<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anemia &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/anemia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jan 2026 04:32:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>anemia &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengapa Pemahaman Ibu Menjadi Kunci Utama Melawan Anemia di Masa Kehamilan?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/01/mengapa-pemahaman-ibu-menjadi-kunci-utama-melawan-anemia-di-masa-kehamilan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2026 04:32:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[ibu hamil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=96757</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Virsya Aphroditha Dwiputri, Prodi Universitas Gizi Binawan ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh Virsya Aphroditha Dwiputri,</em> Prodi Universitas Gizi Binawan </strong></p>
<p>Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menunjukkan statistik yang mengkhawatirkan, di mana perdarahan pasca-persalinan yang dipicu oleh kondisi anemia defisiensi besi menjadi salah satu faktor risiko utama yang mendominasi. Anemia pada masa kehamilan bukan sekadar masalah klinis, melainkan fenomena kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pemahaman ibu terhadap kesehatan dirinya sendiri. Pengetahuan berfungsi sebagai pemicu utama bagi perubahan perilaku; tanpa pemahaman yang memadai mengenai bahaya, gejala, dan langkah preventif anemia, intervensi medis seperti pemberian suplemen zat besi sering kali tidak mencapai hasil yang optimal. Penelitian ini secara spesifik menyoroti bagaimana kesadaran kognitif seorang ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Moyudan, Sleman, memiliki korelasi langsung terhadap risiko terjadinya penurunan kadar hemoglobin di bawah ambang batas normal 11 gr% (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013). Secara metodologis, studi ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional untuk membedah dinamika antara variabel pengetahuan dan kejadian anemia. Hasil analisis data menunjukkan fakta bahwa mayoritas responden (64,3%) berada dalam kondisi anemia, dengan sebaran tingkat pengetahuan yang terbagi rata antara kategori baik dan kurang. Temuan statistik melalui uji Chi-Square mengkonfirmasi adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil, dengan nilai p-value sebesar 0,000 dan kekuatan korelasi pada tingkat sedang.. Selain faktor pengetahuan, variabel demografi seperti usia reproduksi yang tidak sehat (di atas 35 tahun) dan tingkat pendidikan dasar ditemukan berkontribusi terhadap tingginya prevalensi anemia, mengingat kemampuan absorpsi zat besi yang menurun pada usia tua serta keterbatasan daya pikir analitis pada tingkat pendidikan yang lebih rendah Implikasi dari penelitian ini menekankan bahwa penanggulangan anemia tidak dapat hanya mengandalkan distribusi tablet tambah darah secara masif, melainkan harus dibarengi dengan strategi edukasi yang tersegmentasi. Tenaga kesehatan dan ahli gizi perlu merancang program penyuluhan yang adaptif terhadap latar belakang pendidikan dan pekerjaan ibu guna memperbaiki pola konsumsi dan kepatuhan dalam manajemen nutrisi selama kehamilan.</p>
<p><strong>Anemia sebagai Ancaman Laten Maternal</strong></p>
<p>Belakangan ini, isu kesehatan sering diperbincangkan oleh banyak kalangan, salah satunya kesehatan bagi ibu hamil. Anemia defisiensi besi sering disebut sebagai &#8220;pencuri tersembunyi&#8221; dalam kehamilan. Di Indonesia, angka kematian ibu (AKI) yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup menjadi alarm keras bagi dunia kesehatan (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013). Salah satu faktor risiko paling dominan di balik angka tersebut adalah anemia, sebuah kondisi yang sering kali bisa dicegah jika sang ibu memiliki bekal pengetahuan yang memadai.</p>
<p>Salah satu determinan utama dibalik tingginya angka mortalitas tersebut adalah anemia kehamilan. Kondisi ini secara fisiologis terjadi akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan zat besi yang meningkat tajam demi pertumbuhan janin dan volume darah ibu, dengan asupan yang masuk ke dalam tubuh. Namun, poin krusial yang sering terlewatkan adalah bahwa anemia sejatinya merupakan kondisi yang sangat mungkin untuk dicegah (preventable). Pencegahan ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas medis, tetapi sangat tergantung pada sejauh mana ibu hamil memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk menjaga stabilitas kesehatan dirinya dan janinnya.</p>
<p><strong>Realita di Lapangan: Mengapa Kasus Masih Tinggi?</strong></p>
<p>Penelitian mendalam yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Moyudan, Kabupaten Sleman, menyajikan fakta lapangan yang sangat mengkhawatirkan sekaligus membuka mata. Hasil skrining menunjukkan bahwa sebanyak 64,3% responden terdeteksi positif mengalami anemia, dengan parameter kadar hemoglobin (Hb) berada di bawah standar minimal medis yaitu 11 gr% (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013). Tingginya angka prevalensi ini di sebuah wilayah yang secara geografis memiliki akses kesehatan yang relatif baik menunjukkan adanya mata rantai yang terputus dalam manajemen kesehatan mandiri oleh ibu hamil.</p>
<p>Munculnya angka 64,3% ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan representasi dari risiko komplikasi serius yang mengancam saat proses persalinan, seperti perdarahan hebat yang sulit terkendali. Secara sistematis, penyebab anemia bersifat multifaktorial. Faktor langsung yang lazim diketahui adalah malnutrisi kronis, kurangnya asupan makanan kaya zat besi, malabsorpsi pada saluran pencernaan, hingga beban infeksi penyakit seperti kecacingan atau malaria. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa faktor tidak langsung—yaitu tingkat pengetahuan ibu—memegang peranan sebagai &#8220;kemudi utama&#8221; dalam menentukan status gizi. Tanpa literasi kesehatan yang baik, segala bentuk intervensi medis, termasuk program pembagian tablet tambah darah dari pemerintah, sering kali menjadi sia-sia karena perilaku konsumsi yang keliru di tingkat rumah tangga.</p>
<p><strong>Pengetahuan sebagai Penentu Perilaku Sehat</strong></p>
<p>​ Melalui pendekatan analitik menggunakan uji statistik Chi-Square, riset ini memberikan pembuktian empiris bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pengetahuan yang dimiliki ibu dengan kejadian anemia yang dialaminya (p-value 0,000 &lt; 0,05). Dalam skala pengukuran hubungan, koefisien kontingensi berada pada angka 0,480. Angka ini menandakan bahwa kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut masuk dalam kategori sedang dan konsisten (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013).</p>
<p>​Mengapa pengetahuan memiliki dampak yang begitu masif terhadap kondisi biologis ibu hamil? Terdapat tiga pilar utama yang menjelaskan fenomena ini:</p>
<p>​Identifikasi Gejala Dini: Ibu hamil dengan tingkat literasi yang baik mampu melakukan deteksi mandiri. Mereka tidak akan mengabaikan rasa cepat lelah, pusing yang berulang, atau wajah yang memucat sebagai &#8220;hal biasa&#8221;. Respon cepat berupa pemeriksaan medis segera dapat mencegah kondisi anemia jatuh ke tahap berat yang mengancam nyawa.</p>
<p>​Mekanisme Efektivitas Penyerapan Nutrisi: Pengetahuan memberikan pemahaman tentang interaksi zat gizi. Banyak ibu hamil yang mengkonsumsi tablet zat besi tetapi tidak mendapatkan manfaatnya karena mereka meminumnya bersamaan dengan kopi atau teh. Kandungan tanin pada teh dan kafein pada kopi terbukti secara ilmiah mengikat zat besi dalam saluran pencernaan, sehingga zat besi tersebut terbuang melalui ekskresi dan tidak pernah diserap oleh darah (Tarwoto &amp; Wasnidar, 2007).</p>
<p>​Kreativitas Pemenuhan Gizi: Ibu hamil yang cerdas mampu menyiasati keterbatasan ekonomi. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka tahu bahwa sumber zat besi tidak harus berasal dari daging merah yang mahal. Mereka dapat memanfaatkan protein nabati seperti tempe atau kacang-kacangan, asalkan dikombinasikan dengan sumber Vitamin C (seperti jeruk) untuk melipatgandakan daya serap zat besi dalam tubuh.</p>
<p><strong>Dilema Usia dan Jenjang Pendidikan</strong></p>
<p>​ Aspek sosiodemografi memberikan dimensi tambahan dalam memahami kerentanan ibu hamil. Data penelitian menunjukkan disparitas yang tajam berdasarkan tingkat pendidikan: ibu hamil dengan latar belakang pendidikan dasar (SD/SMP) memiliki prevalensi anemia yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 90%, jika dibandingkan dengan ibu berpendidikan tinggi yang hanya berada di angka 33,3% (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pendidikan formal berkorelasi positif dengan kemampuan seseorang dalam menyaring, memproses, dan mengaplikasikan informasi kesehatan secara logis. ​Selain pendidikan, faktor biologis terkait usia reproduksi menjadi variabel kritis. Studi ini menemukan fenomena ekstrem di mana 100% ibu yang hamil di atas usia 35 tahun mengalami anemia. Secara fisiologis, hal ini dapat dijelaskan melalui penurunan efisiensi fungsi organ reproduksi dan melemahnya mukosa usus halus dalam mengabsorpsi zat besi secara optimal (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013). Kondisi ini diperparah jika ibu tersebut sudah memiliki riwayat kehamilan berulang (paritas tinggi) yang telah menguras cadangan zat besi dalam tubuhnya selama bertahun-tahun.</p>
<p><strong>Dampak Jangka Panjang: Ancaman bagi Generasi Mendatang</strong></p>
<p>​Dampak anemia tidak berhenti pada risiko kesehatan ibu semata, melainkan merambat pada kualitas hidup janin. Janin yang tumbuh dalam lingkungan rahim yang hipoksia (kekurangan oksigen) akibat rendahnya hemoglobin ibu akan mengalami gangguan vaskularisasi plasenta. Hal ini berisiko tinggi menyebabkan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kelahiran prematur, hingga keterlambatan perkembangan kognitif. Dalam jangka panjang, anak yang lahir dari ibu anemia memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap stunting (kerdil) dan penurunan daya saing intelektual di masa depan. Oleh karena itu, memerangi anemia adalah langkah fundamental dalam memutus rantai kemiskinan dan membangun kualitas sumber daya manusia nasional.</p>
<p><strong>Solusi dan Strategi Kedepan</strong></p>
<p>​Berdasarkan temuan yang komprehensif ini, diperlukan transformasi dalam strategi penanganan anemia melalui pendekatan lintas sektor:</p>
<p>​Penyuluhan Berbasis Karakteristik: Tenaga kesehatan harus membedakan metode penyampaian informasi antara ibu berpendidikan tinggi dan dasar agar pesan lebih mudah dicerna.<br />
​Optimasi Peran Ahli Gizi: Ahli gizi perlu memberikan panduan praktis penyusunan menu harian yang kaya zat besi dengan memanfaatkan pangan lokal yang terjangkau.<br />
​Dukungan Keluarga: Mengingat ibu yang bekerja memiliki risiko anemia yang lebih tinggi (76,5%), dukungan suami dan lingkungan kerja dalam memastikan waktu istirahat serta asupan nutrisi menjadi sangat vital (Purbadewi &amp; Ulvie, 2013).</p>
<p>Kesimpulan<br />
​Pengetahuan bukan sekadar tumpukan informasi, melainkan senjata utama bagi ibu hamil dalam memenangkan pertempuran melawan anemia. Dengan memahami mekanisme penyakit, cara pencegahan, dan konsisten dalam menerapkan perilaku kesehatan yang positif, risiko komplikasi persalinan dapat ditekan seminimal mungkin. Investasi terbaik dalam kehamilan bukanlah fasilitas mewah, melainkan pemahaman yang mendalam tentang kesehatan diri demi masa depan buah hati. Dengan memahami apa itu anemia, bagaimana cara mencegahnya, dan konsisten dalam perilaku kesehatan yang positif, risiko komplikasi selama kehamilan dapat diminimalisir secara signifikan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://stunting.go.id/wp-content/uploads/2021/07/Anemia_Image-post.png" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Anak Zaman Sekarang Rentan Anemia?</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/01/kenapa-anak-zaman-sekarang-rentan-anemia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2026 07:11:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=96666</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Elisabeth Maranatha Sitorus, mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Binawan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Elisabeth Maranatha Sitorus, mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Binawan</strong></em></p>
<p>Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari jumlah normal, sehingga darah tidak mampu mengantarkan oksigen secara optimal ke seluruh tubuh. Anemia bukan hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi anak-anak juga sangat rentan terhadap kondisi ini. Di banyak negara termasuk Indonesia, banyak anak yang mengalami anemia sejak usia dini. Menurut World Health Organization (WHO) ada sekitar 269 juta anak berusia 6-59 bulan di seluruh dunia mengalami anemia (WHO, 2025).</p>
<p>Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam siklus kehidupan manusia karena pada fase ini terjadi pertumbuhan fisik dan perkembangan tubuh yang sangat cepat. Apabila pada masa ini anak mengalami anemia, dampaknya dapat berlangsung hingga jangka panjang, seperti menurunnya daya tahan tubuh, sulit berkonsentrasi saat belajar, dan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan pada anak.</p>
<p>Penyebab paling umum anemia pada anak adalah kekurangan zat besi. Zat besi adalah mineral penting dalam pembentukan hemoglobin yang berfungsi mengangkat oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Pada saat anak berada dalam masa petumbuhan pesat, terutama pada usia balita dan masa pubertas, kebutuhan zat meningkat. Risiko anemia akan meningkat jika asupan makanan tidak tercukupi atau kurangnya mengkonsumsi makanan kaya akan zat besi seperti daging merah, hati, kacang-kacangan, dan sayuran hijau (Kusumastuti, 2025). Apabila asupan zat besi tidak memadai, pembentukan sel darah merah akan terhambat dan mengakibatkan anemia defisiensi zat besi (Almatsier, 2019)</p>
<p>Di era modern, pola makan anak mengalami perubahan yang signifikan. Banyak anak lebih menyukai makanan cepat saji, makanan instan, dan jajanan tinggi gula dibandingkan dengan makanan bergizi seimbang. Makanan ini biasanya memiliki kandungan rendah nutrisi mikro seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang sangat penting dalam proses pembentukan sel darh merah. Mengonsumsi makanan yang tidak seimbang dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kurangnya nutrisi dan memicu peluang anemia (Kementerian Kesehatan RI, 2025)</p>
<p>Selain itu, minimnya pengetahuan gizi pada anak dan keluarga juga menjadi factor pendukung terjadinya anemia. Pengetahuan gizi yang kurang dapat memengaruhi pemilihan makanan sehari-hari. Anak yang tidak biasa mengonsumsi makanan sumber zat besi, seperti daging merah, hati, ikan, telur, dan kacang-kacangan, serta sayuran hijau, cenderung memiliki risiko terkena anemia (Notoatmodjo, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa status gizi anak tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh pemahaman tentang gizi.</p>
<p>Oleh karena itu, pencegahan anemia pada anak perlu dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan konsumsi makanan bergizi seimbang, edukasi gizi sejak dini, serta keterlibatan keluarga di sekolah. Dengan perbaikan pola makan dan peningkatan pengetahuan gizi, diharapkan angka kejadian anemia pada anak dapat menurun dan kesehatan generasi muda dapat meningkat.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2022/09/23/ilustrasi-anemia.jpeg?w=1200" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Kondisi Gizi dan Konsumsi Zat Besi sebagai Faktor Penyebab Anemia pada Siswa Sekolah Menengah Pertama</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/01/analisis-kondisi-faktor-penyebab-anemia-pada-siswa-sekolah-menengah-pertama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2026 08:35:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[IMT/U]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[status gizi]]></category>
		<category><![CDATA[zat besi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=96172</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Nabila Syuraifa Hannan Program Studi Gizi Fakultas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh Nabila Syuraifa Hannan</strong></em><br />
<em><strong>Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi University Binawan</strong></em></p>
<p>Latar Belakang: Anemia adalah masalah kesehatan dan gizi yang sering terjadi pada remaja, terutama remaja perempuan. Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh lebih mudah sakit, mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, serta membuat prestasi belajar menurun. Anemia pada remaja biasanya disebabkan oleh kurangnya zat besi, pola makan yang tidak seimbang, maupun faktor-faktor fisiologis seperti menstruasi.</p>
<p>Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kejadian anemia pada remaja usia 12 sampai 14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang.</p>
<p>Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka yang dilakukan di SMP Negeri 9 Semarang. Populasi penelitian adalah seluruh siswa yang berusia 12 sampai 14 tahun. Status gizi ditentukan berdasarkan pengukuran indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan. Kejadian anemia ditentukan dari kadar hemoglobin, di mana kondisi anemia terjadi apabila kadar hemoglobin kurang dari 12 gram per desiliter.</p>
<p>Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara status gizi dan kejadian anemia. Namun, ditemukan hubungan antara asupan zat besi dengan kejadian anemia, di mana sebagian besar responden memiliki asupan zat besi di bawah kebutuhan harian.</p>
<p>Kesimpulan: Kejadian anemia pada remaja usia 12 sampai 14 tahun masih cukup tinggi, dan tidak berhubungan secara signifikan dengan status gizi berdasarkan IMT/U. Anemia pada remaja lebih dipengaruhi oleh kecukupan zat gizi mikro, khususnya zat besi.<br />
Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada peningkatan asupan zat besi serta edukasi gizi seimbang, terutama bagi remaja perempuan.</p>
<p>Anemia adalah kondisi di mana jumlah dan ukuran sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal yang telah ditetapkan. Anemia menjadi indikator dari masalah gizi dan kesehatan yang kurang optimal. Fenomena ini di kalangan remaja dapat menghasilkan efek yang serius, dan sebagian besar disebabkan oleh defisiensi zat besi yang berkaitan erat dengan tingkat keparahan anemia tersebut. Anemia dapat menyebabkan penurunan kekebalan tubuh terhadap infeksi, kendala dalam pertumbuhan fisik serta perkembangan mental, dan juga mengurangi kondisi fisik, produktivitas, dan hasil belajar.</p>
<p>Anemia pada remaja perempuan dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia saat hamil. Hal ini akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya berbagai komplikasi selama kehamilan dan proses persalinan. Faktor penyebab anemia pada remaja di antara lain adalah pola makan yang buruk, termasuk rendahnya asupan zat besi, asam folat, dan vitamin C, serta kondisi fisiologis menstruasi yang dialami pada masa remaja. Satu strategi pencegahan anemia pada remaja bertujuan untuk menginformasikan para remaja mengenai kebutuhan energi dan gizi mereka secara spesifik, termasuk zat besi, serta manfaat menjalankan pola hidup dan diet yang lebih sehat (Kusuma and Gizi).</p>
<p>Remaja perempuan memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan anemia akibat kebutuhan nutrisi yang terkait dengan pertumbuhan yang cepat, kehilangan darah selama menstruasi, serta kurangnya asupan zat gizi dan zat besi yang memadai. Menurut panduan WHO, anemia pada anak diartikan sebagai ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal yaitu kurang dari 12 gram per desiliter. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kadar oksigen di dalam jaringan atau merupakan kondisi medis yang ditandai dengan rendahnya jumlah sel darah merah sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh secaraoptimal.</p>
<p>Penyebab anemia bervariasi dan dapat meliputi defisiensi zat gizi seperti vitamin A, vitamin B12, asam folat, dan zat besi, serta peradangan yang berkepanjangan, infeksi parasit, dan juga kondisi bawaan sejak lahir. Anemia memiliki penyebab yang kompleks dan multifaktorial. Berbagai faktor biologis termasuk pola makan dan pertumbuhan fisik jelas terlibat dalam perkembangan anemia. Proses fisiologis (seperti kehamilan, siklus menstruasi, menyusui), gender, usia, dan etnisitas.</p>
<p>Anemia muncul akibat beberapa faktor, termasuk kekurangan nutrisi (zat besi, asam folat, vitamin B12, serta protein), perdarahan, dan hemolisis. Anemia juga berhubungan dengan kelompok tertentu seperti atlet, anak-anak, perempuan hamil, lanjut usia, dan individu dengan kondisi medis yang memengaruhi kadar zat besi (Rika Ariana).</p>
<p>Usia antara 12 hingga 14 tahun merupakan fase transisi dari remaja awal menuju remaja akhir, di mana individu berusaha menemukan jati diri mereka dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Kecemasan terkait dengan penampilan fisik mendorong remaja untuk menghindari makanan atau lebih memilih makan di luar.</p>
<p>Kebiasaan ini berpotensi menyebabkan remaja menghadapi masalah kekurangan pangan yang berdampak pada rendahnya asupan gizi dan meningkatkan risiko kesehatan, seperti anemia. Menurut Riskesdas 2007, terdapat prevalensi anemia di kalangan remaja berusia ≤14 tahun di Indonesia sebesar 12,8%. Dengan latar belakang tersebut, peneliti berkeinginan untuk mengeksplorasi hubungan antara status gizi dan insiden anemia pada remaja berusia 12 hingga 14 tahun. Penelitian ini direncanakan dilaksanakan di SMP Negeri 9 Semarang, mengingat sebelumnya belum ada penelitian serupa, sehingga dapat dijadikan referensi untuk studi lebih lanjut mengenai anemia (Nurazizah et al.).</p>
<p>Penelitian ini menggunakan literatur review , yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan kejadian anemia pada remaja usia 12–14 tahun. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 9 Semarang. Populasi penelitian adalah seluruh siswa remaja berusia 12–14 tahun, dengan sampel yang dipilih menggunakan teknik sampling tertentu (misalnya purposive atau random sampling) sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Data status gizi diperoleh melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) yang kemudian dihitung indeks massa tubuh (IMT) sesuai standar usia. Kejadian anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin, yang diukur menggunakan alat pemeriksaan Hb, dengan kriteria anemia apabila kadar hemoglobin &lt;12 g/dL sesuai standar WHO. Data pendukung seperti pola makan, asupan zat besi, dan faktor menstruasi dikumpulkan melalui kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan bivariat untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan kejadian anemia menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian remaja berusia 12–14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang mengalami anemia, dengan kejadian yang lebih tinggi pada remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki. Remaja dengan status gizi kurang ditemukan memiliki proporsi anemia yang lebih besar dibandingkan dengan remaja yang memiliki status gizi normal.</p>
<p>Analisis hubungan menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dan kejadian anemia, di mana status gizi yang kurang meningkatkan risiko terjadinya anemia pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa status gizi berperan penting dalam kejadian anemia pada remaja. Pada masa pertumbuhan yang cepat, kebutuhan energi dan zat gizi, terutama zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein, meningkat secara signifikan. Apabila asupan zat gizi tersebut tidak mencukupi, maka proses pembentukan hemoglobin dan sel darah merah akan terganggu, sehingga meningkatkan risiko anemia. Kondisi ini diperparah pada remaja perempuan yang mengalami kehilangan darah selama menstruasi, sehingga kebutuhan zat besi menjadi lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki. Selain faktor biologis, faktor perilaku turut memengaruhi status gizi dan kejadian anemia. Remaja usia 12–14 tahun cenderung memperhatikan penampilan fisik dan sering membatasi konsumsi makanan atau memilih makanan siap saji yang rendah nilai gizi. Pola makan yang tidak seimbang ini dapat menyebabkan rendahnya asupan zat besi dan zat gizi pendukung lainnya, seperti vitamin C, yang berperan dalam penyerapan zat besi. Temuan ini sejalan dengan data Riskesdas yang menunjukkan masih tingginya prevalensi anemia pada remaja di Indonesia. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa anemia pada remaja bersifat multifaktorial, namun status gizi merupakan faktor yang memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko anemia. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang berfokus pada perbaikan status gizi melalui edukasi gizi seimbang, peningkatan konsumsi makanan sumber zat besi, serta penerapan pola hidup sehat. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah dan tenaga kesehatan dalam merancang program pencegahan anemia pada remaja secara berkelanjutan. Status gizi adalah kondisi tubuh yang terjadi karena konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi, atau kondisi fisiologis akibat ketersediaan zat gizi dalam tubuh. Dalam penelitian ini, sebagian besar subjek memiliki status gizi sangat kurus 1 orang (1,1%), kurus 3 orang (3,3%), normal 66 orang (73,3%), overweight 14 orang (15,6%), dan obesitas sebanyak 6 orang (6,7%). Beberapa faktor yang menyebabkan masalah gizi pada usia remaja seperti kebiasaan makan yang tidak sehat, pemahaman tentang gizi yang salah, di mana tubuh yang langsing menjadi idaman remaja sehingga kebutuhan gizi tidak terpenuhi, serta kesukaan terhadap makanan tertentu seperti makanan cepat saji (fast food). Berdasarkan hasil uji statistik, tidak ada hubungan bermakna antara status gizi dengan kejadian anemia (p &gt; 0,05).</p>
<p>Hal ini disebabkan karena sebagian besar subjek termasuk dalam kategori status gizi normal. Status gizi berdasarkan indikator IMT/U lebih dipengaruhi oleh asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, lemak, dan protein.</p>
<p>Karbohidrat, lemak, dan protein merupakan sumber energi terbesar bagi tubuh. Asupan energi yang kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan penurunan status gizi. Jika asupan energi seimbang, maka dapat membantu menjaga status gizi normal. Namun, jika asupan energi berlebihan atau terjadi penurunan pengeluaran energi, berpotensi menyebabkan kegemukan. Asupan zat gizi mikro tidak mempengaruhi status gizi berdasarkan IMT/U karena memiliki kandungan energi yang sedikit. Jika terjadi kekurangan, biasanya sudah terjadi dalam jangka waktu yang lama. Dalam penelitian ini, asupan zat gizi mikro seperti vitamin C, vitamin B12, dan folat pada subjek sudah cukup baik. Hasil ini bertentangan dengan penelitian di Poliwali Mandar yang menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi dan terjadinya anemia pada remaja putri.</p>
<p>Semakin banyak remaja yang memiliki status gizi kurang, maka semakin tinggi jumlah remaja putri yang mengalami anemia. Status gizi pada remaja di Indonesia mencakup kurangnya asupan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta kurangnya zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Jika status gizi tidak normal, maka dikhawatirkan status zat besi juga tidak baik, sehingga dapat menyebabkan anemia.<br />
Anemia adalah kondisi di mana jumlah hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal, sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya membawa oksigen cukup ke jaringan tubuh.</p>
<p>Nilai batas normal kadar hemoglobin untuk remaja putri adalah kurang dari 12 gram per desiliter. Jumlah siswi yang mengalami anemia adalah 24 orang atau 26,7%. Anemia dapat terjadi karena gangguan pembentukan sel darah merah oleh sumsum tulang, kehilangan darah dari tubuh (perdarahan), penghancuran sel darah merah terlalu dini dalam tubuh (hemolisis), serta kurangnya asupan zat besi, vitamin C, vitamin B12, dan folat. Dari hasil uji regresi logistik diketahui bahwa ada hubungan antara asupan zat besi dengan anemia. Dilihat dari asupan zat besi, sebanyak 63,3% subyek termasuk dalam kategori kurang dari kebutuhan, yaitu 20 mg untuk usia 10-12 tahun dan 26 mg untuk usia 13-15 tahun. Hal ini terjadi karena siswi memiliki kebiasaan kurang mengkonsumsi makanan sumber zat besi yang mudah diserap (heme iron) seperti daging, ikan, dan unggas. Siswi lebih banyak mengkonsumsi makanan sumber zat besi non heme seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan.</p>
<p>Zat besi adalah komponen penting dalam hemoglobin.<br />
Hemoglobin mengandung besi yang disebut hem dan protein globulin. Setiap molekul hemoglobin mengikat oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.</p>
<p>Pada remaja putri, kebutuhan akan besi yang tinggi terutama disebabkan oleh kehilangan zat besi selama menstruasi.<br />
Beberapa faktor penyebab kurangnya konsumsi zat besi pada remaja adalah ketersediaan pangan, kurangnya pengetahuan, dan kebiasaan makan yang salah.</p>
<p>Asupan protein subyek tergolong dalam kategori cukup.<br />
Asupan protein sebanyak 96,7% subyek mengkonsumsi ≥50 gram untuk usia 10-12 tahun dan ≥57 gram untuk usia 13-15 tahun.</p>
<p>Protein berperan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh.<br />
Kurangnya asupan protein akan Menghambat transportasi zat besi dapat menyebabkan kekurangan zat besi. Penyerapan zat besi yang terjadi di usus halus didukung oleh protein pengangkut yaitu transferin dan feritin. Transferin membawa zat besi dalam bentuk ferro yang berfungsi mengangkut zat besi ke sumsum tulang untuk membentuk hemoglobin. Asupan vitamin C, vitamin B12, dan folat pada subyek juga cukup. Asupan vitamin C mencapai 95,6% subyek yang mengonsumsi ≥50 mg bagi usia 10-12 tahun dan ≥65 mg bagi usia 13-15 tahun. Sumber vitamin C yang sering dikonsumsi siswi antara lain jeruk, apel, mangga, dan pisang. Vitamin C berperan meningkatkan penyerapan zat besi. Asupan vitamin B12 mencapai 81,1% subyek yang mengonsumsi ≥1,8 µg untuk usia 10-12 tahun dan ≥2,4 µg untuk usia 13-15 tahun. Sumber vitamin B12 yang sering dikonsumsi subyek adalah telur dan susu. Asupan folat mencapai 53,3% subyek yang mengonsumsi ≥300 µg untuk usia 10-12 tahun dan ≥400 µg untuk usia 13-15 tahun. Sumber folat yang sering dikonsumsi subyek seperti sayur bayam, hati, buah, dan kacang, termasuk dalam kategori cukup. Vitamin B12 dan asam folat penting untuk sintesis DNA. Jika salah satu vitamin ini kurang, dapat mengganggu regenerasi sel dan menyebabkan anemia makrositik, di mana ukuran sel darah merah lebih besar dari normal (Nurazizah et al.)</p>
<p>bahwa kasus anemia pada remaja usia 12–14 tahun di SMP Negeri 9 Semarang masih tergolong tinggi, khususnya pada remaja perempuan. Meskipun sebagian besar responden memiliki status gizi normal berdasarkan indikator IMT/U, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan kejadian anemia. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi yang diukur melalui IMT/U lebih mencerminkan kecukupan zat gizi makro, bukan zat gizi mikro, terutama zat besi.</p>
<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa asupan zat besi berhubungan dengan kejadian anemia, karena sebagian besar responden memiliki asupan zat besi di bawah kebutuhan harian.</p>
<p>Rendahnya konsumsi sumber zat besi heme dan meningkatnya kebutuhan zat besi akibat menstruasi menjadi faktor utama terjadinya anemia pada remaja perempuan. Sementara itu, asupan protein, vitamin C, vitamin B12, dan folat pada sebagian besar responden tergolong cukup dan berperan dalam memperbaiki penyerapan serta metabolisme zat besi.</p>
<p>Oleh karena itu, anemia pada remaja bersifat kompleks dan tidak hanya dipengaruhi oleh status gizi secara umum, melainkan lebih dipengaruhi oleh kecukupan zat gizi mikro, terutama zat besi.</p>
<p>Untuk mencegah anemia, diperlukan upaya yang fokus pada peningkatan asupan zat besi melalui pendidikan gizi, perbaikan pola makan, serta pemilihan makanan yang mengandung zat besi mudah diserap, terutama bagi remaja perempuan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2022/09/23/ilustrasi-anemia.jpeg?w=600&#038;q=90" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Dampak Anemia Pada Remaja</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/11/mengenal-dampak-anemia-pada-remaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Nov 2024 02:32:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[IDI]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=79005</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; Memasuki usia remaja, tentunya banyak kegiatan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEPOKPOS</strong> &#8211; Memasuki usia remaja, tentunya banyak kegiatan dan hobi yang ingin dijalani. Sehingga dengan demikian, penting bagi para remaja untuk terus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, agar terhindar dari berbagai macam kesehatan yang dapat mengganggu aktifitas harian. Salah satu penyakit yang harus diwaspadai tersebut, salah satunya adalah anemia.</p>
<p>Anemia merupakan penyakit yang kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Sehingga menyebabkan, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen sehingga membuat penderita anemia memiliki kulit yang pucat dan mudah lelah.</p>
<p>Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Brebes melalui situsnya <a href="http://idikabbrebes.org">idikabbrebes.org</a> yang beralamat di <a href="https://idikabbrebes.org">https://idikabbrebes.org</a> memberikan banyak informasi kesehatan yang bermanfaat seperti dibawah ini:</p>
<h3>Penyakit Penyerta Anemia</h3>
<p>Tidak hanya itu, anemia juga menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan, diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Penurunan imunitas</p>
<p>2. Penurunan konsentrasi</p>
<p>3. Mengalami penurunan prestasi dalam belajar</p>
<p>4. Tidak bugar dan mengalami penurunan produktivitas</p>
<p>5. Pada remaja putri, Anemia dapat memperbesar resiko kematian saat melahirkan, bayi lahir prematur, dan berat badan bayi yang cenderung rendah.</p>
<h3>Tips mencegah Anemia</h3>
<p>Adanya berbagai macam penyakit akibat anemia pada remaja diatas, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para remaja untuk bisa mulai menerapkan berbagai macam pencegahan anemia, seperti mengkonsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A,C, Zinc dan mengkonsumsi tablet tambah darah.</p>
<p>Tetap terapkan perilaku hidup sehat dan bersegera dalam melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit akibat anemia, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://umj.ac.id/storage/2024/08/Memerangi-Anemia-di-Bangku-Sekolah-Kunci-Menuju-Generasi-yang-Sehat-dan-Cerdas.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspada Anemia Defisiensi Besi! Bisa Menurunkan Prestasi Belajar Siswi!</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2023/12/waspada-anemia-defisiensi-besi-bisa-menurunkan-prestasi-belajar-siswi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Dec 2023 01:59:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[Anemia Defisiensi Besi]]></category>
		<category><![CDATA[artikel kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=61354</guid>

					<description><![CDATA[Siswi yang mengalami anemia akan sulit berkonsentrasi, lemas, dan mudah mengantuk sehingga performa belajarnya ikut menurun]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Siswi yang mengalami anemia akan sulit berkonsentrasi, lemas, dan mudah mengantuk sehingga performa belajarnya ikut menurun</em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sering merasa pusing, lelah, dan tidak konsentrasi saat belajar? Bisa jadi gejala dari kondisi anemia atau kekurangan sel darah merah. Anemia atau kekurangan sel darah merah seringkali dikhawatirkan menurunkan tingkat prestasi akademik siswi.</p>
<p>Siswi yang mengalami anemia akan sulit berkonsentrasi, lemas, dan mudah mengantuk sehingga performa belajarnya ikut menurun. Sulitnya berkonsentrasi membuat daya tangkap siswi kurang memadai sehingga materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah menjadi sulit untuk dipahami.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di SMP Negeri Kelila Kabupaten Mamberamo Tengah Tahun 2018 oleh Siauta dkk yang menunjukkan bahwa siswi dengan anemia cenderung memiliki prestasi belajar kurang. Penelitian tersebut melibatkan 75 populasi siswi kelas 8, 9, dan 10 di SMP Negeri Kelila dan sampel yang digunakan adalah 52 orang.</p>
<p>Anemia terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah anemia defisiensi besi. Sebelum membahas anemia defisiensi besi, apakah yang dimaksud dengan anemia? Anemia adalah kondisi berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam darah, sehingga hemoglobin tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan (Tarwoto, 2010).</p>
<p>Anemia sendiri merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang yang diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia. Anemia banyak terjadi pada masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil.</p>
<p>Prevalensi anemia pada remaja putri di negara berkembang saat ini masih cukup tinggi yaitu 53,7% (WHO, 2018).</p>
<p>Sedangkan di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja putri mencapai angka 32% (Riskesdas, 2018). Anemia pada remaja putri disebabkan oleh beberapa faktor seperti kehilangan darah akibat menstruasi, kekurangan kadar zat besi dan asam folat, penyakit kronis, malaria, infeksi cacing tambang, serta keturunan atau genetik (WHO, 2014).</p>
<p>Anemia yang paling umum terjadi adalah anemia defisiensi besi. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi, padahal zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi untuk mengangkut dan mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh.</p>
<p>Dalam kasus ini, remaja putri dikatakan anemia apabila memiliki kadar Hb &lt;12 gr/dL. Apabila asupan zat besi tidak tercukupi, tubuh akan mengalami kesulitan dalam memproduksi hemoglobin sehingga jumlahnya tidak memadai dan oksigen tidak dapat terdistribusi dengan baik.</p>
<p>Hal ini dapat mengakibatkan remaja putri mengalami gejala yang disebut dengan 5L, yaitu lelah, lemah, letih, lesu, dan lunglai.</p>
<p>Anemia pada remaja putri harus diperhatikan karena dapat berujung pada penurunan kesehatan dan prestasi sekolah. Kadar zat besi yang rendah berdampak pada kemampuan berpikir dan konsentrasi belajar, karena siswi yang mengalami anemia mudah merasa lelah.</p>
<p>Disamping itu, anemia juga dapat menurunkan daya tahan tubuh yang menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi dan terserang penyakit sehingga tertinggal beberapa materi di sekolah.</p>
<p>Sebagai upaya pencegahan, remaja putri dapat mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk memenuhi kebutuhan asupan zat besi dan meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini juga didukung dengan mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, protein, dan vitamin C agar tubuh dapat membentuk hemoglobin serta menyerap zat besi dengan baik.</p>
<p>Selain itu, remaja putri dihimbau untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang sesuai Isi Piringku yang dianjurkan oleh Kemenkes RI yakni dalam satu piring terdiri dari makanan pokok atau sumber karbohidrat dengan porsi 2/3 dari 1/2 piring, lalu dilengkapi dengan lauk pauk dengan porsi 1/3 dari 1/2 piring, dan untuk setengah piring lainnya diisi dengan proporsi sayur-sayuran dengan porsi 2/3 serta buah-buahan dengan porsi 1/3.</p>
<p>Remaja putri juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin secara berkala. Hubungan anemia defisiensi besi dan prestasi belajar siswi diperkuat dengan bukti-bukti penelitian yang ada.</p>
<p>Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siauta dkk juga menunjukkan bahwa 12 dari 52 orang siswi mengalami anemia dan 9 orang di antaranya atau 75% siswi dengan anemia memiliki prestasi belajar yang kurang sehingga bisa ditarik kesimpulan terdapat hubungan antara anemia dengan prestasi belajar pada siswi SMP Negeri Kelila Kabupaten Mamberamo Tengah Tahun 2018.</p>
<p>Anemia tidak boleh diabaikan jika tidak mau generasi muda Indonesia memiliki kualitas yang buruk. Hal ini dikarenakan penurunan prestasi belajar sejalan dengan penurunan produktivitas kerja SDM di masa yang akan datang.</p>
<p>Maka dari itu masalah anemia harus segera diselesaikan dan dijadikan sebagai prioritas, terutama untuk remaja putri di daerah pedalaman agar program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dapat tercapai dengan baik dan dapat menurunkan angka anemia pada remaja.</p>
<p><em>Oleh Putri Sajida Khairillah Sri Mulyani dan Yasmin Tsabita</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2022/09/23/ilustrasi-anemia.jpeg?w=1200" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenali Penyebab Anemia (Kurang Darah)</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2016/06/kenali-penyebab-anemia-kurang-darah/</link>
					<comments>https://www.depokpos.com/2016/06/kenali-penyebab-anemia-kurang-darah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2016 07:04:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[anemia]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[gejala anemia]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kurang darah]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6273</guid>

					<description><![CDATA[Anemia adalah kondisi tubuh yang terjadi ketika sel-sel...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_6274" aria-describedby="caption-attachment-6274" style="width: 470px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAckpCUkxGR0hmUWs.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-6273 wp-image-6274" src="http://www.depokpos.com/go/wp-content/uploads/gdwpm_images/0B0VmhKFEqTcAckpCUkxGR0hmUWs.jpg" alt="Ilustrasi." width="470" height="313" /></a><figcaption id="caption-attachment-6274" class="wp-caption-text">Ilustrasi.</figcaption></figure>
<p>Anemia adalah kondisi tubuh yang terjadi ketika sel-sel darah merah (eritrosit) dan/atau Hemoglobin (Hb) yang sehat dalam darah berada dibawah nilai normal (kurang darah).</p>
<p>Hemoglobin adalah bagian utama dari sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen. Jika seseorang kekurangan sel darah merah, atau hemoglobin yang normal, maka sel-sel dalam tubuh tidak akan mendapatkan oksigen yang cukup, akibatnya tumbullah gejala anemia. Gejala anemia seperti lemah dan lesu terjadi karena organ-organ tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk berfungsi dengan baik, yaitu oksigen.</p>
<p>Anemia dikenal dengan istilah kurang darah. Kurang darah (anemia) ini berbeda dengan darah rendah. Darah rendah merupakan rendahnya tekanan darah, sedangkan anemia adalah kurangnya sel darah merah atau hemoglobin seperti telah disebutkan di atas.</p>
<p>Kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat dan vitamin C, penyebab timbulnya penyakit anemia.</p>
<p>Seorang suster, Nurul Dwi Jayanti, Amd.Kep yang bekerja di RS. Gatot Subroto, Senen, Jakarta pusat mengatakan banyak obat alami mengatasi anemia yaitu seperti mengkonsumsi bayam duri, kacang hijau, daun kacang panjang, sayuran hijau, dan daging setiap 2x sehari.</p>
<p>“Jangan khawatir bila anda terkena anemia karena banyak solusi mudah mengatasi anemia dengan cara yang alami. Anda juga bisa mengkonsumsi suplemen penambah darah. Terapkanlah gaya hidup sehat, agar terhindar dari penyakit seperti anemia dan penyakit lainnya,” ujarnya.</p>
<p>Seorang wanita muda bernama Devi Savitri mengidap animea. Wajahnyanya sangat pucat dan dia selalu merasakan sakit kepala yang membuat dia tidak bersemangat untuk hidup menjalani segala aktivitas. Dia tidak dapat melakukan aktivitas yang berat yang membuat raganya lelah. Terkadang dia merasa putus asa karena tidak kuat saat animea itu kambuh karena animea yang diderita sudah sangat parah. Syukurlah banyak teman dan saudara yang selalu menyuportnya dalam melawan animea itu.</p>
<p>Saya sendiri mengidap penyakit animea walau pun tidak separah Devi Savitri, saat sakit itu datang saya merasa tidak kuat menahannya. Saya sering merasa kelelahan bahkan drop kalau sudah melakukan banyak aktivitas. Saya juga sering merasa sakit kepala secara tiba-tiba, wajah saya terkadang pucat tanpa sebab, rambut saya pun rontok. Saya mengatasinya dengan tidak lepas dari obat tambah darah berupa kapsul dan saya mengkonsumsi sop kambing seminggu sekali secara rutin.</p>
<p><strong>Hanifah Nur Sabillah</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.depokpos.com/2016/06/kenali-penyebab-anemia-kurang-darah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
