<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aids &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/tag/aids/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Sep 2026 03:01:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1787875280/cropped-depokpos/cropped-depokpos.jpg?_i=AA</url>
	<title>Aids &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>HIV Remaja: Rapuhnya Benteng Pencegahan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/hiv-remaja-rapuhnya-benteng-pencegahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2026 03:01:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Aids]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=103529</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Najwa Zahra Nurfadilah, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Data HIV di Kabupaten Sidoarjo kembali menjadi sorotan. Hingga Juni 2026, tercatat 7.230 kasus HIV secara kumulatif sejak 2001, dengan 1.183 kasus pada kelompok usia 0-24 tahun. Angka tersebut kemudian ramai dikaitkan dengan temuan 522 pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.</p>
<p>Menanggapi fenomena ini, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Republik Indonesia, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), (health.detik.com, 26/07/2026).</p>
<p>Menanggapi fenomena ini, Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes Republik Indonesia, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa peningkatan temuan kasus HIV dari tahun ke tahun sejalan dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).</p>
<p>Penjelasan ini menunjukkan bahwa bertambahnya temuan kasus tidak serta-merta berarti meningkatnya penularan. Namun, di balik keberhasilan deteksi dini, ada persoalan yang tak kalah penting: seberapa efektif upaya pencegahan membentengi generasi muda dari penularan HIV?</p>
<p>Di luar persoalan deteksi, peningkatan temuan HIV pada remaja juga perlu dibaca dari persoalan pergaulan yang semakin bebas dan longgarnya batas perilaku seksual. Tidak adanya aturan yang menjadi pedoman mereka untuk berperilaku juga menjadi faktor utama.</p>
<p>Mengapa aturan agama tidak lagi diindahkan?</p>
<p>Hal ini terjadi akibat rusaknya sistem sosial dari paham pemisah antara agama dan kehidupan. Celah ini memberi ruang bagi remaja untuk melanggar batas yang mengakibatkan berbagai kerusakan.</p>
<p>Sayangnya, upaya yang ditawarkan pemerintah juga belum menyentuh akar masalah. Selama ini, penanganan yang ditawarkan hanya persoalan mencegah dalam medis dan teknis administrasi.</p>
<p>Mengapa upaya ini tidak solutif?</p>
<p>Karena pendekatan ini mengabaikan akar moral yang pada akhirnya berpotensi keberulangan kasus yang sama di kemudian hari.</p>
<p>Merespons maraknya fenomena tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS.</p>
<p>Pendidikan seksual yang dimaksud tidak sekadar mengenalkan seksualitas, tetapi membekali anak dengan pemahaman mengenai risiko fisik dari perilaku seksual berisiko sejak usia dini.</p>
<p>Hal ini menjadi penting karena pembahasan mengenai seksualitas di tengah masyarakat masih kerap dibatasi oleh tabu sosial, sehingga akses terhadap informasi medis yang akurat dan komprehensif menjadi terbatas. Karena itu, pendidikan seksual perlu diarahkan pada pemberian pengetahuan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi, risiko infeksi menular seksual, serta cara merespons dorongan seksual secara aman dan bertanggung jawab untuk meminimalkan risiko penularan.</p>
<p>Namun, pendekatan ini ternyata masih menimbulkan kecacatan mendasar, yaitu edukasi ala Barat (Comprehensive Sexuality Education) atau kampanye safe sex sering ditafsirkan sebagai &#8220;lampu hijau&#8221; untuk berzina, asalkan menggunakan alat pelindung.</p>
<p>Selain itu, Pendekatan sekuler menanggalkan rasa malu dan nilai ketakwaan kepada Allah SWT, padahal keduanya merupakan benteng pertahanan utama seorang remaja.</p>
<p>Lantas, solusi seperti apa yang bisa diterapkan?</p>
<p>Apakah solusi sistemik itu ada?</p>
<p>Penyelesaian tuntas atas ancaman wabah HIV dan kerusakan moral remaja tidak dapat dicapai dengan perbaikan parsial. Islam menawarkan kerangka penanganan yang bersifat fundamental, menyeluruh (kaffah), dan terintegrasi secara utuh dengan nilai-nilai hukum syara’ dan akhlak</p>
<p>Pelajar dididik untuk memahami bahwa organ reproduksi dan dorongan seksual adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga serta hanya boleh disalurkan melalui ikatan pernikahan yang sah.</p>
<p>Kurikulum pendidikan Islam juga mengajarkan fiqih kesucian, batas-batas aurat, tanda-tanda akil baligh, dan tata cara mandi wajib sejak usia dini secara proporsional.</p>
<p>Terakhir, materi kesehatan reproduksi disampaikan bersanding dengan pemahaman aqidah bahwa setiap penggunaan anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawabannya secara individual di hadapan Allah pada Hari Kiamat.</p>
<p>Agar solusi sistemik Islam ini terwujud, dibutuhkan kolaborasi antara 3 pilar penjaga generasi, yaitu keluarga, lingkungan, dan negara. Dalam hal ini, keluarga bertindak sebagai benteng pertama yang menanamkan akidah Islam, membangun ketakwaan individu, menyalurkan kasih sayang, serta memberikan pengawasan melekat terhadap pola tumbuh kembang anak.</p>
<p>Kemudian, lingkungan sosial dan lembaga pendidikan berperan menghidupkan budaya amar ma&#8217;ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran)   untuk mengontrol pergaulan remaja di lingkungannya.</p>
<p>Selain itu, negara wajib menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, menutup seluruh saluran media yang merusak moral, menindak tegas pelaku penyimpangan sosial, serta menjamin ketersediaan sarana edukasi dan kesehatan yang bersih dari paradigma sekuler.</p>
<p>Lonjakan kasus HIV pada pelajar merupakan bukti nyata gagalnya paradigma sekuler liberal dalam melindungi generasi penerus.</p>
<p>Narasi yang menyederhanakan masalah ini sebatas keberhasilan &#8220;deteksi dini&#8221; atau pengusungan solusi &#8220;seks aman&#8221; terbukti meleset dari akar persoalan yang sebenarnya, yakni rusaknya tata pergaulan akibat pemisahan agama dari kehidupan.</p>
<p>Hanya dengan mengembalikan tata kehidupan pada sistem pergaulan Islam, mengintegrasikan fiqih pergaulan dalam kurikulum pendidikan, serta mengokohkan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara, generasi muda dapat diselamatkan secara tuntas dari ancaman wabah HIV dan kehancuran moral. Islam punya semua solusi itu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://rsudtripat.lombokbaratkab.go.id/media/crop/2025/02/10/59-20250210-123929-242269.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIV/AIDS Mengancam Generasi, Saatnya Mencari Solusi Hakiki</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/06/hiv-aids-mengancam-generasi-saatnya-mencari-solusi-hakiki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2026 01:13:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Aids]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=101199</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Nanda Nabila Rahmadiyanti, Alumnus Universitas Indonesia]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Nanda Nabila Rahmadiyanti, Alumnus Universitas Indonesia</strong></em></p>
<p>Ancaman kasus HIV/AIDS di Indonesia kian mengkhawatirkan. Penyebaran HIV/AIDS terus berlangsung diam-diam menyerang kelompok usia produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.</p>
<p>Dinkes Palu mencatat sebanyak 2.024 kasus HIV yang terakumulasi hingga 2026. Tak hanya Palu, Dinkes Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengidentifikasi kasus HIV didominasi oleh kelompok gay yang berada di rentang usia produktif.</p>
<p>Data Kementerian Kesehatan pun mencatat, Jawa Timur menjadi salah satu dari 11 provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Indonesia. Jawa Tengah juga mencatat tiga kabupaten/kota dengan kasus tertinggi di antaranya adalah Kota Semarang 620 kasus, Kota Surakarta 412 kasus, dan Kabupaten Banyumas 361 kasus.</p>
<p>Dari sekian banyak kasus HIV di Indonesia ini, tak hanya usia dewasa, bahkan pelajar SD hingga balita pun terserang HIV. Para Dinkes menjelaskan hal serupa, yakni penyebaran HIV/AIDS mayoritas berasal dari hubungan badan sesama jenis (homoseksual), bergonta-ganti pasangan, penggunaan jarum suntik bersama, hingga penularan dari ibu ke anak saat masa kehamilan, persalinan, dan menyusui.</p>
<p>Pergaulan bebas dan perilaku menyimpang seperti ini menyebabkan kerusakan besar dan mengancam bonus demografi. Jika kerusakan ini terus berlanjut, yang terjadi justru bencana demografi bukan bonus demografi.</p>
<p>Terlebih lagi, kaum homoseksual kian bangga dengan perbuatan menyimpangnya. Mereka meng-upload kemesraan dengan pasangan sejenisnya. Hingga dengan bangga memamerkan kondisi mereka yang positif HIV/AIDS sampai mengonsumsi obat terapi ARV (antiretroviral).</p>
<p>Akar permasalahan HIV berasal dari diterapkannya sistem sekulerisme-liberal yang memisahkan pengaturan agama dari kehidupan dan menjunjung tinggi kebebasan. Namun solusi yang ditawarkan hanya pada aspek cabang saja, yakni bagaimana cara mendeteksinya, penanganannya, hingga pengobatannya. Sehingga masalah ini tidak akan selesai karena tidak menyentuh akar permasalahan sama sekali.</p>
<p>Keberadaan media sosial mempercepat penyebaran ide tanpa adanya filter. Sistem sanksi yang diterapkan pun tidak menjerakan bahkan hampir tidak ada, dengan dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi. Sehingga kerusakan pergaulan makin tersebar luas.</p>
<p>Bagaimana Islam memandang hal ini?</p>
<p>Islam sebagai ideologi, tidak hanya mengatur cara manusia beribadah kepada Tuhannya saja (hablum minallah). Namun, mengatur seluruh sistem kehidupan manusia (hablum minannaas), seperti muamalah, pendidikan, politik, hingga sistem pergaulan.</p>
<p>Islam melarang keras pergaulan bebas dan perbuatan menyimpang. Islam mengatur sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan, untuk tidak campur baur (ikhtilat) dan berduaan (khalwat). Sistem ini mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan pada dasarnya terpisah, kecuali hal-hal yang diperbolehkan syariat seperti muamalah, pendidikan, pengobatan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pengaturan sistem pergaulan dalam islam merupakan tindakan pencegahan dini agar tidak ada interaksi yang mengarah kepada kemaksiatan. Terlebih lagi, islam mengecam keras hubungan sesama jenis yang menjadi salah satu penyebab utama penyebaran HIV/AIDS. Bahkan Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-A’raf ayat 81 dengan menyebutkan bahwa kaum yang mendatangi sesamanya untuk memuaskan hawa nafsunya sebagai kaum yang melampaui batas.</p>
<p>Selain sistem pergaulan, Islam juga mengatur konten yang beredar di media hanyalah konten bermanfaat seperti konten edukasi dan konten lainnya yang dapat meningkatkan ketaqwaan. Tidak akan ada konten kemaksiatan yang disebarkan bahkan dipamerkan.</p>
<p>Sistem sanksi dalam Islam bagi pelaku zina dan liwath (homoseksual) sangat tegas dan menimbulkan efek jera sehingga efektif mencegah orang melakukan keharaman tersebut. Semua pengaturan tersebut, mulai dari pencegahan hingga penerapan sanksi yang adil dan tegas, hanya dapat dijalankan secara optimal oleh negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah). Wallahu a’lam bi ash-shawwab.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.rspermata.co.id/img?src=f792673549350ff7343c119c45c9514f.png&#038;width=485&#038;height=393" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Homoseksual Merebak, Kasus Baru HIV di Depok Melonjak</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2025/03/homoseksual-merebak-kasus-baru-hiv-di-depok-melonjak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2025 09:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Aids]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=84381</guid>

					<description><![CDATA[Di tahun 2024, jumlah kasus baru HIV tembus di angka 405 kasus ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Di tahun 2024, jumlah kasus baru HIV tembus di angka 405 kasus </em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOK</strong></a> &#8211; Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok merilis data kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) tahun 2018 hingga Desember 2024.</p>
<p>Berdasarkan data Dinkes Kota Depok, pengidap kasus HIV di Kota Depok tembus di atas seratus dalam tujuh tahun ke belakang.</p>
<p>Sedangkan, kasus AIDS di Kota Depok tergolong stagnan.</p>
<p>Di tahun 2024, jumlah kasus baru HIV tembus di angka 405 kasus dan penderita AIDS mencapai 10 orang.</p>
<p>Kasus HIV pada 2024 mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2023 yang menembus angka 435 pasien dengan kasus AIDS, 3 orang.</p>
<p>Sedangkan di tahun 2022, jumlah kasus HIV ada di angka 327 dan AIDS mencapai 16 kasus.</p>
<p>Kemudian, angka HIV tahun 2021 mencapai 199 kasus dengan pengidap AIDS 17 orang.</p>
<p>Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Depok Uni Zakiati menjelaskan, pengidap HIV tersebut tidak semuanya ber-KTP Kota Depok.</p>
<p>&#8220;Data kasus HIV Kota Depok tahun 2024, jumlah kasus baru 405. Sebanyak 124 non KTP Depok dan 281 KTP Depok,&#8221; kata Umi, dilansir tribunnews, Jumat (14/3/2025).</p>
<p>Umi menjelaskan, sebaran kasus HIV berdasarkan populasi terbanyak menimpa golongan lelaki seks dengan lelaki (LSL) atau homoseksual yang mencapai 118 kasus.</p>
<p>Selanjutnya, penderita TBC yang terkena HIV mencapai 79 kasus, populasi risiko tinggi 35 kasus, dan ibu hamil 15 kasus.</p>
<p>&#8220;Penderita IMS (Infeksi Menular Seksual) 7, penjaja seks 4, waria 1, dan warga binaan pidana 1,&#8221; jelas Umi.</p>
<p>Agar tidak tertular HIV/AIDS, Umi meminta masyarakat memahami penularannya dan tidak melakukan perilaku yang berisiko.</p>
<p>“Harus paham cara penularan HIV dan tidak berperilaku berisiko,” ujarnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://asset-2.tstatic.net/wartakota/foto/bank/images/Tren-kasus-HIVAIDS-di-Kota-Depok-periode-2018-2024.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu Hamil ke Janin</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2024/12/pencegahan-penularan-hiv-aids-dari-ibu-hamil-ke-janin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Dec 2024 06:34:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Aids]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=80477</guid>

					<description><![CDATA[Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya cenderung meningkat]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<h3><em>Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya cenderung meningkat </em></h3>
</blockquote>
<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Jumlah penderita HIV/AIDS perempuan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya penularan pada perilaku seksual tidak aman pada laki-laki yang kemudian menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.</p>
<p>Selain itu, penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV.</p>
<p>Penularan HIV dari ibu ke anak dapat tersebut dapat terjadi pada saat kehamilan, persalinan, dan menyusui. Kementerian Kesehatan telah mengupayakan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak sesuai rekomendasi WHO (2009) dengan menerbitkan Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak tahun 2012.</p>
<p>Untuk mencegah terjadinya penularan dokter mungkin menyarankan obat-obatan dan peralatan medis untuk membantu mencegah infeksi HIV, termasuk:</p>
<p>• Obat antiretroviral (ARV), termasuk Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP) oral dan produk kerja panjang<br />
• Cincin vagina dapivirine<br />
• Cabotegravir yang dapat disuntikkan dan bekerja lama.</p>
<p>ARV juga dapat digunakan untuk mencegah ibu menularkan HIV kepada anak-anaknya. Orang yang menjalani terapi antiretroviral (ART) dan tidak memiliki bukti adanya virus dalam darah tidak akan menularkan HIV ke pasangan seksualnya. Akses terhadap tes dan ART merupakan bagian penting dari pencegahan HIV.</p>
<p>Penyakit ini diobati dengan obat antiretroviral, yang menghentikan replikasi virus di dalam tubuh. Ibu hamil dengan HIV harus mendapatkan akses dan menjalani ART sesegera mungkin. Hal ini melindungi kesehatan ibu dan membantu mencegah penularan HIV ke janin sebelum lahir atau melalui ASI.</p>
<p><em>Oktapasha Hanifah Zahra Sukoco,</em><br />
<em>D-IV Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Binawan.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://o-cdn-cas.oramiland.com/parenting/images/bayi-newborn-dengan-hiv-aids-hero.width-800.format-webp.webp" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemkot Depot Akan Gelar Tes HIV/AIDS Gratis Pada 1 Desember</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2015/11/pemkot-depot-akan-gelar-tes-hivaids-gratis-1-desember/</link>
					<comments>https://www.depokpos.com/2015/11/pemkot-depot-akan-gelar-tes-hivaids-gratis-1-desember/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2015 18:04:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Aids]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=3610</guid>

					<description><![CDATA[Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok bersama Dinas...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2015/11/26hiv-aids_kfa_picture.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-post-3610 wp-image-3611" src="http://www.depokpos.com/go/file/uploads/2015/11/26hiv-aids_kfa_picture.jpg" alt="26hiv-aids_kfa_picture" width="620" height="376" /></a></p>
<p>Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan melaksanakan tes HIV/AIDS secara gratis bagi masyarakat di Kota Depok. Kegiatan tersebut akan dilakukan bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember mendatang.</p>
<p>Advokasi Sekretariat KPA, Wimbo Asmoro, mengatakan bahwa kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap tahunnya atas dasar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia dan World Health Organization (WHO). Setiap tahunnya, pelaksanaan kegiatan ini diberikan kepada instansi yang berbeda-beda.</p>
<p>Adapun untuk tahun ini ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, sebelumnya diberikan kepada Kementerian Kehakiman Republik Indonesia.</p>
<p>“Karena yang ditunjuk adalah Kementerian Perhubungan, maka untuk di Kota Depok leading sector pelaksanaannya kita serahkan kepada Dinas Perhubungan Kota Depok,” ujar Wimbo, di Depok, Senin (23/11).</p>
<p>Tes HIV/AIDS akan dilakukan dengan metode mobile VCT di beberapa lokasi. Lokasi yang digunakan yaitu Poli Pemda, Terminal Depok, ITC Depok, Stasiun Depok Baru, serta Pasar Tugu Palsi Gunung. Tes akan dimulai pukul 8 hingga selesai dan ditargetkan sebanyak 1000 masyarakat dapat mengikuti tes tersebut.</p>
<p>Pada pelaksanaannya, sebelum pemeriksaan dilakukan pihak Dishub akan melaksanakan apel pagi di Terminal Depok. Selanjutnya mereka akan memberikan leaflet berupa pengumuman kepada masyarakat yang sedang bertransportasi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.depokpos.com/2015/11/pemkot-depot-akan-gelar-tes-hivaids-gratis-1-desember/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
