran setipis tisu, dimarahi atasan langsung ingin resign, berbeda mentalnya dengan gen Milenial.</p>
<p>Memahami karakteristik gen Z amat penting. Karena mereka akan menjadi pemimpin di masa depan. Seharusnya hal ini menjadi perhatian pemerintah. Bagaimana pemerintah mampu menjaga kesehatan mental, produktivitas dan kreativitas anak-anak muda pemimpin calon masa depan. Yang terjadi saat ini kebanyakan generasi muda kita lebih lama menatap layar. Dan bisa diperhatikan bagaimana kualitas pendidikan saat ini, apakah semakin maju. Bagaimana tren tontonan generasi muda saat ini apakah tontonan yang berkualitas, bermanfaat, menginspirasi, menambah kedekatan diri kepada Allah atau hanya tontonan viral yang sarat makna dan manfaat?</p>
<p>Karena tontonan atau kesukaan akan menggambarkan pola pikir dan sikap yang akan terbentuk pada diri seseorang. Generasi muda yang berkualitas terbentuk dari kebiasaan baik, sehingga baik pula outputnya. Tapi bila yang dikonsumsi adalah tontonan receh yang tidak ada tuntutan maka akan seperti itu pula lah hasilnya.</p>
<p>Bisa kita lihat, saat ini mengapa banyak kejahatan kekerasan, kejahatan seksualitas, pelaku judol, pinjol di kalangan pemuda. Itu semua salah satu pemicunya karena rangsangan tayangan yang masuk terus ke alam bawah sadar. Generasi muda saat ini juga sudah tidak peduli dengan keadaan umat dan agamanya. Sangat sedikit gen Z yang melek politik, kebanyakan abai dan merasa bukan urusannya. Karena terlalaikan oleh hiburan dalam gawainya. Padahal kelak mereka adalah calon-calon pemimpin negeri ini.</p>
<p>Berbeda dengan sistem dalam Islam, pemuda adalah barisan terdepan perjuangan. Bahkan berada dalam tinta emas sejarah dakwah Islam. Barisan pengikut Rasulullah SAW yang pertama beriman didominasi oleh anak dan remaja. Dengan gigih dan kokohnya akidah membela agama Allah.</p>
<p>Kecerdasannya tidak diragukan lagi, hafal Qur’an, hadits, ilmu fiqih dan ilmu kehidupan. Mereka tidak mengalami brain rot karena tidak ada kesempatan yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Karena pemikiran mereka disibukkan hanya untuk kemuliaan Islam dan dakwah saja. Justru dengan senantiasa otak mereka disibukkan dalam dakwah, Allah jaga fungsinya.</p>
<p>Betapa banyak lahir ilmuan Islam sehingga ilmunya bisa kita pakai sampai sekarang. Betapa cerdasnya sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam fiqihnya, kecerdasan Ibnu Abbas yang menjadi Ahli tafsir Al-Qur&#8217;an, Periwayat hadis, Penasehat Khalifah dan dihormati karena luasnya pengetahuan dan ahli dalam ilmu fikih.</p>
<p>Negara dalam Islam sangat memperhatikan generasi pemuda, karena merekalah tonggak peradaban kelak. Maka negara sangat menjaga dari masuknya paham-paham atau pemikiran yang akan merusak generasi. Islam akan menjaga pemikiran dan kebiasaan generasi muda dalam kejernihannya agar tetap dalam ketaatan. Sehingga umat dan negara bersinergi untuk sama-sama bisa mewujudkan ridha Allah. Hanya Islamlah solusi sempurna yang mampu atasi fenomena brain rot.[]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
